Rekap Kajian Online
HA Ummi G1 & G6
Hari/Tgl: Rabu, 5
September 2018
Materi: Pendidikan
Anak Ala Ibrahim
NaraSumber: Ustadz
Robin
Waktu Kajian: 12.30
- 14.40
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Bag.1
Di antara metode
pendidikan anak yang dicontohkan manusia pilihan langit diceritakan dalam
cuplikan kisah berikut:
"Maka tatkala
anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab: 'Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar'."[QS. As-Shaffat: 102]
Mimpi para Nabi as,
berdasarkan Aqidah Islam adalah bagian dari wahyu. Sehingga menjadi kewajiban
bagi para Nabi as untuk melaksanakannya.
Namun, lihatlah
bagaimana Ibrahim as mengkomunikasikan kewajiban ilahiah ini kepada anaknya;
".. Maka
pikirkanlah, apa pendapatmu? "
Sebuah dialog,
bahkan ketika kontennya adalah sesuatu yang sangat prinsip; wahyu Allah.
Inilah salah satu
metode pendidikan anak yang sangat penting. Mengajaknya dialog.
Jika Ibrahim as
masih membuka dialog dengan anaknya bahkan untuk konten yang sangat prinsipil
sekalipun, maka dialog dalam konten yang di luar itu tentu lebih digalakkan.
Maka tidak tepat,
bila orang tua memaksakan keinginannya begitu saja dalam pendidikan anak.
Misalnya;
"Pokoknya ga
boleh jajan sembarangan"
Kalimat seperti ini
hendaknya diubah menjadi;
"Nak, menurut
Bunda jajan sembarangan itu tidak sehat. Bagaimana menurutmu?"
Atau kalimat:
"Awas kalau ga
ngaji ya!"
Hendaknya diubah
menjadi:
"Nak, Allah
yang menciptakan kita sangat suka jika kita mengaji, maka bagaimana
menurutmu?"
Dst.
Dialog, memang
terkesan melelahkan dan memakan waktu lebih lama dibanding perintah satu arah.
Tapi jangan-jangan,
perintah satu arah justru menghabiskan waktu lebih lama, karena tidak
menumbuhkan pemahaman pada anak, sehingga perlu diulang-ulang terus. Apalagi
kalau perintahnya sambil marah dan memicu cek-cok mulut, malah lebih
melelahkan.
Maka pikirkanlah,
apa pendapatmu, wahai para orang tua.
Wallahu a`lam
===
Bag. 2
Ternyata, Ibrahim as
termasuk ayah yang jarang hadir dalam time line hidup anaknya; Ismail as.
Sejarah mencatat,
setelah meninggalkan Ismail yang masih bayi di gurun Mekkah, Ibrahim as kembali
ke Palestina untuk melanjutkan tugas dakwahnya.
Tidak adanya mobil,
kereta apalagi pesawat pada masa itu, membuat Ibrahim as tidak mudah untuk
bolak balik menengok perkembangan buah hatinya.
Ulama menjelaskan
bahwa Ibrahim as baru menengok Ismail lagi ketika dia sudah mulai baligh, dan
saat itulah terjadi peristiwa fenomenal penyembelihan yang kita teladani sampai
sekarang. Setelah itu, Ibrahim as kembali pada pekerjaannya di Palestina.
Total, sebagian
ulama menjelaskan, Ibrahim as hanya 4 kali ke Mekkah sepanjang time line hidup
Ismail as.
Pertanyaannya,
bagaimana bisa, kehadiran Ayah yang jarang-jarang seperti itu membentuk anak
sholih seperti Ismail? Bahkan menjadikan Ismail as sebagai founding father
peradaban arab yang menjadi pilihan Allah untuk menurunkan rahmatan lil
`alamin`?
Ulama menjawab, peran
Ibunda Hajar, yang begitu baik membersamai sang anak memang tidak bisa
dikesampingkan. Namun, di antara kunci terbesar kesholihan Ismail as adalah:
kesholihan Sang Ayah yang luar biasa.
Para ulama berdalil
dengan firman Allah swt:
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ
ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
"Sesungguhnya
waliku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia menjadi wali
orang-orang yang saleh."(QS. Al-A'raf: 196)
Ketika seorang Ayah,
istiqomah dalam kesholihan saat harus meninggalkan keluarganya, maka Allah akan
menjadi Wali bagi urusan keluarganya, Wali bagi pendidikan anak-anaknya.
Inilah di antara
pendidikan anak ala Ibrahim as: kesholihan Ayah.
Sebagian ulama salaf
berkata:
إِنِّيْ
َلأَعْصِي اللَّهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ امْرَأَتِيْ وَدَابَّتِيْ
"Sungguh,
ketika bermaksiat kepada Allah, maka aku mengetahuinya dari perilaku buruk
istriku dan hewan tungganganku."
Maksudnya adalah;
dosa-dosa mereka bahkan, telah membuat hewan tunggangan yang fitrahnya patuh
pada tuannya pun sulit dikendalikan.
Ini adalah sindiran
keras bagi para Ayah, untuk menjaga kesholihan mereka, ketika mereka sedang
tidak hadir dalam time line keluarganya.
Jagalah sholat
jamaah ketika bekerja, usahakan mengaji di sela waktu istirahat, jangan mata
keranjang mentang-mentang tidak ada istri, apalagi dugem sebagai alasan pelepas
lelah, dst.
Jagalah syariat
Allah ketika keluar rumah, maka Allah akan menjaga keluarga kita di rumah.
Maka pikirkanlah apa
pendapatmu, wahai para Ayah!
Allahul musta`an
==========
TANYA JAWAB
T: Assalaamu'alaikuum
ustadz, kalau untuk timeline beliau yang jarang mengiringi saja sungguh luar
biasa, bagaimana bagi para lelaki yang selalu ada tetapi anak menjadi was was
kalau di dekatnya? seperti saya sampai saat ini, papa saya selalu meminta saya
untuk bekerja, ketika bertanya bagaimana pendapat saya, saya jawab saya ingin
dirumah sementara waktu, tapi beliau berpikir kalau dirumah tidak menghasilkan,
dan tetap ada "rasa" keharusan dijalankan yang diminta itu dan itu
berlaku di kedua adek saya. Padahal sepemahaman saya (mohon maaf kalau keliru)
ketika saya menikah, berarti kewajiban saya adalah patuh terhadap suami lebih
dulu ya ustadz. Suami saya terkadang tidak berani menolak dari papa karena
menganggap membantah orang tua itu tidak baik. Kemudian bagaimana menyikapi hal
seperti itu? Bersikap ke papa atau menyarankan suami bagaimana bersikap kepada
beliau?
J: Coba persuasikan ke
papa bagaimana menjadi ibu rumah tangga yang produktif. Menghasilkan anak-anak
yg luar biasa, buat program-program yg baik. Manfaat ketika di rumah dan bahaya
ketika anak-anak ditinggal misalnya. Atau cari pekerjaan yang tetap bisa
menjadikan kerjan rumah tangga tdk terlantar. Jangan dibenturkan antara suami
dan papa. Tapi coba cari jalan tengah. Dakwahkan dengan baik. Buktikan secara
profesional program-program usulan kita.
T: Afwan ijin bertanya
ustadz. Jika melihat hikmah perjalanan Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Nabi
Ismail Alaihissalam, keberadaan ayah ditiadakan dengan maksud agar Allah saja
yang secara langsung mendidik Nabi Ismail Alaihissalam, pun dengan kisah hidup
Nabi Muhammad ﷺ
yang yatim sejak kecil dipelihara Kakek beliau. Lalu bagaimana dengan anak
korban perceraian ustadz, saat ini banyak kasus perebutan hal asuh anak,
padahal anak bisa memilih orang tua mana yang nyaman bagi dia? Sedangkan para
orang tua yang bercerai sibuk memenangkan ego demi kepentingan masa depan anak.
J: Sekilas pendapat
para Ulama seperti Ibnu Qudamah, Ibu Taymiyah, Ibnu Qoyyim:
1. Jika anak-anak
belum akil (cukup bisa berfikir) yang mengasuh adalah ibunya, karena ibu lebih
menyayanginya, lebih memahaminya dan seterusnya. Dalilnya adalah hadits
Rasulullah Bahwa seorang datang kepada Rasulullah mengadukan bahwa suaminya
telah menceraikannya dan ingin mengambil anaknya maka Rasul mengatakan engkau
lebih berhak selama belum menikah (HR Abu Dawud, dan Ahmad)
2. Jika anak-anak
sudah cukup bisa berfikir (akil) maka mereka diberikan hak untuk memilih.
3. Kapan mereka
dinggap bisa berfikir, ada yang mengatakan usia tujuh tahun sudah cukup
berfikir.
4. Jika anak memilih
ayahnya maka siang malam ditempat ayahnya dan ayahnya tidak boleh
menghalang-halangi ibunya untuk menjenguknya kapanpun dia mau.
5. Dalam kondisi
dimana anak menjatuhkan pilihan bersama ibunya maka sebaiknya ia bermalam terus
ditempat ibunya dan siangnya bisa saja bersama ayahnya untuk mendapatkan hak
pendidikan.
6. Semua biaya yang
harus dikeluarkan untuk kehidupan anak-anak itu ditanggung semuanya oleh suami
7. Bagi pihak yang
mendapatkan hak asuh tidak boleh menghalang-halangi pihak yang tidak
mendapatkan hak asuh untuk bertemu anaknya kecuali dengan alasan yang dapat
dibenarkan oleh syariah, misalnya takut adanya pengaruh buruk karena
kemaksiatannya misalnya.
8. Seorang ibu yang
sejatinya mendapatkan hak asuh sewaktu anak belum akil (bisa berfikir) bisa
saja kehilangan hak asuh jika ia adalah hamba sahaya, kafir, banyak berbuat
dosa, dan menikah dengan orang lain.
9. Dalam kasus dimana
terjadi perselisihan seperti yang bapak sampaikan sebaiknya ditempuh dengan
jalan musyawarah, dan sampaikan semua hal yang kami sebutkan di atas. Tetapi
jika tidak ada jalan keluar maka lebih baik menggunakan jalur pengadilan agar
semuanya mendapatkan keputusan yang adil.
Demikianlah.
T: Assalamu'alaikum
ustadz. Apakah hukumnya jika ayah kandung tidak menafkahi anaknya (karena orang
tua bercerai sang anak tinggal dengan ibunya) dan sang ayah lebih fokus kepada
keluarganya yang baru?
J: Secara umum Ayah
wajib menafkahi anaknya walaupun sudah bercerai. Jika tidak dilakukan maka
melanggar kewajiban.
T: Apakah bisa dituntut
ustadz? Dan tanggung jawabnya kepada anaknya bagaimana ustadz?
J: Hidup bukan masalah
tuntut menuntut atuh..mau lapor polisikah? Ya, kalau mau dituntut silahkan
saja. Tapi kalau hati tidak lapang, bisa menambah beban hati kita. Merasa ada
hak kita yang tidak diberikan. Padahal rizki Allah jauh lebih besar, dan bukan
mantan suami penentu rizki anak kita.
T: Assalamualaikum
ustadz, apakah anak nikah siri yang sudah bercerai masih dinafkahi ayahnya
ustadz?
J: Kalau sirinya sah
sesuai syariat, maka hukumnya tetap, nafkah ayah terhadap anak hukumnya wajib.
T: Assalamualaikum ijin
bertanya tentang innerchild. Katanya kalau kita belum memaafkan kesalahan orangtua
dimasa lalu, maka saat kita mendidik anak kita dimasa ini tidak akan jauh
berbeda dengan orangtua mendidik kita dulu. Bagaiamana ya agar kita dapat dgan
ikhlas memaafkan kesalahan-kesalahan orangtua. Karena saat kita ingat lagi atas
perlakuan orgtua kepada kita, rasanya sakit hati sekali.
J: Ingat bahwa kita
hidup karena orangtua kita. Bisakah kita balas nyawa yang kita dapatkan atas
perantara orangtua tersebut? Tidak mungkin kan kita melahirkan orang tua? Jadi
ingatlah bahwa apa yang kita terima dari orangtua jauh lebih besar daripada
sakit hati kita atas perbuatan mereka.
T: Izin bertanya
ustadz, terkadang dalam mendidik anak peran ibu terkesan lebih banyak, padahal
si ayah juga sama, hanya karena kesibukan dengan pekerjaan jadi terkesan hanya
sedikit. Namun jika ada sikap anak, justru ayah menyalahkan ibu yang salah dalam
mendidik atau kadang ada juga yang menyalahkan nenek kakek, misalnya si anak
nàkal dan susah di ingatkan, ada orang tua yang mengatakan, itu seperti
kakeknya dulu, atau sama seperti pamannya. Bagaimana menyikapi orang tua yang
berpikiran seperti itu?
J: Jangan menunjuk
orang lain. Tunjuk diri sendiri sajalah. Lihat kekurangan pribadi. Lebih
gampang mengubah diri sendiri daripada mengubah orang lain.
T: Assalamualaikum
Ustadz. Jika ayah tidak bisa atau belum bisa atau belum dapat hidayah untuk
istiqomah dalam kesholihannya apa yang harus dlakukan seorang ibu agar anak-anak
tetap dalam fitrahnya, patuh pada kedua orangtua? Terimakasih.
J: Istghfar, doakan
ayahnya, doakan anaknya. Doakan dirinya sendiri agar Allah kuatkan dalam
istiqomah. Jaga kedekatan ibu dan anak. Jaga kedekatan suami dan istri. Kalau
istrinya terus memperbaiki diri, dengan kedekatan itu maka perbaikan diri
istri, kesholihan istri akan menular ke anak dan suaminya. Insya Allah.
T: Ustadz, bila
seorang istri merasa kurang dalam nafkah yang di beri suami, hingga membuatnya
ingin bekerja, meski suami mengizinkan tapi sebenarnya tidak ikhlas, sampai
suatu saat suami sakit-sakitan dan akhirnya wafat, karena melihat perubahan
penampilan istri yang smakin tidak membuat nyaman. Juga mengatakan pada anak, bahwa
ayah hanyalah benàlu di rumah. Berdosakah istri yang seperti itu? Merasa
bersalahnya ke suami bagaimana ustadz?
Dan kita sebagai orang yang
dekat, bagaimana cara menginggatkannya ustadz, karena menurutnya yang dia
lakukan adalah benar.
J: ibu sudah tahu
jawabannya lah. Ada merasa bersalahnya? di cerita di atas? kalau merasa
bersalah, taubat, ya semoga Allah terima. Allah Maha Penerima Taubat. Ddoakan
saja dulu. Sseseorang, melakukan suatu dosa pasti ada latar belakangnya. Mungkin
jauh dari pengajian, mungkin salah buku bacaan, mungkin lingkungan selama ini
dll. Apakah bisa kita ubah pola pikir yang sudah bertahun ada di kepalanya dengan
1-2 nasihat? Saran saya, ajak pengajian saja dulu. Ajak belajar tauhid dulu,
ajak sholat khusyu dulu, ajak ikut tahsin dulu.
•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Kita tutup dengan
membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin
Doa Kafaratul Majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك
أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya
Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah
melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuh
================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage: Kajian On line-Hamba Allah
FB: Kajian On Line - Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official
Rekap
Kajian Online Hamba Allah Ummi G-7
Hari/Tgl
: Senin, 4 September 2017
Materi
: Makna pengorbanan Nabi Ibrahim
Narasumber
: Ustadzah Yeni
Waktu
kajian : bada maghrib
Editor
: Sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Malam
ini saya ambil tema yang sesuai dengan moment sekarang yaaa.
Tak
terasa dah melewati hari raya Qurban..
Idul
Adha disebut juga Idul Qurban atau hari raya akbar. Disebut hari raya Qurban,
karena pada hari itu umat Islam di syariatkan Allah Swt untuk menyembelih hewan
Qurban.
Qurban
berasal dari bahasa arab qarraba, yuqarribu, qurbanan yang
artinya berhampir diri dengan Allah Swt. Pengertian umum yang sering
ditafsirkan oleh masyarakat yaitu penyembelihan berkaitan dengan pelaksanaan
dengan cara menyembelih hewan qurban pasca pelaksanaan Shalat Idul Adha.
Allah
Swt mensyari`atkan ibadah Qurban kepada umat Islam karena Allah Swt telah
menganugerahkan nikmat yang banyak. “sesungguhnya kami telah memberi kamu
nikmat yang banyak, karena itu dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan
berqurbanlah. Statement ini tertuang pada Q.S Al-Kautsar : 1 -2.
Merujuk
pada ayat tersebut, sampai detik ini Allah Swt tidak henti-hentinya memberikan
nikmat yang banyah pada umat-Nya. Maka pantaslah kita berkorban untuk Allah Swt
sebagai bukti dan tanda terima kasih kepada Allah Swt.
“Maka
nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Ar rahman : 13
😞
Lalu apa makna yg tersirat dari kisah nabi
Ibrahim atas pengorbanannya :
Yuk
mari disimak dan diread yaaa..
Ibadah
Qurban merupakan salah satu wujud rasa syukur atas karunia dan nikmat yang
diberikan Allah Swt kepada umat Islam. Rasa syukur tersebut diwujudkan dengan
cara menyembelih hewan Qurban, kemudian dibagikan sebagian kepada fakir miskin
dan kaum kerabat.
Selain
wujud rasa syukur kepada Allah Swt, seorang hamba Allah Swt juga menumbuhkan
nilai dan semangat solidaritas sosial dalam bentuk berbagi dengan kaum fakir –
miskin.
Walaupun
ibadah Qurban hanya disyari`atkan pada hari raya Idul Adha, akan tetapi
semangat berqurban harus tetap dijaga oleh setiap muslim. Setiap muslim harus
rela mengorbankan sebagian harta, pikiran, tenaga, waktu dan bahkan jiwanya
dijalan Allah Swt. Untuk mewujudkan itu semua di butuhkan semangat rela
berkorban.
Ibadah
Qurban bukan hanya berhubungan dengan Allah Swt akan tetapi juga berhubungan
langsung dengan manusia. Salah satu bentuk ibadah Qurban yang berhubungan
langsung dengan manusia dapat dilaksanakan berupa menolong umat Islam yang sedang
dilanda musibah.
Saudara
kita yg di Ronghiya membutuhkan bantuan kita... disinilah kita membuktikan
pengorbanan kita.
Untuk
memperoleh kesuksesan hidup juga dibutuhkan pengorbanan. Manusia diciptakan
Allah Swt, bukan untuk memperoleh kegagalan akan tetapi untuk memperoleh
kesuksesan, baik sukses di dunia maupun sukses di akhirat. Manusia hanya
dihadapkan kepada dua pilihan, memilih jalan untuk sukses atau malah memilih
jalan kegagalan. Apapun harus rela dikorbankan demi tercapainya kesuksesan
hidup. Bagi orang yang enggan untuk berkorban maka orang tersebut akan
memperoleh kegagalan.
Kurban
mendidik kita untuk peduli dan mengasah sikap sosial. Seseorang tidak pantas
kenyang sendirian dan bertaburan harta, sementara banyak orang disekitarnya
yang membutuhkan bantuan dan uluran tangan. Rasulullah Saw juga menegaskan
dalam Hadis Riwayat Bazzaar, “Tidaklah beriman kepadaku orang yang dapat tidur
dengan perut kenyang sementara tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui.”
Dan
di antara sifat kebinatangan yang harus kita kubur dalam-dalam adalah sikap mau
menang sendiri, merasa benar sendiri dan berbuat sesuatu dengan bimbingan hawa
nafsu. Manusia adalah makhluk yang sempurna dan utama. Akan tetapi, jika sikap
dan tingkah lakunya dikuasai oleh nafsu, maka pendengaran, penglihatan, dan
hati nuraninya tidak akan berfungsi. Jika sudah demikian, maka manusia akan
jatuh derajatnya, bahkan lebih rendah dari binatang, sebagaimana Allah
terangkan dalam Al Qur’an Surat Al A’raaf ayat 179.
Digantinya
Ismail dengan seekor domba menyadarkan kita, bahwa mengorbankan manusia di atas
altar adalah perbuatan yang dilarang Allah Swt. Ibadah yang kita lakukan harus
menjunjung tinggi dan menghormati hak-hak manusia. Bahkan hewan qurban yang
akan kita sembelih pun harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Karena
itulah, maka perbuatan semena-mena, keji, kejam, mungkar, dzalim dan lain
sebagainya adalah perbuatan yang dibenci dan dilarang oleh Islam. Dalam
pandangan Islammembunuh manusia tanpa dasar yang dibenarkan syari’at, sama
kejinya dengan membunuh seluruh umat manusia, demikian yang dijelaskan Allah
dalam Qur’an Surat Al Ma’idah ayat 32.
Allah
SWT menguji Ibrahim itu antara lain berfungsi sebagai cobaan keimanan, karena
siapa pun orang yang beriman harus mengalami cobaan keimanan. Firman Allah SWT:
الم . اَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْ أَنْ
يَقُوْلُوْا ءَامَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ *
“Alif
Lam Mim. Apakah manusia mengira akan dibiarkan begitu saja mengaku
beriman padahal belum diuji ?”
(Qs.29:1-2)
Menurut
ayat ini tidak ada manusia yang dapat diakui keimanannya secara langsung tanpa
mengalami ujian terlebih dahulu. Ujian keimanan yang diberikan Allah SWT ada
yang bersifat menyenangkan dan ada pula yang menyedihkan. Firman Allah
SWT
وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
وَإِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Kami
uji kalian dengan yang menyakitkan dan menyenangkan sebagai cobaan. Kepada
Kamilah tempat kembalimu.”
Qs.21:35
Keberhasilan
perjuangan Nabi Ibrahim merupakan bukti adanya kerjasama seluruh anggota
keluarga dalam menuju cita-cita. Siti Sarah rela mengorbankan cintanya dibagi
dua dengan siti Hajar, sehingga memunculkan generasi penerus yang cukup tangguh
yaitu Isma’il. Siti Hajar merelakan anak yang dicintainya untuk dikorbankan
demi perintah Illahi, sehingga Nabi Ibrahim tidak terhambat dalam melaksanakan
tugasnya. Nabi Isma’il rela mengorbankan dirinya demi melaksanakan titah Ilahi,
walau cukup berat tantangannya tampaklah seluruh anggota keluarga cukup
berperan penting dalam meraih keberhasilan. Oleh karena itu berhati-hati dalam
membina keluarga dan keturunan. Tidak sedikit orang yang berhasil sukses dalam
berjuang, karena dorongan keluarga, namun banyak orang yang terhambat dalam
berjuang karena keluarga tidak mendukung. Firman Allah SWT:
يَاءَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إِنَّ مِنْ
أَزْوَاجِكُمْ وَ أَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ وَ إِنْ
تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَإِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ *
“Hai
Orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri dan anak-anakmu itu ada yang
menjadi musuh bagimu, maka ber hati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu
memaafkan dan tidak memarahi mereka serta mengampuni, maka sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Qs.64:14)
Nabi
Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putranya. Bagaimana jika hal ini
terjadi pada kita ? mungkin kita akan berkomentar, bahwa hal itu tidak sesuai
dengan kemanusiaan, namun Nabi Ibrahim telah yakin sepenuhnya, bagaimana pun
aturan Allah itu tidak akan menganiaya manusia. Buktinya setelah Nabi Ibrahim
menjalankan tugasnya, Allah SWT menggantinya.
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِيْنَ *
وَنَدَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيْمُ * قَدْ صَدَقْتَ الرُّءيَا إِنَّا كَذَالِكَ
نَجْزِى المُحْسِنِيْنَ * إِنَّ هَذَا لَهُوَ البَلاَؤُا المُبِيْنُ *
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ *
Tatkala
keduanya berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya. Kami panggil
Ibrahim: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan wahyu yang Kami
turunkan. Sesungguhnya Kami memberi balasan kepada orang yang baik. Hal ini
benar-benar merupakan suatu ujian yang nyata. Oleh karena itu , Kami ganti anak
itu dengan sembelihan yang sangat besar. (Qs.As-Shaffaat, 37: 103-107)
~
The last
Nabi
Ibrahim diperintah menyembelih anaknya, bukan sembelihannya yang penting bagi
Allah, tapi kerelaan berkorban untuk perintah Allah.
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ
فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِى أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا
قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا *
“Demi
Allah Tuhanmu, mereka belum dikatakan mu’min, sebelum bertahakum kepadamu
(Rasul) atas apa yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapat
keengganan dalam hatinya dan mereka berserah diri sepenuhnya.” (Qs4:65)
Demikian 10 makna yang tersirat dari kisah nabi
Ibrahim atas pengorbanan yg beliau lakukan
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
TANYA
JAWAB
T
: Assalamu'alaykum
ustadzah. Saya mau Tanya, mendidik anak juga merupakan suatu perjuangan
orangtua benar ya ustadzah? Kerjasama ayah dan bunda sangat diperlukan disini. Bagaimana
cara kita menyikapi bila pola mendidik orang tua tidak sejalan. Yang ayah
maunya begini yang bunda maunya begitu ustadzah?
J
: Betul Bunda, idealnya begitu
ada komunikasi ayah bundanya, jika tidak sejalan maka disitulah ujiannya bun, sebagai
bunda yang makin paham anak maka sikap kita kudu sabar, sabar memahamkan pasangan dan itu proses
bunda.
T
: Berarti apapun itu
masalahnya hakikat do'a dan kesabaran penting banget ya ustadzah? Jazakillahu
khairan katsiran ustadzah.
J : Itu kunci menjalani hidup yang penuh warna
bun, banyak-banyak bersyukur, masalah kita belum tentu berat jika kita menengok
keadaan orang lain. 3S, Sabar, syukur dan senyum itu pilihan terbaik.
T
: Bagaimana cara mendidik
putra putri kita agar mendapat ketaatan seperti yang dimiliki nabi Ismail? (nabi
ismail sangat taat akan perintah allah bahkan saat belio akan di qurbankan oleh
ayahnya ) Masyaallah.
J
: Dimulai dari kita orang
tua yang harus punya pengetahuan keislaman yang bagus, tauhid yang bagus. Kita
orangtua harus bisa menjadi teladan untuk anak-anak kita.
T
: Assalaamualaikum
Ustadzah, apa yang harus dipersiapkan bagi kami yang berkesempatan belum diberi
anak agar untuk mempersiapkan diri agar dapat mencontob Nabi Ibrahim as. dan
Nabi Ismail as.?
J
: kekuatan ruhiyah mbak,
ketauhidan pada Allah,pemahaman islam bagaimana nanti ini menjadi bekal mendidik
anak-anak.
T
: bunda berkaitan dengan
poin ini, masih banyak kita temui orang yang mampu (berada) tapi tamak dan
serakah, padahal mereka pun menjalankan syariat islam dan tahu yang mereka lakukan
itu salah. Bahkan mereka tiap tahun qurban dengan alasan mengikuti aturan
agama, tapi sikap mereka masih belum berubah, menyikapi hal seperti ini kita harus
bagaimana?
J : Kuncinya 3S tadi mbak. Sabar...
sabar menghadapi mereka... mereka hanya tahu bukan paham.. kalau paham pasti
ada aplikasi. Syukuri... bahwa mbak masih dianugerahi pengetahuan.. kesempatan
untuk bisa lebih baik... apa yang dilakukan bisa menjadi cermin buat kita. Senyum...
itu sehat daripada manyun tidak da untungnya buat kita. Yaa tidaak.
T
: Mo bertanya, terkait
point di atas...apakah hubungan dalam kluarga yang kurang harmonis
termasuk dalam point ini ustadzah? bagaimana menyikapi kesalahpahaman yang
terjadi agar keimanan terus dapat bertambah bukan berkurang? Maaf kalau
bahasannya kurang di pahami.
J
: Tiap kita dilahirkan dengan
masalah yang beda dan tentunya solusi yang beda. Ujian diberikan sesuai takaran
kemampuan kita Allah yang maha Tahu, ukuran kemampuan bukan dari kacamata kita
tapi dari sisi Allah.
Cara
menyikapinya.. dekati Allah yang Maha pemberi solusi dengan cara yang Allah
cinta. Allah suka dengan hamba yang datang merintih memohon padaNya.
T
: Mau bertanya 1
lagi..ustadzah, apakah seseorang yg bunuh diri atau lari dari masalah tanda dari
seseorang yang imannya tidak kuat? Jazakillah ustadzah.
J
: Iya mbak, indikasinya
demikian. Padahal dengan bunuh diri bukan berarti masalah selesai, selesai di
dunia belum tentu di akherat, bakalan menambah catatan dosa. Astagfirullah
T
: Satu lagi ustadzah, kejadian
seseorang membunuh diri ditempat umum dengan maksud teror apa dia bisa
dikatakan bertolakbelakang dengan point diatas ustadzah?
J
: Kembali ke niat mbak, yang
tahu niat itu hanya kita sama Allah. Kalau di suriah, palestina in syaa Allah
niat mereka karena Allah. Kalau Indonesia, bisa jadi ini adalah cara untuk
mmbuat umat islam kacau.
T
: Bunda, mau tanya bagaimana
membiasakan ikhlas dalam memaksimalkan ibadah? Apakah kalau misalnya ingin
membiasakan sedekah yang agak banyak tetapi dalam hati ada rasa berat, akan
merusak pahala sedekah kita? Dan bagaimana kalau ingin membuka sedekah kita
agar saudara-saudara kita merasa tergugah untuk sedekah? ( takut nya malah
riya)
J
: Ikhlas itu tidak perlu
diingat ingat lagi atas apa yg dikeluarkan. Kebiasaan baik itu perlu dipaksa,
sebenarnya kalau tidak ikhlas, berat hati, yang rugi sapa yaa hehe.
Pahala
tidak dapat, tubuh juga tidak sehat karena berat hati tadi, jadi mendingan diikhlasin saja yaa, pahala
dapat in syaa Allah akan diganti 10x lipat, walaup un itu tidak saat itu, Allah
berikan pas menurut Allah kita memang perlu.
Riya
itu masalah hati, jadi lakukan saja, jika ada riya terbersit, segera istighfar
wudhu tilawah biar adem gitu hatinya
T
: Ustadzah masalah riya tadi,
kalau kita tidak sengaja cerita ke teman nih kalo sudah kasih apa kesiapa gitu,
terus tidak ada niat buat riya, karena kebiasaan nyerocos ketemen. Setelah itu
kita baru nyadar, lho kok diceritain sih tadi sedekahnya. Bagaimana itu
ustadzah, setelah itu kita istighfar, keterima tidak pahala sedekah kita? Terus
riya tidak ya ustadzah?
J
: Lagi-lagi kembali ke
niat mbak, yang tahu kita maksud riya
atau tidak kita sendiri. Sah-sah saja bercerita itu dengan tujuan agar bisa
menginspirasi orang berbuat yang sama bahkan lebih. Masalah pahala dosa itu hak
Allah.
🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚🔚
Selanjutnya,
marilah kita tutup kajian kita dengan bacaan istighfar 3x
Doa
robithoh dan kafaratul majelis
Astaghfirullahal'
adzim 3x
Do'a
Rabithah
Allahumma
innaka ta'lamu anna hadzihil qulub,
qadijtama-at
'alaa mahabbatik,
wal
taqat 'alaa tha'atik,
wa
tawahhadat 'alaa da'watik,
wa
ta ahadat ala nashrati syari'atik.
Fa
watsiqillahumma rabithataha,
wa
adim wuddaha,wahdiha subuulaha,wamla'ha binuurikal ladzi laa yakhbu,
wasy-syrah
shuduroha bi faidil imaanibik,
wa
jami' lit-tawakkuli 'alaik,
wa
ahyiha bi ma'rifatik,
wa
amitha 'alaa syahaadati fii sabiilik...
Innaka
ni'mal maula wa ni'man nashiir.
Artinya
:
Ya
Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya hati-hati kami ini,
telah
berkumpul karena cinta-Mu,
dan
berjumpa dalam ketaatan pada-Mu,
dan
bersatu dalam dakwah-Mu,
dan
berpadu dalam membela syariat-Mu.
Maka
ya Allah, kuatkanlah ikatannya,
dan
kekalkanlah cintanya,
dan
tunjukkanlah jalannya,
dan
penuhilah ia dengan cahaya yang tiada redup,
dan
lapangkanlah dada-dada dengan iman yang berlimpah kepada-Mu,
dan
indahnya takwa kepada-Mu,
dan
hidupkan ia dengan ma'rifat-Mu,dan matikan ia dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya
Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Aamiin...
DOA PENUTUP MAJELIS
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ
إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Subhanaka
Allahuma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu
ilaik.Artinya:“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi
bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Aamiin ya Rabb.
======================
Website:
www.hambaAllah.net
FanPage
: Kajian On line-Hamba Allah
FB
: Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter:
@kajianonline_HA
IG:
@hambaAllah_official
Tim Posting
December 29, 2017
New Google SEO
Bandung, Indonesia

