KAJIAN ONLINE HAMBA اللهِ NANDA 109
& 110
Hari/Tanggal
: Rabu, 10 Desember 2014
Materi
: Syahadat
Narasumber
: Ustadzah Imas
Admin
: Dyah
Editor : Ira Wahyudiyanti & Hernizah M.R
Bismillah…
Assalamu'alaykum wr.wb.
Pada pertemuan kita
pekan kemarin telah nyata betapa pentingnya makna syahadatain, pantaslah jika kemudian
para shahabat radhiyallahuanhuma sedemikian kokohnya mempertahankan
keislamannya. Bilal bin Rabah tahan menerima himpitan batu besar di siang hari
yang terik, Shuhaib bin Sinan disiksa hingga kehilangan ingatan, 'Ammar bin
Yassir, ayahnya serta ibundanya tak luput dari siksaan yang menyebabkan
kesyahidan ayah dan ibundanya. Syahadat bagi mereka dipahami dengan arti yang
sebenarnya yang melingkupi ikrar, sumpah dan janji.
Mayoritas umat Islam sekarang
mengartikan syahadat sebagai ikrar saja. Apabila mereka tahu bahwa syahadat
juga mengandung arti sumpah dan janji serta tahu bahwa akibat janji dan sumpah
maka mereka akan benar-benar mengamalkan Islam dan beriman dengan sempurna yang
diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisannya dan diamalkan oleh perbuatan. Kandungan
kalimat syahadat yang hendaknya dipahami oleh kita adalah :
1.
Sebagai
ikrar (pernyataan)
Yaitu pernyataan seorang
muslim mengenai apa yang diyakininya. Pernyataan ini sangat kuat karena didukung
oleh Allah SWT, malaikat dan orang-orang yang berilmu dari kalangan para Nabi
dan orang-orang yang beriman (Q.S. Ali Imran: 18). Hasil dari ikrar ini adalah
kewajiban kita untuk menegakkan dan memperjuangkn apa yang kita ikrarkan.
Kalimat Laa ilaaha illa Allah merupakan ikrar tentang Rububiyyatullah (Allah sebagai
Rabb) bagi manusia merupakan alasan bagi ikrat tentang keesaan Allah SWT.
Hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, Rasulullah Shallallahu ‘
alaihi wa sallam membacakan kepada kami ayat : "Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka meneguhkan
pendiriannya", sungguh telah banyak diucapkan oleh banyak orang kemudian
kebanyakan mereka kafir. Maka barangsiapa yang mengatakannya sampai mati maka
sesungguhnya orang itu telah beristiqomah di atasnya.
2.
Sebagai
Sumpah
Yaitu pernyataan
kesediaan menerima akibat dan resiko apapun dalam mengamalkan syahadat. Seorang
muslim yang menyebut asyhadu berarti siap dan bertanggung jawab dalam tegaknya
islam dan penegakan ajaran islam. Pelanggaran terhadap sumpah ini adalah
kemunafikan dan tempatnya orang munafik adalah neraka jahanam (Q.S. Al Munafiquun:
1-2). Beberapa ciri orang yang
melanggar sumpahnya ini yaitu memberikan walaa (mono loyalitas) kepada orang-orang
kafir, mengolok-olok ayat Allah SWT, mencari kesempatan dalam kesempitan kaum
muslimin, juga malas dalam shalat (Q.S. An-Nisaa' :138-145). Orang-orang mu'min
yang sumpahnya teguh tidak akan bersifat seperti itu.
3.
Sebagai Janji
Yaitu perjanjian setia untuk
mendengar dan taat dalam segala keadaan terhadap semua perintah Allah SWT yang
terkandung dulu. Kitabullah maupun sunnah Rasulullah. Syahadat ini harus
diterima dengan sikap s'an wa tha'atan didasari dengan iman yang sebenarnya terhadap
Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir dan qadar baik maupun
buruk (Q.S. Al-Maidah: 7), (Q.S. Al Baqarah: 93, 285). Pelanggaran terhadap
janji ini berakibat laknat Allah SWT seperti yang pernah terjadi pada orang-orang
Yahudi.
Jika
ketiga hal tadi sudah terealisasikan dalam kehidupan seorang muslim, maka hal
ini akan menghantarkan nya pada keimanan yang benar. Keyakinan tanpa keraguan,
penerimaan menyeluruh tanpa rasa keberatan, kepercayaan tanpa pilihan lain terhadap
semua keputusan Allah SWT. Iman bukanlah angan-angan, tetapi suatu yang
tertanam di dalam hati dan harus diamalkan dalam bentuk amal yang produktif, yang
merupakan amal sholeh yang dilakukan secara ihsan. Dalam pengamalan amal ini
seorang mu'min akan merasa mendapat perlindungan dari Allah. Inilah ruh iman (Q.S.
Al-Hujurat: 15). Dalam Q.S. At Taubah: 105, yang artinya : “Dan katakanlah,
"bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mu'min akan
melihat pekerjaan mu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang
Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa
yang telah kamu kerjakan".
Dalam
ayat ini hendaknya kita terus bekerja, beramal secara istiqomah, tetap teguh,
tahan dan kuat dalam menghadapi dan melaksanakan perintah Allah SWT, serta
mampu menghadapi segala cobaan. Tetap pada pendirian, tidak berubah dan tahan
uji. Sikap istiqomah ini akan melahirkan tiga hal yang merupakan ciri orang
beriman sempurna : keberanian, ketenangan dan optimis dlm kehidupan ini.
Para
shahabat, generasi tabi'in, tabiuttabi'in serta ulama salaf telah membuktikan
syahadat mereka dengan segala amal ibadah dan jihad nya, tidak ada kekhawatiran
dalam diri mereka, seluruh kehidupannya diisi dengan beramal. Halangan dan
rintangan mampu di atasi, berani menghadapi musuh dan optimis dalam hidup,
pilihannya adalah hidup mulia atau mati syahid. Subhanallah, Tabaarakallah,
Laahawla walaa quwwata illa billah.
Semoga kita diberikan hidayah dan taufiq dalam meneladani generasi terdahulu dalam pengamalan syahadatain ini.
Semoga kita diberikan hidayah dan taufiq dalam meneladani generasi terdahulu dalam pengamalan syahadatain ini.
Wallahu'alam,
ini saja yang dapat saya sampaikan pada mlm ini, semoga bermanfaat khususnya untuk
diri saya sendiri, bisa menjadi motivasi untuk terus beramal lebih baik lagi. Yang
menarik dalam penyikapan syahadatain ini adalah generasi shahabat yang langsung
menerima dan mengamalkan, tapi kalau generasi sekarang kok tidak bisa seperti
itu yah? Bagi nanda solcan yang sudah paham dan sudah mengamalkan
alhamdulillah, tinggal ditingkatkan keistiqomahan nya, baik ibadah ritual nya
habluminallah maupun ibadah sosialnya habluminannaas. Yang baru paham,
alhamdulillah, semoga bisa diiringi dengan pengamalan yang baik dari seluruh
ajaran islam. Awali dengan yang mudah, yang kecil, dari diri sendiri dan jangan
ditunda-tunda, mulai saat ini.
Jika tidak ada yang akan
sharing berkaitan dengan syahadat ini, kita cukupkan kajiannya sampai disini,
mohon maaf bila ada yang kurang berkenan, kesalahan datangnya dari saya pribadi
sebagai hamba yang dhoif, kebenaran dari Allah SWT.
Demikian kajian hari ini. Kita
tutup dengan hamdalah, istighfar 3x, dan doa kafaratul majelis.
Doa
Kafaratul Majelis
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله
إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha
Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang
haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat
kepada-Mu.”
Wassalamualaikum
wr wb
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment