Kajian Online WA Hamba الله SWT
Rabu, 14
Oktober 2015
Narasumber : Ustadzah
Ira Wahyudianti
Rekapan Grup Nanda M101 (Zara)
Tema : Kajian Umum
Editor
: Rini Ismayanti
ADAB
SOPAN SANTUN BAGI
PENUNTUT ILMU
بسم الله الر حمن الر حيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al
Qur'an semoga kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an
dan dikumpulkan sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya..
Shalawat
beriring salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang
peradaban Islam, Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar
Muhammad SAW, pada keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan
syafaat beliau di hari akhir nanti. InsyaaLlah..
Aamiin
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ ب لله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صلى الله عليه و على آله و أصحابه ومن واله و سلم تسليما كثيرا.
أما بعد.
Selama
hidup kan kita terus menerus belajar jadi aplikasi adab2nya harus terus d
ingat.
Sebaik-baik
kegiatan yang dilakukan untuk memanfaatkan waktu adalah menyibukkan diri dengan
ilmu syar'i, ilmu Agama, terus mencari dan mendapatkan faidah ilmu, senantiasa
mengulang-ulangi pelajaran dan mengajarkannya. Menuntut ilmu syar'i termasuk
pendekatan diri yang paling afdhol dan ketaatan yang paling agung. Oleh karena
itu para Ulama sejak dahulu sampai sekarang, banyak yang memberikan perhatian
besar dalam menjelaskan adab sopan santun yang harus dimiliki oleh para
penuntut ilmu, adab sopan santun tersebut merupakan perhiasan dan sarana menuju
kemenangan dan kesuksesan. Sebagaimana mereka para Ulama telah menjelaskan
tentang akhlaq terpuji dan akhlaq tercela dalam menuntut ilmu, dimana dengan
mengetahuinya dan mengamalkannya -dengan menerapkan akhlaq terpuji dan
meninggalkan akhlaq tercela tersebut- merupakan jalan pintas untuk mendapatkan
ilmu yang diidam-idamkan serta jalan pintas untuk bisa memetik buah ilmu
tersebut. Adab Sopan Santun bagi Penuntut Ilmu yang paling penting antara lain:
Pertama
: Niat Ikhlas hanya karena Allah Ta'ala
Menuntut
ilmu merupakan ketaatan dan ibadah, sementara Ikhlas hanya karena Allah ta'ala
itu wajib ada pada seluruh bentuk ibadah dan ketaatan lainnya. Allah Ta'ala
berfirman :
{وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ} [البينة: 5]
Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan
salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. [Al
Bayyinah (98):5]
Ikhlas
dalam menuntut ilmu adalah mengharapkan wajah Allah ketika menuntut ilmu,
sehingga apabila keinginan seorang penuntut ilmu hanya untuk memperoleh ijazah,
atau menduduki jabatan tertentu untuk mendapatkan manfaat berupa materi saja,
maka sesungguhnya dia belumlah ikhlas dalam menuntut ilmu. Dari Abu Hurairah
radhiallohu 'anhu, dia berkata : Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam
bersabda :
من تعلّم علماً مما يبتغَى به وجه الله - عز وجل- لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضاً من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة يعني ريحها
Barangsiapa
mencari ilmu yang seharusnya dicari karena mengharapkan wajah Allah Azza
Wajalla semata, namun dia tidaklah mencarinya kecuali karena ingin mendapatkan
perhiasan dunia dengan ilmu tersebut, maka dia tidak akan mendapatkan "urf
Jannah" pada hari kiamat yaitu wangi surga. [HR. Ahmad, Abu Daud,
Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al hakim dan Annawawi dalam riadhussholihin]
Nabi
Shollallahu 'alaihi wasallam telah memotifasi kita agar senantiasa memiliki
Niat Ikhlas hanya karena Allah Ta'ala semata, sebagaimana dalam hadits Umar
Rodhiallohu 'anhu :
إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى ..
Sesungguhnya
amalan-amalan itu tergantung hanya dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap
orang akan mendapatkan hanya sesuai dengan apa yang dia niatkan [Muttafaq
alaih]
Para
Ulama sangat perhatian terhadap hadits Umar Rodhiallohu 'anhu diatas, mereka
senantiasa mendahulukan hadits ini dalam kitab-kitab mereka, karena hadits
tersebut dibutuhkan secara umum dalam segala perkara, seperti yang telah
dikatakan oleh Imam Al Khot-thobi, perhatikan Imam Al Bukhari rahimahullah,
beliau memulai kitab Shohihnya dengan hadits ini, para ulama mengatakan :
Hadits ini adalah khotbah pembuka kitabnya Imam Al-Bukhari karena beliau tidak
menulis muqaddimah apapun, tujuan dari hal tersebut adalah sebagai peringatan
bagi para penuntut ilmu agar memperbaiki niatnya dan hanya mengharapkan wajah Allah
ta'ala. Imam Annawawi dan Imam Al Baghowi mengikuti metode imam Al Bukhori ini,
didalam beberapa kitab mereka berdua, demikian pula para penulis lainnya.
Imam
Ahmad berkata :
العلم لا يعدله شيء لمن صحّت نيته
Ilmu
itu tidak ada sesuatupun yang bisa menandinginya, bagi orang yang benar niatnya
Murid-muridnya
lalu bertanya : bagaimana orang yang benar niatnya itu..???
Imam
Ahmad menjawab :
ينوي رفع الجهل عن نفسه وعن غيره
dia
berniat untuk mengangkat kejahilan dari dirinya sendiri dan dari orang lain
Kedua
: Bertaqwa kepada Allah Azza wajalla
Para
ulama adalah manusia yang paling mengenal Allah dan paling bertaqwa kepada-Nya,
Allah ta'ala berfirman :
{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ} [فاطر:
28]
Sesungguhnya
yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya
Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. [Fa-thir (35):28]
Dengan
Taqwa, seorang alim akan bertambah ilmunya dan dengan ilmu orang yang bertaqwa
akan bertambah ketaqwaannya, Allah ta'ala berfirman :
{وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} [البقرة:
282]
Dan
bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu. [Al Baqarah (2):282]
Allah
ta'ala berfirman :
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ} [الطلاق: 2، 3]
Barang
siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke
luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.
[Ath-Tholaq (65):2 & 3]
Rezki
yang paling agung adalah ilmu yang bermanfaat.
Taqwa
adalah kumpulan seluruh kebaikan dan wasiat Allah kepada umat terdahulu dan
belakangan, Allah Ta'ala berfirman dalam surah Annisa :
{وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَإِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا} [النساء:
131]
Dan
kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah
memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga)
kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir, maka
(ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah
kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. [Annisa (4):131]
Allah
Azza wajalla berfirman dalam surah Al-Anfal :
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ} [الأنفال:
29]
Hai
orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan
memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni
(dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. [Al-Anfal (8):29]
Dia
akan memberikan kepadamu furqaan yaitu memberikan kepadamu sesuatu yang bisa
membedakan antara yang haq dan batil, antara yang sehat dan sakit, antara yang
bermanfaat dan tak berguna, semua itu hanya ada dengan adanya cahaya dan
timbangan ilmu, pelita dan ukuran ilmu. Jadi ilmu itu adalah buah dari
buah-buah taqwa, taqwa merupakan jalan untuk memperoleh ilmu, dan ilmu itu
mengangkat derajat pemiliknya ke derajat ma'rifatullah yang paling tinggi serta
takut ~khos-yah~ kepada Allah.
Hal-hal
yang pertama kali masuk dalam bentuk-bentuk taqwa adalah menegakkan
syi'ar-syi'ar Islam dan hukum-hukum Islam yang nampak, diantara hal itu adalah
menjaga sholat lima waktu di masjid, menyebarkan salam kepada orang-orang
tertentu dan kepada kaum muslimin secara umum, amar ma'ruf nahi mungkar,
menampakkan sunnah, memadamkan bid'ah, dan menampakkan hukum-hukum Islam
lainnya agar supaya dia pantas dijadikan panutan serta terjaga kehormatannya,
tidak dilecehkan dan tidak memunculkan persangkaan buruk.
Termasuk
juga dalam bentuk ketaqwaan adalah menjaga syari'at-syari'at yang dianjurkan
baik dalam bentuk ucapan lisan atau perbuatan anggota badan : diantaranya
adalah membaca Al Qur'an Al Karim dengan tafakkur dan tadabbur; memperbanyak
dzikir dengan hati dan lisan; senantiasa berdo'a dengan penuh ketundukan
disertai dengan keikhlasan dan kejujuran; perhatian terhadap ibadah-ibadah
sunnah baik berupa sholat, puasa, sedekah dan haji (umroh) ke Baitullah; serta
bersholawat kepada Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam, dan ibadah-badah lainnya
yang memiliki keutamaan-keutamaan baik berupa perkataan ataupun perbuatan yang
dengannya diharapkan semakin bertambahnya ilmu.
_______
[1]Tadzkiroh
Assami' wal Mutakallim H. 13
[2]Tadzkiroh
Assami' wal Mutakallim H. 69
Semoga jelas yaaaa penjabarannya... silahkan
dibaca dipelajari... diresapi... yaaa nanda nanda solihat...
TANYA JAWAB
Q : Bagaimana
hukum bagi wanita yang sedang
haid itu masuk& duduk di masjid
dalam menuntut
ilmu/kegiatan masjid. Ada yang berpendapat
bahwa wanita haid itu tidak
boleh
memasuki masjid. Gimana
cara mengatasi perbedaan pendapat
tsb? Syukron.
A : Benar sekali ukhti hadist
larangannya jelas untuk tidak berdiam d masjid ketika sedang haid. Jadi misal kita
harus ke masjid tapi lagi haid. Maka niatkan untuk hanya sekedar berlalu saja.
Nah kemudian jika ada kajian d masjid datang saja. Tapi
duduknya jauh dari tempat solatnya kalau bisa d selasarnya jadi tetap bisa
menyimak ilmu tapi juga menaati hadistnya :)
Q : Kalau kegiatan di masjidnya mabit
bagaimana? Sedangkan
untuk akhwat tidurnya di dalam
masjid. Boleh sertakan hadist tentang
larangan duduk di masjid
ketika
sedang
haid. Syukron
A : Dalil qur'an :
Tidak
boleh bagi seorang wanita yang sedang haid atau nifas untuk memasuki masjid.
Sedangkan bila hanya lewat, maka diperbolehkan apabila ia mempunyai kepentingan
dan yakin bahwa tidak akan mengotori masjid dengan najisnya, berdasarkan firman
Allah Ta’ala:
ولا جنبا الا عابري سبيل حتى تغتسلوا
”Dan
(jangan pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali
sekedar berlalu saja, sampai kamu mandi” (Qs An Nisa’:43)
Dalil
hadist :
Hadist riwayat Bukhari (974)dan
Muslim (890),dari Ummu ‘Athiyah dia berkata:
أمرنا تعني النبي صل الله عليه و سلم أن نخرج في العيدين
العواتق
ذوات الخدورو و أمر الخيض أن يعتزلن مصلى المسلمين
“Nabi shalallahu
‘alaihi wasallammemerintahkan kepada kami untuk keluar rumah pada dua hari raya,
termasuk remaja putri dan gadis pingitan, dan beliau memerintahkan wanita yang
haid untuk menjauhi tempat shalat”.
Jika acaranya mabit sebaiknya tidak
ikut ya.
Alhamdulillah, kajian
kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan
bermanfaat. Aamiin....
Marilah
kita tutup majelis ilmu kita hari ini dengan membaca
istighfar,
hamdallah
serta do'a kafaratul majelis
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
dan
istighfar
أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ
Doa
penutup majelis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ ٭
Artinya:
“Maha
suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan
melainkan Engkau. aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment