Kajian Online WA Hamba الله SWT
Selasa,
28 Februari 2017
Rekapan
Grup Bunda G5 (Bund Sayda)
Narasumber
: Ustadz Hizbullah Zein
Tema : Kajian
Umum
Editor
: Rini Ismayanti
Dzat
yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat
yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat
yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan
indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya,
yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untukuk
mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.
AlhamduliLlah...
tsumma AlhamduliLlah...
Shalawat
dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah
kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat
yang telah mati, memepersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing
manusia yang tenggelam dalam lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur
lelap dan menuntukun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan,
kemuliaan, dan kebahagiaan.
Amma
ba'd...
Ukhti
fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan
lafadz Basmallah
Bismillahirrahmanirrahim...
MENYUBURKAN
IMAN DENGAN MURAQATULLAH
Secara umum ada dua factor dalam menjaga
tumbuh suburnya ruhiyah dan keimanan. Yang pertama yang berkaitan dengan
kepekaan jiwa dan yang kedua terkait Amaliyah
Pada kesempatan ini kita membahas yang
pertama, factor yang berkaitan dengan Kepekaan Jiwa.
Pertama:
Selalu merasakan Muraqabtullah (Pengawasan Allah)
Apabila seseorang hendak melakukan
sesuatu hendaklah ia menaykini dalam relung hatinya bahwa Allah bersamanya.
Allah melihat dan mengawasi dirinya. Allah mengetahui yang
nampakdan yang tersembunyi dari dirinya. Mengetahui penglihatan mata
yang khianat serta apa yang tersembunyi dalam hatinya.
Sesuai dengan sabda Nabi Shallalahu
alaihi wasallam:
“….hendaklah engkau beribadah kepada
Allah seolah-olah engaku melihat Allah.
Dan jika memang engaku tidakmelihat-Nya maka sungguh Allah melihat kamu.” (H.R.
Muslim)
Dengan keyakinan seperti ini, merasakan
Muraqabatullah secara terus menerus, maka
hal ini akan mengantar kepada peningkatan ruhiyah , menjaga akhlak
selalu lurus serta ibadah yang selalu benar.
Ada beberapa contoh dari para pendahulu
kita bagaimana mereka meyakini Muraqabatullah terhadap diri meraka yang pada
akhirnya mengantar mereka pada kejujuran, kemuliaan akhlaq dan tumbuh suburnya
ruhiyah.
Imam al-Gazhali meriwayatkan dalam kitab
Ihya’ ulumuddin, bahwa di took milik Yunus bin Ubaid ada beberapa jenis
perhiasan dengan harga yang bermacam-macam.
Diantaranya ada yang seharga 400 dirham dan ada yang seharga 200 dirham.
Suatu ketika ia hendak berangkat mengerjakan solat , ia lalu meminta keponakannya untuk menggantikan
dirinya menjaga toko,. Lalu datanglah
seorang Arab Badui dan meminta perhiasan seharga 400 dirham untuk dibelinya.
Keponakan Yunus pun menyodorkan salah satu perhiasan kepadanya. Ia menerima,
setelah meneliti dan meresa puas ia pun memabyarnya seharga 400 dirham.
Kemudian pergi meninggalakan toko sambil menimang-nimang perhiasan yang tekah
dibelinya. Ditengah jalan Yunus bin Ubaid berjumpa dengannya. Ia melihat
perhiasan ditangan Arab Badui itu dan sangat tau akan perhiasan tersebut. Yunus bin Ubaid pun lalu bertanya,
“berapa harga perhiasan yang engkau beli
itu?”
“400 dirham” Jawab Badui
“perhiasan itu harganya tak lebih dari
200 dirham. Kembaliah ke toko dan ambil uang lebihnya” ujar Yunus
“perhiasan seperti ini seharga 500
dirham dirham dikampung saya, dan saya rela membelinya dengan 400 dirham” balas
Badui itu.
“kalau begitu engkau ikut saya!
Sesungguhya nasehat agama lebih baik dari pada dunia dan seisinya” kata Yunus
bin Ubaid.
Yunus bin Ubaid lalu mengajak seorang
Badui tersebut kembali ke tokonya lalu mengembalikan kelebihan bayarannya. Ia
kemudain menegur keponakannya dengan keras
“ Apakah engkau tidak malu? Engaku
mengambil untung sebesar harga barang
dan kamu tinggalakan kejujuranmu terhadap orang muslim!!.”
“demi Allah, dia mengambilnua dengan
rela sepenuhnya” bantah keponakannya
“bukankah seharusnya kamu rela untuknya
sebagaimana engaku merasa rela untuk dirimu sendiri?” jawab Yunus bin Ubaid.
Dalam riwayat lain Abdullah bin Dinar
bercerita: “saya berangkat ke Mekkah bersama Umar bin Khattab,ketika kami
sedang beristirahat, tiba-tiba muncul seorang pengembala menuruni lerang gunung
menuju kami. Umar lalu berkata kepada pengembala; “hai pengembala, juallah
seekor kambingmu kepada saya”
“tidak! saya ini seorang budak” jawab
pengembala itu.
“katakana saja pada tuanmu bahwa
dombanya diterkam serigala” ucap Umar menguji
“kalau begitu di mana Allah?” tegas si
pengembala
Ketika mendegar ucapa itu Umar langsung
menangis, lalu pergi bersama budak tersebut mengahadap ke tuannya kemudian Umar
membelinya lalu memerdekakanny seraya berkata
“kamu telah dimerdekakan di dunia karena
ucapannmu, semoga ucapanmu bisa memerdekakanmu
di akhirat kelak”.
Atau tentang kisah tentang seorang Ibu
degan anak gadisnya yang ingin mencampurkan susu dengan air agar mendapat
keuntungan yang lebih banyak. Putrinya lalu mengingatkannya dengan
muraqabatullah (pengawasan Allah ) dan peringatan Amirul mukminin Umar bin
Khattab radiyallahu anhu agar kaum
muslimin berlaku jujur dalan berbisnis. Ketika ibu tetap bersikeras untuk
mencampur susu dengan air,purtinya menasehati “kalaupun Amirul Mukiminin Umar
bin Khattab radiyallahu anhu tidak melihat kita tetapi Rabb amirul mukminin
melihat kita.
Kisah lain tentang seorang wanita di
zaman Umar bin Khattab yang sudah lama ditinggal oleh suaminya. Terkepung dalam
kabut kesepian, disergap bisikia-bisikan kesendirian. Darah kewanitaanya
bergejolak dan nalurinaya membisikkan sesuatu. Namu semua itu terbendung dengan
banteng keimanan dan keyakinan akan Muarabatullah yang terus menerus. Suatu
ketika di tengah malam gelap gulita saat Umar bin Khattab belusukan memeriksa
kondisi masyarakatnya ia mendegarkan senandung syair wanita tersebut.
“malam lama berlalu, galap makin pekat
Aku masih terjaga, tanpa kekasih yang
mencumbu
Demi Allah, Andai tak ada Allah yang
ditakuti siksa-Nya
Nisacaya akan bergoyang ranjang ini
Hari berikutnya Umar menemui putriya Hafsoh radiyallahi anhuma lalu bertanya,
“berapa lamakah istri bisa bersabar menunggu suaminya?”
Hafsoh menjawab : “empat Bulan”
Selanjutnya Khalifah Umar umar bin
Khattab Radiyallahu anhu segera mengrim utusan kepada para komandan pasukan di
medan perang. Dalam pesannya Umar memerintahkan para komandan agar tidak
menahan pasukan prajurit (mujahid) dalam tugas lebih dari emapat bulan.
Merupakan ujian bagi sang wanita
tersebut antara rasa takut kepada Allah dan dorogan melakukan maksiat di sisi
lain. Namun, kemudian dorongan-dorogan tersebut lebur di hadapan kekuatan Iman
karena hadirnya keyakianan Allah mengawasi diri kita (Muraqabatullah).
Al-Harits al-Muhasibi berkata,
“Muraqabah adalah pengetahuan hati tentang kedekatan Rabb”
Seorang muslim hendaknya selalu
merasakan muroqobatullah (merasa selalu dalam pengawasan Allah) setiap saat.
Meyakini bahwa Allah subhanahu wata’ala
senantiasa melihatnya, mengetahui rahasianya, dan Dia Maha Tahu terhadap segala
perbuatannya, bahkan sampai pada hal yang sekecil-kecilnya.
Sehingga dengan keyakinan seperti itu,
maka jiwanya merasa terliputi dalam pengawasan Allah subhanahu wata’ala, dia
akan merasa betah berdzikir kepada-Nya, akan senang melaksana kan keta’atan
kepada-Nya dan dia pun akan berpaling dari selain-Nya. Malu berbuat maksiat
baik dikala sendiri ataupun banyak orang.
Sifat muraqabah merupakan dasar komitmen
seorang muslim pada Islam. Sifat muraqabah merupakan sumber kekuatan seorang
muslim di saat sendirian dan di tengah keramaian. Jika terlintas dalam
pikirannya untuk melakukan maksiat, maka dia akan segera ingat Allah subhanahu
wata’ala, bahwa Dia hadir mengawasinya, lalu dengan serta merta dia akan
membuang pikiran ke arah maksiat itu sejauh-jauhnya, agar dirinya terhindar dan
terbebas dari perbuatan maksiat tersebut dan dia berazzam untuk tidak
mendekatinya lagi. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Dan Dia bersama kamu di mana pun kamu
berada dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat” (QS. Al-Hadid:4)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
“Makna ayat ini adalah, bahwa Allah subhanahu wata’ala Maha Mengawasi dan
menyaksikan semua perbuatan, kapan saja dan di mana saja kamu melakukannya, di
daratan maupun di lautan, pada waktu malam maupun siang hari, di rumah tempat
tinggalmu maupun di tempat umum yang terbuka, segala sesuatu ada dalam
ilmu-Nya, semuanya dalam penglihatan dan pendengaran-Nya. Dia mendengar apa
yang kamu ucapkan dan melihat keberadaanmu, Dia Maha Mengetahui apa yang kamu
rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
pernah ditanya oleh seseorang, “Wahai Rasulullah apa itu “tazkiyatun nufus?”
Maka dijawab oleh beliau, “(Tazkiyatun nufus itu ialah) hendaklah dia
mengetahui (menyadari) bahwa Allah bersamanya di mana pun dia berada”. (HR.
Thabrani & Baihaqi, dan hadist ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Juga seorang shahabat Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam ‘Ubadah Bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya keimanan yang
paling utama adalah engkau menyadari bahwa Allah bersamamu di mana pun kamu
berada”. (HR. Thabrani).
Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasululllah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sungguh aku mengetahui beberapa kaum
dari ummatku yang datang pada hari Kiamat kelak dengan membawa
kebaikan-kebaikan seperti gunung Tihamah yang putih, lalu Allah jadikan
kebaikan-kebaikannya tersebut seperti debu yang berterbangan, mereka itu adalah
saudara-saudaramu, dari jenis kulitmu, dan mereka menjadikan malamnya
sebagaimana kalian menjadikannya, akan tetapi mereka kaum yang apabila dalam
keadaan sepi mereka melanggar larangan-larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah, hadits
ini dishahihkan oleh Syekh Al-Al-Bani)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
juga bersabda,
“Suatu perbuatan yang tidak kamu sukai
bila manusia melihat perbuatanmu itu, maka janganlah kamu melakukannya apabila
kamu berada dalam keadaan sepi”. (HR. Ibnu Hibban dan dihasankan oleh Syaikh
al-Albani).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda dalam hadits yang lain,
“Ada tiga hal yang mencelakakan
seseorang dan ada tiga hal yang menyelamatkan seseorang.
Tiga hal yang mencelakakan,
1. Kekikiran yang dita’ati,
2. Hawa Nafsu yang diikuti,
3. Kekaguman terhadap diri sendiri.
Sedangkan tiga hal yang menyelamatkan,
1. Takut kepada Allah dalam keadaan sepi
maupun di tengah keramaian,
2. Seimbang/sederhana menjalani hidup
ini baik dalam keadaan fakir maupun kaya,
3. Adil dalam menghukumi baik ketika
sedang marah (benci) maupun senang (ridho)”. (HR. al-Bazzar diringkas dari
Ash-Shahihah)
Imam Ahmad rahimahullah pernah
menuturkan, “Jika pada suatu hari engkau sedang sepi dalam kesendirian, maka
janganlah engkau mengatakan, “Aku sedang sendirian”, tapi katakanlah, “Aku
sedang diawasi oleh Dzat Yang Maha Mengawasi”. Janganlah sekali-kali engkau
mengira bahwa Allah subhanahu wata’ala itu dapat saja berbuat lengah sesaat dan
janganlah pula engkau sekali-kali mengira bahwa apa yang kamu sembunyikan itu
tersembunyi pula bagi Allah.”
DR. Sayyid Muhammad Nuh dalam Taujih
Nabawy, beliau menerangkan dua sarana untuk menghidupkan muroqobah:
Pertama: Memiliki keyakinan yang
sempurna bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala Maha Mengetahui segala
yang dirahasiakan dan segala yang nyata, Allah subhanahu wata’ala berfirman,
artinya,
“Dia Allah yang disembah di langit dan
di bumi, Dia Mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan,
dan Dia Mengetahui apa yang kamu usahakan” (QS. Al-An’am:3)
Sesungguhnya hakikat muroqobah seperti
ini apabila benar-benar terhujam di dalam hati seseorang, maka dia akan
benar-benar merasa malu dilihat oleh Allah subhanahu wata’ala jika dia
melanggar larangan-Nya atau dia meninggalkan perintah-Nya.
Ke dua: Memiliki keyakinan bahwa Allah
subhanahu wata’ala akan menghitung dan menghisab segala sesuatu meskipun itu
hal-hal yang terkecil. Dia akan memberitahukan hal itu kelak pada hari Kiamat,
dan bahkan Dia akan memberikan balasannya sesuai dengan jenis amal perbuatan
seseorang, amalan yang jelek akan dibalas dengan ‘iqob dan azab-Nya sedangkan
amal yang baik akan mendapatkan balasan rahmat dan ridho-Nya. Allah subhanahu
wata’ala berfirman, artinya,
“Dan diletakkanlah al-kitab (buku
catatan amal perbuatan), lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah
ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai
celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak
(pula) yang besar, melainkan dia catat semuanya; dan mereka mendapati apa yang
telah mereka kerjakan ada (tertulis dihadapan mereka). Dan Rabbmu tidak
menganiaya seorang jua pun”. (QS. Al-Kahfi:49).
Referensi: kitab ruhiyatu Addaiyah oleh
Dr. Abdullah Nasih Ulwan & Alsofwa: menumbuhkan sikap muraqabatullah
sekian materinya silahkan di baca..
mahon maaf atas segala kekurangan
TANYA JAWAB
Q : Ustadzah apakah muroqobatullah bisa disamakan dengan
ma'iyatullah?
A : Muraqbatullah (meyakini diawasi oleh
Allah) adalah bagian Dari ma'iyatullah (keyakinan Allah selalu bersama kita).
Selain meyakini Allah mengawasi kita,
kita juga meyakini Allah akan selalu menolong kita Dan keyakinan ini
juga bagian dari maiyatullah. Innallaha ma'ana.
Q : Ustadz apa kiat yang harus kita
lakukan di saat kita sdg hilap/ keimanan kita melemah dan agar terus bisa
istiqomah dalam muroqobatullah...?
A : Khilaf salah, berdosa ada bagian yang
bisa terlepas dri manusia. Makax dalam sabdanya Rasulullah mengarahkan kita sebagai
hamba yang sering khifa "setiap
anak cucu Adam adalah pelaku kesalahan (bisa bersalah) dan sebaik-baik
orang bersalah adlah yang bertaubat" jika sudah khilaf segera bertaubat. Dan
gak ada dosa yang tidak diampuni oleh Allah selama hambanya serious bertaubat
selama mash hidup. Adapun untuk istiqamahx setelah taubat, salah satunya dgn
meyakini Allah selalu mengawasi kita, menilai perbuatan dan pasti akan menghisabx
tak ada perbuatan sebesar zarrah pun yang
akan lepas dari pengawasan Allah. Wallahu a'lam
Q : Apakah seseorang dalam keadaan
muroqobatullah, tidak bisa di pengaruhi oleh bisikan syetan??
A : Muraqabtullah ada senjata dn benteng
melawan pengruh dn bisikan syaitan. Justru saat syaitan sedang membisiki kita
disitulah keyakinan muraqbatullah dkelurkan sebagai senjata. Apakah jika kita
telah merasa diawasi oleh Allah lantas syaitan tidk membisi kita dan kita telah
lolos dari bisikannya? Belum tentu, bisa jadi keyakinan murabatullahseorng hamba masih setengah-setengah sehingga
syaitan bisa menjuruskan hamba. Kita berlindung kepada Allah Dari bisikan
kesesatan syaitan yang tekutuk
Wallahu a'lam bishowab
Q : Ustd bagaimana kiatnya supaya
muraqobatullah yang kita lakukan tidak setengah-setengah. Kadang sulit sekali
untuk khusuk dalam shalat.
A : DR. Sayyid Muhammad Nuh dalam Taujih
Nabawy, beliau menerangkan dua sarana untuk menghidupkan muroqobah:
Pertama: Memiliki keyakinan yang
sempurna bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala Maha Mengetahui segala
yang dirahasiakan dan segala yang nyata, Allah subhanahu wata’ala berfirman,
artinya,
“Dia Allah yang disembah di langit dan
di bumi, Dia Mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu tampakkan,
dan Dia Mengetahui apa yang kamu usahakan” (QS. Al-An’am:3)
Sesungguhnya hakikat muroqobah seperti
ini apabila benar-benar terhujam di dalam hati seseorang, maka dia akan
benar-benar merasa malu dilihat oleh Allah subhanahu wata’ala jika dia
melanggar larangan-Nya atau dia meninggalkan perintah-Nya.
Ke dua: Memiliki keyakinan bahwa Allah
subhanahu wata’ala akan menghitung dan menghisab segala sesuatu meskipun itu
hal-hal yang terkecil. Dia akan memberitahukan hal itu kelak pada hari Kiamat,
dan bahkan Dia akan memberikan balasannya sesuai dengan jenis amal perbuatan
seseorang, amalan yang jelek akan dibalas dengan ‘iqob dan azab-Nya sedangkan
amal yang baik akan mendapatkan balasan rahmat dan ridho-Nya. Allah subhanahu
wata’ala berfirman, artinya,
“Dan diletakkanlah al-kitab (buku
catatan amal perbuatan), lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah
ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai
celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak
(pula) yang besar, melainkan dia catat semuanya; dan mereka mendapati apa yang
telah mereka kerjakan ada (tertulis dihadapan mereka). Dan Rabbmu tidak
menganiaya seorang jua pun”. (QS. Al-Kahfi:49).
Dalam mengasah ketajaman ruhiyah kita,
butuh berthap. Kita lakukan perbaikan sedikit demi sedikit dgn begitu keyakinan
akan muraqbatullah juga semakin dalam.
Wallahu a'lam bishowab
Alhamdulillah,
kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan
berkah dan bermanfaat. Aamiin....
Segala
yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah
langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan
do'a kafaratul majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha
Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang
haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat
kepada-Mu.”
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment