Kajian Online WA Hamba الله SWT
Rabu,
15 September 2015
Narasumber : Ustadz
Endarii
Rekapan Grup Nanda M116 (Sari)
Tema : Kajian Umum
Editor
: Rini Ismayanti
ILMU
Tidak ada diantara kita yang tidak butuh ilmu. Oleh karena
itulah Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata :
الناس محتاجون إلى العلم أكثر من حاجتهم إلى الطعام و الشراب لأن الطعام والشراب يحتاج إليه في اليوم مرة أو مرتين والعلم يحتاج إليه بعدد الأنفاس
“Manusia membutuhkan ilmu lebih banyak dari pada butuhnya pada
makanan dan minuman, dikarenakan kebutuhan seseorang terhadap makanan dan minumam
dalam sehari sekali atau dua kali. Dan kebutuhan manusia terhadap ilmu sebanyak
tarikan nafas.” Apalagi kita hidup di masa-masa menyebarnya kebodohan, kesesatan
dan penyimpangan. Oleh karena itu kebutuhan kita kepada ilmu sangatlah mendesak.”
Yaitu ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu sayaar’i, ilmu
tentang mengenal Allah, agama islam dan nabi-Nya Muhammad shallallahu alihi
wasallam. Maka dari itu kita harus tetap semangat menuntut ilmu dalam keadaan
apapun. Karena kebutuhan kita yang sangat kepada ilmu dan kita berharap
mendapatkan berbagai keutamaan orang yang menuntut ilmu sayaar’i. Ilmu sayaar’i mempunyai banyak keutamaan diantaranya :
1. Allah Subhaanahu wata’aala akan mengangkat derajat orang yang
berilmu
Allah Subhaanahu wata’aala berfirman :
يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang- orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah : 1)
2. Ilmu adalah warisan para nabi barangsiapa yang mengambilnya
maka dia telah mendapat keuntungan yang sangat besar. Sebagaimana Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهما إنما ورثوا العلم فمن أخذ به أخذ بحظ وافر
“Sesungguhnya
para nabi tidaklah mewariskan uang dinar dan tidak pula uang dirham, mereka
hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya, dia telah
mendapatkan keuntungan yang bsar.” (HR. Abu Dawud dan At-Timidzi dishahihkan
oleh Sayaaikh Al-Albani)
3. Jika Allah mengkhendaki kebaikkan seorang hamba maka Allah
akan memberikan pemahaman agama kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikkan pada dirinya
maka Allah akan pahamkan dia dalam agama. HR. Bukhari dari Shahabat Mua’wiyah
4. Allah akan memudahkan bagi orang yang menuntut ilmu jalannya
menuju surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wassallam bersabda :
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“
Barangsiapa yang menumpuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah
akan memudahkan jalannya menuju surga.” HR. Muslim dari Abu Hurairah
5. Ilmu kebaikkannya akan tetap ada walaupun orangnya sudah
mati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wassallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalannya
kecuali tiga perkara, yaitu : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak
yang shalih yang mendoakannya (kedua orang tuanya). HR. Muslim
Dan sebaliknya kebodohan dalam masalah agama mempunyai dampak
jelek yang luar biasa. Tentang hal ini Allah Subhaanahu wata’aala berfirman
dalam banyak ayat diantaranya :
قُلْ أَفَغَيْرَ اللهِ تَأْمُرُونِي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ
Katakanlah: maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain
Allah, hai orang- orang yang tidak berpengetahuan.? Qs. Az- zumar: 64
قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
Bani Israill berkata: Wahai Musa buatlah untuk kami sebuah
sesembahan (berhala) sebagai mana mereka mempunyai beberapa sesembahan (berhala).
Musa menjawab : “ sesungguhnya kamu itu kaum yang tidak mengetahui (bodoh
terhadap Allah)…Qs. Al A’raaf : 138
Berkata Asaya Sayaaikh Al Allamah Abdurahman As Sa’di
Rahimahullah : “Kebodohan mana yang lebih besar dari seseorang yang bodoh
terhadap Rabbnya, Penciptanya dan ia ingin menyamakan Allah dengan selain Nya,
dari orang yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat (bahaya), tidak mematikan,
tidak menghidupkan dan tidak memiliki hari perkumpulan (kiamat) “ (Taisirul
Karimirrahman Sayaaikh Al Allamah Abdurahman As Sa’di pada ayat ini)
Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا فِى سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فِى رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ هَلْ تَجِدُونَ لِى رُخْصَةً فِى التَّيَمُّمِ فَقَالُوا مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ فَاغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى النَّبِىِّ –صلى الله عليه وسلم– أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ « قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ أَلاَّ سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِىِّ السُّؤَالُ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ
“
Dari Jabir berkata: “Kami keluar pada sebuah perjalanan, lalu
salah seorang diantara kami tertimpa sebuah batu sampai melukai kepalanya
kemudian ia mimpi basah lalu bertanya kepada para shahabatnya, apakah kalian
mendapatkan rukhsah (keringanan) bagiku untuk bertayamum? Mereka menjawab :
‘kami tidak mendapatkan rukhsah untukmu, sedangkan engkau mampu menggunakan
air. Kemudian ia mandi besar sehingga meningal dunia. Kemudian tatkala sampai
kepada Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam, kejadian tersebut dikhabarkan
kepada beliau. Maka beliau bersabda : “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah
membinasakan mereka. Mengapa mereka tidak bertanya, bila mereka tidak
mengetahui. Karena sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya.”
(HR. Abu Dawud, di Hasankan oleh Sayaaikh Al-Albani di dalam
Shahih Abu Dawud : 2/159)
Lihatlah bagaimana kebodohan seseorang menjadi sebab hilangnya
nyawa orang lain. Berkata Ibnul Qayyim rahimahullaah :
ولا ريب ان الجهل اصل كل فساد وكل ضرر يلحق العبد في دنياه واخراه فهو نتيجة
Tidaklah diragukan bahwasanya kebodohan adalah pokok dari segala
kerusakan dan dhoror (bahaya), kejelekan yang didapatkan oleh seorang hamba di
dunia dan di akhirat adalah dampak dari kebodohan. Miftaah Daaris Sa’adah, 1/87
Wahai saudaraku semoga Allah senantiasa mengaruniakan kepada
kita nikmat menuntut ilmu sayaar’i. -Amin-. Ada hal yang sangat penting
untuk di perhatikan dalam menuntut ilmu. Diantarannya :
1.
Memohon pertolongan, taufiq dan kekokohon kepada Allah Ta’aala dalam menuntut
ilmu.
Manusia adalah makhluk yang sangat lemah, tidak ada daya dan
upaya kecuali karena pertolongan Allah Subhaanahu wata’ala. Oleh karena itu
mohonlah pertolongan kepada Allah dalam menuntut ilmu.
“Allah Subhaanahu wata’ala berfirman dalam Qs. Al-Fatihah : 5
Hanya Engkaulah yang Kami beribadah, dan hanya kepada Engkaulah
Kami meminta pertolongan”
2. Mengikhlaskan niat
Hendaknya seseorang mengikhlaskan niatnya dalam menuntut ilmu
dalam rangka mencari ridha Allah semata dan bukan karena yang lainnya. Bukan
karena mencari ketenaran atau agar dihormati orang atau mencari dunia.
Allah Subhaanahu wata’ala berfirman :
Qs. Al-Bayyinah : 5
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”
Qs. Al-Kahfi : 110
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, Maka hendaklah
ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun
dalam beribadah kepada Rabbnya”
3. Belajar dari guru bukan dari kitab
Ilmu di ambil dari lisannya para ulama. Dari para guru bukan
dari kitab. Karena barangsiapa yang menjadikan kitab-kitabnya sebagai guru
niscaya akan banyak kekeliruannya. Begitu juga belajar dari orang yang dikenal
aqidah dan manhajnya.
Berkata Al-Imam Ibnu Siriin rahimahullah :
“Sesunguhnya ini ilmu agama maka perhatikanlah oleh kalian dari
siapa kalian mengambil agama kalian”
4. Besungguh-sungguh dan berkesinambungan dalam menuntut ilmu
Seseorang hendaknya bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menuntut
ilmu, dari menghadiri majelis ilmu, menghapalnya dan memuroja’ahnya
(mengulang-ngulangnya). Dan berkesinambungan dalam menuntut ilmu tidak terputus
ditengah jalan. Karena dengan bersungguh-sungguh dan tidak terputus ditengah
jalan sebab seseorang berhasil dalam menuntut ilmu.
5. Waktu Yang Panjang
Menuntut ilmu membutuhkan waktu yang panjang tidak cukup sebulan
dua bulan atau setahun dua tahun tetapi butuh waktu yang panjang.
6. Menjaga Ibadah
Perkara menjaga ibadah adalah perkara yang sangat penting yang
tidak boleh di lalaikan oleh seseorang penuntut ilmu. Dari menjaga shalat
jama’ah, shalat rawatib, shalat witr, dzikir sehabis shalat dan ibadah lainnya.
Karena dengan ibadah hati kita bisa tentram. Jangan sampai kesibukkannya
muraja’ah, menghapal dan yang lainnya menyibukkan ia dari beribadah kepada
Allah Ta’aala.
7. Shabar
Maksudnya adalah agar ia bershabar dalam menuntut ilmu.
Bershabar akan kesusahan didalam menuntut ilmu, bershabar dengan rasa
lelah, capek dan rasa lapar dalam menuntut ilmu.
Qs. Al-Anfaal : 46
“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar”
Qs An-Nahl : 127
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu
melainkan dengan pertolongan Allah”
8. Beradab dengan gurunya
Diantara adab dan etika yang perlu diperhatikan oleh penuntut
ilmu adalah beradab dengan sayaaikhnya, beradab dengan gurunya. Menghormati,
tawadhu dan menghargai gurunya dan adab-adab baik yang lainnya.
Itu diantara hal yang perlu diperhatikan bagi seseorang yang
menuntut ilmu sayaar’i, semoga Allah senantiasa mengaruniakan kepada kita untuk
selalu menuntut ilmu sayaar’i.
TANYA JAWAB
Q : Ustadz, saya mau bertanya ilmu yang bermanfaat adalah ilmu
yang bermanfaat bagi orang lain, lalu sebatas apa kita boleh menyampaikan ilmu yang
kita dapat kepada orang lain?? Karena ada hadits yang mengatakan 'cukuplah
seseorang dikatakan sebagai seorang pendusta ketika dia berkata dari setiap apa
yang dia dengar’, mohon pencerahannya ustadz,
A : Ibnu Hajar menyebutkan pendapat al Muhib ath Thabari tentang
makna dari “tidak menyukai kalian mengatakan,’katanya.” Bahwa makna hadits ini
mengandung tiga hal :
1. Isyarat akan makruhnya banyak berbicara dikarenakan hal itu
membawanya kepada kesalahan.
2. Maksudnya adalah menceritakan dan mencari-cari omongan-omongan
orang untuk kemudian dia informasikan, seperti seorang yang mengatakan,”Si A
telah mengatakan ini dan ada yang mengatakan dia mengatakan itu.” Larangan di
sini bisa berupa teguran dari memperbanyak perbuatan itu atau bisa pula untuk
sesuatu tertentu darinya, yaitu ketidaksukaan orang yang diceritakannya.
3. Adapun menceritakan perbedaan didalam permasalahan agama,
seperti perkataan,”Si A telah berkata begini, si B telah berkata begitu.” dan
yang menjadikannya makruh adalah memperbanyak hal itu. Karena tidaklah aman
sesuatu yang terlalu banyak dari suatu kesalahan. Dan ini terhadap orang
tertentu yang menginformasikan berita itu tanpa diteliti terlebih dahulu akan
tetapi orang itu hanya bersikap taqlid (mengikuti) orang yang didengarnya tanpa
adanya kehati-hatian, hal ini dipertegas dengan hadits,”Cukuplah seseorang
disebut pembohong apabila menceritakan setiap yang didengarnya.” (HR. Muslim) –
(www.islamOnline.net)
Dengan demikian diperlukan kehati-hatian didalam menyampaikan
berita atau informasi dari setiap yang didengarnya kepada orang lain sebelum
dilakukan penelitian terlebih dahulu akan kebenaran dari berita tersebut. Informasi
yang disampaikan sebelum dilakukan penelitian terlebih dahulu akan menjadikan
informasi yang disampaikannya itu mengalami penambahan ataupun pengurangan dari
apa yang sebenarnya dia dengar dari sumbernya, dan ini termasuk didalam
kebohongan karena dia telah menyampaikan sesuatu yang berbeda dari hakekatnya.
Imam Nawawi mengatakan bahwa seyogyanya setiap orang yang sudah
sampai usia taklif menjaga lisannya dari semua perkataan kecuali suatu
perkataan yang tampak didalamnya kemaslahatan. Dan kapan saja berbicara sama
maslahatnya dengan tidak berbicara maka disunnahkan untuk menahan dari
membicarakannya karena hal itu bisa mengarahkan perkataan yang mubah menjadi
haram atau makruh dan ini banyak terjadi..
Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh dari
Nabi saw bersabda,”Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka
hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Muttafaq Alaih)
Imam Nawawi mengatakan bahwa hadits ini secara tegas menyebutkan
seyogyanya seseorang tidak berbicara kecuali apabila perkataannya itu adalah
kebaikan, yaitu yang tampak didalamnya kemaslahatan dan kapan saja dia
meragukan adanya kemaslahatan didalamnya maka hendaklah dia tidak berbicara.
(Riyadhus Shalihin hal 445)
Q : Ustadz mau tanya, bagaimana cara kita agar bisa menjaga
semangat dalam mencari ilmu tetap stabil karena kadang ada perasaan malas &
lelah dalam menuntut ilmu terutama ilmu syar'i, padahal kita tau bahwa
ilmu itu sangat penting..
A : Menjaga semangat dalam mencari ilmu :
1. Luruskan niat dalam belajar
Kita diperintahkan untuk ikhlas dalam ibadah termasuk pula dalam belajar ilmu diin, sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan dalam QS. Al Bayyinah: 5
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”
Kita diperintahkan untuk ikhlas dalam ibadah termasuk pula dalam belajar ilmu diin, sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan dalam QS. Al Bayyinah: 5
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”
Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari)
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari)
Guru kami, Sayaaikh Sholih Al ‘Ushoimi berkata,
وإنما ينال المرأ العلم على قدر إخلاصه
“Seseorang bisa meraih ilmu sesuai dengan kadar ikhlasnya”(Ta’zhimul ‘Ilmi, hal. 25).
وإنما ينال المرأ العلم على قدر إخلاصه
“Seseorang bisa meraih ilmu sesuai dengan kadar ikhlasnya”(Ta’zhimul ‘Ilmi, hal. 25).
Artinya, semakin seseorang ikhlas dalam belajar, maka semakin
mudah meraih ilmu. Jika semakin mudah, maka ia pun akan terus semangat dalam
belajar.
Yang dimaksud ikhlas dalam belajar -sebagaimana kata Sayaaikh Sholih Al ‘Ushoimi-:
a- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri.
b- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada orang lain.
c- Belajar agama untuk menghidupkan dan menjaga ilmu.
d- Belajar agama untuk mengamalkan ilmu.
Guru kami, Sayaaikh Sholih Al ‘Ushoimi lalu berkata,
فالعلم شجرة والعمل ثمرة وإنما يراد العلم بالعمل
“Ilmu itu ibarat pohon, amal itu buahnya. Ilmu itu dicari untuk diamalkan.”(Ta’zhimul ‘Ilmi, hal. 27).
Yang dimaksud ikhlas dalam belajar -sebagaimana kata Sayaaikh Sholih Al ‘Ushoimi-:
a- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri.
b- Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada orang lain.
c- Belajar agama untuk menghidupkan dan menjaga ilmu.
d- Belajar agama untuk mengamalkan ilmu.
Guru kami, Sayaaikh Sholih Al ‘Ushoimi lalu berkata,
فالعلم شجرة والعمل ثمرة وإنما يراد العلم بالعمل
“Ilmu itu ibarat pohon, amal itu buahnya. Ilmu itu dicari untuk diamalkan.”(Ta’zhimul ‘Ilmi, hal. 27).
Memperbaiki niat inilah yang membuat kita bisa terus semangat
dalam belajar. Namun memperbaikinya tentu sulit dan butuh perjuangan.
Sufyan Ats Tsauri pernah berkata,
ما عالجتُ شيئاً أشدَّ عليَّ من نيَّتي ؛ لأنَّها تتقلَّبُ عليَّ
“Tidaklah yang paling sulit untuk kuobati selain daripada niatku. Karena niatku selalu berbolak-balik.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam).
Sulaiman bin Daud Al Hasayaimiy berkata,
ربَّما أُحدِّثُ بحديثٍ ولي نيةٌ ، فإذا أتيتُ على بعضِه ، تغيَّرت نيَّتي ، فإذا الحديثُ الواحدُ يحتاجُ إلى نيَّاتٍ
“Terkadang ketika aku menyampaikan satu hadits, aku butuh pada niat. Lalu jika beralih pada hadits yang lain, maka berubah pula niatku. Sehingga satu hadits itu butuh pada beberapa niat.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam).
Bisa jadi seseorang dalam belajar pada awalnya ingin mengharap ridho selain Allah, namun ilmu nantinya yang mengantarkan dia pada ridho Allah. Ad Daruquthi berkata,
طلبنا العلم لغير الله فأبي أن يكون إلا لله
“Kami dahulu menuntut ilmu karena ingin gapai ridho selain Allah. Namun ilmu itu enggan, ia hanya ingin niatan tersebut untuk Allah.” (Disebutkan dalam Tadzkiroh As Saami’ wal Muta’allim, dinukil dari Ma’alim fii Thoriqi Tholabil ‘Ilmi, hal. 18).
Sufyan Ats Tsauri pernah berkata,
ما عالجتُ شيئاً أشدَّ عليَّ من نيَّتي ؛ لأنَّها تتقلَّبُ عليَّ
“Tidaklah yang paling sulit untuk kuobati selain daripada niatku. Karena niatku selalu berbolak-balik.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam).
Sulaiman bin Daud Al Hasayaimiy berkata,
ربَّما أُحدِّثُ بحديثٍ ولي نيةٌ ، فإذا أتيتُ على بعضِه ، تغيَّرت نيَّتي ، فإذا الحديثُ الواحدُ يحتاجُ إلى نيَّاتٍ
“Terkadang ketika aku menyampaikan satu hadits, aku butuh pada niat. Lalu jika beralih pada hadits yang lain, maka berubah pula niatku. Sehingga satu hadits itu butuh pada beberapa niat.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam).
Bisa jadi seseorang dalam belajar pada awalnya ingin mengharap ridho selain Allah, namun ilmu nantinya yang mengantarkan dia pada ridho Allah. Ad Daruquthi berkata,
طلبنا العلم لغير الله فأبي أن يكون إلا لله
“Kami dahulu menuntut ilmu karena ingin gapai ridho selain Allah. Namun ilmu itu enggan, ia hanya ingin niatan tersebut untuk Allah.” (Disebutkan dalam Tadzkiroh As Saami’ wal Muta’allim, dinukil dari Ma’alim fii Thoriqi Tholabil ‘Ilmi, hal. 18).
2. Mengamalkan ilmu
Mengamalkan ilmu membuat seseorang semakin kokoh dan semangat untuk meraih ilmu lainnya. Sedangkan enggan mengamalkan ilmu adalah sebab hilangnya barokah ilmu. Bahkan karena tidak mengamalkannya, itu bisa jadi argumen untuk menjatuhkan diri seorang penuntut ilmu. Allah telah mencela orang-orang semacam ini dalam ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash Shaff: 3).
Jika seseorang mengamalkan ilmu, maka Allah akan semakin memudahkan ia mendapatkan taufik untuk meraih ilmu lainnya. Selain itu, mengamalkannya semakin menolongnya membedakan antara yang benar dan yang keliru. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada ALlah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan (membedakan antara yang hak dan batil)” (QS. Al Anfal: 29).
Dalam ayat lain disebutkan,
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya. ” (QS. Muhammad: 17).
Ibnu Mas’ud berkata,
كان الرجل منا إذا تعلم عشر آيات لم يجاوزهن حتى يعرف معانيهن، والعمل بهن
“Dahulu orang-orang di antara kami (yaitu para sahabat Nabi) mempelajari sepuluh ayat Qur’an, lalu mereka tidak melampauinya hingga mengetahui makna-maknanya, serta mengamalkannya.” (Muqoddimah Tafsir Ibnu Katsir)
Adz Dzahabi berkata,
واما اليوم فما بقي من العلوم القليلة الا القليل في أناس قليل ما أقل من يعمل منهم بذلك القليل فحسبنا الله ونعم الوكيل
“Adapun hari ini: ilmu sedikit yang tersisa hanyalah sedikit yang ditemui pada orang-orang yang jumlahnya pun sedikit. Yang mengamalkannya pun sedikit. Hasbunallah wa ni’mal wakil, hanya Allah yang memberikan kecukupan dan pertolongan” (Tadzkirotul Hafizh, 3: 1031).
Mengamalkan ilmu membuat seseorang semakin kokoh dan semangat untuk meraih ilmu lainnya. Sedangkan enggan mengamalkan ilmu adalah sebab hilangnya barokah ilmu. Bahkan karena tidak mengamalkannya, itu bisa jadi argumen untuk menjatuhkan diri seorang penuntut ilmu. Allah telah mencela orang-orang semacam ini dalam ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash Shaff: 3).
Jika seseorang mengamalkan ilmu, maka Allah akan semakin memudahkan ia mendapatkan taufik untuk meraih ilmu lainnya. Selain itu, mengamalkannya semakin menolongnya membedakan antara yang benar dan yang keliru. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada ALlah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan (membedakan antara yang hak dan batil)” (QS. Al Anfal: 29).
Dalam ayat lain disebutkan,
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآَتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya. ” (QS. Muhammad: 17).
Ibnu Mas’ud berkata,
كان الرجل منا إذا تعلم عشر آيات لم يجاوزهن حتى يعرف معانيهن، والعمل بهن
“Dahulu orang-orang di antara kami (yaitu para sahabat Nabi) mempelajari sepuluh ayat Qur’an, lalu mereka tidak melampauinya hingga mengetahui makna-maknanya, serta mengamalkannya.” (Muqoddimah Tafsir Ibnu Katsir)
Adz Dzahabi berkata,
واما اليوم فما بقي من العلوم القليلة الا القليل في أناس قليل ما أقل من يعمل منهم بذلك القليل فحسبنا الله ونعم الوكيل
“Adapun hari ini: ilmu sedikit yang tersisa hanyalah sedikit yang ditemui pada orang-orang yang jumlahnya pun sedikit. Yang mengamalkannya pun sedikit. Hasbunallah wa ni’mal wakil, hanya Allah yang memberikan kecukupan dan pertolongan” (Tadzkirotul Hafizh, 3: 1031).
3. Bergaul dengan orang-orang yang sholih
Allah menyatakan dalam Al Qur’an bahwa salah satu sebab utama yang membantu para sahabat Nabi untuk tetap semangat dalam iman adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka. Allah Ta’ala berfirman,
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nyapun berada ditengah-tengah kalian? Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran: 101).
Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur).” (QS. At Taubah: 119).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita. Karena dengan sahabat baiklah yang membuat agama kita semakin kokoh. Dari Abu Musa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101)
Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.” (Fathul Bari, 4: 324)
Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang sholih.
Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,
نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ
“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An Nubala’, 8: 435) Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang sholih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang sholih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang sholih lainnya.
‘Abdullah bin Al Mubarok mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”
Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Lihat Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas, Sayyid bin Husain Al ‘Afani, hal. 466)
Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”. (Lihat Shahih Al Wabilush Shoyyib, hal. 94-95)
4. Bersifat pertengahan
Di antara sebab yang membuat seseorang cepat futur dalam belajar adalah sikap terlalu berlebihan (esktrim). Terlalu mempress dirinya untuk belajar tanpa mengenal waktu, tanpa istirahat badan dan tidak memperhatikan tubuhnya.
Cobalah ambil pelajaran dari hadits berikut ini.
Dari Mujahid, ia berkata, aku dan Yahya bin Ja’dah pernah menemui salah seorang Anshor yang merupakan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, para sahabat Rasul membicarakan bekas budak milik Bani ‘Abdul Muthollib. Ia berkata bahwa ia biasa shalat malam (tanpa tidur) dan biasa berpuasa (setiap hari tanpa ada waktu luang untuk tidak puasa). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Akan tetapi aku tidur dan aku shalat malam. Aku pun puasa, namun ada waktu bagiku untuk tidak berpuasa. Siapa yang mencontohiku, maka ia termasuk golonganku. Siapa yang benci terhadap ajaranku, maka ia bukan termasuk golonganku. Setiap amal itu ada masa semangat dan ada masa malasnya. Siapa yang rasa malasnya malah menjerumuskan pada bid’ah, maka ia sungguh telah sesat. Namun siapa yang rasa malasnya masih di atas ajaran Rasul, maka dialah yang mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad 5: 409).
Kita mesti bersikap pertengahan termasuk pula dalam belajar agar sikap semangat bisa terus dijaga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati ‘Abdullah bin ‘Amr,
لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ
“Dirimu itu memiliki hak yang mesti diperhatikan. Begitu pula keluargamu memiliki hak yang mesti diperhatikan.” (HR. Ahmad 2: 200. Sanad hadits ini hasan).
Begitu pula amalan yang terbaik adalah amalan yang pertengahan dan rutin, walau jumlahnya sedikit. Dari ‘Aisayaah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ
“Sesungguhnya amalan yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang rutin (kontinu) walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5861 dan Muslim no. 782).
Di antara sebab yang membuat seseorang cepat futur dalam belajar adalah sikap terlalu berlebihan (esktrim). Terlalu mempress dirinya untuk belajar tanpa mengenal waktu, tanpa istirahat badan dan tidak memperhatikan tubuhnya.
Cobalah ambil pelajaran dari hadits berikut ini.
Dari Mujahid, ia berkata, aku dan Yahya bin Ja’dah pernah menemui salah seorang Anshor yang merupakan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, para sahabat Rasul membicarakan bekas budak milik Bani ‘Abdul Muthollib. Ia berkata bahwa ia biasa shalat malam (tanpa tidur) dan biasa berpuasa (setiap hari tanpa ada waktu luang untuk tidak puasa). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Akan tetapi aku tidur dan aku shalat malam. Aku pun puasa, namun ada waktu bagiku untuk tidak berpuasa. Siapa yang mencontohiku, maka ia termasuk golonganku. Siapa yang benci terhadap ajaranku, maka ia bukan termasuk golonganku. Setiap amal itu ada masa semangat dan ada masa malasnya. Siapa yang rasa malasnya malah menjerumuskan pada bid’ah, maka ia sungguh telah sesat. Namun siapa yang rasa malasnya masih di atas ajaran Rasul, maka dialah yang mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad 5: 409).
Kita mesti bersikap pertengahan termasuk pula dalam belajar agar sikap semangat bisa terus dijaga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati ‘Abdullah bin ‘Amr,
لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ
“Dirimu itu memiliki hak yang mesti diperhatikan. Begitu pula keluargamu memiliki hak yang mesti diperhatikan.” (HR. Ahmad 2: 200. Sanad hadits ini hasan).
Begitu pula amalan yang terbaik adalah amalan yang pertengahan dan rutin, walau jumlahnya sedikit. Dari ‘Aisayaah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ
“Sesungguhnya amalan yang paling dicintai di sisi Allah adalah yang rutin (kontinu) walau jumlahnya sedikit.” (HR. Bukhari no. 5861 dan Muslim no. 782).
5. Perbanyak do’a pada Allah agar tetap terus semangat
Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdo’a kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman, termasuk dalam hal ini adalah semangat dalam belajar. Allah Ta’ala berfirman,
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146) وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآَتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan: ‘Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir‘. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran: 146-148).
Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir” (QS. Al Baqarah: 250)
Do’a lain agar mendapatkan keteguhan dan ketegaran adalah,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imron: 8)
Do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,
يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ
“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa sajalah yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Sayaaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dalam riwayat lain dikatakan,
إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا
“Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad 3: 257. Sayaaikh Sayau’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini kuat sesuai sayaarat Muslim)
Al Hasan Al Bashri ketika membaca ayat,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30); ia pun berdo’a, “Allahumma anta robbuna, farzuqnal istiqomah (Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami. Berikanlah keistiqomahan pada kami).” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 245)
Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdo’a kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman, termasuk dalam hal ini adalah semangat dalam belajar. Allah Ta’ala berfirman,
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ (146) وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (147) فَآَتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآَخِرَةِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (148
“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan: ‘Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir‘. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. Ali ‘Imran: 146-148).
Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir” (QS. Al Baqarah: 250)
Do’a lain agar mendapatkan keteguhan dan ketegaran adalah,
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imron: 8)
Do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,
يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ
“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa sajalah yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Sayaaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dalam riwayat lain dikatakan,
إِنَّ الْقُلُوبَ بِيَدِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يُقَلِّبُهَا
“Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad 3: 257. Sayaaikh Sayau’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini kuat sesuai sayaarat Muslim)
Al Hasan Al Bashri ketika membaca ayat,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” (QS. Fushilat: 30); ia pun berdo’a, “Allahumma anta robbuna, farzuqnal istiqomah (Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami. Berikanlah keistiqomahan pada kami).” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 245)
Q : ‘Orang berilmu dan
beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang’ (Imam Syafii)
Mohon dijelaskan ustad maksud hadist ini bagaimana ya, karena kadang sebagian orang justru mencibir orang yang meninggalkan kampung halamannya..
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang’ (Imam Syafii)
Mohon dijelaskan ustad maksud hadist ini bagaimana ya, karena kadang sebagian orang justru mencibir orang yang meninggalkan kampung halamannya..
A : Merantaulah..
Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung
halaman..
Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang..
Merantaulah..
Kau kan dapati pengganti dari orang-orang yang kau tinggalkan..
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup kan terasa setelah lelah
berjuang..
Aku melihat air menjadi kotor karena diam tertahan..
Jika mengalir, ia kan jernih..
Jika diam, ia kan keruh menggenang..
Singa jika tak tinggalkan sarang, tak kan mendapatkan makanan..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak kan mengenai sasaran..
Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam..
Tentu manusia kan bosan, dan enggan untuk memandang..
Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah..
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika terus berada di
dalam hutan..
Jika bijih emas memisahkan diri, barulah ia menjadi emas murni
yang dihargai..
Jika kayu gaharu keluar dari hutan, ia kan menjadi parfum yang
bernilai tinggi..
Sumber: Diwan al-Imam asaya-Sayaafi’i. Cet. Sayairkah
al-Arqam bin Abi al-Arqam. Beirut. Hal. 39
Intinya terletak pada di setiap yang hidup adalah ia yang
bergerak. Air yang tergenang tidak akan pernah memunculkan kebaikan
Yang namanya hijrah tidak hanya sekedar berpindah dari satu
tempat ke tempat yang lainnya..melainkan ia bermakna meninggalkan keburukan
menuju kebaikan..meninggalkan kemaksiatan menuju kebajikan dst. Sebagaimana
Rasulullah melakukan hijrah ke Yatsrib..bukan dalam rangka melarikan diri dari
kekejaman kaum kafir quraisaya dan stucknya dakwah beliau di Mekkah..melainkan
hijrah untuk menghimpun kekuatan dan mencari lahan dakwah yang jauh lebih luas
dan menjanjikan sebagaimana dijanjikan oleh Allah kala perintah hijrah ke
Yatsrib itu diturunkan..sehingga pada saatnya Rasulullah kembali dengan kekuatan
yang berlipat dan terjadilah fathu Makkah
Jadi harus dilihat merantau ke negri orangnya dalam rangka apa
Cibiran itu tidak akan ada artinya ketika mereka yang pergi
meninggalkan kampung halamannya semakin bermanfaat bagi umat
Q : Ustad, jika guru tidak
ridho pada kita, apa ilmu yang telah kita dapat menjadi tidak berkah?? Hal-hal
apa saja yang membuat ilmu tidak diberkahi??
A : Sesungguhnya salah satu tanda kehendak baik dari Allah SWT pada
seorang hamba ialah ketika ia menempuh jalan ini yaitu jalan menimba ilmu,
sehingga ia menjadi seorang diantara pada penimba ilmu.
Sehingga ia menjadi orang yang rela mencurahkan segenap
waktunya, kehidupannya, masa mudanya, energi dan kekuatannya guna menimba ilmu
dan mengumpulkannya.
Maka hal ini demi Allah, sungguh suatu kemuliaan yang sangat
agung, dan hal ini adalah tanda bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki
kebaikan pada diri hamba-Nya itu.
Jadi yang dimaksud menghendaki kebaikan pada diri hambaNya itu
adalah mereka yang diberi kemudahan untuk memahami/dijadikan paham (tafaqqohu
fiddiin) (muttafaq 'alaih)
Ketika kemudian seseorang merasa kesulitan dalam mempelajari, memahami
sebuah ilmu terutama ilmu yang kaitannya dengan ilmu akhirat maka ada sesuatu
yang menghalangi Allah beri keberkahan ilmu padanya
Karena betapa luar biasanya malaikat menghormati mereka yang
belajar dan mengajarkan ilmu. Belajar saja sudah derajatnya sudah dimuliakan
oleh Allah..apalagi mengajarkan..sampai2 para malaikat berkenan meletakkan
sayapnya sebagai tanda hormat kepada para penuntut ilmu..apalagi kepada para
ulama yang teramat luas ilmunya. Pertanyaan jika guru tidak ridho sesungguhnya
belum selesai..tidak ridhonya karena apa?
Allah tidak menghendaki kebaikan padanya dikarenakan
sesuatu..dan adab kepada guru adalah salah satu sayaarat bagi seseorang untuk
mendapatkan berkahnya ilmu
Q : Ustad benarkah menuntut ilmu itu sama dengan jihad? Dan
bagaimana hadisnya? Ada pendapat mengatakan tidak menyampaikan ilmu termasuk
dosa. Apakah wanita yang bersekolah di pendidikan kemudian tidak bekerja
(mengajar) termasuk golongan yang tidak menyampaikan ilmu?
A : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ
“Siapa yang mendatangi masjidku (masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, maka ia hanyalah seperti orang yang mentilik-tilik barang lainnya.” (HR. Ibnu Majah no. 227 dan Ahmad 2: 418, shahih kata Sayaaikh Al Albani).
مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ
“Siapa yang mendatangi masjidku (masjid Nabawi), lantas ia mendatanginya hanya untuk niatan baik yaitu untuk belajar atau mengajarkan ilmu di sana, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Jika tujuannya tidak seperti itu, maka ia hanyalah seperti orang yang mentilik-tilik barang lainnya.” (HR. Ibnu Majah no. 227 dan Ahmad 2: 418, shahih kata Sayaaikh Al Albani).
Alhamdulillah, kajian
kita hari ini berjalan dengan lancar. Moga ilmu yang kita dapatkan berkah dan
bermanfaat. Aamiin....
Segala yang benar dari
Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita
tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul
majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya
Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah
melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment