Kajian Online WA Hamba الله SWT
Selasa,
27 Oktober 2015
Narasumber : Ustadzah Gita
Rekapan Grup Nanda M104 (Rini Ismayanti)
Tema : Syakhsiyah Islamiyah
Editor : Rini Ismayanti
MAKNA “ILAH”
Bismillaahirrohmaanirrohiim
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا و مِنْ َسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
Puji syukur kehadirat
Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, islam dan Al Qur'an semoga
kita selalu istiqomah sebagai shohibul qur'an dan ahlul Qur'an dan dikumpulkan
sebagai keluarga Al Qur'an di JannahNya..
Shalawat beriring
salam selalu kita hadiahkan kepada uswah hasanah kita, pejuang peradaban Islam,
Al Qur'an berjalan, kekasih Allah SWT yakninya nabi besar Muhammad SAW, pada
keluarga dan para sahabat nya semoga kita mendapatkan syafaat beliau di hari
akhir nanti. InsyaaLlah..
Aamiin
Aamiin
Hari ini kita akan
sama-sama diingatkan kembali tentang Makna Illah...
Hal ini adalah dasar
kita dalam beribadah... Karena bisa jadi kita memperlakukan benda atau makhluq
Alloh yang lain dengan hal yang mestinya Haq kita berikan hanya pada Alloh
Banyak contohnya saat
ini... Pada orang-orang yang jelas sholih, yang jelas taat pada Alloh, yang
berjalan di jalan Alloh, ada sebagian muslim yang mencela, ada sebagian muslim yang
memfitnah bahkan lebih membela kaum kafir yang jelas salah, namun tertutupi
hanya karena cover yang indah.
Kalimat Laa ilaha
illallah tidak mungkin kita pahami kecuali dengan memahami terlebih dahulu
makna ilah yang berasal dari ‘aliha’ yang memiliki berbagai macam pengertian.
Dengan memahaminya kita akan mengetahui motif-motif manusia mengilahkan
sesuatu.
1. Aliha
Ada empat makna utama
dari aliha yaitu sakana ilahi, istijaara bihi, asy syauqu ilaihi dan wull’a
bihi. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Sakana ilaihi
(mereka tenteram kepadanya), yaitu ketika ilah tersebut diingat-ingat olehnya,
ia merasa senang dan manakala mendengar namanya disebut atau dipuji orang ia
merasa tenteram.
Penggunaan kata Ilah
dengan makna ini tersirat di dalam Al-Qur’an, di antaranya pada ayat berikut
ini:
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ﴿١٣٨﴾
“Dan Kami seberangkan
Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu
kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa.
buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa
tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak
mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”.” (QS. Al-A’raaf: 138)
Ayat di atas
menggambarkan kisah Bani Israel yang bodoh karena menghendaki adanya ilah yang
dapat menenteramkan hati mereka.
b. Istijaara bihi
(merasa dilindungi olehnya), karena ilah tersebut dianggap memiliki kekuatan
ghaib yang mampu menolong dirinya dari kesulitan hidup.
Penggunaan kata Ilah
dengan makna ini bisa kita simak dalam Al-Qur’an antara lain pada ayat berikut
ini:
وَاتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنصَرُونَ﴿٧٤﴾
“Mereka mengambil
sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan.” (QS.
Yaasiin: 74)
Ayat di atas
menggambarkan orang-orang musyrik yang mengambil pertolongan dari selain Allah,
padahal berhala-berhala tersebut tidak dapat memberikan pertolongan (lihat QS.
Al-A’raaf ayat 197).
c. Assyauqu ilaihi
(merasa selalu rindu kepadanya), ada keinginan selalu bertemu dengannya, baik
terus-menerus atau tidak. Ada kegembiraan apabila bertemu dengannya.
قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ﴿٧١﴾
“Mereka menjawab:
“Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”.” (QS.
Asy-Syu’araa’: 7)
Ayat di atas
menggambarkan para penyembah berhala yang sangat tekun melakukan pengabdian
kepada berhala karena selalu rindu kepadanya.
d. Wull’a bihi (merasa
cinta dan cenderung kepadanya). Rasa rindu yang menguasai diri menjadikannya
mencintai ilah tersebut, walau bagaimanapun keadaannya. Ia selalu beranggapan
bahwa pujaannya memiliki kelayakan untuk dicintai sepenuh hati.
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ
“Dan di antara manusia
ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka
mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah…” (QS. Al-Baqarah: 165)
Ayat di atas
menggambarkan adanya sebagian manusia (orang-orang musyrik) yang menyembah
tandingan-tandingan (أَندَادًا) selain Allah dan mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah, karena mereka sangat cenderung atau dikuasai olehnya.
2. Abadahu
Selanjutnya, Aliha
bermakna abaduhu yang berarti mengabdi/menyembahnya. Karena empat perasaan di
atas demikian mendalam dalam hatinya, maka dia rela dengan penuh kesadaran
untuk menghambakan diri kepada ilah (sembahan) tersebut. Hal ini sebagaimana
perkataan orang Arab di mana aliha bermakna abadahu, seperti dalam kalimat:
“aliha rajulu ya-lahu” yang artinya “lelaki itu menghambakan diri pada
ilahnya”.
Dalam hal ini ada tiga
sikap yang mereka berikan terhadap ilahnya yaitu kamalul mahabah, kamalut
tadzalul, dan kamalul khudu’.
a. Kamalul mahabbah
(dia amat sangat mencintainya), sehingga semua akibat cinta siap
dilaksanakannya. Maka dia pun siap berkorban memberi loyalitas, taat dan patuh
dan sebagainya.
Orang kafir yang
menjadikan sesuatu selain Allah sebagai ilahnya, demikian senangnya apabila
mendengar nama kecintaannya, serta tidak suka apabila nama Allah disebut.
وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ ۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ﴿٤٥﴾
“Dan apabila hanya
nama Allah saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada
kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang
disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.” (QS. Az-Zumar: 45)
Sedangkan kecintaan
seseorang terhadap sesuatu tanpa dasar yang benar, dapat membentuk sebuah
penghambaan tanpa disadarinya. Rasulullah SAW bersabda,
“Celakalah
hamba dinar (uang emas), celakalah hamba dirham (uang perak), celakalah hamba
pakaian (mode). Kalau diberi maka ia ridha, sedangkan apabila tidak diberi maka
ia akan kesal.” (HR. Bukhari)
Hal ini disebabkan
kecintaan yang amat sangat terhadap barang-barang tersebut.
b. Kamalut tadzulul
(dia amat sangat merendahkan diri di hadapan ilahnya). Sehingga menganggap
dirinya sendiri tidak berharga, sedia bersikap rendah serendah-rendahnya untuk
pujaannya itu. Dalam hal ini, orang-orang kafir sangat menghormati
berhala-berhalanya sembahannya. Sebagaimana dalam firman Allah SWT,
وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا﴿٢٣﴾
“Dan mereka berkata:
“Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan
pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’,
yaghuts, ya’uq dan nasr”.” (QS. Nuuh: 23)
Dalam catatan sejarah,
orang-orang musyrik marah karena berhala-berhalanya dipermalukan oleh Nabi
Ibrahim AS, sehingga mereka menghukum Nabiyullah untuk membela berhala-berhala.
Reaksi kemarahan tersebut menandakan bahwa mereka begitu rendah diri dan hormat
terhadap berhala-berhalanya. Peristiwa ini terekam dalam Al-Qur’an:
قَالُوا مَن فَعَلَ هَٰذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ﴿٥٩﴾
“Mereka berkata:
“Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya
dia termasuk orang-orang yang zhalim”.” (QS. Al-Anbiyaa’: 59)
c. Kamalul khudu’ (dia
amat sangat tunduk, patuh), sehingga akan selalu mendengar dan taat tanpa
reserve, serta melaksanakan perintah-perintah yang menurutnya bersumber dari
sang ilah.
Dalam hal ini,
orang-orang kafir pada hakikatnya mengabdi kepada syaithan yang telah
memperdaya mereka. Hal ini tersirat dalam perintah Allah SWT,
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ
“Bukankah Aku telah
memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? …”
(QS. Yaasiin: 60)
Begitu mengabdinya
mereka kepada syaithan, mereka sangat patuh sehingga bersedia membunuh
anak-anaknya untuk mengikuti program ilah-ilah sembahannya.
وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ ۖ
“Dan demikianlah
pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik
itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan
untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya.” (QS. Al-An’aam: 137)
3. Al-Illah
Al-ilah dengan
ma’rifat yaitu sembahan yang sejati hanyalah hak Allah saja, tidak boleh diberikan
kepada selainNya. Allah SWT berfirman,
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ ﴿١٦٣﴾
“Dan Tuhanmu adalah
Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)
Allah adalah ilah yang
esa, tiada Ilah selain Dia, dengan kemurahan dan kasih sayang-Nya yang teramat
luas. Oleh karena itu ayat di atas dilanjutkan dengan penjabaran mengenai
contoh kemurahan dan kasih sayang-Nya:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ﴿١٦٤﴾
“Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang
berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah
mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan
pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat)
tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS.
Al-Baqarah: 164)
Tanda-tanda kebesaran
Allah SWT di atas tidak disadari oleh kebanyakan manusia, kecuali mereka yang
memikirkannya.
Dalam menjadikan Allah
sebagai Al-ilah terkandung empat pengertian yaitu al marghub, al mahbub, al
matbu’ dan al marhub.
a. Al-Marghub yaitu
Dzat yang senantiasa diharapkan. Karena Allah selalu memberikan kasih sayangNya
dan di tangan-Nyalah segala kebaikan. Sebagaimana dalam firman-Nya,
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ ﴿١٨٦﴾
“Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah
dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan
hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(QS. Al-Baqarah: 180)
Dalam ayat lain Allah
SWT juga berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴿٦٠﴾
“Dan Tuhanmu
berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk
neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.” (QS. Al-Ghaafir: 60)
Oleh karena itu hanya
Allah yang diharap, karena Ia Maha Memberi dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Seperti dalam kisah Nabi Zakaria AS dan istrinya, ketika itu mereka sudah lama
tidak dikaruniai anak. Lalu Nabi Zakaria AS berdoa kepada Allah SWT, dan Allah
mengabulkan doanya. Kisah ini terekam dalam Al-Qur’an,
وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ ﴿٨٩﴾ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ ﴿٩٠﴾
“Dan (ingatlah kisah)
Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan
aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.” Maka Kami
memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan
istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu
bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa
kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’
kepada Kami.” (QS. Al-Anbiyaa’: 90)
b. Al-Mahbub, Dzat
yang amat sangat dicintai karena Dia yang berhak dipuja dan dipuji. Dia telah
memberikan perlindungan, rahmat dan kasih sayang yang berlimpah ruah kepada
hamba-hambanya. Oleh karena itu Allah adalah kecintaan orang yang beriman
dengan kecintaan yang amat sangat, sebagaimana dalam firman-Nya,
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ
“…Adapun orang-orang
yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah …” (QS. Al-Baqarah: 165)
Sehingga ketika
disebut nama Allah, maka gemetarlah hati mereka.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ ﴿٢﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah
hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka
(karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfaal: 2)
Oleh karena itu
orang-orang beriman senantiasa mencintai Allah SWT di atas segala kecintaan.
Hal ini tersirat dalam ayat Al-Qur’an,
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ﴿٢٤﴾
“Katakanlah: “jika
bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan
Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)
c. Al-Matbu’, yang
selalu diikuti atau ditaati. Semua perintahNya siap dilaksanakan dengan segala
kemampuan, sedangkan semua laranganNya akan selalu dijauhi. Sebagaimana dalam
firman-Nya,
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ
“Maka segeralah
kembali kepada (mentaati) Allah….” (QS. Adz-Dzaariyat: 50)
Selalu mengikuti
hidayah atau bimbinganNya dengan tanpa pertimbangan. Allah saja yang sesuai
diikuti secara mutlak, dicari dan dikejar keridhaanNya. Nabi Ibrahim AS teladan
kita mencontohkan hal ini, dia menuju Allah SWT untuk memperoleh bimbingan dan
hidayahNya untuk diikuti. Sebagaimana yang terekam dalam ayat Al-Qur’an berikut
ini,
وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ ﴿٩٩﴾
“Dan Ibrahim berkata:
“Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk
kepadaku.” (QS. Ash-Shaaffaat: 99)
d. Al-Marhub, yaitu
sesuatu yang sangat ditakuti. Hanya Allah saja yang berhak ditakuti secara
syar’i. Takut terhadap kemarahanNya, takut terhadap siksaNya, dan takut
terhadap hal-hal yang akan membawa kemarahanNya.
Dalam catatan sejarah,
kaum Bani Israil diperintahkan Allah SWT untuk hanya takut kepada-Nya,
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ﴿٤٠﴾
“Hai Bani Israil,
ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah
janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya
kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40)
Dalam ayat lain Allah
SWT juga berfirman bahwa hanya Allah sajalah yang berhak ditakuti oleh
orang-orang beriman ketimbang takut kepada orang-orang yang merusak sumpah dan
orang-orang yang memerangi,
أَلَا تُقَاتِلُونَ قَوْمًا نَّكَثُوا أَيْمَانَهُمْ وَهَمُّوا بِإِخْرَاجِ الرَّسُولِ وَهُم بَدَءُوكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ أَتَخْشَوْنَهُمْ ۚ فَاللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَوْهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿١٣﴾
“Mengapakah kamu tidak
memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah
keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai
memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang
berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS.
At-Taubah: 13)
Oleh karena itu para
dai adalah orang-orang yang tidak takut kepada seorang pun. Rintangan dan
tantangan apa pun yang mereka hadapi, mereka tidak takut, karena mereka hanya
tak kut kepada Allah SWT. Dan rasa takut ini bukan membuat mereka lari, tetapi
justru membuatnya selalu mendekatkan diri kepada Allah dan menjadikan-Nya
sebagai pelindung atas segala rintangan dan tantangan yang dihadapinya,
sebagaimana dalam firman-Nya,
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا ﴿٣٩﴾
“(yaitu) orang-orang
yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka
tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah
sebagai Pembuat Perhitungan.” (QS. Al-Ahzaab: 39)
4. Al-Ma’bud
Al-ma’bud merupakan
sesuatu yang disembah secara mutlak. Karena Allah adalah satu-satunya Al-Ilah,
tiada syarikat kepadaNya, maka Dia adalah satu-satunya yang disembah dan diabdi
oleh seluruh kekuatan yang ada pada manusia.
Oleh karena itu tidak
boleh ada pencampur-adukan dalam hal agama, apalagi aqidah, sebagaimana dalam
firman-Nya,
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦﴾
“Katakanlah: “Hai
orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu
bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah
apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang
aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.” (QS. Al-Kaafiruun: 1-6)
Dan pada setiap umat,
Allah SWT selalu mengutus rasul-Nya. Mereka diutus dengan risalah pengabdian
pada Allah saja dan menjauhi segala yang diabdi selain Allah.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ
“Dan sungguhnya Kami
telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah
(saja), dan jauhilah Thaghut itu”, …” (QS. An-Nahl: 36)
Dalam ayat lain Allah
SWT memerintahkan seluruh manusia agar mengabdi hanya kepadaNya saja dengan
tidak mengambil selain Allah sebagai tandingan-tandingan.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿٢١﴾
“Hai manusia,
sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar
kamu bertaqwa, …” (QS. Al-Baqarah: 21)
Pengakuan Allah SWT
sebagai al-Ma’bud dibuktikan dengan penerimaan Allah sebagai pemilik segala
loyalitas, pemilik ketaatan dan pemilik hukum. Penjelasannya adalah sebagai
berikut:
a. Pemilik kepada
segala loyalitas, perwalian atau pemegang otoritas atas seluruh makhluk
termasuk dirinya. Dengan demikian loyalitas mukminin hanya diberikan kepada
Allah dengan kesadaran, dan loyalitas yang diberikan pada selain Nya adalah
kemusyrikan. Ayat berikut menjelaskan mengenai pernyataan seorang mukmin, bahwa
wali (pemimpin) nya hanya Allah saja,
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ ۖ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ﴿١٩٦﴾
“Sesungguhnya
pelindungku ialah Allah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) dan Dia
melindungi orang-orang yang saleh.” (QS. Al-A’raaf: 196)
Jika manusia
berwalikan kepada Allah, maka Allah akan mengeluarkan dirinya dari kegelapan
jahiliyah menuju cahaya Islam.
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ
“Allah Pelindung
orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran)
kepada cahaya (iman)…” (QS. Al-Baqarah: 257)
b. Pemilik tunggal hak
untuk ditaati oleh seluruh makhluk di alam semesta. Seorang mukmin meyakini
bahwa ketaatan pada hakikatnya untuk Allah saja. Dengan kata lain, hak
menciptakan dan hak memerintah hanyalah milik Allah, sebagaimana dalam
firman-Nya,
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴿٥٤﴾
“… Ingatlah,
menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta
alam.” (QS. Al-A’raaf: 54)
Dengan demikian
seorang mukmin menyadari sepenuhnya bahwa mentaati mereka yang mendurhakai
Allah adalah kedurhakaan terhadap Allah. Dalam hadits disebutkan bahwa mukmin
hanya akan taat pada sesuatu yang diizinkan Allah, Rasul dan ulil amri. Dan
mukmin tidaklah akan mentaati perintah maksiat kepada Allah.
c. Pemilik tunggal
kekuasaan di alam semesta. Dialah yang menciptakan dan berhak menentukan aturan
bagi seluruh ciptaanNya, sebagaimana dalam surat Al-A’raaf ayat 54 di atas
bahwa hak menciptakan dan hak memerintah hanyalah milik Allah.
Dengan demikian,
menentukan hukum dan undang-undang hanyalah hak Allah, sebagaimana tertuang
dalam ayat berikut,
مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴿٤٠﴾
“Kamu tidak menyembah
yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek
moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang
nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan
agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui”.” (QS. Yusuf: 40)
Hanya hukum dan
undang-undangNya saja yang adil dan Allah mewajibkan manusia melaksanakan
hukum-hukumNya.
سُورَةٌ أَنزَلْنَاهَا وَفَرَضْنَاهَا
“Ini adalah) satu
surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di
dalam)nya…” (QS. An-Nuur: 1)
Sehingga orang-orang
beriman menerima Allah sebagai pemerintah dan kerajaan tunggal di alam semesta
dan menolak kerajaan manusia. Sedangkan mereka yang menolak aturan atau hukum
Allah adalah kafir, zhalim dan fasik, sebagaimana sejarah kaum-kaum terdahulu
yang direkam dalam Al-Qur’an berikut ini,
إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِن كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ﴿٤٤﴾وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنفَ بِالْأَنفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَن تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴿٤٥﴾وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِم بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ﴿٤٦﴾وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنجِيلِ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فِيهِ ۚ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴿٤٧﴾
“Sesungguhnya Kami
telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang
menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh
nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan
pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab
Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut
kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar
ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan
menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang
kafir. Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat)
bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung,
telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka–luka (pun) ada qishaashnya.
Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu
(menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut
apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim. Dan
Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putra Maryam,
membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan
kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang
menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan
menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertaqwa. Dan
hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang
diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa
yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS.
Al-Maaidah: 44-47)
Wallohu'alam bish
showwab
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Q : Bunda , hak membuat
hukum dan undang-undang adalah hak Allah semata. Bagaimana bila manusia
menerapkan hukum & undang-undang buatan manusia sendiri? Apakah itu berarti
manusia (khususnya muslim) belum meyakini Allah sebagai ilah?
A : Nanda sholehah...
jikalau kita memang menyatakan bersyahadah..maka seluruhnya kita harus mngambil
dan mengikuti hukum Allah....seperti yang terdapat dalam ayat berikut ini...
“Barangsiapa yang tidak
memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah: 44)
Juga firmanNya,
“Barangsiapa yang tidak
memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 45)
Serta firmanNya,
“Barangsiapa yang tidak
memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah: 47)
Tetapi ketika kita
bermusyarakah...bermasyarakat...hablum minannas..pasti nya untuk menjadi
masyarkt yang damai beradab tentunya harus dibuat aturan2 yang dibuat oleh
manusia itu sendiri yang dihasilkan dr asas bermusyawarah...karena kalau tidak
dibuat peraturan dimasyarakat manusia akan bebas semaunya daan bisa jd nanti
nya ada yang tidak bisa dikendalikan...
Nah selagi peraturan dan
hukum2 yang dibuat oleh manusia tidak menyalahi hukum Allah dan manusia muslim
tersebut percaya bahwa hukum Allah lah hukum diatas segala2 nya maka manusia
sedang hukum yang dibuat manusia hanya untuk peraturan dalam bermasyarakat
dalam bernegara...maka manusia tersebut msh tetap dikatakan muslim yang taat..
Tetapi kalau manusia
tersebut sudah mengutamakan hukum buatan manusia diatas segala-galanya dan tidak
takut lagi dengan hukum Allah...maka manusia tersebut bisa dikatakan seperti
ayat-ayat di atas...
Wallahu a'alam
Q : Kalau ada seorang
suami/bapak yang punya ilmu atau perewangan gitu, nah dia suka sembuin orang trus
dia sering dapat kadang uang, barang, makanan dll dari orang yang minta di
sembuin itu. Pertanyaanya, orang yang datang ke orang pintar itu tergolong orang
seperti apa??? Harta atau makanan yang di kasih ke keluarganya itu di
perbolehkan atau tidak, karena dia seorang imam keluarga tapi penghasilan dari
situ.
A : Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallambersabda,
“Barangsiapa mendatangi
peramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima
shalatnya selama 40 hari.”
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam,
beliau bersabda,
“Barangsiapa mendatangi
dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kafir terhadap apa
yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Abu Daud).
Sebagaimana yang sudah
dijelaskan diatas bahwa orang yang mendatangi dukun maka ia telah melakukan
perbuatan syirik, dan perbuatan syirik amat sangat dibenci oleh Allah,bahkan ia
lebih besar dosanya daripada membunuh 1000 orang sekalipun..lalu bagaimana
kemudian jika orang tersebut yang menjadi subyek(dukun) itu sendiri, maka
segeralah tinggalkan pekerjaan yang tidak diridhoi Allah bahkan dimurkai
Allah..InsyaAllah, masih banyak pekerjaan yang diberkahi, dan sungguh, Allah
Maha Memberikan kemudahan.
Q : Mbak saya mau nanya
tentang kekuasaan Allah & qada qadar
1. Kalau takdir Allah bersifat mutlak, lalu apa peran ikhtiar& usaha kita??
2. Ada yang bilang doa itu bisa mengubah takdir. Gimana pendapat bunda??
1. Kalau takdir Allah bersifat mutlak, lalu apa peran ikhtiar& usaha kita??
2. Ada yang bilang doa itu bisa mengubah takdir. Gimana pendapat bunda??
A : 1) Takdir Allah
telah tertulis 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Tiada suatu bencanapun
yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah
tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya
yang demikian itu adalah mudah bagi Allah (QS. Al-Hadiid:22).
Dan ditegaskan pula
dalam hadits Rasulullah,"Allahlah yang telah menuliskan takdir segala
makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum diciptakan langit dan bumi. Beliau
bersabda,"Dan Arsy-Nya berada di atas air."(HR. Muslim). Dan dilanjuntukan
dengan hadits yang lain,".. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang
diperintahkan untuk meniupkan ruhnya dan mencatat empat perkara:
rizki,ajal,sengsara,atau bahagia..,"(HR. Bukhari).
Segala yang ditetapkan
oleh Allah sudah menjadi ketentuan yang akan terjadi pada kita,masalahnya
adalah kita tidak tahu ketentuan/takdir Allah yang seperti apa yang akan
terjadi dan kita jalani,maka disitulah letak ikhtiar dan usaha itu dilakukan.
Contoh yang mudah adalah misalnya Allah sudah jamin rizki kita,makanan sudah
tersedia,tapi ketika kita tidak bergerak untuk makan,tentu tubuh kita akan
tetap lemas dan terasa lapar. Maka hal ini pun juga bisa diibaratkan bahwa
takdir adalah hasil yang akan dicapai namun ikhtiar/usaha adalah prosedur yang
harus kita lakukan untuk menjemput takdir tersebut. Makhluk Allah seperti
burung pun tak lepas dari jaminan rizki Allah,namun bukan berarti ia berdiam
diri kemudian makanan itu langsung mak bedunduk jatuh di depan mata melainkan
ia keluar untuk mencari makan,ia keluar dalam keadaan perut kosong dan kembali
dalam keadaan perut kenyang. Dan kenyang ini tidak akan terjadi tanpa
usaha/ikhtiar.
2) Doa bisa mengubah
takdir, sebagaimana silaturahim dapat memperpanjang umur. Dalam
penafsiran ulama ada yang menafsirkan umur itu benar-benar bertambah
secara makna sesungguhnya, ada pula yang menyampaikan bahwa maksud bertambah
adalah usianya semakin berkah, setiap saat dan detiknya selalu dan semakin
bermanfaat serta mendatangkan pahala dari Allah. Nah apakah kemudian
silaturahim itu artinya mengubah takdir Allah terhadap usia/ajal kita? Wallahu
a'lam bisshowab..hanya Allah saja yang mengetahuinya,bahkan usia kita seberapa
pun juga Allah yang pegang kunci jawabannya. Maka yang diharapkan adalah
teruslah berdoa yang terbaik, sebagaimana janji Allah bahwa Allah pasti akan
mengabulkan doa-doa kita, ud'uunii astajib lakum..."berdoalah kepadaKu
niscaya Aku Perkenankan bagimu.." Teruslah berdoa yang terbaik,usahakan
yang terbaik dan selanjutnya bertawakkallah kepada Allah hingga ketentuan itu
sampai dan terjadi pada kita.
Q : Saya mau bertanya
bunda.. Apakah dengan membaca ta'awudz bisa menghilangkan syaithan? Karena
syaithan mengikuti aliran darah manusia.
A :
(فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ)
[Surat An-Nahl 98]
(فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ)
[Surat An-Nahl 98]
Apabila kamu membaca Al
Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang
terkutuk.
Alhamdulillah, kajian
kita hari ini berjalan dengan lancar. Moga ilmu yang kita dapatkan berkah dan
bermanfaat. Aamiin....
Segala yang benar dari
Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baiklah langsung saja kita
tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyaknya dan do'a kafaratul
majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya
Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah
melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment