
By Ustadz Dodi AbuEl
Tanya #12
Kenapa hanya ibadah Puasa saja yang
balasannya langsung dari اللّهُ Ta'ala ....?
Jawab:
Ini adalah suatu hal yang tidak dapat diungkapkan, bahkan اللّهُ Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak didengar oleh telinga, dan tidak terlintas dalam benak manusia.
Ini adalah suatu hal yang tidak dapat diungkapkan, bahkan اللّهُ Subhanahu wa Ta’ala membalasnya dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak didengar oleh telinga, dan tidak terlintas dalam benak manusia.
Ulama berbeda pendapat tentang makna:
فَإنَّهُ لِيْ وَأنَا أجْزِيْ بِهِ
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang
akan membalasnya.”
Padahal semua amal perbuatan adalah
untuk اللّهُ ‘Azza wa Jalla
dan Dia-lah yang akan membalasnya, sebagai berikut:
1. Di dalam puasa tidak terdapat
unsur riya sebagaimana yang terjadi pada ibadah lainnya.
2. Bahwa yang dimaksud dengan “dan
Aku-lah yang akan membalasnya,” adalah “Hanya Aku-lah yang mengetahui besarnya
balasan orang tersebut dan berapa banyak kebaikannya dilipatgandakan. Adapun
ibadah lainnya, karena ia dapat dilihat orang.”
3. Yang dimaksud dengan “dan Aku-lah
yang akan membalasnya,” yaitu bahwa puasa adalah ibadah yang paling Aku
cintai dan yang akan didahulukan di sisi-Ku.
4. Idhafah [penyandaran] dalam
redaksi ini merupakan idhafah tasyrif [kemuliaan] dan ta’zhim [keagungan], sebagaimana
misalnya Baitullah [rumah اللّهُ], meskipun
seluruh masjid sebenarnya adalah milik اللّهُ".
5. Tidak membutuhkan makan dan
syahwat-syahwat lainnya merupakan salah satu sifat اللّهُ
‘Azza wa Jalla. Dan karena orang yang berpuasa mendekatkan
dirinya dengan salah satu sifat-Nya, maka Dia pun menyandarkan ibadah
tersebut kepada diri-Nya.
6. Maksudnya sama seperti di atas,
hanya saja hal tersebut sesuai dengan sifat malaikat. Karena tidak
membutuhkan makan dan tidak memiliki syahwat merupakan salah satu sifat mereka.
7. Maksudnya bahwa puasa tersebut
murni hanya untuk اللّهُ ‘Azza wa Jalla,
dan tidak satu bagian pun dari ibadah tersebut yang ditujukan kepada sesama
hamba.
al-Baidhawi rahimahullah berkata,
“Ada dua hal yang menjadi alasan mengapa ibadah puasa diistimewakan
dengan kelebihan seperti ini.
Pertama, karena ibadah-ibadah lainnya dapat
dilihat oleh manusia, berbeda dengan puasa karena ia merupakan rahasia
antara hamba dan اللّهُ ‘Azza wa Jalla.
Ia melakukannya dengan ikhlas dan mengerjakannya karena mengharap ridha-Nya. Hal
ini ditunjukkan oleh firman اللّهُ ‘Azza wa Jalla
dalam sabda beliau ﷺ [hadits
qudsi, yang artinya], Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku.
Kedua, karena seluruh perbuatan baik
dilakukan dengan cara mengeluarkan harta atau mempergunakan fisik. Sementara
puasa mencakup pengekangan hawa nafsu dan membuat fisik menjadi lemah.
Dalam ibadah puasa terdapat unsur
kesabaran menahan rasa lapar, haus, dan meninggalkan syahwat.
Hal ini ditunjukkan oleh firman اللّهُ ‘Azza wa Jalla dalam sabda beliau ﷺ [hadits qudsi, yang artinya], ‘Dia meninggalkan syahwatnya
karena-Ku.’
Demikianlah fiqih ringkas Ramadhan
Series. kita kali ini, semoga اللّهُ Ta'ala
melindungi kita semua.
Nantikan Series lanjutannya.
والله تعالى أعلم والسلام عليكم ورحمة اللّه
وبركاته
•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Kita tutup dengan
membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin
Doa Kafaratul Majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك
أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya
Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah
melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuh
================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage: Kajian On line-Hamba Allah
FB: Kajian On Line - Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment