Rekapitulasi Kajian Online HA Ummi G-3
Hari/ Tgl : Senin, 12 Maret 2018
Materi: Menggapai Ridho Mu Melalui Ridhonya
(suami)
NaraSumber: Ustadz Cipto
Waktu Kajian: Ba'da ashar s/d selesai
Editor : Sapta
====================
بسم الله الرحمن الرحيم
السلم عليكم ورحمة الله وبركته
bahan ini menarik sebagai sebuah awalan,
https://muslimah.or.id/3066-mataku-tidak-bisa-terpejam-sebelum-engkau-ridha.html
Diriwayatkan dari Anas bin Malik
radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟قُلْنَا
بَلَى يَا رَسُوْلَ الله كُلُّ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ، إِذَا غَضِبَتْ أَوْ أُسِيْءَ إِلَيْهَا
أَوْ غَضِبَ زَوْجُهَا، قَالَتْ: هَذِهِ يَدِيْ فِي يَدِكَ، لاَ أَكْتَحِلُ بِغَمْضٍ
حَتَّى تَرْضَى
“Maukah kalian aku beritahu tentang
istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai
Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang
penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya
marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan
bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath
Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)
Istri yang menginginkan hidup penuh dengan
kebahagiaan bersama suaminya adalah istri yang tidak mudah marah. Dan niscaya
dia pun akan meredam kemarahan dirinya dan kemarahan suaminya dengan cinta dan
kasih sayang demi menggapai kebahagiaan surga. Ia tahu bahwa kemuliaan dan
posisi seorang istri akan semakin mulia dengan ridha suami. Dan ketika sang
istri tahu bahwa ridha suami adalah salah satu sebab untuk masuk ke dalam
surga, niscaya dia akan berusaha menggapai ridha suaminya tersebut. Allah
Subhaanahu wa Ta’alaa berfirman ketika menjelaskan cirri-ciri orang yang
bertaqwa, satu di antaranya adalah orang yang pemaaf ;
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ
النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya
dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebajikan”. (Qs. Ali-Imran: 134)
Wahai para istri shalihah, jadikan baktimu
kepada suamimu berbalas ridha Allah. Lakukanlah baktimu dengan niat ikhlas
karena Allah, berusahalah dengan sungguh-sungguh dan lakukan dengan cara yang
baik. Lakukanlah untuk mendapatkan ridha suamimu, maka Allah pun akan ridha
terhadapmu.. Insyaalah.
Sebaliknya, apabila suami tidak ridha,
Allah pun tidak memberikan keridhaan-Nya. Parahnya lagi, para malaikat pun akan
melaknat istri yang durhaka. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ
يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي
السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا
“Demi Dzat yang jiwaku berada di
tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu
si istri menolak (enggan terhadapnya), maka penghuni langit murka kepadanya
hingga suaminya ridha kepadanya.” (HR. Bukhari
no. 5194 dan Muslim no.1436)
Bahkan, apabila suami murka bisa
mengakibatkan tertolaknya shalat yang dilakukan oleh sang istri. Wal
iyyadzubillaah. Sebagaimana sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
pada hadits riwayat Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhumaa,
ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ
رُءُوسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ
وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ
“Ada tiga kelompok yang shalatnya tidak
terangkat walau hanya sejengkal di atas kepalanya (tidak diterima oleh Allah).
Orang yang mengimami sebuah kaum tetapi kaum itu membencinya, istri yang tidur
sementara suaminya sedang marah kepadanya, dan dua saudara yang saling
mendiamkan (memutuskan hubungan).” (HR. Ibnu
Majah I/311 no. 971 dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Misyakatul Mashabih no.
1128)
Gapailah ridha Allah melalui ketaatan
terhadap suami.
Marilah kita berusaha mendapatkan ridha
Allah. Karena mendapatkan ridha Allah merupakan tujuan utama dari kehidupan
seorang muslim. Dan kehidupan berumah tangga merupakan bagian darinya, dan satu
diantara yang akan mendatangkan keridhaan Allah adalah proses ketaatan istri
terhadap suaminya. Sebuah tujuan yang lebih agung daripada berbagai kenikmatan
apapun. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’alaa,
وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ
الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan keridhaan Allah adalah lebih besar;
itu adalah keberuntungan yang besar”. (Qs.
At-Taubah: 72)
Diutamakannya ridha Allah atas nikmat yang
lain menunjukkan bahwa sekecil apapun yang akan membuahkan ridha Allah, itu lebih baik daripada semua
jenis kenikmatan. Seorang istri hendaknya menjadikan ridha Allah sebagai tujuan
utama. Harapan untuk meraih ridha Allah inilah yang seharusnya dijadikan
motivasi bagi istri untuk senantiasa melaksanakan ketaatan kepada sang suami.
Jika Allah sudah memberikan ridha-Nya, adakah hal lain yang lebih baik untuk
diharapkan?
Tapi ingatlah saudariku, bahwasanya
ketaatan terhadap suami bukanlah sesuatu yang mutlak, tidak boleh taat
kepadanya dalam hal kemaksiatan. Tidak ada alasan ketaatan untuk kemaksiatan.
لاَ طَاعَةَ لِـمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْـخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam
bermaksiat kepada Al-Khaliq” (Silsilah
Al-Ahadits Ash-Shahihahno. 179)
Walaupun keluarga dalam masalah, seperti
himpitan ekonomi, hutang yang kelewat besar atau persoalan kehidupan lainnya,
seorang istri tetap tidak dibenarkan menuruti perintah suaminya yang melanggar
kaidah syar’i. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ ، إِنَّمَا
الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada kewajiban taat jika
diperintahkan untuk durhaka kepada Allah. Kewajiban taat hanya ada dalam
kebajikan” (HR Ahmad no 724. Syeikh Syuaib Al
Arnauth mengatakan, “Sanadnya shahih menurut kriteria Bukhari dan Muslim”).
Dan ketahuilah duhai para istri shalihah,
bahwasanya ridha suami berlaku pula untuk amalan sunnah yang hendak dikerjakan
oleh sang istri, seperti berpuasa atau menerima tamu. Dalam hal ini, istri juga
wajib mendapat ridha suami melalui izinnya. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam mengingatkan kepada kita,
لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا
شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَلاَ تَأْذَنَ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Tidak halal bagi seorang isteri untuk
berpuasa (sunnah), sedangkan suaminya ada kecuali dengan izinnya. Dan tidak
halal memberi izin (kepada orang lain untuk masuk) ke rumahnya kecuali dengan
seizin suaminya.” (HR. Bukhari no. 5195 dan Muslim no.
1026)
Memang benar adanya bahwa kehidupan yang
telah dan sedang kita jalani telah memberikan banyak pengalaman berupa
tantangan dan kesulitan dalam kehidupan suami istri. Hadapilah
kesulitan-kesulitan tersebut dengan kesabaran dan ketabahan. Perhatikanlah apa
yang dikatakan Abu Darda’ kepada istrinya,
Disebutkan dalam Tariqh Damasyqus (70/151)
dari Baqiyah bin Al-Walid bahwa Ibrahim bin Adham berkata, Abu Darda’ berkata
kepada istrinya Ummu Darda’.
إذا غضبت أرضيتك وإذا غضبت فارضيني فإنك إن لم
تفعلي ذلك فما أسرع ما نفترق ثم قال إبراهيم لبقية يا أخي وكان يؤاخيه هكذا الإخوان
إن لم يكونوا كذا ما أسرع ما يفترقون
“Jika kamu sedang marah, maka aku akan
membuatmu jadi ridha dan Apabila aku sedang marah, maka buatlah aku ridha dan.
Jika tidak maka kita tidak akan menyatu. Kemudian Ibrahim berkata kepada
Baqiyah “Wahai saudaraku, begitulah seharusnya orang-orang yang saling
bersaudara itu dalam melakukan persaudaraannya, kalau tidak begitu, maka mereka
akan segera berpisah”.
Suamimu bukanlah malaikat,
Sadarilah pula wahai para istri yang
shalihah.. bahwa suami kita bukanlah malaikat, dan tidak akan pernah berubah
menjadi malaikat. Kalau kita menyadari akan hal ini, persiapkanlah diri kita
untuk menerima kesalahan dan kekeliruan suami kita, serta berusaha untuk tidak
mempermasalahkannya. Karena berbuat salah sudah menjadi tabiat manusia. Kita
bisa mengambil sikap bijak untuk menanggulangi kesalahan-kesalahan tersebut.
Bukan dengan mengikuti kesalahan-kesalahan suami, tetapi bisa melalui dua hal.
Pertama, Menasehati suami dengan cara yang
baik apabila terbukti jelas ia berbuat kesalahan dalam kehidupan rumah tangga.
Kedua, tidak mencela dan mencemoohnya bila
ia berulang kali melakukan kesalahan yang sulit dihindari tabiatnya, dan ini
pasti ada dalam kehidupan berumah tangga, akan tetapi bantulah dia untuk
memperaiki diri dan meninggalkan kesalahan tersebut. Allah subhaanahu wa
ta’aala berfirman,
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ
فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.
Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin
kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang
banyak.” (QS. An-Nisaa’: 19)
Bersyukurlah akan anugerah dari Allah
kepada kita berupa sang suami
Duhai para istri..
Marilah kita sadari bahwasanya suami yang
Allah anugerahkan kepada kita adalah sebuah nikmat yang besar. Perhatikanlah di
sekeliling kita! Betapa banyak para wanita yang mendambakan kehadiran seorang
suami, tapi belum juga mendapatkannya. Dan betapa banyak pula wanita-wanita
yang terpisah jauh dari suaminya, bahkan betapa banyak pula wanita-wanita yang
kehilangan suaminya. Bersyukurlah duhai para istri shalihah. Janganlah sampai kita
tergolong ke dalam firman Allah berikut ini.
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu
yang bersyukur (berterima kasih)”. (Qs. Saba’:13)
Perhatikan hak-hak suami dan peranan
masing-masing istri dan suami
Dan ingatlah pula bahwasanya suami adalah
nahkoda bagi rumah tangga kita. Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa berfirman,
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا
فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi
kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki)
atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah
menafkahkan sebagian dari harta mereka”. (QS. An-Nisaa’
34)
Ya, suami adalah pemimpin rumah tangga
kita. Maka dari itu, kita (suami dan istri) harus saling memahami peran
masing-masing di dalam rumah tangga. Taatilah suami kita dengan baik selama
bukan ketaatan dalam perbuatan maksiat. Karena taat kepada suami merupakan
salah satu kewajiban kita sebagai istri. Dengan begitu, kita bisa merebut hati
suami kita dan kita pun akan mendapatkan ganjaran dari Allah berupa surganya
yang indah. Perhatikanlah hadits berikut ini,
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ
شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ
مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat
lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul
menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya,
maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah ke dalam
surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth
mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dan jagalah hak-hak suami kita. Sadarilah
besarnya hak suami atas diri kita. Ingatlah, sejak kita menikah, maka sang
suamilah yang paling berhak atas diri kita. Sampai-sampai Rasulullaah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ
لَأَمَرْتُ المَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh menyuruh seseorang
sujud kepada orang lain, maka aku akan menyuruh seorang wanita sujud kepada
suaminya.” (Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi, di
shahihkan oleh Al-Albani dalam Irwaa’ul Ghalil (VII/54).
Bersyukurlah terhadap pemberian suami
ورأيت النار فلم أر منظرا كاليوم قط ورأيت أكثر
أهلها النساء قالوا: بم يا رسول الله ؟ قال بكفرهن قيل أيكفرن بالله ؟ قال: يكفرن العشير
ويكفرن الإحسان لو أحسنت إلى إحداهن الدهر كله ثم رأت منك ما تكره قالت ما رأيت منك
خيرا قط
“Dan aku melihat neraka maka tidak pernah
aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan
penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya, ‘Mengapa (demikian)
wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam?’ Beliau shalallahu ‘alaihi
wassalam menjawab, ‘Karena kekufuran mereka.’ Kemudian ditanya lagi, ‘Apakah
mereka kufur kepada Allah?’ Beliau menjawab, ‘Mereka kufur terhadap suami
mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik
kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia
melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata:
‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari, no. 105 2 , dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Jangan selalu melihat kekurangan suami.
Apabila kita menemukan adanya kekurangan pada diri suami kita, sadarilah
bahwasanya kita pun mempunyai banyak kekurangan. Berusahalah untuk saling
menutupi kekurangan-kekurangan yang ada.
Dan bersyukur pulalah atas pemberian
suami. Jangan sekali-kali istri meremehkan atau tidak suka kepada suaminya
hanya karena uang yang diberikan suaminya terlalu kecil menurut pandangannya,
padahal sang suami telah bekerja keras. Ingatlah kepada Allah apabila keinginan
hendak meremehkan itu muncul. Bagaimana mungkin seorang istri meremehkan setiap
tetes keringat suaminya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah
menganggapnya mulia?
Apapun pekerjaannya dan berapa pun
penghasilannya, bukanlah masalah besar asalkan halal dan mampu dilakukan secara
berkelanjutan. Bersyukurlah dan bersabarlah wahai para istri shalihah. Bukankah
masih banyak orang-orang yang keadaannya jauh di bawah kita? Ingatlah akan
sabda Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ
وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا
نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ
“Pandanglah orang yang berada di bawah
kalian (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah kalian memandang orang
yang berada di atas kalian. Karena yang demikian itu lebih pantas agar kalian
tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada kalian.” (HR Muslim, no. 2963)
Bersyukurlah dengan kebaikan-kebaikan
suami yang ada. Karena istri yang tidak bersyukur akan kebaikan suami adalah
istri yang tidak bersyukur kepada Allah subhaanahu wa ta’alaa. Sebagaimana
sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
لا يشكر الله من لا يشكر الناس
“Orang yang tidak berterima kasih kepada
manusia dia tidak bersyukur kepada Allah”. (Hadits
riwayat Abu Daud dan di shahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud
(4811).
Berusahalah untuk menjadi istri yang
shalihah,
Berusahalah untuk menjadi istri yang
shalihah. Istri shalihah, yaitu istri yang baik akidahnya, amal ibadahnya dan
baik pula akhlaknya. Bagi seorang suami, istri shalihah tak sekedar istri. Ia
adalah teman di setiap langkah
kehidupan, pengingat di kala lalai, penuntun di saat tersesat, dan ia adalah
ustaadzah bagi rumah tangganya. Sungguh, tiada kebahagiaan di dunia yang lebih
indah daripada bersanding dengan istri shalihah.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا
الْمَرْأَةُ الصَّالِحَة
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik
perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim
no. 1467)
Menjadi istri shalihah adalah sebuah
kemungkinan yang dapat diraih dengan keihklasan dan bersungguh-sungguh dengan
penuh ketulusan. Pelajarilah bagaimana wanita terdahulu mampu meraihnya.
Contohlah mereka dan lakukan dalam rumah tangga kita. Jika sudah demikian,
bersabarlah untuk memetik hasilnya.
Kita sadari bahwasanya,
Kita bukanlah Hajar, yang begitu taat
dalam ketakwaan,
Kita bukanlah Asiyah, yang begitu sempurna
dalam kesabaran,
Kita bukanlah Khadijah, yang menjadi
teladan dalam kesetiaan,
Kita bukanlah ‘Aisyah, yang menjadikan
indah seisi dunia,
Tetapi kita, hanyalah seorang istri yang
berusaha meraih predikat “Shalihah”.
Wa shallallaahu ‘ala nabiyyiinaa Muhammad
wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam
*muslimah.or.id
Penulis: Yuhilda Ummu Izzah
Muraja’ah: Ustadz Abu Salman
Hafizhahullaahu Ta’alaa
sebagai pembanding dari sisi ikhwan coba
ana sampaikan ya…
Suami Wajib Menjaga Istrinya,
Kewajiban paling besar dari seorang suami
terhadap istrinya adalah menjaga istrinya agar selamat dari api neraka. Berikut
ini ayat Al Quran terkait dan beberapa penjelasan dari hadis yang terkait.
Allah Taala berfirman yang bermaksud:
‘Hai orang-orang yang beriman! Jagalah
dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.” (At Tahrim :
6)
Allah Taala berfirman yang bermaksud:
“Perintahkanlah keluargamu agar melakukan
sholat.” (Thaha:132)
Berikut ini beberapa hadis yang menyatakan
kewajiban suami menjaga istrinya:
Dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda
bersabda: ‘Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang
dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia
bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi
ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri
adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya.
Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung
jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi
harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu
sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang
dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alaih )
Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
“Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya
mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan
sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah
berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.“
Diceritakan dan Nabi SAW bahwa baginda
bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan
membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup
mendidik keluarganya.”
Rasulullah S.A.W bersabda, yang artinya:
“Pertama kali perkara yang dipertanggungjawabkan kepada seseorang di hari
kiamat adalah keluarganya (yakni isteri) dan anak-anaknya. Mereka berkata,
wahai Tuhan kami, ambillah hak-hak kami (tanggung jawab) kami dari orang ini,
karena sesungguhnya dia tidak mengajarkan kepada kami tentang urusan agama
kami. Ia memberi makan kepada kami berupa makanan dari hasil yang haram, dan
kami tidak mengetahui. Maka orang itu dihantam (disiksa) lantaran mencari
barang yang haram, sehingga terkelupas dagingnya, kemudian dibawa ke neraka.
(Al Hadits).
Berikut ini atsar sahabat mengenai
penjagaan suami kepada istri:
Ibnu Abbas berkata:
“Berilah pengetahuan agama kepada mereka
dan berilah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka.”
jadi sebenernya posisinya suami dan istri
itu akan saling bs mengajak ke syurga atau pun ke neraka, karena ketika sudah
berumah tangga ini adlah "Proyek" bersama. tidak ada istilah saling
melepaskan tanggung jawab karena suami atau istri ada hak dan kewajiban yang
harus dipenuhi dan dilaksanakan.
Nah pada tema yg diminta di atas memang
posisi para istri akan banyak bergantung pada suami. hal ini memang tinjauan
perspektif kewajiban istri yang harus
dipenuhi oleh istri terhadap suaminya. jadi area pembahasan kita akan lebih
banyak tentang bagaimana sesungguhnya kewajiban seorang istri terhadap
suaminya.
===============
TANYA JAWAB
Tanya: Ijin berrtanya ustadz. Saya langsung tertarik dengan materi poin
terakhir yang mengatakan posisi istri akan banyak bergantung pada suami. Kalah
soal materi mungkin ia bagi yang tidak bekerja dan memang tugas suami. Yang
saya tanyakan bagaimana dengan bergantung soal agama, sedangkan pada masa ini
kadang suami lebih banyak harus diingatkan soal agama. Mohon penjelasannya
ustadz. Padahal kita sebagai istri ingin sama-sama bisa ke surganya Allah.
Jawab: pertanyaan yang menarik, kalau diurut akhirnya ujung pangkal yang paling
penting dan sering miss adalah faktor pendidikan atau tarbiyah. Sebagian kita kalau
ditanya siap jadi suami/istri pasti pada bilang siap, tapi kesiapannya tidak
dibarengi dengan ilmu yang memadai tuk menjadi suami atau istri. pun di sekolah
tidak pernah ada yang dipersiapakan untuk menjadi istri atau suami kalau yang
dipesantren sih insya Allah masih mendingan ada materi-materi tentang membangun
keluarga. Nah faktor pentingnya yang perlu jadi perhatian adalah pendidikan
aqil baligh yang tidak pernah diperoleh sangat berperan vital. Oke ini kalau
ditanya tentang asbabnya ya.... jadi perlu melakukan perhatian khusus pada
pendidikan terutama pendidikan aqil baligh.
Adapun dengan kontekstual pertanyaannya
kondisi kekinian sering seperti itu adanya keterbatasan para suami terutama
dalam urusan agama menyebabkan para isteri tidak atau minimal berkurang dalam
memperoleh haknya dalam memperlajari agamanya. Ada dua sisi yang coba ana lihat
yang pertama tentang sisi istri bahwa ini adalah ladang dakwah dan amal sholeh.
Mengapa begitu terkadang istri lebih pintar dari sisi pemahamannya terhadap
agama tapi tetap membutuh strategi yang sangat cantik dan canggih terutama
masalah komunikasi, karena tetap ada wilayah harga diri dalam hal ini dari
suami ketika kesan yang muncul adalah mengurui.
Jadi inilah ladang dakwah dan amal
sholehnya, plus asli butuh kesabaran yang sangat ekstra dalam mengajak dan
meminta hak pendidikan agama ke suami.
dari sisi suami yang memang para suami adalah makhluk logis yang
mengandalkan otak dan logika. Ini adalah wilayah yang perlu masuk akal dulu
baru bisa dijalankan. Ada wilayah ego dan logika yang perlu diperhatikan oleh
para istri itulah kenapa perlu strategi yang cantik dan canggih terutama
komunikasi efektif untuk dapat mengingatkan suami.
faktor pemahaman akan sifat, sikap dan gaya
suami perlu bunda pelajari agar dapat difahami maksutnya oleh suami, ini
penting ya karena buat kami makhluk yang namanya suami ketika istrinya datang
dan mulai berbicara yang ada dalam fikiran suami yang makhluk logis pasti ada
masalah jadi dari awal sudah lansung mikir cari solusi padahal istri maksudnya
cuma pengen curcol doang tapi suami sudah kemana-mana mikirnya.
Tanya: Ustadz, izin bertanya, apakah ini perbedaan jenis kepribadian yang
berdasarkan (Stifin atw yang lain) yang bertolak belakang, ini sangat
mempengaruhi juga dalam komunikasi? selain komunikasi adakah hal lain yang
dapat lebih penting untuk menyatukan perbedaan ini?
Jawab: sebenarnya tidak pake stifin atau metode lain tapi emang secara fitrah
mendasar berbeda makhluk yg laki laki "kasar" dan Perempuan itu makhluk
"halus", maksudnya laki-laki lebih diciptakan dengan banyak
mengunakan otak dan fisiknya sedangkan perempuan dengan hati dan perasaannya. Ini
kecenderungan umum ya mba. Bila tools itu sebenarnya jadi alat bantu untuk kita
bisa saling memahami mau pake stifin atau Talents mapping sama aja itu hanya
tools.
Terkait hal lain selain komunikasi adalah
masalah pembangunan komitmen ketika awal membina rumah tangga yang harus selalu
di upgrade atau diingatkan terus dan ingat masalah saling tadi ya, terutama pelaksanaan
QS al Ashr ayat 3 tawasaubil haq dan tawasaubish shobr.
Tanya: Assalamu'alaikum ustadz, menurut ustadz kalau suami marah, tapi kemudian
sudah baikan kembali meski tak bilang memaafkan, tapi terlihat dari sikapnya yang
biasa saja (tidak marah lagi), apa itu sudah berarti suami ridho ya?! hehe... saya
tipe istri yang sulit banget untuk minta maaf, soalnya suami kalau diajak
diskusi terus cerita puaaanjaang gitu, jadi saya lebih baik diam.
Jawab: Alhamdulillah suaminya gampang move on gak baperan. Namun alangkah lebih
baik meminta maaf lakukan saat shalat berdua atau berjamaah bersamanya apalagi
ada anak-anak biar mencontohkan juga ke anak-anak.
Suami mungkin lupa tapi catatan malaikat
dan Allah mungkin belum terhapus jadi lebih baik minta lah maaf, pake strategi
dan cara yang cantik pasti lebih seru. Ingat kisahnya ummu salamah ketika
anaknya wafat dan ia tidak menceritakannya silahkan di googling tentang cerita
ini seru loh.
Tanya: Ada titipan pertanyaan ustadz. Liqo di tempat seorang istri mau
mengadakan rihlah dan istri meminta ijin dari seminggu sebelumnya dan suami
mengijinkan. Tapi pas besoknya mau pergi kan istri mengingatkan kalau besok waktunya
pergi dan suami lupa kalau sudah mengijinkan, dan ternyata suami tidak
mengijinkan pergi.
Pertanyaannya:
1. Kalau istri tetap pergi apakah berdosa
secara ijin bertama sudah ada?
2. Apakah kalau istri sedikit cemberut karena
kecewa, bagaimana ustadz?
3. Apakah sifat suami itu pelupa ya, karena
kurang perhatian sama tanggal-tanggal yang istri anggap perlu, misal tanggal
lahir anak, tanggal pernikahan, dll. Mohon penjelasannya.
Jawab: yup.....emang gwe banget jdnya. Jadi ingat iklan teh di tv emang ngasih
remindernya juga ujung awal dan akhir kalau perlu masukin di kalender di hp
lalu invite suami agar remindernya masuk juga di reminder suami (ini kalau mau
manfaatkan teknologi).
1.
tanyakan dulu
alasannya, kalau memang ada yang lebih syari insya Allah ke kelompok liqonya juga
akan di mahfumi. Tapi kalau alasannya emang gak syari nego saja lah.
2.
Boleh saja
manusiawi kok asal jangan baper terus marah-marah sepanjang hari bahkan
sepanjang tahun ini yang gak baik
3.
gitu deh, sekali
lagi ini juga perbedaan signifikan kalau perempuan ingetnya bisa sampai detail
apalagi kesalahan suami, bisa inget beuut detailnya mulai dari tanggal sampai
jam bahkan sampai detik, kalau suami sebagian besar saya bilang pasti gitu
banyak lupanya saking banyaknya yang dipikirin
Nah point pentingnya adalah suami ini mahkluk
pemikir jadi kalau mau diingat buatlah yang sedikit emosional, dengan rayuan
maut atau apalah yang berkesan buat suami memang sih gak diinget beut tapi
paling tidak ini lah wilayah yg bisa bikin suami senang (pengalaman pribadi #eeh)
Tanya :Ustadz izin bertanya. Berdosakah istri yang sering ngambek karena
kesalahan suami. Di karenakan sifat suami yang cuek sedang istri super
sensitif. Istri typenya kalo marah ingin diungkapin secepatnya ke suami, kalau
dipendam malah makin bergemuruh di dada dan akhirnya meledak. Tapi suami ga
peka dengan ngambeknya istri. malah bilang 'gitu aja koq marah sih'. Sudah
sering diungkapkan maunya istri kalau lagi marah diapain supaya reda marahnya.
Tapi masih sering terulang. Istri ngambek, suami diam.
Jawab: Nasihat Sayyidina Umar bin Khattab. Berikut ini suatu kisah mengenai
seseorang yang bermaksud menghadap Umar Bin Khattab hendak mengadukan perihal
perangai buruk istrinya:
Sampai ke rumah yang dituju orang itu
menanti Umar r.a. di depan pintu. Saat itu ia mendengar istri Umar mengomel
kepada Umar r.a., sementara Umar sendiri hanya berdiam diri saja tanpa
bereaksi. Orang itu bermaksud balik kembali sambil melangkahkan kaki seraya
bergumam: ”Kalau keadaan amirul mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan
diriku“.
Bersamaan itu Umar keluar, ketika melihat
orang itu hendak kembali. Umar memanggilnya, katanya : “Ada keperluan
penting?“. Ia menjawab : ”Amirul Mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak
mengadukan perihal istriku lantaran sering memarahiku. Tetapi begitu aku
mendengar istrimu sendiri berbuat serupa, maka aku bermaksud kembali. Dalam
hati aku berkata: kalau keadaan amirul muikminin saja diperlakukan istrinya seperti
itu, bagaimana halnya dengan diriku.”
Umar berkata kepadanya: “Saudara,
sesungguhnya aku rela menanggung perlakuan seperti itu dari istriku karena
adanya beberapa hal yang ada padanya. Istriku bertindak sebagai juru masak
makananku. Ia selalu membuatkan roti untukku. Ia selalu mencucikan
pakaian-pakaianku. Ia menyusui anak-anakku, padahal semua itu bukan
kewajibannya. Aku cukup tentram tidak melakukan perkara haram lantaran
pelayanan istriku. Karena itu aku menerimanya sekalipun dimarahi“.
Kata orang itu : “Amirul mukminin,
demikian pulakah terhadap istriku?”. Jawab Umar “Ya, terimalah marahnya. Karena
yang dilakukan istrimu tidak akan lama, hanya sebentar saja“.
Tanya: Kalau istri yang selalu mengalah baik ga ustadz, dengan pertimbangan
takut rebut?
Jawab: baik aja....asal kuat baik kuat sabarnya maupun kuat doanya. Menarik nih
sekalian buat statement penutup kajian ini saya pernah bikin postulat.
"tundukkanlah suamimu dengan
ketundukanmu dan ketaatanmu kepadanya"
Memang ini gak berlaku instan ya prosesnya
panjang dan kesabaran itulah yang akan menunjukkan hasilnya kelak, perkuat
terus doa-doamu untuk meraih ridhoNYa melalui ridho suamimu.
=========================
Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin
Doa Kafaratul Majelis :
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت
أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu
allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan
memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan
diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi
wabarakaatuh
================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment