Kajian
Online WA Hamba الله SWT
Rabu,
27 April 2016
Narasumber
: Ustadz Ahmadi Usman
Rekapan
Grup Nanda M110 (Rani)
Tema
: Tafsir
Editor
: Rini Ismayanti
Puji syukur kehadirat
Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga
kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan
sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya.
Shalawat beriring
salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam,
Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada
keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari
akhir nanti. InsyaAllah aamiin
BELAJAR
DARI SURAH ASSYU'ARA
Begitu
besar Allah memperhatikan kita sebagai hamba-hambaNya, yaitu terlihat amat
jelas pada pembelaan terhadap nabi-nabiNya yang berjuang dijalanNya.
Qs.
Assyu’ara (para penyair)
Ciri-ciri
:
a.
Menggambarkan metode dakwah dan menggunakan medium para nabi dalam mengundang
pertolongan Allah,
b.
Setelah attaubah dan alanfal, surah ini melebihi 200 ayat.
c.
Ada 6 nabi : nuh, hud, sholeh, musa, ibrahim dan Muhammad SAW disebuntukan dan
dijelaskan gerakan langkah perjuangan mereka dan mengajak kita untuk napak
tilas dan melaksanakannya.
#
Assyu’ara ayat 200 :
a.
Disebutkan pedoman menghadapi orang yang karakter dan sifatnya keras kepala, yang
akan diletakkan Allah kepada orang yang hatinya berdosa (mujrimun).
b.
Mereka tidak pernah beriman sampai mereka merasa azab. mereka seperti buta
terhadap segala sesuatu.
Cara
4 metode dakwah para nabi :
1.
Membangun legitimasi diri ; akulah Rosul yang diutus kepada kalian, konsekuensi
membangun profesionalisme dirinya dalam level seorang nabi. Membangun
nilai-nilai dalam dirinya dan mengimplementasikan dalam akhlaqul karimah agar
timbul kepercayaan.
2.
Bicara konten dan nilai-nilainya ; ketaqwaan ketaatan dan loyalitas kepada
Allah SWT, supaya timbul kekuatan.
3.
Memiliki prinsip hanya untuk Allah, dakwah di atas landasan ketaatan kepada
Allah.
4.
Tidak mengharap imbalan kecuali dari Allah, tidak ada interferensi kehidupan
pribadinya dalam langkah dakwahnya.
Besarnya
intimidasi kepada orang beriman oleh orang-orang mujrimun tersebut, menunjukkan
mereka tidak bisa merasakan penderitaan orang lain, tidak paham bahasa
penderitaan manusia, ayat ini dapat berlaku juga pada pemimpin yang mujrimun tidak
bisa melihat penderitaan rakyat.
Pada
orang yang rajin shalat, berperilaku Islami di mata orang mujrimun ini, malah
terlihat sebagai ancaman pada dirinya, shgg mereka merasa perlu menindas dakwah
dan kehidupan kaum muslimin. Karena kebutaannya tsb mereka tidak merasa bersalah
berbuat kedzaliman. Padahal sesungguhnya jika ada kekuasaan yang tidak
digunakan untuk ketaatan, bahkan untuk menyusahkan rakyat bahkan membodohi, dan
menipunya, seakan dia mengundang menyegerakan azab Allah. Saat orang ini
diturunkan azab, mereka habis dalam sekejap. Qs. Alqomar:45 “mereka akan dihancurkan
dan mereka lari terbirit-birit tak menentu.” Kedzaliman itu tidak akan bertahan
lama, Allah tidak akan membiarkan ada di muka bumi.
#
Assyu’ara ayat 208 “tidak akan dihancurkan suatu negeri kecuali telah diutua
pemberi peringatan.”
Maka
kita tidak boleh pesimis dalam menyampaikan kebaikan. Allah akan hancurkan
secara fisik dan jiwa / ruh negeri tersebut. Maka kita harus jadi agen pemberi
peringatan untuk menjaga negeri ini agar tidak dihancurkan oleh Allah SWT.
Ayat
ini berbicara logika yang dipaksakan mereka orang mujrimun Tentang para dai. Mereka
menegatifkan sifat para nabi, dalam terminologi sihir, kahir (dukun), kazzab
(pendusta), majnun (gila), semua sifat ini berinteraksi dengann syetan yang kuat.
Bagaimana mereka mendampingkan nabi yang akhlaqnya baik, dari keluarga yang
mulia dengann sifat-sifat syetan. Bodohnya logika mereka karena kebencian mereka
dan tidak berimannya kepada Allah. Padahal mereka juga senang ke dukun, sihir
dan mendatangi para peramal penipu tapi malah menisbatkan nabi kepada hal tsb,
mereka memberi stempel yang tidak jelas dasarnya.
#
Assyu’ara ayat 213 :
Mengajarkan
bagaimana Rasulullah berdakwah
Menyampaikan
Tauhid sebagai pondasi – jangan meminta atau menyembah kepada selain Allah karena
jika melakukannya akan mendapat azab dari Allah.
Ayat
ini menarik karena tingkat loyalitas nabi kepada Allah sudah tidak bisa
diragukan lagi :
1.
Jangan pernah terpikir apalagi melakukannya.
2.
Dakwah yang sumbernya dari Allah hrs sampai kepada seluruh ummatnya. artinya
teguran ada nabi adalah teguran juga pada ummatnya. Tugas para dai adalah bgmn
membangun ummatnya shgg mencapai loyalitas yang sama dengann loyalitas nabi.
Berilah
peringatan kepada keluarga
Dalam
terminologi indzar / tandzir (peringatan sblm terjadi), supaya tidak terjadi
kecelakaan. Agar kita lebih care terhadap apa yang belum terjadi. Memang
seperti cerewet, tapi untuk mencegah kehancuran di masa yang akan datang.
Begitu juga bahwa kita harus menjadi ummat yang indzar, dalam memilih pemimpin dalam
segala aspek hidupnya, supaya kita tidak membiarkan ummat jalan menuju
kebinasaannya sendiri.
Pentingnya
membangun loyalitas keluarga terhadap dakwah untuk membangun persaudaraan
atas dasar agama dan ideologi. Beberapa hak saudara kita kepada kita :
a.
Hak mendapatkan harta kita
b.
Hak perlindungan jiwa : memberikan ketika dia minta, dengann senyum cerah dan
memberikan kesenangan (perlindungan paling rendah), menjadikan hajatnya adalah
hajat kita (memahami perasaannya dan keadaannya dan memperbaikinya supaya
standarnya sama dengann kita), mengedepankan urusan mereka dari diri kita
sendiri, walau dalam kesulitan (Qs. alhasyr:9), memberikan keutamaan kepada orang
lain. Ayat ini mengajarkan supaya kita ketika memperingatkan keluarga dan
kerabat dengann terlebih dahulu memberikan hak-hak mereka dahulu.
c.
Hak lisan yang hrs dijaga terhadap saudara dan kerabat
Ada
7 hal yang hrs dijaga pada lisan kita:
1.
Menyembunyikan rahasia saudaranya.
2.
Tutupkan aibnya.
3.
Upayakan berbicara dengann bahasa yang manis dan menyenangkan
4.
Jangan membicarakan kehidupan pribadinya thdp orang lain, apalagi thdp
musuh/lawannya.
5.
Tidak boleh menjadikan orang yang dicintainya dalam kehinaan atau
merendahkannya.
6.
Ungkapkanlah rasa cinta kita karena Allah kepada saudara kita supaya membangun
loyalitas dalam bergerak bersama.
7.
Mendoakannya tanpa diketahui mereka, inilah orang-orang yang cintanya tidak
terhalang, perintahnya ada ada hadits nabi.
Mengajak
orang-orang yang mengikuti jalan dakwah ini untuk hidup dengan kondisi tawadhu
dan rendah hati ada 3 bentuk :
a.
Secara umum hati: kesombongan akan menutupi turunnya rizki Allah kepada ummat
muslimin. dan memberikan kekuatan ummat.
b.
Bekerjalah berbuatlah tapi jangan sampai ada unsur kesombongan.
c.
Bagaimana mereka harus tunduk dan patuh kepada orangtuanya tidak
mendurhakainya.
Jika
mereka masih menolak dakwah, maka katakan “sesungguhnya aku sudah terbebas dari
dosa-dosa perbuatan kalian, karena ajakan nilai kebaikan sudah aku sampaikan”.
Selain ini menguatkan hati pendakwah, juga menekan subyek dakwah untuk
memikirkan dan supaya melaksanakannya.
#
Assyu’ara ayat 215
Tawakkallah
kepada Allah yang aziz (perkasa) dan rohim (pengasih) – menunjukkan jika kita sudah
melaksanakan dakwah, pasti Allah menghargainya dan menurunkan pembelaanNya.
#
Assyu’ara ayat 220
Sesungguhnya
Allah maha mendengar dan maha mengetahui. Menguatkan semangat dakwah kita,
bahwa apapun yang terjadi, Allah maha tahu, sehingga tidak perlu khawatir.
Bahasan
surah assyua’ra hari ini terkait juga dengan Qs. 3:110 amar ma’ruf dan nahi
munkar
TANYA
JAWAB
Q
: Apakah keras kepala terhadap yang kita imani adalah dosa juga?
A
: Kalau sudah yakin & memang sesuai dengan perintah Allah tidak dosa. Yang
dosa itu jika tidak sesuai dengann syariat dikasih tau masih ngotot juga
Q
: Kan ada 7 hal yang harus dijaga pada lisan kita, salah satu nya tutupkan
aibnya. Kalau misalnya orang itu berbicara aibnya kepada kita tetap kita tidak
tahu solusinya. Trus kita ingin menolong saudara kita dengann berbicara kepada
orang lain yang mengerti. Otomatis kita mengubar aib mereka. Apakah itu berdosa? Bagaimana cara penyampaian nya agar tidak
berdosa?
A
: Kalau niatnya untuk menolong Insya Allah bukan menyebar aib, Allah Maha
Mengetahui. Agar jatuhnya tidak ghibah sebaiknya tidak menyebut nama fulan dan yang
mendengar juga tidak memaksakan yang menyampaikan info agar tidak ghibah juga.
Wallahu a'lam
Q
: Mau tanya ustadz, bagaimana cara kita memulai dakwah sedang kita memiliki
masalalu yang kelam..
A
: Taubatan nasyuha, berjanji tidak akan mengulangi lagi, perilaku yang baik
akan tercermin dalam keseharian kita. Allah akan memberi kemudahan jika
tujuannya untuk kebaikan & membela agama Nya
Wallahu
a'lam
Q
: Assalamu'alaikum.. Saya mau bertanya, gimana cara atau metode apa untuk
dakwah yang baik dalam keluarga..
A
: Metode dalam keluarga adalah dengan tauladan, selalu care urusan rumah, tidak
berbahasa menggurui apalagi menyinggung dan membuat lingkungan yang islami
secara perkataan,perilaku maupun perbuatan...
Q
: Cara Dakwah yang baik di lingkungan kampus yang islam nya
"kekinian" bagaimana ustadz?
A
: Dawah pada intinya dimanapun sama kecuali pada cara pendekatan, kalau kampus
harus pandai ilmu agama, permainan logika dan keahlian beretorika dan yang
terpenting tauladan dan kekuatan mental dan sikap...
Q
: Misal kita sudah menunjukkan dengann berpakaian syar'i, terus teman-teman yang
lain malah bilang sok alim, ibu-ibu, bahkan ada yang menjauh tidak mau berteman
lagi hanya karena pakaian nya berbeda dengan mereka, tidak gaul dsb... Itu
menanggapinya gimana?
A : Kalau yang sudah sesuai agama tidak
perlu dirubah seperti pakaian, waktu ibadah dll...yang terpenting adalah
prilaku dan etika bermasyarakat yang lembut, sopan dan tidak menganggap rendah
orang lain
Semoga
ilmu yang kita peroleh hari ini.bermanfaat untuk kita yang semakin dekat dengann
bulan ramadhan ini
Kita
tutup sama-sama dengan ucap syukur :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
dan
istighfar
أَسْتَغفِرُ اَللّهَ الْعَظيِمْ
dan
membaca do'a kafaratul majlis ...
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment