Rekapitulasi
Kajian Online HA Ummi G3
Hari/Tgl:
Senin, 17 September 2018
Materi:
Etika Bekerja Dalam Islam
NaraSumber:
Ustadz Asyari
Waktu
Kajian: Ba'da magrib
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
MEMBANGUN
ETOS KERJA KERJA DALAM ISLAM
*Asy’ari
Suparmin
Bekerja adalah kodrat hidup, baik kehidupan
spiritual, intelektual, fisik biologis, maupun kehidupan individual dan sosial
dalam berbagai bidang (al-Mulk: 2). Seseorang layak untuk mendapatkan predikat
yang terpuji seperti potensial, aktif, dinamis, produktif atau profesional,
semata-mata karena prestasi kerjanya. Karena itu, agar manusia benar-benar
“hidup”, dalam kehidupan ini ia memerlukan ruh (spirit). Untuk ini, Al Qur’an
diturunkan sebagai “ruhan min amrina”,
yakni spirit hidup ciptaan Allah, sekaligus sebagai “nur” (cahaya) yang
tak kunjung padam, agar aktivitas hidup manusia tidak tersesat (asy-Syura: 52).
Syarat
pokok agar setiap aktivitas kita
bernilai ibadah ada dua, yaitu sebagai berikut.
Pertama,
Ikhlas, yakni mempunyai motivasi yang benar, yaitu untuk berbuat hal yang baik
yang berguna bagi kehidupan dan dibenarkan oleh agama. Dengan proyeksi atau
tujuan akhir meraih mardhatillah (al-Baqarah:207 dan 265).
Kedua,
shawab (benar), yaitu sepenuhnya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh
agama melalui Rasulullah saw untuk pekerjaan ubudiyah (ibadah khusus), dan
tidak bertentangan dengan suatu ketentuan agama dalam hal muamalat (ibadah
umum). Ketentuan ini sesuai dengan pesan Al-Qur’an (Ali Imran: 31,
al-Hasyr:10).
Berikut
ini adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati.
1. Ash-Shalah (Baik dan Bermanfaat)
Islam
hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi
kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat
derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. “Dan masing-masing orang
memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.”
(al-An’am: 132)
2. Al-Itqan (Kemantapan atau
perfectness)
Kualitas
kerja yang itqan atau perfect merupakan sifat pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani),
kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami (an-Naml: 88). Rahmat Allah
telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan, yakni mencapai
standar ideal secara teknis. Untuk itu, diperlukan dukungan pengetahuan dan
skill yang optimal. Dalam konteks ini, Islam mewajibkan umatnya agar terus
menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih. Suatu keterampilan yang
sudah dimiliki dapat saja hilang, akibat meninggalkan latihan, padahal
manfaatnya besar untuk masyarakat. Karena itu, melepas atau menterlantarkan
ketrampilan tersebut termasuk perbuatan dosa. Konsep itqan memberikan penilaian
lebih terhadap hasil pekerjaan yang sedikit atau terbatas, tetapi berkualitas,
daripada output yang banyak, tetapi kurang bermutu (al-Baqarah: 263).
3. Al-Ihsan (Melakukan yang Terbaik atau
Lebih Baik Lagi)
Kualitas
ihsan mempunyai dua makna dan memberikan dua pesan, yaitu sebagai berikut.
Pertama,
ihsan berarti ‘yang terbaik’ dari yang dapat dilakukan.
Dengan
makna pertama ini, maka pengertian ihsan sama dengan ‘itqan’. Pesan yang
dikandungnya ialah agar setiap muslim mempunyai komitmen terhadap dirinya untuk
berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan.
Kedua
ihsan mempunyai makna ‘lebih baik’ dari prestasi atau kualitas pekerjaan
sebelumnya. Makna ini memberi pesan peningkatan yang terus-menerus, seiring
dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman, waktu, dan sumber daya lainnya. Adalah suatu kerugian jika prestasi
kerja hari ini menurun dari hari kemarin, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah
hadits Nabi saw. Keharusan berbuat yang lebih baik juga berlaku ketika seorang
muslim membalas jasa atau kebaikan orang lain. Bahkan, idealnya ia tetap
berbuat yang lebih baik, hatta ketika membalas keburukan orang lain (Fusshilat
:34, dan an Naml: 125)
4. Al-Mujahadah (Kerja Keras dan
Optimal)
Mujahadah
dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah
”istifragh ma fil wus’i”, yakni mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada
dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik. Dapat juga diartikan sebagai
mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah
menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan melalui hukum
‘taskhir’, yakni menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk manusia
(Ibrahim: 32-33). Tinggal peran manusia sendiri dalam memobilisasi serta
mendaya gunakannya secara optimal, dalam rangka melaksanakan apa yang Allah
ridhai.
Bermujahadah
atau bekerja dengan semangat jihad (ruhul jihad) menjadi kewajiban setiap
muslim dalam rangka tawakkal sebelum menyerahkan (tafwidh) hasil akhirnya pada
keputusan Allah (Ali Imran: 159, Hud: 133).
5. Tanafus dan Ta’awun (Berkompetisi dan
Tolong-menolong)
Al-Qur’an
dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas amal solih. Pesan
persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan Qur’ani yang bersifat “amar”
atau perintah. Ada perintah “fastabiqul khairat” (maka, berlomba-lombalah kamu
sekalian dalam kebaikan) (al-Baqarah: 108). Begitu pula perintah “wasari’u ilaa
magfirain min Rabbikum wajannah” `bersegeralah lamu sekalian menuju ampunan
Rabbmu dan surga` Jalannya adalah melalui kekuatan infaq, pengendalian emosi,
pemberian maaf, berbuat kebajikan, dan bersegera bertaubat kepada Allah (Ali
Imran 133-135). Kita dapati pula dalam ungkapan “tanafus” untuk menjadi hamba
yang gemar berbuat kebajikan, sehingga berhak mendapatkan surga, tempat segala
kenikmatan (al-Muthaffifin: 22-26). Dinyatakan pula dalam konteks persaingan
dan ketaqwaan, sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah insan yang
paling taqwa (al Hujurat: 13). Semua ini menyuratkan dan menyiratkan etos persaingan
dalam kualitas kerja.
6. Mencermati Nilai Waktu
Keuntungan
atau pun kerugian manusia banyak ditentukan oleh sikapnya terhadap waktu. Sikap
imani adalah sikap yang menghargai waktu sebagai karunia Ilahi yang wajib
disyukuri. Hal ini dilakukan dengan cara mengisinya dengan amal solih,
sekaligus waktu itu pun merupakan amanat yang tidak boleh disia-siakan.
Sebaliknya, sikap ingkar adalah cenderung mengutuk waktu dan menyia-nyiakannya.
Waktu adalah sumpah Allah dalam beberapa ayat kitab suci-Nya yang mengaitkannya
dengan nasib baik atau buruk yang akan menimpa manusia, akibat tingkah lakunya
sendiri. Semua macam pekerjaan ubudiyah (ibadah vertikal) telah ditentukan
waktunya dan disesuaikan dengan kesibukan dalam hidup ini. Kemudian, terpulang
kepada manusia itu sendiri: apakah mau melaksanakannya atau tidak.
Ranjau-Ranjau
Berbahaya Dalam Dunia Kerja
Dunia
kerja adalah dunia yang terkadang dikotori oleh ambisi-ambisi negatif manusia,
ketamakan, keserakahan, keinginan menang sendiri, dsb. Karena dalam dunia
kerja, umumnya manusia memiliki tujuan utama hanya untuk mencari materi. Dan
tidak jarang untuk mencapai tujuan tersebut, segala cara digunakan. Sehingga
sering kita mendengar istilah, injak bawah, jilat atas dan sikut kiri kanan.
(Na'udzu billah min dzalik). Oleh karenanya, disamping kita perlu untuk
menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik dalam bekerja, kitapun harus
mewaspadai ranjau-ranjau berbahaya dalam dunia kerja serta berusaha untuk
menghindarinya semaksimal mungkin. Karena dampak negatif dari ranjau-ranjau ini
sangat besar, diantaranya dapat memusnahkan seluruh pahala amal shaleh kita.
Berikut adalah diantara beberapa sifat-sifat buruk dalam dunia kerja yang perlu
dihindari dan diwaspadai:
1.Hasad
(Dengki)
Hasad
atau dengki adalah suatu sifat, yang sering digambarkan oleh para ulama dengan
ungkapan "senang melihat orang susah, dan susah melihat orang
senang." Sifat ini sangat berbahaya, karena akan "menghilangkan"
pahala amal shaleh kita dalam bekerja.Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW
bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ
الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ
رواه أبو داود
Dari
Abu Hurairah ra berkata, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah oleh
kalian sifat hasad (iri hati), karena sesungguhnya hasad itu dapat memakan
kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar. (HR. Abu Daud)
2.Saling
bermusuhan
Tidak
jarang, ketika orang yang sama-sama memiliki ambisi dunia berkompetisi untuk
mendapatkan satu jabatan tertentu, atau ingin mendapatkan "kesan
baik" di mata atasan, atau sama-sama ingin mendapatkan proyek tertentu,
kemudian saling fitnah, saling tuduh, lalu saling bermusuhan. Jika sifat permusuhan
merasuk dalam jiwa kita, dan tidak berusaha kita hilangkan, maka akibatnya juga
sangat fatal, yaitu bahwa amal shalehnya akan "dipending" oleh Allah
SWT, hingga mereka berbaikan.Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ
يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ
شَيْئًا إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا
هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ
حَتَّى يَصْطَلِحَا رواه مسلم
Dari
Abu Hurairah ra berkata,bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pintu-pintu surga
dibuka pada hari senin dan kamis, maka pada hari itu akan diampuni dosa setiap
hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali seseorang
yang sedang bermusuhan dengan saudaranya sesama muslim, maka dikatakan kepada
para malaikat, “Tangguhkan dua orang ini sampai mereka berbaikan.” (HR. Muslim).
3.Berprasangka
Buruk
Sifat
inipun tidak kalah negatifnya. Karena ambisi tertentu atau hal tertentu,
kemudian menjadikan kita bersu'udzon atau berprasangka buruk kepada saudara
kita sesama muslim, yang bekerja dalam satu atap bersama kita, khususnya ketika
ia mendapatkan reward yang lebih baik dari kita. Sifat ini perlu dihindari
karena merupakan sifat yang dilarang oleh Allah & Rasulullah SAW, di
samping juga bahwa sifat ini merupakan pintu gerbang ke sifat negatif
lainnya.Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ
الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا
وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ
إِخْوَانًا رواه مسلم
Dari
Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah oleh
kalian prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka buruk itu adalah
sedusta-dustanya perkataan. Dan janganlah kalian mencari-cari berita kesalahan
orang lain, dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan
janganlah kalian saling mementingkan diri sendiri, dan janganlah kalian saling
dengki, dan janganlah kalian saling marah, dan jangan lah kalian saling
memusuhi dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersudara. (HR. Muslim)
4.Sombong
Di
sisi lain, terkadang kita yang mendapatkan presetasi sering terjebak pada satu
bentuk kearogansian yang mengakibatkan pada sifat kesombongan. Merasa paling
pintar, paling profesional, paling penting kedudukan dan posisinya di kantor,
dsb. Kita harus mewaspadai sifat ini, karena ini merupakan sifatnya syaitan
yang kemudian menjadikan mereka dilaknat oleh Allah SWT serta dijadikan makhluk
paling hina diseluruh jagad raya ini. Sifat ini pun sangat berbahaya, karena
dapat menjadikan pelakunya diharamkan masuk ke dalam surga (na'udzu billah min
dzalik). Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda "Tidak akan pernah
masuk ke dalam surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat satu biji sawi
sifat kesombongan" (HR. Muslim).
5.Namimah
(mengadu domba)
Indahnya
dunia terkadang membutakan mata. Keingingan mencapai sesuatu, meraih kedudukan
tinggi, memiliki gaji yang besar, tidak jarang menjerumuskan manusia untuk
saling fitnah dan adu domba. Sifat ini teramat sangat berbahaya, karena akan
merusak tatanan ukhuwah dalam dunia kerja. Di samping itu, sifat sangat
dimurkai oleh Allah serta dibenci Rasulullah SAW.Dalam sebuah hadits rasulullah
bersabda :
عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ
أَنَّ رَجُلًا يَنُمُّ الْحَدِيثَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
Dari
Hudzaifah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersbada, “Tidak akan masuk surga
sesroang yang suka mengadu domba.” HR Bukhari Muslim)
==========
TANYA
JAWAB
T:
Jazakallah
materinya bagus ustadz. Saya izin tanya ustadz, kalau seorang istri bekerja, otomatis
ada beberapa pekerjaan rumah yang tidak bisa di kerjakan secara maksimal.
Terbatasnya waktu dan tenaga. Dosakah?
J:
Istri
bekerja hukum dasarnya mubah bersyarat diantaranya seizin suami, tentunya
pekerjaan rumah boleeh di kerjakan dengan orang lain atau pembantu seizin
suami.
T:
Ketika kita menemukan teman kerja dalam tim yang kerjanya hanya mau enaknya saja,
tidak peka dengan pekerjaannya sehingga kerjaan dia harus kami yang
mengerjakannya juga, sudah di ingatkan baik-baik tapi masih belum berubah, wajarkah kalau dalam hati kita merasa kesal? Bagaimana
J: Hukum dasar bekerja itu mubah, boleh di mana saja selama tidak
ada larangan. sebagian ulma menyatakan haram sebagian memolehkan, yang memboleh
kalau bukan coor bisnis misalnya securiy, dsb, smog Allah berikan terbaik
T:
Ijin
bertanya ustadz. Kadang karena kewaspadaan akan suatu hal, kita jadi sedikit
curiga kepada orang-orang dilingkungan, apa kecurigaan itu sudah termasuk kategori
su'uzon ustadz?
J:
Sudah
mendekati bahkan sebagian orang memasukkan kategori suudzon
T:
Kadang dalam bermasyarakat kita berbeda pendapat, hingga terjadi debat, sikap
kita didepan lawan diskusi baik-baik saja, tapi di hati masing-masing ada rasa
kebencian. Ini bagaimana menyikapinya ustadz?
J:
Islam
mengajarkan kita bersikap bijak dengan siapapun termasuk menghargai perbedaan.
hargai, dengarkan bika harus berdebat atau diskusi dengan bijak berikan dalil
atau dasar yang jelas
T:
Ustadz
saya seorang pekerja dengan anak 1 dan 1 lagi sebentar lagi akan lahir
insyaAlloh. Suami mengharuskan saya berhenti kerja setelah anak lahir. Di 1
sisi orang tua danmertua menjadi tanggungan kami. Di sisi lain penghasilan
suami saja jauh untuk mencukupi itu. Mohon pendapatnya ustadz, bagaimana saya
bisa qonaah untuk itu semua? terima kasih
J:
Barokalloh,
diskusikan dengan bijak bersama suami pengatuarn dengan bijak buat skala
priritas. tuanakan ibadah semaximal mungkin agar timbul ketenangan dan
kebhagiaan. insya Alah akan mencukupi
T:
Ijin bertanya ustadz. Afwan bagaimana dgn guru mengaji atau 'penceramah'...
bolehkah menetapkan (afwan) fee?
J:
Secara
hukum boleh, selama saling ridho, profesonal, tidak membebebani jamaah
T:
Ustadz mohon bertanya ya ustadz, dulu ketika anak-anak masih kecil, saya titip
anak-anak ke mertua, disaat pulang sekolah dan saya belum jemput, karena saya
bekerja. Saya kalo gajian selalu yang pertama saya kasih adalah mertua, mengingat
begitu baiknya pada anak-anak saya. Nah saya lupa ustadz niat saya waktu itu
tulus tidak ,atau karena imbalan mengurus anak-anak saya . Berdosakah saya
ustadz kalau saya salah niat?
J:
Ikhlaskan
saja bu, bacakan doa sebagai bakti dengan al fithah atau yang lain kalau masih
hidup bahagiakan dia dengan rizqi yang kita punya.
•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Kita tutup dengan
membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin
Doa Kafaratul Majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك
أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya
Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah
melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuh
================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage: Kajian On line-Hamba Allah
FB: Kajian On Line - Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official
Kajian Online Hamba Allah G5 Ummahat
Hari/Tgl: Selasa, 10 April 2018
Materi: Ketika Cintamu Diuji
Asatidz: Ustadz Kaspin
Admin G-5: Saydah, Nining
Notulens: Saydah
Editor: Sapta
========================
Sahabat Hamba Allah yg baik...
Mari kita simak ungkapan indah berikut ini...
Bismillahirrahmaanirrahim,
Wahai insan istimewa pilihan Allah yakni insan yang
sedang diuji…
Berbahagilah bila cobaan yang datang seakan
menyesakkan dadamu.
Bukan Allah tidak peduli padamu…
Bukan Allah hendak menyiksamu…
Bukan Allah sudah tidak melihat usaha dan doa-doamu…
Bukan Dia tidak mengerti air matamu…
Dia hanya hendak menunjukkan kepadamu bahwa Dia
menyayangimu…
Iya… Allah sangat menyayangimu.
Bagaimana tidak, dari berbilyun manusia di muka bumi
ini, engkau pilihan-Nya. Dia memilihmu karena Dia ingin engkau kembali padaNya.
Mungkin selama ini, kau lalai dari mengingatNya dengan
sebenar-benarnya, mungkin selama ini engkau kurang bersyukur dengan apa yang
telah Dia berikan padamu.
Limpahan nikmat yang engkau peroleh, jarang sekali
engkau mensyukurinya. Bahkan engkau tambahi dengan keluhan.
Maka, marilah bermuhasabah!
Wahai calon penghuni surga,
“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala
kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan
hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al Mulk 1-2)
Berbahagilah bila cobaan yang datang itu seakan
bertubi-tubi bagimu.
Bukan Allah tidak tahu…
Betapa dengan ujian dariNya ini, membuat engkau
terduduk, membuat engkau menangis dan membuat engkau lebih banyak ingat Dia.
Dia senantiasa ingin yang terbaik untuk kehidupanmu.
Wahai hamba Allah yang sedang memperbaiki diri dan
memperbaiki iman. Hidup ini diliputi sepenuhnya dengan limpahan kasih sayang
Allah.
Percayalah, Jalan yang Allah beri tidak akan
mengecewakanmu. Yakinlah orang yang percaya akan janji-janji Allah, Dia akan
mengirimkan kabar gembira kepadamu dari jalan yang engkau tidak menyangka
sebelumnya, cepat atau lambat bukan soal, yang pasti Allah tidak akan
memungkiri janji.
Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang melakukan
kebaikan termasuk usahamu untuk bersabar dan ridha dengan setiap ujian dariNYA.
Jika bukan didunia, mungkin ganjaranmu disyurga sana.
Percayalah, sesungguhnya Allah sesekali tidak akan
mengecewakan hambaNYA, karena Dia Maha Adil dan Dia Maha Memberi. Tidak dapat
dinafikan, ketika engkau bertarung dengan perasaanmu sendiri, rasanya sakit,
pilu, tidak berdaya. Apatah lagi pada masa itu orang sekelilingmu seakan tidak
memahamimu.
Pandanglah sesuatu yang terjadi itu dengan positif dan
professional serta cobalah belajar dari setiap peristiwa yang engkau alami.
Mungkin dari situ engkau dapat mengingatNYA, betapa Dia mencintaimu.
Mungkin ada masa engkau terduduk seketika… Mungkin ada
masa engkau mengumpulkan segala kekuatan dalam duka dan lara untuk kembali
bangkit dari rasa keputusasaanmu.
Beruntunglah orang yang mendapat ujian dari Allah.
Amat beruntunglah seseorang itu yang bilamana Allah hadirkan cobaan dalam
hidupnya, apakah dalam bentuk kesenangan ataupun kesusahan, dia semakin dekat
dengan Allah sang pencipta, dia semakin dekat dengan Allah yang maha pengabul
doa dan sekaligus berazzam untuk kembali kepadaNya.
Amat rugilah seseorang itu yang bilamana Allah
hadirkan ujian kepadanya, dia masih mengeluh tak berkesudahan. Menyalahkan itu
dan ini.
Untukmu yang berbahagia dengan ujian Allah...
Ummu Rhasid
Sahabatfillah...
Cinta itu perlu Pengorbanan...
Dalam perjalanan cinta itu ada namanya pengorbanan
apakah cinta itu murni atau cinta yang palsu, banyak sekali orang yang
menyatakan cinta namun tidak mau melakukan pengorbanan dan inilah cinta palsu
atau cinta imitasi.
Cinta itu butuh pembuktian...
Segala sesuatu harus dibuktikan.
Karena cinta itu harus dibuktikan melalui pengorbanan
maka barulah kita mampu menilai sesuatu, seperti batu yang mengeluarkan benda
kuning perlu dibuktikan apakah itu emas atau bukan. Saat seorang suami ingin
membuktikan cinta istrinya maka akan melakukan beberapa ujian² tertentu begitu
juga sebaliknya.
Begitu juga cinta kepada Allah harus dibuktikan,
karena sesungguhnya tidak mungkin mendapatkan cinta Allah jika tidak melakukan
pengorbanan, seperti mustahilnya untuk mendapatkan cinta seorang perempuan atau
laki-laki jika tidak melakukan pengorbanan.
Cinta kepada Allah.
Cinta kepada Allah itu berbeda dengan cinta kepada
manusia, karena cinta makhluk ke makhluk berbeda dengan cinta dari khalik ke
makhluk.
Cinta antar makhuk akan disenangi, dimuliakan diberi
hadiah oleh orang yang mencintainya.
Cintanya makhluk itu selalu ingin membahagiakan dengan
apa yang dimilikinya kepada orang yang dicintai, seperti sang suami yang baru
menikah dan lagi jatuh cinta kepada sang isteri akan memberikan apapun
permintaannya, begitu juga sebaliknya sang isteri akan selalu membuat suami nya
senang, karena cinta itu akan melahirkan kekuatan untuk yang dicintai.
Cinta sang khalik beda dengan cinta makhluk karena
Allah itu tak sama dengan makhlukNya dan Allah itu maha mendengar dan maha
melihat, maka cinta Allah yang diberikan kepada makhluk akan beda dengan cinta
dari makhluk ke mahluk, ini penting supaya kita tidak buram memandang konsep
cinta Allah karena banyak orang yang memaksakan cinta Allah itu sama dengan
cinta makhluk.
Seperti kalau Allah cinta kepada kita berarti kita
harus diberi kekayaan, kemudahan fasilitas hidup, urusan kita harus dimudahkan,
sehingga ada orang yang dalam kondisi kaya dan urusan nya lancar berujar ,”
Allah sedang sayang sama kita”, begitu sebaliknya saat rizky sulit urusan
sering tidak lancar mereka berujar ,”Allah sedang tidak sayang sama kita,” ini
konsep yang salah, berarti itu menyamakan cintanya Allah dengan cintanya
makhluk, jika berfikir bahwasanya orang yang riskynya lancar dan urusan nya mudah
itu dicintai Allah berarti banyak sekali orang kafir yang dicintai oleh Allah
di muka bumi ini, karena banyak yang belum beriman itu orang yang banyak harta
dan urusannya lancar.
Janganlah beranggapan bahwa cinta Allah itu memuluskan
hidupmu. Allah mengingatkan dalam surat al Fajr ayat 15 -17 bahwa cinta Allah
tidak diindikasikan dengan harta, jangan pernah berfikir bahwa orang yang
berlimpah harta itu lebih disayang oleh Allah Swt
Bagaimanakah Konsep Cintanya Allah itu ..?
~ Apabila Allah sudah cinta kepada
salah satu makhluknya. Allah akan mengujinya, jika dia ridha akan ujian itu
maka Allah akan ridha kepadanya, jika kemudian dia itu murka akan ujian Allah
berikan maka dia akan dapatkan Allah lebih murka padanya.
~ Semakin kita beriman kepada Allah dan Allah cinta akan iman yang kita miliki, ingatlah sesungguhnya Allah akan memberi kita
dengan berbagai macam ujian.
Kenapa Allah memberi kita ujian ketika kita beriman?
Karena Allah ingin tahu apakah cinta makhluk itu betul
betul teruji atau apakah hanya sekedar ucapan saja. Rasulullah Saw menerangkan
ketika Allah mencintai salah satu makhlukNya maka Allah akan mengujinya.
Ingatlah sahabat saat kita tidak berilmu agama maka
hidup akan mudah, kenapa? Karena menganggap semua boleh tapi ketika sudah
banyak ilmu agama dan mempelajarinya
melalui majelis-majelis ilmu dan lain nya maka akan tahu mana yang
dilarang sehingga terasa sulit bagi orang beriman dalam meraih cinta Allah.
Cinta Allah itu tidak mudah namun balasan
kenikmatannya di yaumil akhit nanti akan begitu dahsyat. Bayaran bagi hamba
yang diuji adalah surgaNya, kadang ilmu yang
dimiliki akan membuat kita menangis karena mengetahui saat diri tidak
berilmu begitu terlihat kelemahan dan kejahiliyahan.
Jangan berfikir untuk memantaskan diri dihadapan Allah itu mudah atau saat kita ingin memperbaiki hidup
sesuai dengan apa yang Allah ridhai akan diberikan kemudahan kadang Allah akan
memberikan ujian kepayahan dalam hidup.
Jangan pernah beranggapan kalau dicintai oleh Allah
itu sama seperti dicintai oleh suami atau Isteri, apapun
permintaan harus diberikan.
Semakin beriman seseorang semakin berat ujiannya.
Cinta Allah itu akan banyak menguras tenaga kita, maka orang paling keras ujian
hidupnya adalah bukan orang orang pendosa dan orang-orang yang melakukan
kemaksiatan bukan pula kepada orang yang tidak beriman.
Sahabat Hamba Allah Rahimukumullah
Seseorang Akan Mendapat Ujian Sebanding Kualitas Imannya
Siapakah yang akan mendapatkan ujian terberat …?
Rasulullah Saw telah menjelaskan dalam Hadits berikut;
Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya,
ia berkata, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?”
Beliau SAW menjawab, “Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi.
Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu
kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia
akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan
mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari
dosa.” [HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad
(1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402
mengatakan bahwa hadits ini shahih.]
Lalu jangan beranggapan ya beriman yang
ringan saja biar ujian ringan kenapa? karena Pertolongan Allah akan lebih besar
dari ujian yang Allah berikan.
Jika ingin memperbaiki diri dan ingin dicintai oleh
Allah maka harus mempersiapkan tenaga ektra karena ujian yang akan diberikan
membutuhkan energi yang kuat.
Kenapa Allah memberikan ujian kepada hamba yang
dicintai? Padahal Allah itu tidak pernah mendzolimi hambanya?
Imam ibnu Qayyim berkata kita harus memahami harus
mengerti manisnya dibalik setiap ujian, surat cinta
Allah kepada makhluknya adalah ujian itu.
Apakah surat cinta itu?
Perhatikan hikmah berikut saat mendapatkan ujian
sehingga kita berbinar ada ujian.
1.
Menggugurkan Dosa-dosa
🍁Sesungguhnya
Allah ingin dalam kehidupan singkat hambanya itu diberi ujian untuk
menggugurkan dosa-dosa dimasa kejahiliyahanya, ujian yang sebentar diberi dunia
itu untuk kenikmatan panjang di akhirat nanti, ujian yang diberikan itu untuk
mendapatkan pahala sabar yang ada saat di uji.
🍁Sesungguhnya
segala amal itu ada timbangan nya kecuali satu yakni Sabar. Allah tidak
rincikan pahala sabar seperti pahala sedekah dan lainnya karena pahala sabar
itu sangat besar.
🍁Kewajiban kita
adalah bersabar dan bersabar. Ganjaran bersabar sangat luar biasa. Ingatlah
janji Allah Swt,
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi
mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10).
🍁Makna asal dari
sabar adalah “menahan”. Secara syar’i, pengertian sabar sebagaimana yang
dikatakan oleh Ibnul Qayyim
“Sabar adalah menahan diri dari menggerutu, menahan
lisan dari mengeluh, dan menahan anggota badan dari menampar pipi,
merobek-robek baju dan perbuatan tidak sabar selain keduanya. Jadi, sabar
meliputi menahan hati, lisan dan anggota badan.
🍁Disini hikmah
nya kenapa para nabi diberi ujian kesabaran karena pahala kesabaran itu yang
sangat besar, mudah bagi Allah untuk mengubah pengikut nabi dengan langsung
beriman namun Allah tunda itu untuk menguji kesabaran para nabi agar nanti
pahala sabar nya memberikan kenikmatan luar biasa di akhirat nanti.
🍁Para sahabat
jika dimudahkan terus hidupnya malah mereka menangis karena merasa takut jika
Allah hanya memberikan kenikmatan didunia saja namun diakhirat tidak lagi
karena tidak terkumpulnya pahala sabar.
🍁Orang yang
diuji oleh Allah bukan karena Allah benci kepada hambanya tapi karena Allah
ingin mengugurkan dosa dosanya.
Jangan sampai futur karena ujian dari Allah, dan
jangan minta ujian kepada Allah. Namun jika ada ujian dari Allah maka sikapilah
dengan lapang hati seperti para sahabat yang senang dapat ujian dari Allah Swt.
2. Agar
Hisab di yaumil akhir nanti Ringan.
Dosa-dosa hamba yang sering diuji akan ringan saat di
yaumil akhir nanti.
Ketika Allah menguji hambaNya maka rontok semua dosa
dosanya hingga tidak perlu banyak yang di hisap, seperti kisah anak buta yang
hafizd quran tidak ingin matanya di operasi (diganti) karena tak ingin hisap
matanya di yaumil akhir ditanyakan, dia ingin bersabar dengan kebutaannya agar
hisab nya ringan di yaumil akhir nanti.
3. Supaya
kita Ingat Allah dan merasakan Rintihan itu hanya kepada Allah.
🍁Agar hamba itu
ingat kepada Allah, ujian itu yang mengingatkan, karena Allah cemburu kepada
hamba nya yang lebih cinta kepada selain Allah.
Ujian itu dan rasa sakit itu akan mengingatkan
hambanya pada Allah. Mereka akan berdzikir dan merintih kepada Allah Swt.
Kebanyakan dari hamba akan ingat Allah saat mereka di
uji oleh Allah Swt.
🍁Kenikmatan
merintih akan terasa saat kita diuji, Allah itu maha pencemburu pada makhluknya
yang sangat sibuk dengan urusan dunia, maka Allah ingatkan dengan ujian agar
mereka kembali kepada Allah
Banyak hamba yang tidak bersyukur saat diberi nikmat
sehat dan kembali ingat dan bersyukur saat diuji.
Orang yang mampu khusuk dalam ibadah karena merasa
dekat dengan Allah, dan kita sepakat jika mendapat ujian tempat yang bersandar
yang nyaman itu adalah dalam ibadah.
🍁Allah
menerangkan tidaklah Allah timpakan ujian kecuali Allah ingin hambaNya merendah
kepadaNya. Kapan lagi kita sujud menangis dimalam hari kecuali ketika diuji
oleh Allah, Karena surat cinta dari Allah menjadikan kita mendekat kepada
Allah.
🍁Tidak ada
tempat yang tepat mengadukan kesulitan kecuali hanya kepada Allah seperti nabi
yakub berkata, "aku hanya hanya melaporkan keluh kesah hatiku dan
keletihku hanya kepada Allah" kenapa?
karena itu adalah waktu yang paling nikmat ketika berduaan dengan Allah
ketika begitu banyak ujian dalam hidupnya.
Kalau kita disulitkan dalam mendidik anak disulitkan
oleh suami atau isteri tidak ada yang Allah ingin kecuali kita lapor hanya
kepada Allah Swt.
4. Allah
SWT ingin Meletihkan kita supaya terasa sangat Nikmat nya Akhirat.
🍁Agar kematian
itu menjadi tempat istirahatnya, jika terlalu dimudahkan maka kenikmatan itu
tidak terasa, dan merasa bosan.
Allah ingatkan dalam Al Bagarah 14: “Apakah kamu
mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian)
sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh
malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan)
sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah
datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat
dekat.” (QS Al-Baqarah:214)
🍁Orang yang
menetapkan surga tujuan nya maka itu tidak mudah, perjalanan hidupnya penuh
onak dan duri.
Seperti janji Allah kepada bunda khadijah akan memberikan
rumah yang indah di surga sebagai pengganti rumahnya yang didunia selalu ramai
dengan dakwah Rasulullah SAW.
~ Al Munawi mengatakan, “Jika seorang mukmin diberi
cobaan maka itu sesuai dengan ketaatan, keikhlasan, dan keimanan dalam
hatinya.”
~ Al Munawi mengatakan
pula, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian
yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan
hatinya telah buta. Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan
berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah
disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur
Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga
tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di
dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya
ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa
hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah
lainnya.”[ Faidhul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, ‘Abdur Ro-uf Al Munawi,
1/158, Asy Syamilah]
~ Yang sedang diberi kemudahan jangan pernah meminta
ujian tetapi mintalah kekuatan agar selalu bersyukur, dan yang sedang diuji
Jangan pernah mengira jika ujian dari Allah adalah karena bencinya Allah
kepada hambanya Allah tidak pernah membenci hambanya, tetapi itu adalah cinta
Allah kepada hambanya dengan memberikan
hikmah dibalik ujian itu jangan pernah berfikir kalau Allah itu
mendzalimi hambanya karena sesungguhnya ujian itu mengingatkan agar hambanya
kembali kepada Allah SWT.
~ Ibnu Qayyim mengatakan,
Allah tidak pernah memberi kepadamu kecuali kebaikan
termasuk ujian Allah berikan itu demi kebiakan mu dan ujian itu karena cinta
Allah kepada hambaNya.
Sahabatfillah...
Jika ujian itu terasa seperti kerikil-kerikil tajam
yang berubah menjadi badai besar nan dahsyat lalu menghantam kita, barangkali
itu adalah episode cerita cinta kita padaNya atau ini yang disebut
sebenar-benarnya cinta.
Ketika jiwa telah bersiap untuk ‘menikmati ujian' dan
meyakini bahwa jatuh sejatuh-jatuhnya, seperih-perihnya, sesakit-sakitnya,
sekemelut-kemelutnya adalah bukti cinta Allah pada kita. Sebagaimana Allah
Ta’ala firmankan dalam Al Baqarah ayat 214 diatas.
Bersiap untuk dicintai adalah ‘manifestasi kerelaan’
untuk menikmati setiap detik-detik ujian. Ketika sakit, bangkrut, dikhianati,
ditipu, diancam, dicibir, miskin dan ujian semisalnya.
Bersiap untuk dicintai adalah perjalanan panjang yang
pasti akan melelahkan raga, tetapi menyuburkan nurani.
Bersiap untuk dicintai adalah romantika hidup antara
kamu dan PenciptaMu.
Bersiap untuk dicintai adalah sekelumit pengorbanan
sepanjang nafas mengalir. Seperti titah Rabb Tuhanmu yang disebutkan didalam
Alquran dan diceritakan dalam perjalanan hidup para nabi, tentang kecintaan
keimanan dan kesabaran mereka yang melangit.
Wallahu A'lam bishawab
Demikian
Sumber: Materi Kajian ODOJ
======================
TANYA JAWAB
Tanya: Assalamu'alaikum ustadz, izin bertanya, bagaimana membedakan antara
ujian, cobaan dan Takdir?
Jawab: secara bahasa cobaan dan ujian itu sama, menguji dan mencoba. Dan dunia
ini tempat ujian, susah senang ujian cara nerimanya dengan sabar dan syukur. Taqdir
adalah ketentuan Allah, yang tidak kita ketahui kecuali setelah terjadi.
Tanya: Ustadz Kaspin izin
bertanya, terkait yang abah sampaikan diatas, taqdir adalah ketentuan Allah
yang tidak kita ketahui setelah terjadi, pertanyannya,
benarkah takdir itu bisa dirubah dengan doa? atau doa itu sendiri memang sudah
jadi bagian yang di takdirkan sebagai ikhtiar untuk manusia itu sendiri yang sudah
tertulis di lauhul mahfudz Ustadz Kaspin?
Jawab: Ya, taqdir bisa dirobah dengan doa. Sebelum terjadinya manusia punya
pilihan pilihan. Husnudzhon selalu kepada Allah
Tanya: Ustadz Kaspin ijin bertanya ustadz. Ada seorang teman yang bertanya, jika semua yang
kita lakukan sudah ditentukan/ditetapkan dan tertulis di lauh mahfudz, dan
sudah takdir, kenapa manusia masih disuruh berusaha/ikhtiar?
Jawab: Ikhtiar adalah bukti kehambaan. Dan bukti husnudzhon. Karena di alam ini
ada hukum Nya yaitu hukum sebab akibat yang merupakan sunatullah.
=================
Kita
tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin
Doa
Kafaratul Majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب
إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha
Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang
haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat
kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuh
================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official


