Kajian Hamba Allah Grup Nanda 113
21 Agustus 2014
Pembicara : Ust. Dinda
Pembicara : Ust. Dinda
Assalamualaikum rekan-rekan semua.. sabaahun nuur, kaifa haluka ukhti fillah? Khoir, in sya Allah. Dalam kesempatan ini kita akan bahas tentang 2 tipe problem solving/pemecahan masalah. Dalam keseharian, dalam berbagai urusan, tentu kita sering berhadapan dengan permasalahan yang perlu dipecahkan. Permasalahan seputar pekerjaan, hubungan dengan keluarga, teman, calon suami.. dan lain-lain. Kadang begitu mumetnya permasalahan itu sehingga kita menjadi bingung dan merasa buntu, kadang juga permasalahan tampak sangat mengganggu karena membuat kita merasa marah/sedih yang diakibatkan permasalahan tersebut.
Dalam ilmu psikologi, terdapat 2 tipe penyelesaian masalah yang umum dikenal: fokus pada emosi (emotional based coping) dan fokus pada persoalan (problem based coping). Penyelesaian masalah yang berdasar persoalan/problem cenderung untuk melihat permasalahan secara jernih, langsung pada inti masalah. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengevaluasi masalah, objektif dalam menilai masalah, melihat keuntungan dan kerugian dalam mengambil keputusan, serta mengambil kontrol diri terhadap masalah. Upaya penyelesaian masalah tipe ini mengenyampingkan aspek emosi, dengan tujuan seseorang dapat melihat masalah dengan jelas.
Emotional focused coping adalah tipe penyelesaian masalah yang fokus pada perasaan yang dilibatkan dari masalah. Jadi, alih-alih melihat dengan jelas permasalahan yang ada, seseorang lebih memperhatikan perasaan yang ia alami. Keputusan yang diambil cenderung emosional dan kadang menjadi kurang tepat sasaran/lebih kepada upaya pelampiasan emosi. Namun, penyelesaian masalah tipe ini sesuai untuk situasi-situasi yang memang melibatkan aspek afeksi/perasaan, seperti saat menghadapi keluarga yang sakit/meninggal. Orang-orang dengan tipe penyelesaian masalah ini dapat lebih meningkatkan kesadaran diri dengan evaluasi kondisi diri, atau cara-cara lain untuk menenangkan diri seperti beribadah, menarik nafas panjang, meditasi/muhasabah. Tipe yang manakah ukhti?
Untuk memikirkan penyelesaian masalah, kita perlu ambil jarak dari masalah itu untuk mendapat pandangan lebih jelas. Ibarat melihat gajah.. Jika kita melihat gajah dari jarak yang dekat, yang kita liat/tau cuma kakinya aja.. belalainya saja.. Saking besarnya gajah itu, jadi bagian tubuhnya tidak kelihatan semua.. Nah, coba jika kita mundur, ambil jarak supaya bisa nampak bahwa itu adalah gajah.. Ooh rupanya gajah ada kakinya.. empat, ada belalainya panjang, telinganya lebar.
Begitu juga masalah. Misal masalah keluarga.. kalau kita terlalu larut jadi fokus ke perasaan sedih. Jadi nggak punya energi lagi buat liat masalahnya. Bisa menenangkan diri dulu kemudian ambil jarak.. Maksudnya liat masalahnya dengan jelas. Kumpulkan fakta-fakta masalahnya A, sikap si B begini begitu. Jangan ambil penilaian dulu.. langsung mikir.. wah si A nggak adil dong kalau begitu.. kalau lari ke situ pikirannya, bisa-bisa masalahnya kabur lagi.. hehe. Malah fokus ngeliatin si A dengan (yang kita sangka) ketidak-adilannya.
Dalam rangka melihat masalah dgn objektif, kita juga baiknya cari sebanyak-banyaknya informasi. Misal kesel sama bunga, tanya ke bunga kenapa begini begitu. Tidak perlu frontal, bisa melipir-melipir aja sambil ngobrol. Jangan-jangan anggapan kita salah. Istilahnya, tabayyun. Mengkonfirmasi berita/anggapan kita. Jadi sebelumnya, kita stop dulu dorongan kita untuk kesel. Misal.. diri sendiri sudah tau, "wah saya sudah marah nih". Ya lalu boleh berkata-kata, tapi jangan emosional. Tetap santun dalam berbahasa, tegas dalam bersikap. Bicara yang ada hikmahnya.. tujuan penyelesaian masalah usahakan bukan agar seriap pihak mendapat pembelajaran.
Ingat prinsip penyelesaian masalah.. bukan untuk menyalurkan kekesalan, bukan supaya melampiaskan uneg2. Tapi supaya masalah bisa selesai dan ada hikmah yang bisa diambil.. Bisa juga lakukan pendekatan ke Allah SWT, seperti perbanyak tilawah dan ibadah saat sedang ada masalah.. Jadikan kegiatan itu sebagai upaya menenangkan diri.. lalu evaluasi diri dan masalah.. Jangan mengambil keputusan saat emosi.
Cerita dengan teman/kerabat juga baik. Hanya hati-hati dalam bercerita.. Pastikan kita cerita fakta aja. Berpegang sama fakta dan hal-hal yang kita tahu pasti. Jangan mengira-ngira kemudian curhat sambil emosi.. Orang yang mendengar blunder deh. Hehe.. masalahnya jadi kabur dan melebar.. Setiap orang punya gaya masing-masing, frontal pun nggak papa asal prinsip-prinsip tadi jalan, bicara santun sikap tegas. Kenapa? Supaya menghindari menyakiti hati orang lain, menghindari kita bicara kasar/menghina orang lain.. menghindari emosi yang terlalu naik sampai tidak bisa dikendalikan..
Kapan sih suatu "situasi" itu dirasakan sebagai masalah/problem? Kalo yang saya pahami: dikatakan masalah, kalau menghambat pencapaian tujuan, baik diri maupun orang lain. Jadi masalah dan pemecahan-masalah bisa dipisahkan.. cara pandangnya
PERTANYAAN & JAWABAN
1. Q : Ummi..Apakah ada kelemahan jika permasalahan kita selesaikan dengan menggunakan perasaan ??
A: Mungkin ada kecenderungan begini.. kalau menyelesaikan masalah dgn *banyak melibatkan* perasaan, kita jadi tidak bisa melihat masalah dengan jernih. Itu yang jadi kelemahan. Jadi.. saat kita ambil keputusan.. lebih banyak dipengaruhi emosi dan kurang banyak menimbang isi permasalahannya seperti apa.
2. Q: Ustdzah..klo saya lagi ada masalah suka curhat ke teman dengan maksud hanya untuk mengeluarkan unek-unek aja biar plong..apa itu baik dan diperbolehkan? Tapi disisi lain saya suka merasa jadi aib saya atau masalah saya jadi diketahui orang lain. Kesedihan dan kesusahan kita jadi diketahui orang lain..bolehkah?
A: Curhat dengan teman tidak apa-apa.. baik curhat ke orang lain.. maupun saat ngomong sendiri dalam hati.. selalu yang dikatakan.. adalah fakta. Jadi kita mendidik pikiran kita untuk tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan. Nggak emosional. Contoh yaa.. kemarin ada berita begini di koran: wanita korban perkosaan di aceh akan dihukum cambuk karena melakukan zina. Tentu kita yang perempuan akan merasa marah. Apa-apaan ini, sudah diperkosa.. lalu mau dihukum cambuk pula. Bukannya lelaki bejat itu yang salah? Sungguh malang perempuan itu... Lalu kita ambil kesimpulan. bener-bener hukum di negeri ini belum adil.. atau, laki-laki memang nggak punya perasaan... dst dst dst.. Padahal kita belum tabayyun, yang dibaca juga hanya judulnya saja. Belum baca isinya. Kalau baca isinya pun langsung percaya.. belum cek dari media lain. Eeeh rupanya perempuan yg diperkosa itu.. sebelumnya memang sudah berzina, dengan pria beristri.. maka atas kesalahan itu lah dia dihukum cambuk. . Bukan karena dia diperkosa. Begitu...
3. Q : Kadang kalau mendengar kabar ada teman yang sudah wisuda, kerja, dll. Selain senang tapi tidak bisa dipungkiri ada juga sedihnya karena belum sampai di tahap itu. Bagaimana menyikapinya?
A :Memang sering terjadi hal-hal seperti ini. Senjatanya adalah bersyukur dan bersyukur. Lalu jadikan rasa iri itu sebagai cambuk buat menambah usaha dan doa kita..kita bisa dekati dan tanya ke teman itu.. Usahanya gimana aja sih? Doanya gimana aja sih... Kadang-kadang kalau sudah tanya-tanya gitu.. suka malu, ternyata usaha kita jauh kurang dari dia... *pengalaman pribadi..
4. Q : Bagaimana kita menjaga diri agar tidak mudah ngambekan? Soalnya perempuan itu sering masukin pernyataan orang ke dalam hati.
A : Jawabnya 1. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, yang dihayati adalah yang fakta-fakta saja.. tabayyun.. kalau belum tabayyun ya kita khuznuzon.. berfikir yg baik-baik saja..
5. Q : Bagaimana caranya ummi agar berubah ? Agar tidak menyelesaikan masalah dengn perasaan itu ? Lalu apa org introvert itu bisa di sembuhkan ummi ?
A : Introvert bukanlah penyakit. . Jadi tidak perlu disembuhkan.. hanya perlu aktif dalam upaya sadar diri dan menyelesaikan masalah.. karena orang-orang yang introvert cenderung menutup diri dan menyimpan masalah sendiri.. Sadari diri aja.. misal, biasanya saya (Introvert) kalo idaj mulai terganggu akan menghindar, lalu menangis. Nah begitu sudah merasa terganggu bisa coba strategi lain, misal ajak temen bicara, atau.. nulis diary.
6. Q : Kenapa perempuan itu sering melibatkan perasaan dalam segala hal ?
A : Jawabannya sunatullah hehe. Ilmiahnya kalau tidak salah bagian otak yang terkait emosi memang lebih besar daripada otak laki-laki. Bukan berarti melibatkan perasaan dalam menyelesaikan masalah itu salah yaa.. tentu tidak, karena itu kan salah satu anugerah kita.. akal dan kalbu.. Hanya saja kita harus mampu mengendalikan perasaan kita.
A : Jawabannya sunatullah hehe. Ilmiahnya kalau tidak salah bagian otak yang terkait emosi memang lebih besar daripada otak laki-laki. Bukan berarti melibatkan perasaan dalam menyelesaikan masalah itu salah yaa.. tentu tidak, karena itu kan salah satu anugerah kita.. akal dan kalbu.. Hanya saja kita harus mampu mengendalikan perasaan kita.
7. Q : Bagaimana agar kita dalam menyelesaikan masalah itu tidak mudah terpengaruh oleh omongan orang lain...saat kita dalam posisi yang serba sulit...posisi yang sangat butuh bantuan orang lain.. Bagaimana agar kita selalu dikaruniai pikiran dan perasaan yang tenang ?
A : jangan gampang percaya omongan orang. Inilah Pentingnya kita berpegang pada fakta. Cari banyak informasi tentang fakta kejadian.. lalu tabayyun konfirmasi info tersebut. Supaya perasaan tenang.. percaya bahwa Allah akan kasih jalan keluar terbaik. Terus berdoa dan berharap sama Allah, berharap sama Allah aja. Allah aja. Supaya tenang.. kalopun masalah gak selesai sEperti yANg kita pengen.. bismillah aja...hadapi hidup maju terus.
8. Q : Saya punya teman, anggap saja namanya namanya Bunga..hubungan bunga dan adiknya itu tidak harmonis disebabkan adiknya suka "berbicara kasar" yang selalu menyinggung hati kakaknya... Tidak hanya kakak nya saja..tapi orang tua juga dikasari ama si adik..si adik berubah perilakunya karena dia sudah bekerja..seperti angkuh dan sombong jika berbicara dengan keluarga..dan anehnya...si adik sangat baik dan ramah sekali kepada orang lain.. Nah si bunga bertanya, bagaimana sikap dia sebagai kakak dalam menghadapi tingkah adik nya ini ? Krn si bunga sudah mencoba menasehati tp tdk di hiraukan oleh si ade..org tua juga sdah menasehati nmun tetep si ade keras kpala dgn sikapnya..
A : Kalau sikapnya spesial ke keluarga, biasanya tanda ada apa-apa dia dengan keluarganya.. apa misalnya dulu sebelum kerja merasa dikecil-kecilin karena bungsu.. atau banyak dibatasi? Atau.. disuruh bekerja pekerjaan yang tidak dia dia minati. Didalami dulu kira2 sebabnya.. kaitannya ke perilaku dan hal2 dimana si adek terganggu dan marah2... Apa dulu di over-protective-in?
9. Q : Ini kisah temen aku. Dulu si X pacaran sama si Z. Lama kelamaan X sadar kalau singel lebih baik. Karena pacaran juga dilarang islam. Sudah putus. Tapi si Z ngajak balikan terus, miscalled, sms bahkan titip teman (berupa barang atau pesan) atau apapun caranya biar si Z bisa deketin si X lagi. Si X udah ga nanggepin, tapi si Z tetap aja begitu. Yang ditanya bagaimana caranya biar si Z itu bisa menjauh dari si X tanpa si X berkomunikasi dengan Z? kira-kira gimana?
A : Ade, dulu mba juga pernah mengalami hal yang sama banget.. Cuma mba gak mau akhirnya jadi memutuskan tali silaturrahmi sma itu cwo... Jd mba bilang gini, misalkan nama cwo itu ali
A : Ade, dulu mba juga pernah mengalami hal yang sama banget.. Cuma mba gak mau akhirnya jadi memutuskan tali silaturrahmi sma itu cwo... Jd mba bilang gini, misalkan nama cwo itu ali
"Ali, saat ini aku gak mau pacaran bukan berarti aku gak mau sama km..cuma aku memang benar-benar tidak ingin untuk pacaran lagi..agama kita tidak mengenal pacaran, nah untuk sekarang kita silaturrahmi saja ya...dan berdoa Allah berikan yang terbaik buat kamu dan aku, dan ayo kita Sama-sama meningkatkan kualitas iman kita" Alhamdulillah akhirnya mba di musuhi..di kira sok suci, sok alim.. Cuma mba cuekin saja..dan berdoa sama Allah agar allah agar dibukakan pintu hati dia menerima hal ini dengan lapang dada.. Sampai setahun mba didiemin sama dia, walau mba tegur, dia tetap cuek..gak jawab..tapi alhamdulillah. .sekarang kita sudah komunikasi silaturrahmi tetap di jaga... Itu yang paling penting
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT


