Kajian Online WA Hamba الله
SWT
Selasa, 20 Oktober 2015
Narasumber : Ustadz
Robin
Rekapan Grup Nanda M105 (Dyah)
Tema : Syakhsiyah Islamiyah
Editor
: Rini Ismayanti
MADLUUL ASY SYAHAADAH (Kandungan Kalimat Syahadat)
Syahadatain begitu
berat diperjuangkan oleh para sahabat, bahkan mereka sedia dan tidak takut
terhadap segala ancaman kafir. Sahabat nabi misalnya Habib berani menghadapi
siksaan dari Musailamah yang memotong tubuhnya satu persatu, Bilal Bin Rabah
tahan menerima himpitan batu besar ditengah hari dan sederet nama lainnya.
Mereka mempertahankan syahadatain. Muncullah pertanyaan kenapa mereka bersedia
dan berani mempertahankan kalimat syahadah ? Ini disebabkan karena kalimat
syahadah mengandung makna yang sangat mendalam bagi mereka.
Syahadah atau syahadat berasal dari kata syahida, yang berarti “memberi tahu dengan berita yang pasti” atau “mengakui apa yang diketahui” (Al-Mu’jam Al-Wasith). Dari makna bahasa ini, kita mendapati beberapa makna yang diisyaratkan Al-Qur’an tentang kata ini.
Syahadah atau syahadat berasal dari kata syahida, yang berarti “memberi tahu dengan berita yang pasti” atau “mengakui apa yang diketahui” (Al-Mu’jam Al-Wasith). Dari makna bahasa ini, kita mendapati beberapa makna yang diisyaratkan Al-Qur’an tentang kata ini.
1. Al-Iqraar
(Pernyataan)
Syahadat merupakan
sebuah pernyataan (ikrar), yaitu suatu statement seorang muslim
mengenai keyakinannya. Ini adalah pernyataan yang sangat kuat karena didukung
oleh Allah SWT, malaikat, dan orang-orang yang berilmu (para nabi dan orang
yang beriman). Syahadat yang berarti ikrar dari Allah SWT, malaikat dan
orang-orang yang berilmu tentang Laa Ilaaha Illa Allah.
Hal ini sebagaimana
dalam firman Allah SWT,
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan
bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang
menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak
disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran : 18)
Dalam ayat lain
disebutkan bahwa sesungguhnya sebelum manusia dilahirkan, manusia telah
berikrar atau memberikan kesaksian bahwa Allah SWT adalah Tuhan para manusia
(Tauhid Rububiyatullah). Hal ini diingatkan Allah SWT dalam ayat berikut ini,
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ﴿١٧٢﴾
“Dan (ingatlah),
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah
Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi
saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu
tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap Ini (keesaan Tuhan)” (Al-A’raf : 172).
Selain itu, para nabi
sebelum Nabi Muhammad SAW, seluruhnya telah berikrar mengakui kerasulan
Muhammad SAW meskipun mereka hidup sebelum kedatangan Rasulullah SAW. Allah SWT
mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ﴿٨١﴾
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil
perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa
Kitab dan hikmah Kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa
yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan
menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku
terhadap yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman:
“Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama
kamu.” (QS. Ali Imran : 81)
2. Al-Qosam (Sumpah)
Syahadat juga bermakna
sumpah. Sumpah ini merupakan hasil dari ikrar yang telah dijelaskan di atas.
Dibalik ikrar, wajib bagi kita untuk menegakkan dan memperjuangkan apa yang
diikrarkan. Oleh karena itu pada hakikatnya sumpah (qosam) adalah pernyataan
kesediaan menerima akibat dan risiko apapun dalam mengamalkan syahadah.
Artinya, muslim yang menyebut asyhadu berarti siap dan
bertanggung-jawab terhadap tegaknya Islam. Pelanggaran terhadap sumpah ini
adalah kemunafikan dan tempat orang munafik adalah neraka Jahanam.
Jika ditadabburi dalam
Al-Qur’an, sesungguhnya orang-orang munafik berlebihan dalam pernyataan
syahadahnya, padahal mereka tidak lebih sebagai pendusta. Lihat ayat berikut
ini,
إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ﴿١﴾اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴿٢﴾
“Apabila orang-orang
munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya
kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu
benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang
munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka
sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah.
Sesungguhnya amat buruklah apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS.
Al-Munafiqun: 1-2)
Beberapa ciri orang
yang melanggar sumpahnya yaitu memberikan wala kepada orang-orang kafir,
memperolok-olok ayat Allah, mencari kesempatan dalam kesempitan kaum muslimin,
menunggu-nunggu kesalahan kaum muslimin, malas dalam shalat dan tidak punya
pendirian. Sedangkan orang-orang mukmin yang sumpahnya teguh tidak akan
bersifat seperti tersebut. Allah SWT berfirman,
“Kabarkanlah kepada
orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu)
orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong
dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi
orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. Dan sungguh
Allah Telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila
kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh
orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka
memasuki pembicaraan yang lain. Karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian),
tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua
orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, (yaitu)
orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai
orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka
berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?” dan jika orang-orang
kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut
memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan
memberi Keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali
tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang
yang beriman. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan
membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri
dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan
tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan
ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan
Ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang
kafir), Maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi
petunjuk) baginya. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil
orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah
kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)? Sesungguhnya
orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari
neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi
mereka.” (QS. An-Nisa’: 138-145).
3.
Al-Miitsaaq ( perjanjian yang teguh )
Mitsaq yaitu janji
setia untuk mendengar dan taat dalam segala keadaan terhadap semua perintah
Allah SWT yang terkandung dalam kitabullah maupun Sunah Rasul.
Syahadah juga
merupakan perjanjian yang teguh (mitsaq) yang harus diterima dengan
sikap sam’an wa tho’atan (kami dengar dan kami taat) didasari dengan
iman yang sebenarnya terhadap Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari
Akhir dan Qadar baik maupun buruk. Allah SWT mengingatkan kita tentang hal ini,
وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُم بِهِ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ﴿٧﴾
“Dan ingatlah karunia
Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang Telah diikat-Nya dengan kamu, ketika
kamu mengatakan, ’Kami dengar dan kami taati.’ dan bertakwalah kepada Allah,
Sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu).” (Al-Maidah : 7)
Rasul telah
mencontohkan hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an,
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ ﴿٢٨٥﴾
“Rasul Telah beriman
kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula
orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak
membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”,
dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah
kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah:
285)
Pelanggaran
terhadap mitsaq akan berakibat laknat Allah seperti yang pernah
terjadi pada orang-orang Yahudi.
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا ۖ قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۚ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُم بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿٩٣﴾
“Dan (ingatlah),
ketika kami mengambil janji dari kamu dan kami angkat bukit (Thursina) di
atasmu (seraya kami berfirman), ’Peganglah teguh-teguh apa yang kami berikan
kepadamu dan dengarkanlah!’ me menjawab, ’Kami mendengar tetapi tidak
mentaati.’ Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah)
anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah, ’Amat jahat perbuatan yang telah
diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).” (QS.
Al-Baqarah : 93)
Wallahu a'lam
bisshowab
TANYA JAWAB
Q : Sebenarnya saya
mau tanya kan kenapa ya stadz al baqarah di artikan sapi betina?
A : Itu kan bahasa arab ukhti..al baqarah itu artinya sapi betina
A : Itu kan bahasa arab ukhti..al baqarah itu artinya sapi betina
Q : Ustadz mau
Tanya. Mendatangi peramal kan menyebabkan shalat kita tidak diterima, nah, bagaimana
dengan teknologi sekarang, yang tanpa kita mendatangi peramal pun,
ramalan-ramalan sudah ada, dan seringnya kita tidak sengaja membaca, apakah
kita berdosa ustadz?
A : Ketidaksengajaan termasuk hal yang dimaafkan. Ibarat puasa, tidak sengaja makan kan tidak batal dan tidak berdosa tap klo ada unsur kesengajaan walaupun sedikit, ini yang berbahaya.
A : Ketidaksengajaan termasuk hal yang dimaafkan. Ibarat puasa, tidak sengaja makan kan tidak batal dan tidak berdosa tap klo ada unsur kesengajaan walaupun sedikit, ini yang berbahaya.
Alhamdulillah, kajian
kita hari ini berjalan dengan lancar. Moga ilmu yang kita dpatkan berkah dan
bermanfaat. Aamiin....
Segala yang benar dari
Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita
tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul
majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya
Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah
melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment