Kajian Online WA Hamba الله SWT
Selasa, 21 Februari 2017
Rekapan Grup Nanda 1
Narasumber : Ustadzah Rianti
Tema : Kajian Islam
Editor : Rini Ismayanti
Dzat
yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungkan-Nya...
Dzat
yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat
yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan
indahnya ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya,
yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk
mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.
AlhamduliLlah...
tsumma AlhamduliLlah...
Shalawat
dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah
kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangkitkan ummat
yang telah mati, memepersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing
manusia yang tenggelam dalam lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur
lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan,
kemuliaan, dan kebahagiaan.
Amma
ba'd...
Ukhti
fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangkah indahnya kita awali dengan
lafadz Basmallah
Bismillahirrahmanirrahim...
PENYAKIT ‘AIN
(PENGARUH PANDANGAN MATA DENGKI ATAU TAKJUB)
Ilustrasi – Ibu A : “Ini
loh, anak saya belum genap dua tahun paling pintar diantara teman – teman
sebayanya. Sudah bisa lari – lari, udah pinter ngomong, makannya lahap, makanya
badannya montok. Duh, senengnya…”
Ibu B : “Baguslah, iya Si A emang
pinter ya? Anak saya malah baru bisa jalan lebih dari 15 bulan. Makannya juga
susah banget nih…”
Malamnya, si A rewel tidak seperti
biasanya. Tidak mau menyusu. Kejadian itu berlangsung terus menerus hingga
beberapa bulan lamanya. Tibalah waktunya si A disapih, namun dia masih enggan
makan. Sepanjang malam rewel tanpa sebab, sehingga membuat badannya kurus
kering. Sering sakit dan tidak lincah seperti sebelumnya. Setelah periksa ke
DSA (Dokter Spesialis Anak), sang Dokter pun mengatakan tidak ada indikasi
medis apapun.
Apa itu Penyakit ‘Ain?
Secara harfiah, penyakit ‘Ain itu
diambil dari kata ‘ana-Ya’inu (bahasa Arab) artinya apabila ia menatapnya
dengan matanya. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, kemudian
diikuti oleh jiwanya yang keji, kemudian menggunakan tatapan matanya itu untuk
menyampaikan racun jiwanya kepada orang yang dipandangnya. Sehingga, apa yang
dilihat oleh hati yang hasad dapat membahayakan orang lain.
Penyakit ‘Ain bukanlah penyakit
medis, tetapi dapat mengganggu kesehatan orang yang terkena ‘Ain. Yang paling
rentan terkena penyakit ‘Ain adalah anak – anak dan balita, karena mereka masih
lemah dan belum bisa membentengi dirinya sendiri dari pengaruh jahat di
sekitarnya. Tidak menutup kemungkinan, akan menimpa orang dewasa, ibu hamil, hewan,
bahkan harta benda.
Dari Ilustrasi kasus di atas,
terlihat jelas bahwa Ibu A tengah menceritakan tentang kepintaran anaknya
kepada Ibu B. Namun, kondisi anak Ibu B tidaklah lebih baik dari Si A. Secara
tersirat, Ibu B merasa iri dengan perkembangan Si A yang bagus. Dari
perbincangan inilah, panah hasad mengenai si A. Sehingga, menyebabkan malamnya
si A rewel. Padahal, dari lisannya meluncurkan pujian, namun disertai rasa
dengki, yang tentu saja, setan turut berperan dalam membidikkan panah ‘Ain, hingga
mengenai sasarannya.
Penyakit yang diderita anak-anak
tidak semuanya bisa dideteksi dengan ilmu kedokteran. Ada juga sebab syar’i
yaitu penyakit ‘ain. Sebagaimana pernah terjadi di zaman Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Beliau pernah melihat anak perempuan di rumah Ummu Salamah
istri beliau. Di wajah anak itu ada warna kehitaman. Beliau kemudian berkata
kepada Ummu Salamah,“Ruqyahlah dia, karena dia terkena ‘ain.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Ibnu
Qoyyim rohimahulloh mengatakan bahwa penyakit ‘ain ada dua jenis,
yaitu ‘ain insi atau ‘ain yang berunsur manusia, dan ‘ain jinni atau ‘ain yang
berunsur jin.
Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan
oleh Al-Bukhori dan Muslim serta yang lainnya, diriwayatkan dari Ummu Salamah
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang budak wanita di
rumahnya yang wajahnya terlihat kusam. Beliau berkata, ”Ruqyah wanita ini, ia
terkena ‘ain.
Apakah Penyakit ‘Ain Benar Adanya?
Secara hakiki Penyakit ‘Ain itu benar
adanya. Dari Ibnu Abbas Radhyallahu ‘anhumma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “’Ain itu benar adanya, andaikan ada sesuatu yang dapat
mendahului taqdir maka ‘ain akan mendahuluinya, dan apabila kalian diminta
untuk mandi maka mandilah.” (HR. Muslim).
“Al-‘Ain adalah benar yang didatangkan
oleh syaitan, dan oleh kehasadan anak adam”(Imam Ahmad)
Penyakit ‘ain itu benar-benar ada dan bukan khurafat yang dihubung-hubungkan dengan pujian. Sebagaimana anggapan sebagian besar masyarakat Indonesia bahwa pujian kepada seorang anak akan menyebabkan sakit. Jadi bukan pujian yang menyebabkan dampak buruk bagi anak yang dipujinya, melainkan bermula dari pandangan mata sang pemujinya, baik pujian itu karena ada rasa iri atau karena benar-benar ada kekaguman.
Bagaimana Cara Kerja Penyakit ‘Ain?
Ibnu Hajar berkata : “Sebagian orang
merasa bingung, mereka bertanya: ‘Bagaimanakah cara kerja ‘ain sehingga bisa
memudharatkan orang dari jarak yang jauh?’. Sudah banyak sekali orang yang
tertimpa sakit dan kekuatannya melemah hanya karena pandangan mata, semua itu
terjadi karena ALLAH menciptakan di dalam unsur ruh suatu kekuatan yang bisa
memberikan pengaruh, dan karena pengaruh tersebut sangat berkaitan dengan mata
maka pengaruh yang ditimbulkannya disebut al-ain (mata), sebenarnya bukan mata
yang memberikan pengaruh akan tetapi yang sebenarnya terjadi adalah pengaruh
ruh, maka pandangan yang keluar melalui mata seorang (yang hasad atau kagum)
adalah panah maknawi yang jika mengenai suatu jasad yang tidak berperisai maka
panah tersebut akan mempengaruhi badan dan jika tidak berpengaruh berarti ia
tidak mengenai sasarannya akan tetapi kembali kepada pemiliknya, persis sama.
Oleh karenanya, panah yang keluar
dari mata adalah panah berupa ungkapan tentang sifat seseorang, ia adalah racun
lisan, buktinya adalah seorang yang buta bisa menimpakan penyakit ‘ain kepada
orang lain, dan Setan yang selalu mengintai melahap ungkapan lisan yang tidak
dibarengi dengan menyebut nama ALLAH sehingga bisa berpengaruh pada jasad orang
yang didengki dengan izin ALLAH jika jasad tersebut tidak dibentengi (dengan
Dzikir dan Wirid).
Ibnu
Qoyyim rohimahulloh mengatakan bahwa terkadang seseorang bisa
mengarahkan ‘ain kepada dirinya sendiri. Pelakunya termasuk jenis manusia yang
paling jahat.
Ibnu Jauzi berkata : “Pandangan baik
yang bercampur dengan hasad, iri, dengki dan kejelekan lainnya terjadi karena
orang yang memandang tersebut memiliki tabiat dan perilaku yang jelek, laksana
sesuatu yang beracun (yang mulai mengalir di dalam tubuh).
Namun terkadang pengaruh buruk ‘ain
terjadi tanpa kesengajaan dari orang yang memandang takjub terhadap sesuatu
yang dilihatnya. Lebih dari itu pengaruh buruk ini juga bisa terjadi dari orang
yang hatinya bersih atau orang-orang yang sholih sekalipun mereka tidak
bermaksud menimpakan ‘ain kepada apa yang dilihatnya. Hal ini pernah terjadi
diantara para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal hati mereka
terkenal bersih, tidak ada rasa iri atau dengki terhadap sesamanya. Akan tetapi
dengan izin Alloh dan takdirnya, pengaruh buruk ‘ain ini dapat terjadi diantara
mereka.
Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad (4: 153) berkata,
ونفس العائن لا يتوقف تأثيرها على الرؤية ، بل قد يكون أعمى فيوصف له الشيء فتؤثر نفسه فيه وإن لم يره ، وكثير من العائنين يؤثر في المعين بالوصف من غير رؤية
“Ain bukan hanya
lewat jalan melihat. Bahkan orang buta sekali pun bisa membayangkan
sesuatu lalu ia bisa memberikan pengaruh ‘ain meskipun ia tidak melihat. Banyak
kasus yang terjadi yang menunjukkan bahwa ‘ain bisa menimpa seseorang hanya
lewat khayalan tanpa melihat”
Pada umumnya reaksi pengaruh
pandangan mata ini lebih cepat terjadi kepada orang-orang yang “kosong” dari
dzikir kepada Allah swt. Allah berfirman di dalam Alqur’an yang artinya: “Dan
sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan
pandangan mata mereka, tatkala mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata :
“Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila)”.” (QS. Al-Qalam :
51).
Imam Al-Qasthalani berkata : Apabila
seseorang itu melihat sesuatu kepada orang lain dengan penuh kekaguman (tanpa
dibarengi dzikrullah) maka bisa terjadi suatu bahaya kepada orang yang
dipandangnya. Dan pandangan orang itu seperti panah beracun yang siap untuk
menikam korbanya!!
Bagaimana Cara Mengetahui Seseorang Terkena ‘Ain?
A. Pada Orang Dewasa Yang sehat
Jasmani
1.) Kepala pusing
2.) Wajah yang menguning
3.) Banyak berkeringat
4.) Banyak Kencing
5.) Sering ingin muntah dan menguap
6.) Sedikit tidur atau banyak tidur
7.) Tidak mempunyai nafsu makan
8.) Basah pada kedua tangan dan kaki yang disertai dengan kesemutan, hati bergetar, perasaan takut yang tidak normal, marah dan temperamental yang berlebihan, sedih dan sempit di dalam dada.
9.) Nyeri pada bagian punggung dan antar kedua pundak
10.) Tidak bisa tidur pada waktu malam
Tanda – tanda di atas terkadang ada baik semua maupun sebagian, tergantung pada kekuatan ‘ain tersebut dan banyaknya orang yang menyebabkan penyakit ‘ain, sebagaimana tanda – tanda ini juga terdapat pada orang yang tidak terkena penyakit ‘ain atau karena orang tersebut dijangkiti penyakit medis pada anggota badan atau jiwanya.
1.) Kepala pusing
2.) Wajah yang menguning
3.) Banyak berkeringat
4.) Banyak Kencing
5.) Sering ingin muntah dan menguap
6.) Sedikit tidur atau banyak tidur
7.) Tidak mempunyai nafsu makan
8.) Basah pada kedua tangan dan kaki yang disertai dengan kesemutan, hati bergetar, perasaan takut yang tidak normal, marah dan temperamental yang berlebihan, sedih dan sempit di dalam dada.
9.) Nyeri pada bagian punggung dan antar kedua pundak
10.) Tidak bisa tidur pada waktu malam
Tanda – tanda di atas terkadang ada baik semua maupun sebagian, tergantung pada kekuatan ‘ain tersebut dan banyaknya orang yang menyebabkan penyakit ‘ain, sebagaimana tanda – tanda ini juga terdapat pada orang yang tidak terkena penyakit ‘ain atau karena orang tersebut dijangkiti penyakit medis pada anggota badan atau jiwanya.
B. Pada Bayi, Balita dan Anak – anak
1.) Tangisan yang tidak wajar yang tidak kunjung hentiAisyah Radhiyallahu ‘anha berkata : “Suatu ketika Nabi masuk (rumahnya) kemudian mendengar bayi sedang menangis. Beliau berkata,”Mengapa bayi kalian menangis? Mengapa tidak kalian bacakan ruqyah – ruqyah (supaya sembuh) dari penyakit ‘ain?) (Shahihul jami’ 988 n0.5662)
2.) Kejang-kejang tanpa sebab yang jelas
3.) Tidak mau menyusu kepada ibunya tanpa sebab yang jelas
4.) Kondisi tubuh yang sangat kurus kering. Dari Jabir Radhiyallohu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberi rukhshoh (keringanan) bagi anak-anak Ja’far memakai bacaan ruqyah dari sengatan ular. Beliau berkata kepada Asma’ binti Umais, ”Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan?” Asma’ menjawab : “Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘Ain.” Kata beliau, ”Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka!” (HR Muslim, Ahmad dan Baihaqi).
Perbedaan ‘Ain dengan Sihir
1. Bahwa pengaruh ain lebih berbahaya
dari sihir
2. Kasus sihir ada expirednya sedangkan ‘ain tidak
3. Kasus sihir sengaja dimaksudkan untukmencelakakan, sedangkan al-‘ain tidak dimaksudkan untuk mencelakai bahkan bisa timbul dari ayah/ibunya sendiri
4.Sihir tidak dilakukan kecuali oleh orang JAHAT… sdangkan al-‘Ain bisa mlesat dari mata orang yang SHALEH
5.Saking bahayanya al-‘Ain sampai-sampai Rasulullah bersabda :
أكثر من يموت من امتي بعد قضاء الله و قدره بالعين
“Kebanyakan yang mati pada ummatku setelah qadha dan qadarnya Allah adalah karena pengaruh pandangan mata jahat” (HR.Bukhari)
2. Kasus sihir ada expirednya sedangkan ‘ain tidak
3. Kasus sihir sengaja dimaksudkan untukmencelakakan, sedangkan al-‘ain tidak dimaksudkan untuk mencelakai bahkan bisa timbul dari ayah/ibunya sendiri
4.Sihir tidak dilakukan kecuali oleh orang JAHAT… sdangkan al-‘Ain bisa mlesat dari mata orang yang SHALEH
5.Saking bahayanya al-‘Ain sampai-sampai Rasulullah bersabda :
أكثر من يموت من امتي بعد قضاء الله و قدره بالعين
“Kebanyakan yang mati pada ummatku setelah qadha dan qadarnya Allah adalah karena pengaruh pandangan mata jahat” (HR.Bukhari)
Indikasi Penyakit karena ‘ain menurut ‘ulama’
1. Rasa sakit yg berpindah – pindah
di badan
2. Sebagian besar penyakit kanker/tumor/benjolan
3. Penyakit asma
4. Lumpuh mendadak
5. Mandul
6. Diabetes
7. Tekanan darah tidak stabil
8. Datang bulan tidak teratur
9. Beberapa penyakit dalam seperti usus
10. Beberapa penyakit kejiwaan, seperti sempit hati, was-was, linglung, dsb
2. Sebagian besar penyakit kanker/tumor/benjolan
3. Penyakit asma
4. Lumpuh mendadak
5. Mandul
6. Diabetes
7. Tekanan darah tidak stabil
8. Datang bulan tidak teratur
9. Beberapa penyakit dalam seperti usus
10. Beberapa penyakit kejiwaan, seperti sempit hati, was-was, linglung, dsb
Ciri-ciri seseorang yg sudah terkena ‘ain
* Kepala pusing
* Rasa sakit kepala yg berpindah-pindah
* Warna wajah kekuning-kuningan, kadang kemerah-merahan bercampur hitam
* Banyak keluar keringat
* Sering buang air kecil
* Sering ingin muntah
* Tidak ada nafsu makan
* Rasa sakit kepala yg berpindah-pindah
* Warna wajah kekuning-kuningan, kadang kemerah-merahan bercampur hitam
* Banyak keluar keringat
* Sering buang air kecil
* Sering ingin muntah
* Tidak ada nafsu makan
* Kedua tangan dan kaki sering
berkeringat disertai kesemutan
* Kesemutan
* Rasa panas / dingin di beberapa bagian tubuh
* Jantung berdebar
* Rasa sakit yg berpindah-pundah atau nyeri pada bagian. bawah punggung dan bahu
* Rasa sedih
* Dada sesak
* Berkeringat di malam hari
* Rasa takut yg berlebihan
* Temperamental
* Sering cegukan
* Sering menguap dan Mendesah
* Menyendiri dan suka mengurung diri
* Rasa lemas dan malas
* Rasa ingin tidur terus atau sedikit tidur
* Susah tidur malam
* Badan kurus/susah gemuk
* Ada masalah kesehatan tanpa penyebab yg jelas dan sulit diobati scara medis
*Gatal-gatal pada kulit
*Anak tiba-tiba sering rewel sulit diatur
(Sumber diambil dari kitab “Min asbaabi daf’i al-bala’ karya syaikh Abdullah bin Muhammad As Sadhan dan “Al Ma’iin Fii ‘Ilaaj As Sihr Wal Mass Wal ‘Ain karya syaikh Abu ‘Azzam Musa)
* Kesemutan
* Rasa panas / dingin di beberapa bagian tubuh
* Jantung berdebar
* Rasa sakit yg berpindah-pundah atau nyeri pada bagian. bawah punggung dan bahu
* Rasa sedih
* Dada sesak
* Berkeringat di malam hari
* Rasa takut yg berlebihan
* Temperamental
* Sering cegukan
* Sering menguap dan Mendesah
* Menyendiri dan suka mengurung diri
* Rasa lemas dan malas
* Rasa ingin tidur terus atau sedikit tidur
* Susah tidur malam
* Badan kurus/susah gemuk
* Ada masalah kesehatan tanpa penyebab yg jelas dan sulit diobati scara medis
*Gatal-gatal pada kulit
*Anak tiba-tiba sering rewel sulit diatur
(Sumber diambil dari kitab “Min asbaabi daf’i al-bala’ karya syaikh Abdullah bin Muhammad As Sadhan dan “Al Ma’iin Fii ‘Ilaaj As Sihr Wal Mass Wal ‘Ain karya syaikh Abu ‘Azzam Musa)
Bagaimana Upaya Orang Tua Agar Anak Terhindar Dari Penyakit
‘Ain?
1. Hendaklah orang tua membiasakan
diri mereka membentengi anak-anaknya dari bahaya ‘ain dengan ruqyah-ruqyah
(bacaan-bacaan) yang diajarkan dalam Islam. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa
Nabi shallallahu allaihi wa sallam memohon perlindungan ALLAH untuk Hasan dan
Husain dengan doa :
أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
“U’idzukuma bi kalimaatillaahit taammati min kulli syaithonin wa haamatin wa min kulli ‘ainin laamatin.”
“Aku berlindung kepada ALLAH untuk kalian berdua dengan kalimat – kalimat ALLAH yang sempurna dari segala syaitan, binatang yang berbisa dan pandangan mata yang jahat.” (HR. Abu Daud)
أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
“U’idzukuma bi kalimaatillaahit taammati min kulli syaithonin wa haamatin wa min kulli ‘ainin laamatin.”
“Aku berlindung kepada ALLAH untuk kalian berdua dengan kalimat – kalimat ALLAH yang sempurna dari segala syaitan, binatang yang berbisa dan pandangan mata yang jahat.” (HR. Abu Daud)
2. Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad 4/159, hendaknya para orang tua tidak menampakkan suatu kelebihan yang menakjubkan yang dimiliki anak-anaknya yang dikhawatirkan akan mengundang rasa iri atau kedengkian orang yang melihatnya. Lalu Ibnu qoyyim menukil atsar dari Imam Baghowi bahwasanya pernah suatu ketika Utsman bin Affan Radhyallahu ‘anhu melihat seorang anak kecil yang sangat elok rupanya lagi menawan, kemudian Ustman berkata, “Tutupilah (jangan ditampakkan) lubang dagu (yang membuat orang takjub) pada anak itu.” Maka keadaan seperti itu sangat dikhawatirkan akan terjadinya pengaruh buruk ‘ain. Lebih-lebih kalau ada orang yang terkenal mempunyai sifat iri dan dengki.
3. Hendaklah para orang tua tidak berlebihan menceritakan kelebihan – kelebihan atau kebaikan – kebaikan anaknya yang tidak dimiliki anak-anak lain, sehingga mengundang rasa iri dan dengki siapa saja yang mendengarnya, kemudian berusaha melihatnya, hingga ALLAH menakdirkan terjadinya pengaruh buruk ‘Ain tersebut.
Upaya Apa Yang Harus Ditempuh Jika Anak Tertimpa Penyakit ‘Ain?
1.) Memandikan Pelaku ‘Ain
Jika telah diketahui pelaku ‘Ain-nya, maka perintahkanlah ia agar mandi kemudian air yang dipakai mandi tersebut diambil dan disiramkan kepada orang yang terkena ‘Ain dari arah belakangnya.
Dari Umamah bin Sahl bin Hunaif, bahwasannya ayahnya telah menceritakan kepadanya : Bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pergi bersamanya menuju Makkah. Ketika sampai di satu celah bukit Kharar di daerah Juhfah, maka Sahl bin Hunaif mandi. Ia adalah seorang yang yang berkulit sangat putih dan sangat bagus. Maka ‘Amir bin Rabi’ah – kerabat Bani ‘Adi bin Ka’b – memandangnya ketika ia sedang mandi. ‘Amir berkata : ‘Aku belum pernah melihat seperti sekarang, juga tidak pernah melihat kulit wanita perawan bercadar’. Maka tiba-tiba Sahl jatuh terguling (karena sakit. Maka datag Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan dikatakan kepada beliau : “Wahai Rasulullah, apa kira-kira yang terjadi pada Sahl ? Ia (Sahl) tidak bisa mengangkat kepalanya dan sekarang ia belum juga sadar”. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya : “Apakah ada seseorang yang kalian curigai ?”. Mereka berkata : “Amir bin Rabi’ah telah memandangnya”. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggilnya lalu memarahinya dan bersabda : ‘Mengapa salah seorang diantara kalian hendak membunuh saudaranya ? Mengapa ketika kamu melihat sesuatu hal yang menakjubkanmu, kamu tidak memberkahi ?”. Kemudian beliau berkata kepadanya : “Mandilah untuknya !”. Kemudian ‘Amir mencuci mukanya, kedua tangannya, kedua sikunya, kedua lututnya, jari-jari kedua kakinya, dan bagian dalam kainnya di dalam bejana. Kemudian (air bekas mandi itu) disiramkan kepadanya (Sahl) oleh seseorang ke kepalanya dan punggungnya dari arah belakangnya. Kemudian bejana tersebut ditumpahkan isinya di belakangnya. Maka setelah hal itu dilakukan, Sahl kembali bersama orang-orang dalam keadaan tidak kurang suatu apa (sehat kembali). ” (HR. Ahmad, Malik, dan Nasa’i)
Jika telah diketahui pelaku ‘Ain-nya, maka perintahkanlah ia agar mandi kemudian air yang dipakai mandi tersebut diambil dan disiramkan kepada orang yang terkena ‘Ain dari arah belakangnya.
Dari Umamah bin Sahl bin Hunaif, bahwasannya ayahnya telah menceritakan kepadanya : Bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pergi bersamanya menuju Makkah. Ketika sampai di satu celah bukit Kharar di daerah Juhfah, maka Sahl bin Hunaif mandi. Ia adalah seorang yang yang berkulit sangat putih dan sangat bagus. Maka ‘Amir bin Rabi’ah – kerabat Bani ‘Adi bin Ka’b – memandangnya ketika ia sedang mandi. ‘Amir berkata : ‘Aku belum pernah melihat seperti sekarang, juga tidak pernah melihat kulit wanita perawan bercadar’. Maka tiba-tiba Sahl jatuh terguling (karena sakit. Maka datag Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan dikatakan kepada beliau : “Wahai Rasulullah, apa kira-kira yang terjadi pada Sahl ? Ia (Sahl) tidak bisa mengangkat kepalanya dan sekarang ia belum juga sadar”. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya : “Apakah ada seseorang yang kalian curigai ?”. Mereka berkata : “Amir bin Rabi’ah telah memandangnya”. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggilnya lalu memarahinya dan bersabda : ‘Mengapa salah seorang diantara kalian hendak membunuh saudaranya ? Mengapa ketika kamu melihat sesuatu hal yang menakjubkanmu, kamu tidak memberkahi ?”. Kemudian beliau berkata kepadanya : “Mandilah untuknya !”. Kemudian ‘Amir mencuci mukanya, kedua tangannya, kedua sikunya, kedua lututnya, jari-jari kedua kakinya, dan bagian dalam kainnya di dalam bejana. Kemudian (air bekas mandi itu) disiramkan kepadanya (Sahl) oleh seseorang ke kepalanya dan punggungnya dari arah belakangnya. Kemudian bejana tersebut ditumpahkan isinya di belakangnya. Maka setelah hal itu dilakukan, Sahl kembali bersama orang-orang dalam keadaan tidak kurang suatu apa (sehat kembali). ” (HR. Ahmad, Malik, dan Nasa’i)
Bisa juga pelaku ‘Ain cukup berwudhu
saja dan kemudian air bekas wudhunya dipakai mandi oleh orang yang terkena
‘Ain.
Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhu ia
berkata : “Orang yang melakukan ‘Ain diperintahkan agar berwudlu kemudian orang
yang terkena ‘Ain mandi dari air (bekas wudlu tadi).” (HR. Abu Dawud)
At-Tirmidzi menjelaskan : ”Pelaku ‘ain diperintahkan untuk mandi dengan menggunakan air dalam baskom. Lalu meletakkan telapak tangannya di mulut dan berkumur-kumur, lalu disemburkan ke dalam baskom tersebut. Baru setelah itu membasuh wajahnya dengan air dalam baskom tersebut, lalu memasukkan tangan kirinya dan mengguyurkan air ke lutut kanannya dengan air baskom tersebut. Kemudian memasukkan tangan kanannya dan menyiramkan air baskom itu ke lutut kirinya. Baru kemudian membasuh tubuh di balik kain, namun baskom itu tidak usah diletakkan di atas tanah atau lantai. Setelah itu sisa air diguyurkan ke kepala orang yang terkena ‘ain dari arah belakang satu kali guyuran.
At-Tirmidzi menjelaskan : ”Pelaku ‘ain diperintahkan untuk mandi dengan menggunakan air dalam baskom. Lalu meletakkan telapak tangannya di mulut dan berkumur-kumur, lalu disemburkan ke dalam baskom tersebut. Baru setelah itu membasuh wajahnya dengan air dalam baskom tersebut, lalu memasukkan tangan kirinya dan mengguyurkan air ke lutut kanannya dengan air baskom tersebut. Kemudian memasukkan tangan kanannya dan menyiramkan air baskom itu ke lutut kirinya. Baru kemudian membasuh tubuh di balik kain, namun baskom itu tidak usah diletakkan di atas tanah atau lantai. Setelah itu sisa air diguyurkan ke kepala orang yang terkena ‘ain dari arah belakang satu kali guyuran.
2.) Meruqyahnya dan Meletakan tangan
ke atas kepala penderita ‘Ain dengan membaca :
بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ حَاسِدٍ اللهُ يَشْفِيْكَ بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ
“Dengan nama ALLAH,
aku meruqyahmu dari setiap sesuatu yang menyakitimu dan dari kejelekan setiap
jiwa atau mata yang dengki. ALLAH-lah yang menyembuhkanmu. Dengan nama ALLAH
aku meruqyahmu” (HR. Muslim)
بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيْكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَمِنْ شَرِّ ذِيْ عَيْنٍ
“Dengan nama ALLAH, mudah-mudahan Dia
membebaskanmu, dari setiap penyakit, mudah-mudahan Dia akan menyembuhkanmu,
melindungimu dari kejahatan orang dengki jika dia mendengki dan dari kejahatan
setiap orang yang mempunyai ‘Ain (mata dengki)” (HR. Muslim)
3.) Meletakkan tangan di bagian atas yang sakit dan meruqyah dengan QS. Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas, Ayat Kursi, bagian penutup surat al – Baqarah (dua ayat terakhir), serta mendo’akan dengan do’a ruqyah yang syar’i.
4.) Membacakan pada air (dengan bacaan –bacaan ruqyah yang syar’i) disertai tiupan, dan kemudian meminumkan pada penderita,dan sisanya disiramkan ke tubuhnya. Hal itu pernah dilakukan Rasulullah shollallhu alaihi wa sallam kepada Tsabit bin Qois. (HR. Abu Daud)
5.) Dibacakan (bacaan) pada minyak dan kemudian minyak itu dibalurkan. (HR Ahmad). Jika bacaan itu dibacakan pada air zam-zam,maka yang demikian itu lebih sempurna jika air zam-zam itu mudah diperoleh atau kalau tidak, boleh juga dengan air hujan.
Sunnah – Sunnah Ketika Memandang Takjub Terhadap Sesuatu
1. Mendoakan keberkahan kepada apa
yang dilihatnya
Dari Amir bin Robi’ah Radhiyallahu ‘anhu :
Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). (HR Ahmad).
Dari Amir bin Robi’ah Radhiyallahu ‘anhu :
Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, pada dirinya atau pada hartanya, maka doakan keberkahan padanya, karena sesungguhnya penyakit ain itu haq (benar). (HR Ahmad).
Di antara cara mendoakan keberkahan terhada apa yang dilihatnya adalah :
اللَّهُمَّ بَارَكَ اللَّهُ فِيهِ
“Ya ALLAH Semoga ALLAH memberikan berkah padanya”
اللَّهُمَّ بَارِكْعَلَيْهِ
“Ya ALLAH berkahilah atasnya”
اللَّهُمَّ بَارِكْلَهُ
“Ya ALLAH Berkahilah Baginya ”
2. Hendaknya Mengucapkan :
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Sungguh atas kehendak ALLAH – lah semua ini terwujud”
Kesalahan – kesalahan Orang Tua Ketika Anak Tertimpa ‘Ain
Meletakkan gunting di bawah bantal si
bayi dengan keyakinan itu akan menjaganya. Sungguh ini termasuk kesyirikan
karena menggantungkan sesuatu pada yang tidak dapat memberi manfaat atau
menolak bahaya.
Mengalungkan anak dengan Jimat, Penangkal Tolak Bala, dan lain sebagainya. Ini juga termasuk perbuatan syirik dan hanya akan melemahkan si anak dan orang tua karena berlindung pada sesuatu selain ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Dan sungguh, amat dashyat ancaman bagi Pelaku Syirik. Yaitu Dosa Besar Menyekutukan ALLAH dengan selainNya, serta tidak akan diampuni hingga Pelakunya benar – benar bertaubat.
Mengalungkan anak dengan Jimat, Penangkal Tolak Bala, dan lain sebagainya. Ini juga termasuk perbuatan syirik dan hanya akan melemahkan si anak dan orang tua karena berlindung pada sesuatu selain ALLAH Subhanahu wa Ta’ala. Dan sungguh, amat dashyat ancaman bagi Pelaku Syirik. Yaitu Dosa Besar Menyekutukan ALLAH dengan selainNya, serta tidak akan diampuni hingga Pelakunya benar – benar bertaubat.
Apakah Memajang Foto Di Facebook Dapat Menyebabkan Penyakit
‘Ain?
Terkena ain tidak harus dengan cara
melihat langsung korban ain. Namun bisa juga terjadi dengan membayangkan atau
mengkhayalkan apa yang disampaikan kepadanya. Termasuk dengan melihat foto atau
gambar korban ain tersebut.
Ibnul Qoyim rahimahullah mengatakan,
Ibnul Qoyim rahimahullah mengatakan,
ونفس العائن لا يتوقف تأثيرها على الرؤية ، بل قد يكون أعمى فيوصف له الشيء فتؤثر نفسه فيه وإن لم يره ، وكثير من العائنين يؤثر في المعين بالوصف من غير رؤية
Jiwa orang yang
menjadi penyebab ain bisa menimbulkan ain, tanpa harus dengan melihat.
Bahkan terkadang ada orang buta, kemudian diceritakan tentang sesuatu
kepadanya, lalu jiwanya bisa menimbulkan ain, meskipun dia tidak melihat
sesuatu itu. Dan ada banyak penyebab ain yang bisa menjadi sebab terjadinya
ain, hanya dengan cerita tanpa melihat langsung.” (Zadul Ma’ad, 4/149)
Setelah membawakan keterangan Ibnul Qooyim di atas, dalam Fatwa islam dinyatakan
وبهذا يتبين أن العائن قد ينظر إلى صورة الشخص في الحقيقة أو في التلفاز ، وقد يسمع أوصافه فيصيبه بعينه ، نسأل الله السلامة والعافية
Berdasarkan
keterangan di atas, jelaslah bahwa penyebab ain bisa jadi ketika melihat gambar
seseorang atau melalui televisi, atau terkadang hanya mendengar ciri-cirinya,
kemudian orang itu terkena ain. Kita memohon keselamatan kepada Allah
Kemudian beliau
mengingatkan
وننبه إلى أن بعض الناس يستسلم للوساوس والهواجس ، ويظن أنه سيصاب بالعين كلما رزق نعمة ، أو جاءه خير ، وهذا من الضعف والعجز ، فإن المؤمن لديه من الأسلحة ما يتحصن بها من شر العين والحسد والسحر ، فعليه أن يتوكل على ربه ، ويعتصم به ، ويداوم على الذكر الواقي من تلك الشرور
“Kami ingatkan,
sebagian orang telah menjadi korban was-was dan bisikan. Dia selalu
dihantui dengan perasaan seolah terkena ain ketika mendapat rizki atau mendapat
kabar baik. Semacam ini termasuk kelemahan mental. Karena setiap mukmin
memiliki senjata yang bisa dia gunakan untuk melindungi dari ain, hasan dan
sihir. Karena itu, selayaknya dia bertawakkal kepada Allah, memohon
perllindungan kepadanya, dan merutinkan dzikir sebagai benteng dari semua
kejahatan tersebut ((Fatwa Islam, no. 122272)
Sebagai bentuk kehati – hatian,
sebaiknya tidak memajang foto Bayi, anak – anak, maupun Wanita di Facebook.
Sikap Terbaik Dalam Menyikapi Bahaya ‘Ain
Perlulah kita selalu mengingat, bahwa
sekalipun kita mengetahui bahaya ‘ain memiliki pengaruh besar dan berbahaya,
namun tidaklah semua dapat terjadi kecuali dengan ijin ALLAH Subhanahu wa
Ta’ala. Dan kita sebagai orang Islam tidaklah berlebihan dalam segala sesuatu.
Termasuk dalam masalah ‘ain ini, maka seseorang tidak boleh berlebihan dengan
menganggap semua kejadian buruk berasal dari ‘ain, dan juga tidak boleh
seseorang menganggap remeh dengan tidak mempercayai adanya pengaruh ‘ain sama
sekali dengan menganggapnya tidak masuk akal. Ini termasuk pengingkaran
terhadap hadits-hadits shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sikap yang
terbaik bagi seorang muslim adalah berada di pertengahan, yaitu mempercayai
pengaruh buruk ‘ain dengan tidak berlebihan sesuai dengan apa yang dikabarkan
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu a’lam bishawab
Wallahu a’lam bishawab
Sumber: dari berbagai sumber, muslimah.or.id
TANYA JAWAB
Q : Assalamualaikum, mau tanya. Kalau
ada tanda-tanda kena 'ain haruskah di ruqyah ummi'? adakah cara meruqyah
mandiri?
A : Waalaikum salam wrwb...
A : Waalaikum salam wrwb...
Menurut ajaran yang dicontohkan oleh
Sheikh Abdurrouf Ben Halima,adalah sebagai berikut :
1. Membaca Surat Al-fatiha 11x
2. Membaca Ayat Kursi 11x
3. Membaca Surat Al-Ikhlas 11x
4. Membaca Surat Al-Falaq 11x
5. Membaca Surat An-Naas 11x
6. Membaca Surat Al- A'raf ayat 117-122 11x
7. Membaca Surat Yunus ayat 81-82 11x
8. Membaca Surat Thahaa ayat 68-70 11x
2. Membaca Ayat Kursi 11x
3. Membaca Surat Al-Ikhlas 11x
4. Membaca Surat Al-Falaq 11x
5. Membaca Surat An-Naas 11x
6. Membaca Surat Al- A'raf ayat 117-122 11x
7. Membaca Surat Yunus ayat 81-82 11x
8. Membaca Surat Thahaa ayat 68-70 11x
Setelah anda bacakan di atas air,
maka air itu akan menghilangkan gangguan sihir, jin dan 'ain dengan Rahmat
Allah.
Sediakan air kira-kira 20 liter atau satu galon lalu bacakan ayat-ayat alquran di atas masing-masing 11 x.
Lalu airnya dapat dipakai untuk minum setiap hari sebanyak 1,5 liter, untuk mandi, untuk disiramkan pada rumah anda dengan menggunakan alat spray lalu semprotkan pada , pintu, sudut-sudut ruangan, atap, jendela, lantai.
Saat dipakai untuk mandi sebaiknya anda mandi di atas bak yang akan menampung sisa air mandi, setelah itu sisa air mandi dapat disiramkan di halaman rumah anda, sehingga tidak terbuang dengan sia-sia.
Lakukan cara tersebut diatas berturut-turut setiap hari atau setiap malam selama 12 hari atau menyesuaikan sikon yg diruqyah.
Sediakan air kira-kira 20 liter atau satu galon lalu bacakan ayat-ayat alquran di atas masing-masing 11 x.
Lalu airnya dapat dipakai untuk minum setiap hari sebanyak 1,5 liter, untuk mandi, untuk disiramkan pada rumah anda dengan menggunakan alat spray lalu semprotkan pada , pintu, sudut-sudut ruangan, atap, jendela, lantai.
Saat dipakai untuk mandi sebaiknya anda mandi di atas bak yang akan menampung sisa air mandi, setelah itu sisa air mandi dapat disiramkan di halaman rumah anda, sehingga tidak terbuang dengan sia-sia.
Lakukan cara tersebut diatas berturut-turut setiap hari atau setiap malam selama 12 hari atau menyesuaikan sikon yg diruqyah.
Q : Ustadzah, kaki tangan saya selalu basah, saya pun terkena
tumor, suka merasa sakit di punggung, kalau malam kaki bagai disiram air es,
suka lemes dan lemah. Susah gemuk. Apakah saya terkena 'Ain? Ini terjadi saat
saya masih SMP, tapi terkena tumor waktu SMA.
A : Coba lakukan Ruqyah mandiri (
lihat jawaban untuk mb Nurul Fadhilah)
Rasakan saat baca ayat-ayat tsb. Jika menjadi pusing, mual, ngantuk kemungkinan ada 'ain. Jika tdk tetap konsul rutin ke dokter
Rasakan saat baca ayat-ayat tsb. Jika menjadi pusing, mual, ngantuk kemungkinan ada 'ain. Jika tdk tetap konsul rutin ke dokter
Alhamdulillah, kajian kita hari ini
berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan berkah dan bermanfaat.
Aamiin....
Segala yang benar dari Allah semata, mohon
maaf atas segala kekurangan. Baikloah langsung saja kita tutup dengan istighfar
masing-masing sebanyak-banyakanya dan do'a kafaratul majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu
allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan
memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan
diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment