بسم الله الر حمن الر حيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ
لَهُ
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita
nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul
qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di
JannahNya..
Shalawat beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah
hasanah kita, pejuang peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT
yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga
kita mendapatkan syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaaLlah..
Aamiin
Berikut ini materi kajian yang akan kita bahas, dengan tema "Menuntut Ilmu".
Tidak ada diantara kita yang tidak butuh ilmu. Oleh karena
itulah Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata :
الناس محتاجون إلى العلم أكثر من حاجتهم إلى الطعام و الشراب لأن
الطعام والشراب يحتاج إليه في اليوم مرة أو مرتين والعلم يحتاج إليه بعدد الأنفاس
“Manusia membutuhkan ilmu lebih banyak dari pada butuhnya
pada makanan dan minuman, dikarenakan kebutuhan seseorang terhadap makanan dan
minumam dalam sehari sekali atau dua kali. Dan kebutuhan manusia terhadap ilmu
sebanyak tarikan nafas.” Apalagi kita hidup di masa-masa menyebarnya kebodohan,
kesesatan dan penyimpangan. Oleh karena itu kebutuhan kita kepada ilmu
sangatlah mendesak.
Yaitu ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu syar’i, ilmu
tentang mengenal Allah, agama islam dan nabi-Nya Muhammad shallallahu alihi
wasallam. Maka dari itu kita harus tetap semangat menuntut ilmu dalam keadaan
apapun. Karena kebutuhan kita yang sangat kepada ilmu dan kita berharap
mendapatkan berbagai keutamaan orang yang menuntut ilmu syar’i.
Ilmu syar’i mempunyai banyak keutamaan diantaranya :
1. Allah Subhaanahu wata’aala akan mengangkat derajat orang
yang berilmu
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا
الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.“ (QS.
Al-Mujadilah : 11)
2. Ilmu adalah warisan para nabi barangsiapa yang
mengambilnya maka dia telah mendapat keuntungan yang sangat besar. Sebagaimana
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا العلم فمن أخذ
به أخذ بحظ وافر
“Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan uang dinar dan
tidak pula uang dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang
mengambilnya, dia telah mendapatkan keuntungan yang bsar.” (HR. Abu Dawud dan
At-Timidzi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
3. Jika Allah mengkhendaki kebaikkan seorang hamba maka
Allah akan memberikan pemahaman agama kepadanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“ Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikkan pada
dirinya maka Allah akan pahamkan dia dalam agama.” (HR. Bukhari dari Shahabat
Mua’wiyah)
4. Allah akan memudahkan bagi orang yang menuntut ilmu jalannya
menuju surga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ
لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menumpuh jalan untuk mencari ilmu maka
Allah akan menudahkan jalannya menuju surga.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
5. Ilmu kebaikkannya akan tetap ada walaupun orangnya sudah
mati.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ
ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ
صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya
kecuali tiga perkara, yaitu : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak
yang shalih yang mendoakannya (kedua orang tuanya).” (HR. Muslim)
Dan sebaliknya kebodohan dalam masalah agama mempunyai
dampak jelek yang luar biasa. Tentang hal ini Allah Subhaanahu wata’aala
berfirman dalam banyak ayat diantaranya :
قُلْ أَفَغَيْرَ اللهِ تَأْمُرُونِي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ
“ Katakanlah: maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain
Allah, hai orang- orang yang tidak berpengetahuan.? “ ( Qs. Az- zumar: 64)
قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ
قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“ Bani Israill berkata: Wahai Musa buatlah untuk kami
sebuah sesembahan ( berhala) sebagai mana mereka mempunyai beberapa sesembahan
( berhala). Musa menjawab : “ sesungguhnya kamu itu kaum yang tidak mengetahui
(bodoh terhadap Allah)…” (Qs. Al A’raaf : 138 )
Berkata Asy Syaikh Al Allamah Abdurahman As Sa’di
Rahimahullah : “ Kebodohan mana yang lebih besar dari seseorang yang bodoh
terhadap Rabbnya, Penciptanya dan ia ingin menyamakan Allah dengan selain Nya,
dari orang yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat (bahaya), tidak
mematikan, tidak menghidupkan dan tidak memiliki hari perkumpulan (kiamat) “
(Taisirul Karimirrahman Syaikh Al Allamah Abdurahman As Sa’di pada ayat ini)
Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam :
عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا فِى سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا
حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِى رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ هَلْ
تَجِدُونَ لِى رُخْصَةً فِى التَّيَمُّمِ فَقَالُوا مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ
تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِىِّ
–صلى الله عليه وسلم– أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ « قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ أَلاَّ
سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِىِّ السُّؤَالُ إِنَّمَا كَانَ
يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ
“Dari Jabir berkata: “Kami keluar pada sebuah perjalanan,
lalu salah seorang diantara kami tertimpa sebuah batu sampai melukai kepalanya
kemudian ia mimpi basah lalu bertanya kepada para shahabatnya, apakah kalian
mendapatkan rukhsah (keringanan) bagiku untuk bertayamum? Mereka menjawab :
‘kami tidak mendapatkan rukhsah untukmu, sedangkan engkau mampu menggunakan
air. Kemudian ia mandi besar sehingga meningal dunia. Kemudian tatkala sampai
kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam, kejadian tersebut dikhabarkan
kepada beliau. Maka beliau bersabda : “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah
membinasakan mereka. Mengapa mereka tidak bertanya, bila mereka tidak
mengetahui. Karena sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya.” (HR. Abu
Dawud, di Hasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Abu Dawud : 2/159)
Lihatlah bagaimana kebodohan seseorang menjadi sebab
hilangnya nyawa orang lain.
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullaah :
ولا ريب ان الجهل اصل كل فساد وكل ضرر يلحق العبد في دنياه واخراه
فهو نتيجة
“Tidaklah diragukan bahwasanya kebodohan adalah pokok dari
segala kerusakan dan dhoror (bahaya), kejelekan yang didapatkan oleh seorang
hamba di dunia dan di akhirat adalah dampak dari kebodohan.” (Miftaah Daaris
Sa’adah, 1/87)
Wahai saudaraku semoga Allah senantiasa mengaruniakan kepada
kita nikmat menuntut ilmu syar’i.Aamiin
Ada hal yang sangat penting
untuk di perhatikan dalam menuntut ilmu. Diantarannya :
1. Memohon pertolongan, taufiq dan kekokohon kepada Allah
Ta’aala dalam menuntut ilmu.
Manusia adalah makhluk yang sangat lemah, tidak ada daya dan
upaya kecuali karena pertolongan Allah Subhaanahu wata’ala. Oleh karena itu
mohonlah pertolongan kepada Allah dalam menuntut ilmu.
Allah Subhaanahu wata’ala berfirman
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang Kami beribadah, dan hanya kepada
Engkaulah Kami meminta pertolongan.” (Qs. Al-Fatihah : 5).
2. Mengikhlaskan niat
Hendaknya seseorangtplm mengikhlaskan niatnya dalam menuntut
ilmu dalam rangka mencari ridha Allah semata dan bukan karena yang lainnya.
Bukan karena mencari ketenaran atau agar dihormati orang atau mencari dunia.
Allah Subhaanahu wata’ala berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang
lurus.” (Qs. Al-Bayyinah : 5)
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا
إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا
صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, Maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Qs. Al-Kahfi : 110)
3. Belajar dari guru bukan dari kitab
Ilmu di ambil dari lisannya para ulama. Dari para guru bukan
dari kitab. Karena barangsiapa yang menjadikan kitab-kitabnya sebagai guru
niscaya akan banyak kekeliruannya. Begitu juga belajar dari orang yang dikenal
aqidah dan manhajnya.
Berkata Al-Imam Ibnu Siriin rahimahullah :
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesunguhnya ini ilmu agama maka perhatikanlah oleh kalian
dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
4. Besungguh-sungguh dan berkesinambungan dalam menuntut
ilmu
Seseorang hendaknya bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam
menuntut ilmu, dari menghadiri majelis ilmu, menghapalnya dan memuroja’ahnya
(mengulang-ngulangnya). Dan berkesinambungan dalam menuntut ilmu tidak terputus
ditengah jalan. Karena dengan bersungguh-sungguh dan tidak terputus ditengah
jalan sebab seseorang berhasil dalam menuntut ilmu.
5. Waktu Yang Panjang
Menuntut ilmu membutuhkan waktu yang panjang tidak cukup
sebulan dua bulan atau setahun dua tahun tetapi butuh waktu yang panjang.
6. Menjaga Ibadah
Perkara menjaga ibadah adalah perkara yang sangat penting
yang tidak boleh di lalaikan oleh seseorang penuntut ilmu. Dari menjaga shalat
jama’ah, shalat rawatib, shalat witr, dzikir sehabis shalat dan ibadah lainnya.
Karena dengan ibadah hati kita bisa tentram. Jangan sampai kesibukkannya
muraja’ah, menghapal dan yang lainnya menyibukkan ia dari beribadah kepada
Allah Ta’aala.
7. Shabar
Maksudnya adalah agar ia bershabar dalam menuntut ilmu.
Bershabar akan kesusahan didalam menuntut ilmu, bershabar dengan rasa
lelah, capek dan rasa lapar dalam menuntut ilmu.
وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“ Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Anfaal : 46)
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللهِ
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu
itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (Qs An-Nahl : 127)
8. Beradab dengan gurunya
Diantara adab dan etika yang perlu diperhatikan oleh
penuntut ilmu adalah beradab dengan syaikhnya, beradab dengan gurunya.
Menghormati, tawadhu dan menghargai gurunya dan adab-adab baik yang lainnya.
Itu diantara hal yang perlu diperhatikan bagi seseorang yang
menuntut ilmu syar’i, semoga Allah senantiasa mengaruniakan kepada kita untuk
selalu menuntut ilmu syar’i.
*****TANYA - JAWAB*****
1. Bagaimana dengan orang yang menuntut ilmu agama dia tau ini
salah benar tapi terkadang ilmunya tidak dia amalkan dalam kehidupan?
JAWAB : Subhanallah, demikian nàmany kepahaman, bahwa tidak semua
org dapat dikatan paham dan berilmu, sebatas kajian tapi tanpa pengamalan,
sdgkan kebrimanan itu diyakini dg hati diucapkan dg lisan dan diamalkan dg
perbuatan dan di alqur an disebutkan bahwa 'amat sangat kbencian disisi Allah
org yg mengatakan sesuatu sedangkan ia tidak melakukannya'.
2. Bun, bagaimana hukumnya bila ada orang yang pelit dengan ilmu
yang dimilikinya & malah menjadikan ia sombong karena kecerdasannya.
JAWAB : Sayangku mari kita
mulai dengan diri kita membagi apa yang kita miliki baik harta dan ilmu.
3. Bun, bagaimnakah caranya untuk menyemangati diri kita agar
rajin membaca buku, karena menuntut ilmu kan tidak hanya didapat dari guru, atau tidak
selalu kita dapat dari orang lain, tapi terkadng malas sangat untuk membca, apalagi untuk
memahaminya.
JAWAB : Ikhlaskan niat karena
Allah semua yang kita lakukan orientasiny surga dan wajib bagi kita memaksakan
diri untuk berbuat kebaikan
4. Bun, bagaimana menyikapi seseorang yang berilmu dan memang
telah mengamalkan atau menjelaskan tentang suatu perkara namun ternyata orang
yang berilmu itu justru menyimpang dari apa yang di sampaikan sehingga
menimbulkan banyak cemohan dan penyakit hati lain
JAWAB : Qulill haq walau kaana murron...sampaikanlah kebenaran
walaupun rasanya pahit.
Nah ada banyak cara menyampaikannya bisa langsung atau meminta
bantuan orang lain dengan melihat situasi dan kondisi yang baik.
5. Sekarang ini guru maupun ustadzah kan sudah menjadi sebuah profesi.
Bagaimana dengan guru yang mngutamakan bayaran & memprioritaskan penghasilan. apakah
itu bisa di anggap tidak ikhlas dalam mngamalkan ilmunya?
JAWAB : Ikhlas karena Allah tidak berorientasi dumiawi...kalaupun
dia dapatkan duniawi karena Allah memberinya rizki dan balasan yg indah. Wallahu alam
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
dan istighfar
أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ
أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku
bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat
kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Rekapan Kajian Online WA Hamba اللَّهِ
SWT
Group Nanda M110
Rabu, 2 Dzulhijjah 1436 H / 16 September 2015 M Narasumber: Bunda Malik Tema: Menuntut Ilmu Notulen: Dara Admin: Qq dan Ranie Editor : Athariyah
Rabu, 2 Dzulhijjah 1436 H / 16 September 2015 M Narasumber: Bunda Malik Tema: Menuntut Ilmu Notulen: Dara Admin: Qq dan Ranie Editor : Athariyah
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT




0 komentar:
Post a Comment