Kajian
Online WA Hamba الله SWT
Selasa,
28 Februari 2017
Rekapan
Grup Nanda 2
Narasumber
: Ustadzah Fina
Tema : Syakhsiyah
Islamiyah
Editor
: Rini Ismayanti
Dzat
yang dengan Kebesaran-Nya, seluruh makhluk menyanjung dan mengagungakan-Nya...
Dzat
yang dengan Keperkasaan-Nya, musuh-musuh dihinakan lagi diadzab-Nya...
Dzat
yang dengan Kasih dan Sayang-Nya, kita semua mampu mengecap manisnya Islam dan
indahanyaa ukhuwah di jalan-Nya, memadukan hati kita dalam kecintaan kepadaNya,
yang mempertemukan kita dalam keta'atan kepadaNya, dan menghimpunkan kita untuk
mengokohkan janji setia dalam membela agamaNya.
AlhamduliLlah...
tsumma AlhamduliLlah...
Shalawat
dan salam semoga tercurah kepada tauladan kita, Muhammad SAW. Yang memberi arah
kepada para generasi penerus yang Rabbaniyyah bagaimana membangakitkan ummat
yang telah mati, memepersatukan bangsa-bangsa yang tercerai berai, membimbing
manusia yang tenggelam dlm lautan syahwat, membangun generasi yang tertidur
lelap dan menuntun manusia yang berada dalam kegelapan menuju kejayaan,
kemuliaan, dan kebahagiaan.
Amma
ba'd...
Ukhti
fillah sekalian. Agar ilmunya barokah, maka alangakah indahanyaa kita awali dengan
lafadz Basmallah
Bismillahirrahmanirrahim...
KUNCI SEMPURNANYA
TAUHID
Tidak setiap perdamaian itu baik,
sebagaimana tidak setiap permusuhan itu buruk
Meski saat ini sudah
diberlangsungnya "perang salib" zaman baru, tetapi banyak umat muslim
yang tidak mempercayainya.
Serbuan demi serbuan
dilakukan pasukan musuh Islam pada negara-negara jazirah
Arab. Berawal ingin menumbangkan pemerintah yang diktator, yang tidak sesuai
dengan kebebasan yang sering mereka usung, berujung dengan pendudukan
negeri-negeri muslim dan mulailah melakukan kerusakan sedikit demi sedikit.
Terdiamnya umat islam melihat saudara
seimannya tengah di bombardir bukan hanya karena kepandaian musuh mengemas
perang ini serapi mungkin tetapi bisa jadi ini adalah salah satu gejala
kejahiliahan ketika sesama saudara saling acuh.
Keadaan seperti ini akhirnya membagi
manusia menjadi tiga golongan menurut Ibnu Taimiyah,
Golongan Tha’ifah manshurah(kelompok yang ditolong Allah)
Mereka adalah para mujahidin yang
berperang melawan bangsa perusak itu.
Golongan Tha’ifah mukhalifah(kelompok yang menyelisihi)
Mereka adalah kaum yang mengaku islam
tetapi ikut bergabung dengan pasukan musuh.
Golongan Tha’ifah mukhadzilah(kelompok pelemah semangat
dan acuh terhadap mujahid)
Mereka adalah golongan yang duduk
dari berjihad walaupun keislaman mereka benar.
Saudaraku
Melihat kondisi saat ini sebagai umat
islam, wajib bersikap dengan tepat. Menentukan sikap terhadap musuh umat islam
karena penentuan sikap ini merupakan salah satu pilar tegaknya TAUHID.
Tidak sempurna iman seseorang sampai
dia hanya Wala’ dan Bara’ pada Allah.
Apa itu Al Wala' Wal Bara'..?
Sesungguhnya pokok agama Islam adalah
kalimat tauhid Laa ilaha illallah, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali
Allah. Dengan mengucapkan dan mengamalkan kalimat inilah dibedakan muslim dan
kafir, dipaparkan keindahan surga dan panasnya neraka.
Dan tidaklah tauhid seseorang
sempurna sampai ia mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, memberi
karena Allah dan tidak memberi karena Allah. Inilah yang disebut al wala' wal
bara'.
Al Wala' secara bahasa berarti dekat,
sedangkan secara istilah berarti memberikan pemuliaan penghormatan dan selalu
ingin bersama yang dicintainya baik lahir maupun batin. Dan al Bara' secara
bahasa berarti terbebas atau lepas, sedangkan secara istilah berarti memberikan
permusuhan dan menjauhkan diri.
Wala' berarti dukungan, pembelaan,
cinta, pemuliaan, penghormatan, dan bersama orang yang dicintai lahir dan
batin. (Lihat. Qs. Al Baqarah, 2:257).
Bara' berarti jauh, bebas, lepas, dan
permusuhan setelah adanya argumentasi dan peringatan.
Syeikhul Islam Ibn Taimiyah
mengatakan “Walayah adalah kebalikan dari ‘adawah (permusuhan). Akar dari
walayah adalah cinta dan kedekatan, sedangkan akar permusuhan adalah kebencian
dan kejauhan.”
Kalimat Laa ilaaha illa Allaah
terdiri dari 3 jenis huruf (alif, lam dan ha) serta empat kata (Laa, ilaha,
illa, Allah) dan mengandung pengertian yang mencakup seluruh ajaran Islam.
Keberadaan kata ini adalah
wala', terhadap Allah SWT dan bara' terhadap selain Allah SWT.
Bagi muslim sikap ini merupakan sikap
hidup yang inti dan warisan para nabi.
Penyimpangan dari sikap ini tergolong
dosa besar yang tidak diampuni (syirik).
Dengan sikap wala', dan
bara', seorang mukmin akan selalu mengarahkan dirinya kepada Allah SWT di
setiap perbuatannya.
Saudariku...
Konsep wala', dan bara', ditentukan
dalam beberapa bentuk yaitu Allah SWT sebagai sumber (mashdar), rasul sebagai
cara (kayfiyah) dan mukmin sebagai pelaksana (tanfiidz).
A. الله-مصدرا (Mashdar)
Allah SWT sebagai sumber wala',
dimana loyalitas mutlak hanya milik Allah SWT dan loyalitas lainnya mesti
dengan izin Allah SWT.
Allah SWT, Rasul dan orang mukmin
adalah wali orang yang beriman yang akan membawa kepada jalan yang benar serta
rnenjauhi dari kesesatan dan godaan syaitan.
Ketaatan diberikan hanya kepada Allah
SWT, Rasul dan dari kalangan mukmin. Selain daripada itu, tidak dibenarkan
kepada selain Allah karena akan membawa manusia kepada kesesatan.
"Sesungguhnya penolong kamu
hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang‑orang
mukmin yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk
(kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, RasuI Nya dan orang‑orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya
pengikut (agama) Allah yang pasti menang."
(Qs. Al Maidah, 5:55-56)
Baca juga :
(Qs. Al Nisa, 4:59)
B. الرسول-كيفيّة (Kaifyah)
Pelaksanaan wala', terhadap Allah SWT
dan bara, kepada selain Allah SWT mengikuti cara Rasul. Nabi SAW telah
memberikan gambaran yang jelas tentang wala kepada Islam dalam sirah Nabi SAW.
Orang‑orang beriman wajib mengajak orang kafir kepada jalan Islam
dengan dakwah secara hikmah dan pengajaran yang baik. Apabila mereka menolak,
kemudian menghalangi jalan dakwah maka mereka boleh diperangi sampai mereka
mengakui ketinggian kalimat Allah SWT.
Islam memberikan kebolehan bergaul
dengan orang kafir dengan batas‑batas
tertentu, misalnya dalam bermuamalah.
Asbabun Nuzul tentang ini berkaitan
dengan Asma binti Abu Bakar yang tidak mengizinkan ibunya masuk rumahnya
sebelum mendapat izin dari Rasulullah SAW
Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Asma
binti Abu bakar RA, berkata, "Ibuku
datang berkunjung, dan ia masih dalam keadaan musyrik namun berada ikatan
perjanjian dengan Quraisy. Lalu aku datang kepada Nabi dan bertanya, "ya
Rasulullah, ibuku datang dan ia ingin bertemu denganku. Apakah aku boleh
menemuinya? Rasulullah menjawab,"Ya, temuilah ibumu." (Hadits ini
diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim).
C. المؤمن-تنفيذا(Tanfidz)
Pelaksana wala', dan bara' adalah
orang mukmin yang telah diperintahkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah SAW.
Orang mukmin adalah mereka yang meng‑imani Laa ilaaha illa Allaah dan Muhammad Rasulullah sedangkan
kafir adalah mereka yang mengingkari salah satu dari kalimat syahadat atau
kedua‑duanya.
Hubungan kekeluargaan seperti ayah,
ibu, anak tetap diakui bukan dalam kemusyrikan atau maksiat terhadap SWT dan
pelaksanaan wala', dan bara', telah ditentukan caranya. Kita hanya mengikut apa
yang telah dicontohkan Rasulullah SAW.
Hendaklah engkau wala’ terhadap
ketaatan dan orang-orang yang melakukan ketaatan dan bara’ terhadap maksiat dan
kesyirikan dan orang-orang yang mempraktekkannya
Siapa yang Berhak Mendapatkan Wala' dan Bara' ?
Orang yang mendapat wala’ secara
mutlak, yaitu orang-orang mukmin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan di atas tauhid.
Orang yang mendapat wala’ dari satu
segi dan mendapat bara’ dari satu segi, yaitu muslim yang bermaksiat,
menyepelekan sebagian kewajiban dan melakukan sebagian yang diharamkan.
Orang yang mendapat bara’ secara
mutlak, yaitu orang musyrik dan kafir serta muslim yang murtad, melakukan
kesyirikan, meninggalkan shalat wajib dan pembatal keislaman lain.
Apa saja tanda Al Wala' Wal Bara' itu..?
Sebagian Tanda Al Wala’
▫Hijrah, yaitu pindah dari lingkungan
syirik ke lingkungan islami, dari lingkungan maksiat ke lingkungan orang-orang
yang taat.
▫Wajib mencintai saudara muslim
sebagaimana mencintai diri sendiri dan senang kebaikan ada pada mereka
sebagaimana senang kebaikan ada pada diri sendiri serta tidak dengki dan angkuh
terhadap mereka.
▫Wajib memprioritaskan bergaul dengan
kaum muslimin.
Menunaikan hak mereka: menjenguk yang
sakit, mengiring jenazah, tidak curang dalam muamalah, tidak mengambil harta
dengan cara yang bathil, dsb.
▫Bergabung dengan jama’ah mereka dan
senang berkumpul bersama mereka.
Lemah lembut dan berbuat baik terhadap kaum muslimin,
mendoakan dan memintakan ampun kepada Allah bagi mereka.
Sebagian Tanda Al Bara’
▪Membenci kesyirikan dan kekufuran
serta orang yang melakukannya, walau dengan menyembunyikan kebencian tersebut.
▪Tidak mengangkat orang-orang kafir
sebagai pemimpin dan orang kepercayaan untuk menjaga rahasia dan
bertanggungjawab terhadap pekerjaan yang penting.
▪Tidak menjadikan orang kafir teman
setia ( bersahabat dengan mereka.)
▪Tidak meniru orang kafir dalam hal
yang merupakan ciri dan kebiasaan mereka baik yang berkaitan dengan keduniaan
(misalnya cara berpakaian, cara makan) maupun agama (misalnya merayakan hari
raya mereka).
▪Tidak boleh menolong, memuji dan
mendukung oeang kafir dalam menyempitkan umat Islam.
▪Tidak memintakan ampunan kepada
Allah bagi mereka dan tidak bersikap lunak terhadap mereka.
▪Tidak berhukum kepada mereka atau
ridha dengan hukum mereka sementara mereka meninggalkan hukum Allah dan
Rasul-Nya.
Buah Al Wala’ wal Bara’
1. Mendapatkan kecintaan Allah
Sebagaimana Hadits Rasulullah SAW :
... "Allah berfirman,: “Telah
menjadi wajib kecintaanKu bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku.”
(HR. Malik, Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim)
2. Mendapatkan naungan ‘Arsy Allah pada hari kiamat
“Sesungguhnya Allah berfirman pada
hari kiamat: ‘Mana orang-orang yang saling mencintai karena kemuliaan-Ku? Hari
ini Aku lindungi mereka di bawah naunganKu pada hari yang tidak ada naungan
kecuali naungan-Ku.” (Hadits Qudsi riwayat Muslim)
3. Meraih manisnya iman
"Barangsiapa yang ingin meraih
manisnya iman, hendaklah dia mencintai seseorang yang mana dia tidak
mencintainya kecuali karena Allah."(HR. Ahmad)
4. Masuk surga
“Tidaklah kalian masuk surga sehingga
kalian beriman dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai.”
(HR. Muslim)
5. Menyempurnakan iman
“Barangsiapa yang mencintai dan
membenci, memberi dan menahan karena Allah maka telah sempurnalah imannya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Hadits Hasan)
Demikianlah Sahabatfillah, sikap Al
Wala Wal Bara yang merupakan Kunci Sepurnanya Tauhid seorang hamba kepada Allah SWT.
Semoga kita termasuk hamba-hambaNya
yang sempurna Tauhidnya.
Maraji : Dari berbagai Sumber Shohih.
Wallahu 'alam Bishawab
TANYA JAWAB
Q : Bunda mau bertanya bagaimna sikap kita terhadap temen yang membela orang kafir untuk jadi pemimpin apakah kita tetap berteman atau menjauh dalam artian cukup kenal saja apalagi mereka tidak pernah solat??
A : Semaksimal mungkin menyampaikan kepadanya dan kepada siapapun yang semisal..baik dengan tangan(kekuasaan) maupun lisan dan selanjutnya jika keduanya semuanya masih belum berhasil maka senjata terakhir adalah bil qolb..ingkari dan ketuk pintu langit untuk mendoakan saudara muslim kita agar Allah berikan hidayah dan buka pintu hati dan matanya untuk melihat yang haq adalah haq dan yang bathil adalah bathil..dan bahwa apa yang diperintahkan Allah dalam Al-Qur'an sudah jelas..bukan untuk diperdebatkan..diperselisihkan melainkan untuk dilaksanakan
Alhamdulillah,
kajian kita hari ini berjalan dengan lancar. Semoga ilmu yang kita dapatkan
berkah dan bermanfaat. Aamiin....
Segala
yang benar dari Allah semata, mohon maaf atas segala kekurangan. Baikloah
langsung saja kita tutup dengan istighfar masing-masing sebanyak-banyakanya dan
do'a kafaratul majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha
Suci Engakau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan
yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat
kepada-Mu.”
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment