Rekap Kajian Online HA Ummi G-1, G-2
Hari/Tgl : Selasa, 12, 19 September 2017
Materi : 6 Kewajiban kepada Anak
Narasumber : Ustadz Kaspin Nur
Waktu kajian : 05.00-15.00
Notulen : yuniboo
Notulen : yuniboo
Editor : Sapta
🎋🍁🎋🍁🎋🍁🎋🍁🎋🍁
6 Kewajiban kepada Anak
Banyak juga orang yang salah kaprah,
menyangka putra-putrinya adalah miliknya, sehingga bebas diperlakukan sesuka
hati.
Padahal sebenarnya anak hanyalah titipan
Allah yang sewaktu-waktu akan kembali pada Allah. Dan sebagai titipan, tentu
saja kita yang diberi amanah memiliki kewajiban dalam menjaganya.
“Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu
akan ditanya tentang kepemimpinanmu… Orang laki-laki (suami) adalah pemimpin
dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Isteri adalah
pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya… [HR Bukhari juz 1, hal. 215]
Sahabat abah, inilah 6 kewajiban orangtua
pada anak yang perlu kita tanyakan ke diri sendiri sebagai bahan introspeksi,
sudahkah kita melakukannya:
1.
Memilihkan ayah dan ibu yang baik untuk anak (sebelum menikah)
Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin
Umar bin Khaththab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan
anaknya, “Anakku ini sangat bandel.” tuturnya kesal.
Amirul Mukminin berkata, “Hai Fulan,
apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak
memenuhi hak ayahmu?”
Anak yang pintar ini menyela. “Hai Amirul
Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”
Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni:
pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya.
Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan al-Qur’an.”
Dari kisah Umar bin Khaththab tersebut,
kita bisa mengetahui bahwa ketika hendak menikah, jangan hanya memilih calon
suami atau istri, tapi juga memilih calon ayah dan calon ibu yang baik untuk
anak kita kelak.
Jika kita tidak bersungguh-sungguh dalam
mencarikan calon orangtua terbaik untuk anak kita kelak, sama saja kita telah
melanggar hak anak untuk dilahirkan dari rahim seorang ibu yang baik, dan hak
anak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik dari sang ayah.
2.
Memberinya nama yang bagus dan berarti baik
“Sesungguhnya
kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian,
maka perbaguslah nama kalian.” (HR.Abu Dawud)
Pemberian nama yang baik untuk anak bisa
dilakukan sambil melaksanakan aqiqah.
Dari Samurah bin Jundab, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda, “Anak itu tergadai dengan aqiqahnya, disembelih
sebagai tebusannya pada hari ketujuh dan diberi nama pada hari itu serta
dicukur kepalanya". [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 38]
“Rasulullah Saw. Diketahui telah memberi
perhatian yang sangat besar terhadap masalah nama. Kapan saja beliau menjumpai
nama yang tidak menarik (patut) dan tak berarti, beliau mengubahnya dan memilih
beberapa nama yang pantas. Beliau mengubah macam-macam nama laki-laki dan
perempuan.Seperti dalam hadis yang disampaikan oleh aisyah ra.bahwa Rasulullah
Saw. Biasa merubah nama-nama yang tidak baik.” (HR Tirmidzi)
Sahabat abah yg baik, memberikan nama
dengan arti buruk untuk anak sama saja berbuat durhaka pada anak kita. Misalnya
memberi nama anak kata-kata yang ada dalam Al Quran, tapi ternyata artinya
adalah nama neraka, atau nama setan, atau yang berarti buruk lainnya.
3.
Memberi anak air susu ibu
“Para ibu hendaklah menyusukan
anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan
pernyusuan.” (al-baqarah: 233)
Banyak penelitian ilmiah dan penelitian
medis yang membuktikan bahwa masa dua tahun pertama sangat penting bagi
pertumbuhan anak secara alami dan sehat, baik dari sisi kesehatan maupun kejiwaan.
Ibnu sina, seorang dokter kenamaan,
menegaskan urgensi penyusuan alami dalam pernyataannya, “Bahwasanya seorang
bayi sebisa mungkin harus menyusu dari air susu ibunya. Sebab, dalam
tindakannya mengulum puting susu ibu terkandung manfaat sangat besar dalam
menolak segala sesuatu yang rentan membahayakan dirinya.”
Jika memang air susu ibu tidak keluar,
maka carikanlah ibu susu dengan akhlak yang baik sebagaimana ibunda nabi
Muhammad shalallaahu alaihi wassalaam melakukannya.
4.
Mengajarkan Al Quran
Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari kakek
Ayub Bin Musa Al Quraisy dari Nabi saw bersabda, “Tiada satu pemberian yang
lebih utama yang diberikan ayah kepada anaknya selain pengajaran yang baik.”
Thabrani meriwayatkan dari Jabir Bin
Samurah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Bahwa salah seorang di antara kalian
mendidik anaknya, itu lebih baik baginya dari pada menyedekahkan setengah sha’
setiap hari kepada orang-orang miskin.”
Mengajarkan anak ayat dan juga akhlak
alquran ini adalah kewajiban ibu dan bapak.
Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh
Ali ra, “ Ajarkanlah tiga hal kepada anak-anak kalian, yakni mencintai nabi
kalian, mencintai keluarganya dan membaca al-qur’an.
Sebab, para pengusung al-qur’an berada di
bawah naungan arsy Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naunganNya,
bersama para nabi dan orang-orang pilihanNya. Dan, kedua orang tua yang
memperhatikan pengajaran al-qur’an kepada anak-anak mereka, keduanya
mendapatkan pahala yang besar.”
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu
mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta
rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu
adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS. 20:132)
Membiasakan berakhlak Islami dalam
bersikap, berbicara, dan bertingkah laku, sehingga semua kelakuannya menjadi
terpuji menurut Islam (H.R Turmuzy dari Jaabir bin Samrah)
Selain itu, orangtua juga perlu
mengajarkan rasa malu sedini mungkin pada anak-anak.
Menanamkan etika malu pada tempatnya dan
membiasakan minta izin keluar/masuk rumah, terutama ke kamar orang tuanya,
teristimewa lagi saat-saat zhaiirah dan selepas shalat isya’.(Al-qur’an surat
Annuur ayat 56)
Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh
Ahmad dan Abu Daud, Rasulullah saw bersabda, “ perintahkanlah anak anak kalian
untuk mengerjakan sholat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah agar mereka
menunaikannya ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur
mereka.”
5.
Memberi nafkah dan makanan halal
Memberi nafkah hanya dengan harta yang
baik dan dari mata pencaharian yang halal adalah kewajiban seorang bapak.
Berdasarkan sabda Rasul saw: “Kedua
kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya
tentang empat perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya
apa yang ia kerjakan dengannnya, tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan
untuk apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia pergunakan.”
(H.R. Turmudzi)
Dan makanan yang diberikan kepada anak
-anak hendaknya Makanan yang halal. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw kepada
Sa’ad Bin Abi Waqhas, “Baguskanlah makananmu, niscaya doamu akan dikabulkan.”
Karenanya, anak dibiasakan untuk mengkonsumsi makanan yang halal, mencari
penghasilan yang halal dan membelanjakan kepada yang halal, sehingga ia tumbuh
dalam sikap sederhana dan pertengahan, terjauh dari sikap boros dan pelit.
Rasulullah Saw. Pernah mengajarkan
sejumlah anak untuk berpesan kepada orang tuanya di kala keluar mencari nafkah “Selamat
jalan ayah! Jangan sekali-kali engkau membawa pulang kecuali yang halal dan
thayyib saja! Kami mampu bersabar dari kelaparan, tetapi tidak mampu menahan
azab Allah Swt. (H.R Thabraani dalam Al-Ausaath)
6.
Menikahkan anak dengan calon suami/istri yang baik
Bila anak telah memasuki usia siap nikah,
maka nikahkanlah. Jangan biarkan mereka terus tersesat dalam belantara
kemaksiatan. Do’akan dan dorong mereka untuk hidup berkeluarga, tak perlu
menunggu memasuki usia senja.
Bila muncul rasa khawatir tidak mendapat
rezeki dan menanggung beban berat kelurga, Allah berjanji akan menutupinya
seiring dengan usaha dan kerja keras yang dilakukannya, sebagaimana firman-Nya,
“Kawinkanlah anak-anak kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah
waktunya kawin dari hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika
mereka itu orang-orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan
kepada mereka dari anugerah-Nya.” (QS. An-Nur:32)
Semoga info mengenai kewajiban orangtua
pada anak ini bermanfaat dan dapat menjadi bahan evaluasi untuk rumah tangga
kita.
*Dari berbagai sumber
=========
TANYA JAWAB
TJ G-1
TJ G-1
T : Bah, saya lagi
bingung. Gimana pilihin istri buat anak. Banyak calon tapi dia tidak sreg
semua. Padahal sholehah-sholehah. Dia malah mengharap yang lain. Yang saya merasa
tidak jelas. Kata dia sih sholehah. Kumaha atuh bah?! Saya bilang kita
pasrahkan urusan ini sama Allah. Dan kita minta ikhlas/tawakal dengan hasilnya.
J : Iya, tawakal. Yang
penting ibu sudah berusaha. Insya Allah doakan saja yang terbaik dan keep
husnudzhon kepada pilihannya.
T : Assalamualaikum
abah ustadz, bagaimana caranya memilihkan ayah baru buat anak-anak yang
beranjak besar? Apakah itu juga masih kewajiban orang tua ke anak ya abah?
tentunya tidaklah mudah mencarikan ayah yang lebih baik dari sebelumnya?!
J
: manusia ini terkena sifat berubah bunda,
kita tidak tahu yang terbaik, tapi bila merasa ada kecocokan hati ya
menikahlah. Yang kurang-kurang diperbaiki.
T : Mau titip
pertanyaan, ketika memilih calon suami atau calon istri yang baik bagaimana
cara melihat yang tulus dan yang modus, bagaimana cara menjelaskan kepada
orangtua dan keluarga bahwa sang calon belum baik agamanya sedangkan semua
keluarga sudah terlalu mendukung untuk melakukan pernikahan?
J : memang rada
sulit membedakan apa yang ada di hati, namun bisa ditelusuri latar belakang
juga omongannya. Namun jika sudah sepakat semuanya ya laksana kan saja, sambil
terus berdoa ya.
T : Boleh kah
menikah dengan laki-laki karena melihat perjuangannya? Jauh-jauh dari luar
pulau hanay untuk meminang, walaupun akhwatnya tahu, laki-lakinya ada sifat yang
buruk?
J : Ya terserah yang
mau nikah. Istikhoroh lebih baik insya Allah.
T : Ada pertanyaan
titipan Ustadz, adakah do'a khusus supaya bisa berjodoh dengan calon ayah yang
baik?
J : Tidak ada
khusus demikian, namun buat lah doa sendiri yg diinginkan. Wallahualam
T : Bah, mau Tanya,
bagaimana kalau calon sudah ada tapi anak-anak belum bisa terima, anak-anak tidak
mau ada ayah baru, padahal sudah dijelaskan bahwa posisi alm ayahnya tidak akan
pernah tergantikan. Ayah sambung bagi mereka bisa menjadi sahabat, kakak bagi mereka,
solusinya bagaimana ya bah?
J : Yang mau nikah
kan ibunya. Solusinya nikah aja.
T : Assalmualaikum
abah Tanya. Bagaimana jika orangtua kita dulu kasih nama yang tidak sesuai
agama, apakah boleh kita merubah sendiri, sedangkan orangtua kita tidak mengijinkannya,
mereka bilang tidak menghormatinya, bagaimana menjelaskan ya bah?!
J :
T : Izin bertanya
bah, bagaimanakah hukum bagi orangtua yang mampu tapi tidak melaksanakan aqiqah?
dengan dalih karena itu hanya sunah, afwan.
J : Ya gapapa. Kan
sunnah. Tapi ya rugi aja tidak dapat pahala.
T :
Assalamualaikum mau tanya, kalau anak dikasih nama maryam bolehkah? Itu kan ada
dalam alquran?!
J : Boleh.
T : Kalau sudah
menikah dan terus-terusan ada konflik dan bahkan seperti pernikahan itu selalu
diuji lewat kelakuan suami yang selalu menyulut konflik?
J : Ya tetap
berjodoh. Kalau cerai berarti jodohnya sampai disitu.
T : Istrinya sudah
tidak tahan lagi sama suaminya, tapi suaminya terus bertahan tidak mau cerai
tapi sulit sekali merubah sifatnya? Cuma janji-janji aja. Bagaimana abah
menghadapinya?
J : sabar dan
syukur
T : Bukankah dalam
sabar ada ikhtiar bah? Termasuk membela harga diri kita, masa diperlakukan gituh
diam saja? mohon pencerahan bah.
J
: Iya itu ikhtiarnya
T : Sabar bukan
berarti diam sajah kan bah?
J : Ya tidak. Kalau
sudah main fisik ya bisa menghindar. Atau lapor.
T : Abah mau nanya
soal poligami boleh tidak? Kalau seorang wanita pada saat proses taaruf dengan
pria, si pria nanya apakah mau dipoligami? Kemudian si wanita menolak apakah
itu berarti si wanita belum siap menjadi istri? Menolak poligami di sini bukan
tidak mengimani soal poligami, namun lebih ke tidak mau untuk dipoligami karean
si wanita sadar untuk menjalankan poligami itu butuh keikhlasan yang luar biasa
dan juga ilmu yang hebat.
J : Boleh saja,
namun jika tidak jadi menikah resiko tanggung sendiri. Saran saya terima aja,
karena poligami itu takdir, tidak semua yang mau itu mampu dan tidak semua yang
mampu itu mau, adapun yang mau dan mampu belum tentu ada jodohnya. Ituh!
T : Kan ada abah,
si calon istri ke-2 mau dipoligami, tapi istri pertama tidak mau terus jadinya
nuntut cerai, kalau begitu apa si calon istri ke-2 bukannya malah jadi perusak
rumah tangga orang ya abah?
J : Bukan. Itu
suaminya yang belum beres. Wanita itu dipilih. Meskipun bisa memilih. Belum
bisa mendidik istrinya gitu. Maaf, bagi wanita status "ungu" itu rada
berat. Dicurigain mulu sama tetangga atau temen nya
T : Maaf bah, ada
yang bilang istri pertama mendapat pahala amalan dari amalan istri kedua atau ketiga
jika istri pertama ridho dipoligami, betulkah bah?
J : Insya Allah. Ini
masalah kita hari ini, padahal ini masalah sudah ada solusinya sejak dulu.
Tinggal mau apa tidak memakainya. Ya, ridho. Ikhlas ketika memberi dan ridho
ketika menerima. Sabar dan syukur menjalaninya meskipun perasaan demikian insya
Allah bisa dikendalikan. Kesedihan dan kebahagiaan ibarat ilalang dan bunga yang
menghiasi sebuah taman.
T : Abah mau tanya,
bagaimana menyikapi kesabaran yang naik turun sama anak-anak dirumah?
J
: Ya ganti dengan kesyukuran. Berapa kah
nilai anak kita? Anak adalah anugerah yang tak ternilai. Secara sederhana ada
orang mungkin pernah memukul anak gegara ngarusak hape, namun adakah orang yg
memukul hape gegara ngarusak anak? maka kontemplasi lagi, sebenarnya apa sih
kita benar-benar inginkan dalam hidup ini?
T : Abah, pami
tiasa mah sarannya, jangan seolah-olah wanita itu, mau tidak mau harus mau dipoligami.
Tapi bagaimana caranya dari sudut pandang laki-laki upaya agar wanita tidak di
poligami....kituuuu...
J : Ya terserah
eyang saja saya mah. Itu kan hukumnya demikian eyang. Laki-laki boleh punya
empat.
T : Saya banyak
dapat curhatan dari wanita baik baik yang rindu kayang. Iya...pengin jalan-jalan
gandengan, pengen nyender, dan sebagainya, tapi maksiat ya ustadz? boleh tidak?
Saya jawab ya ga boleh. Haram. keinginan yg sederhana. tapi kalau sudah sendiri?
kalau sudah sepuh mungkin tidak terlalu demikian.
J
:
T : Boleh bertanya
abah, jika seorang janda sholehah (insya ALLAH) mau menikah dengan seorang
pemuda tapi ibunya sang pemuda tidak menyetujuinya. Apakah yang harus dilakukan
pemuda itu? Bagaimana pernikahan mereka jika sang pemuda nekad menikah tanpa
restu dari sang ibu?
J : Sebisa mungkin
berusaha lah agar ibunya ridho. Insya Allah biasanya hati ibu akan meleleh juga
jika anaknya kuat keinginannya. Saya ikut mendoakan. Semoga semuanya dimudahkan.
Calon istri juga lakukanlah pendekatan.
T : Teman saya
abah. Minta solusi ya abah. Mba ati dulu mau di cerai sama suaminya tapi dia tidak
mau karena kasihan sama anak-anak. Sekarang mba ati kerja di hongkong, tapi
jerih payah mba ati di habiskan oleh suaminya, bahkan sekarang sudah hampir 8 bulan
missing komunikasi. Bahkan lebaran pun suami tidak ada kasih nafkah sama anak-anak
yang di rumah. Mba ati tadi minta pendapat sama saya kalau mau gugat cerai. Bagaimana
baiknya ya abah?
J : Boleh menggugat
kalau begini karena sudah melanggar janji sighot taklik
//////////
TJ G-2
Tanya : Assalamualaikum
Ustadz, Alhamdulillah saya sudah 10 tahun menikah, tapi yang mau saya tanyakan
apakah kalau belum diberikan amanah memiliki momongan, itu bisa terkait dengan
6 kewajiban orangtua yang belum bisa dijalankan seperti yang dijelaskan diatas?
Jawab: Tidak terkait.
Itu belum rezeki. Coba ikhtiar maksimal dengan berdoa dan minum herba.
Tanya: Ketika kita
lahir orangtua kita belum mengaqikah kita apakah kta wajib mengakikah diri abah?
Jawab : Tidak, aqiqah
hukumnya sunnah dan itu kewajiban orangtua sewaktu kita masih bayi.
Tanya: Ustadz, saya
ingin sekali memberi ASI untuk anak saya, tapi yang keluar sedikit dan anak
menangis karena masih lapar, apakah saya salah dengan memberikan susu formula?
Jawab : Tidak salah
insya Allah itu juga baik namun upaya kan ASI-nya diperbanyak. Insya Allah
nanti banyak.
Tanya: Assalamualaikum
ustadz adakalanya orang bila marah bekata tidak baik sama anaknya apakah itu
bisa mempengaruhi ridho Allah terhadap anak tersebut, dan bagaimana caranya
supaya Allah jadi ridho setelah perkataan orang tua yang jelek terhadap
anaknya. Syukron ustadz.
Jawab : Bu Tut yang
baik, ya kadang demikian, maka mohon maaf kepada orangtua dan istighfar. Doakan
ortunya. Perbaiki komunikasi dan hubungan dengan orangtua.
Tanya: Jikalau orangtua
dulu kurang paham agama sehingga memberikan nama anak-anaknya sesuai dengan
asal adat/sukunya sendiri bagaimana?
Jawab : Bu Ajeng yang
baik... kalau artinya bagus tidak masalah. Kalau artinya kurang bagus maka
sebaiknya di ganti nama.
Tanya: Assalamualaikum
ustadz, saya pernah mendengar kalau orangtua ridho terhadap anak maka Alloh
akan ridho, praktek nyata dari ridho terhadap anak itu seperti apa ustadz?
Apakah dengan menerima segala kekurangan dan kelebihan anak?
Jawab : Bu Isma yang
baik, ya demikian. Sebagai anak kita harus membahagiakan orang tua agar ridho.
Tanya: Ustadz tanya
lagi, bagaimana dengan orang yang hingga akhir hayat tidak menikah, apakah ada
keterangan hadis/kisah yang membahas bahwa yang tidak menikah adalah orang yang
tidak di sukai alloh?
Jawab: Isma yang
baik.. Ya itu takdir dia, insya Allah nanti menikah di surga kalau masuk surga.
Tanya: afwan... Saya
jarang sekali memakai nama lengkap pemberian orangtua saya abah, karena
belakangnya nama Christin... Jadi sering kebayang di batu nisan saya kelak ada
nama christen-nya bah... Dosa tidak ustadz saya lebih senang nama singkat yang
depan... Padahal masih kecil saya senang dengan nama christin pemberian orangtua.
Jawab : Liza yang
baik... nama Christin artinya bagus ya. Insya Allah gapapa.
~~~~~~~~~~~
Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin
Doa Kafaratul Majelis :
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت
أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu
allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan
memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu,
aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi
wabarakaatuh
================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment