Rekap
Kajian Online HA Ummi dan Nanda
Hari/Tgl:
Selasa, 6 November 2018
Narasumber:
Ustadzah Kharis, Ustadzah Riyanti, Ustadzah Tribuwhana, Ustadzah Rini, Ustadzah
Lien, Ustadzah Enung
Materi:
Ketika Cinta Menjadi Prioritas
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
KAJIAN
RUTIN-01
KETIKA
CINTA MENJADI PRIORITAS
=========================
Ketika
Cinta Menjadi Prioritas
Cinta
itu unsur kimia hati yang merasuk tanpa tersadari. Tak nampak namun bisa
dinikmati. Terjaga walau dalam gelapnya arti. Kadarnyapun berwarna-warni.
Sewarna 1001 macam kekasih yang menggelanyuti hati. Menawarinya dengan sejuta
kenikmatan, pun menjajahnya bagai budak belian. Sewarna warni itu membutuhkan
tuntutan, membutuhkan prioritas. Jika anda mampu menempatkan cinta itu dalam
nampan-nampan suci, dalam tingkatan kesejatiannya, anda akan menikmati dengan
1001 keindahan yang tak terkira. Pesonanya luar biasa. Jika anda tidak mampu
membuat prioritas dan tak bisa menetapkan tingkatan-tingkatannya tidak mengukur
derajat-derajatnya, tidak menetapkan kasta-kastanya maka cinta menjadi 1001
persoalan. Seribu satu lara. Satu darinya bahkan lebih berat ketimbang beratnya
memikul jabal uhud.
Tak
sekedar menanggung derita dan beratnya memikul lara. Tetapi juga sedang
berjalan mamasuki lorong gelap menyesatkan dan menyengsarakan, karena ia
berjalan dalam kegelapan, atau jalan itu sebenarnya nyata namun tak mampu
manatapnya, rabun dan dalam kebutaan. “Dan Allah tidak memberi petunjuk (arah)
kepada orang-orang fasik”.
Apapun segala sesuatu tentang cinta maka Allah
menjadi puncak tujuan dari segalanya. Tak ada lagi tawar-menawar untuk cinta
yang satu ini. Beribadah dan mencintai dengan sepenuh hati, berserah diri,
selalu ingin terus mengingat-Nya.
“(Yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat
Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS.
Ar Ra’d:28)
Tak
ada lagi keraguan di dalam firman-Nya. Inilah kita yang wajib menghamba pada
sang Maha Kuasa, Maha Perkasa lagi Bijaksana.
Bagai
puncak gunung menjulang. Seperti susunan piramida. Kenikmatan sejati ada pada
puncaknya. Berdirinya di puncak cinta ia akan menatap sejuta macam cinta
lainnya, yang ada di bawahnya. Derajat cinta itu merangkum kadar-kadarnya. Ada
kadar yang ala kadarnya dan ada kadar yang telah ditakdirkan dengan kadar tanpa
batas takaran, penakdirannya tak mengenal batas. Tak mengenal luas, kadarnya
seluas langit dan bumi, seluas tujuh tingkatan langit. Itulah kadar tertinggi.
Itulah derajat teragung dan maqom (tempat) paling mulia. Dan inilah
urutan-urutannya:
1.
Derajat pertama (tertinggi), adalah cinta dalam bentuk tatayyum,
cinta dalam bentuk tatayyum ini adalah cinta kepada Sang Khaliq. Ia berada pada
derajat tertinggi. Tidak ada lagi yang diduakan. Cinta tatayyum adalah
kecintaan totalitas. Ruang besar tanpa batas. Tanpa reserve. Cinta penghambaan.
Cinta yang membudakkan. Artinya siap menjadi budak-Nya. Apa kata Dia, yang
dilakukan dengan penuh cinta pula. Sebab Dia telah melimpahkan semuanya dengan
cinta. Laa yajidu fii anfusihim khorojan, wayusallimuu taslimaa..(..dan tidak
ada lagi dalam hatinya perasaan berat (untuk melaksanakan) dan dia berserah
diri dengan penyerahan secara sempurna). Derajat dan bentuk cinta ini hanya
untuk Allah SWT. Ruang ini hanya hak Allah. Sami’na wa atha’naa. Mendengar-Nya
dan menta’ati-Nya.
”Dan
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada ALLAH “.
(Qs. Al Baqarah:165)
2.
Derajat kedua, adalah isy-qu, cinta yang
merupakan hak Rasulullah. Penumbuhannya dalam bentuk ‘isyq, keasyikan dalam
meneladani Baginda Nabi Muhammad SAW. Kekasih kita. Kecintaan inilah yang
mendorong kita untuk bercontoh, ittiba’ atas sunnah-sunnahnya. Asyik, kesediaan
jiwa dan langkah untuk berkorban dan berjuang menegakkan risalah yang
dibawanya. Kesediaan untuk berjuang menegakkan nilai-nilai Islam. Asyik dalam
menelaah kisah perjalannya, karena perjalanannya memang penuh cinta, cinta pada
ummatnya. Yang dengan cintanya ia penuh kearifan berdoa bagi anak-anak Thaif
yang melemparinya. Ia tersenyum sabar atas tingkah Yahudi buta yang mencaci
makinya. Yang dengan cintanya Sang Nabi menaklukkan jiwa-jiwa manusia dalam naungan
Islam. Bedanya dengan cinta tatayyum adalah cinta `isyq ini tidak mendorong
seseorang untuk menghamba kepada Rasulullah SAW. Tetapi meneladaninya dengan
penuh mesra.
…
Jalan
para nabi kita adalah jalan cinta
Kita
adalah anak-anak cinta
Dan
cinta adalah ibu kita (Rumi).
“katakanlah
(wahai Muhammad) kepada mereka: jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah
aku…”
3.
Derajat ketiga, adalah syauq, cinta syauq adalah
kecintaan seorang mukmin dengan mukmin yang lainnya. Antara suami-istri, anak
dengan orang tuanya. Jenis kadarnya adalah kadar dengan komposisi penuh
kerinduan. Mengharmoni. Pengikatnya adalah ikatan iman. Cinta kepada
orang-orang yang beriman mengharuskan kita mencintai semua ‘pekerjaan’ yang
mendekatkan kita pada kecintaan kepada Allah dan RAsul-Nya. Cinta ini
membuahkan mawaddah wa rahmah (kasih sayang) dan menjadi perekat dalam
membangun ummat.
4.
Derajat keempat, adalah: shababah, kadar kecintaan
ini adalah kecintaan dalam bentuk empati. Peruntukannya kepada sesama muslim.
Ruang perhatiannya lebih dalam dari sekedar simpati. Ia lahir dari ikatan
dasarnya adalah keimanan. Karena Islamnya. Perhatiannya (care) lebih mendalam.
Ada keinginan kuat untuk selalu membahagiankannya. Responsibility. Dorongan
jiwa agar ia selalu bertabur sejuta kebaikan dan kebahagiaan. Tidak sekedar
suka, tetapi masuk ke ruang jiwanya. Lebih menjiwa. Apa yang dirasakannya akan
pula kita rasakan. cinta yang ditujukan kepada sesama muslim sehingga
melahirkan ukhuwah Islamiyah. Ada itsar (selalu ingin mendahulukan saudaranya
ketimbang dirinya) dan iffah (menjaga diri dari menghiba), ia terpuaskan
jiwanya menakala ia sanggup keluar dari persoalan dirinya lalu memberi
kemanfaatan untuk kekasihnya.
5.
Derajat kelima, adalah : `ithf (simpati) yang
ditujukan kepada seluruh manusia. Tanpa memandang ras, suku dan keyakinan.
Cinta ini dimunculkan untuk mengilhamkan seseorang menjalin muamalah dengan
keluhuran budi. menyeru dan menuntunnya ke jalan Allah. Kadarnyapun (hanya)
sebatas suka. Suka itu adalah tarikan jiwa kepada kekasihnya. Rasa suka itu
akan mendorong sang pecinta untuk bisa terampil memilih kata, menata jiwa,
menghiasi tatakrama, lalu berlama-lama dalam membangun hubungan. Untuk apa
derajat cinta ini ditumbuhkan? Ya. Untuk membimbingnya, mendakwahinya,
menuntunnya dan (bahkan) menyelamatkannya. Banyak kafilah jiwa-jiwa yang
tersentuh awalmulanya, oleh cinta dalam tingkatan ini. Abu Bakar contohnya.
Hamzah bin Abdul Muthalib misalnya. Atau Umar Tilmisani saat sentuhan awal
bertemu Imam Hasan Albana.
6.
Derajat yang keenam, derajat terendah cinta harta
benda. Kecintaan pada materi. Fitrah ketetapan kecintaan manusia adalah
pada materi. Pada benda. Atau yang menghasilkan materi. Kecintaan pada
kedudukan, popularitas, posisi, jabatan. Islam membenarkan cinta ini. Lalu
membimbingnya dalam dalam kadar yang terukur. Bentuknya `intifaa’
(mendayagunakan/memanfaatkan) nya saja. Pendayagunaan derajat cinta ini tidak
sampai merasuk jiwa, mati-matian mengekalkannya atau membudakkan diri padanya.
Ruangnya sekadar ruang-ruang permukaan. Sebatas kecenderungan saja. Alaqah,
hanya menempel saja, Bak tetasan buliran air di ujung bebatuan goa, menetes,
terlepas jatuh lalu mengumpul kembali. Kadang terlepas kadang pula tergenggam.
Tentang sejauhmana seharusnya cinta seorang muslim terhadap dunia itulah
seorang Salamah bin Dinar berkata, “Jadikan dunia ini dalam genggaman tanganmu
dan jangan jadikan ia dalam lubuk hatimu”. Atau senandung munajat sahabat Abu
Bakar Ash-Shiddiq RA: “Ya Allah, jadikanlah dunia ini dalam genggamanku dan
jangan jadikan dunia ini dalam hatiku”.
Dia-lah
Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui
segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah [2]: 29)
Cinta
kepada Allah ditempatkannya sebagai kecintaan tertinggi. Cinta kepada
Rasulullah SAW dengan meneladaninya, dan mengasyikkan diri dalam ittiba’
(mengikuti jejak) dengan tanpa ada penghambaan/penyamaan dengan Allah. Cinta
pada istri, atau istri-istri dan anak-anak, sanak saudara, handai taulan, karib
kerabat, lalu turun pada derajat dibawahnya; pada semua insan, pada rumah,
mobil, harta-harta, popularitas dan jabatan semuanya hanya akan menjadi lurus
jika ia berada dalam ruang besar yang bernama cinta pada Allah SWT. Perasaan
kita harus ditata dalam struktur cinta seperti itu. Komposisinya harus terukur,
derajatnya mesti terurut dan tertata.
Realita
kehidupan kita memang menunjukkan betapa banyak manusia yang salah dalam
menempatkan derajat-derajat cintanya. Kabur dalam membuat takaran-takaran
ukurannya. Kadar-kadarnya. Ada derajat ketujuh membuainya, menjajahnya. Yaitu
Cinta Syahwati, kecintaan yang mewariskan kemudaratan. cinta yang tidak
termasuk dalam peringkat cinta terendahpun malah dijadikan prioritas utama.
Atau ada pula yang salah dalam menempatkan peringkat cintanya. Jika seperti
itu, cinta bukan lagi sebagai anugerah, tetapi berubah menjadi samudera duka
yang terus mendera. Dan ingat baik-baik kata ini; jika cinta tanpa hirarki,
jangan salahkan cinta.
End
============
TANYA
JAWAB
TJ
– G1 (U Kharis)
T:
Ijin
bertanya, ada orang yang dia sangat cinta sama Allah, merasa dirinya banyak
dosa. Sehingga hampir tiap hari puasa, alasan senin kamis itu nazar dia saat masih
kuliah, jadi merasa itu wajib. Nah sekarang dia merasa masih kurang ibadahnya jadi
puasa daud juga. Pertanyaannya apa boleh seperti itu? padahal dia punya
keluarga, tapi keluarga juga tidak keberatan dengan puasanya. Bolehkan kita
mewajibkan sesuatu yang disunahkan Rasulullah seperti alasan diatas? jazakillah
sebelumnya.
J:
Islam
itu mudah, jangan mempersulit diri dengan ibadah yang Sunnah, apalagi
mewajibkan, kewajiban kita yang lain juga banyak, dan tubuh kita punya hak, suami
dan anak kita juga punya hak. Jangan mewajibkan sesuatu yang tidak wajib.
Cinta
kepada Alloh di buktikan dengan taat kepadaNya, dalam menjalankan segala
perintahNya hidup total bergantung sama Allah dan menjadikan segala aktifitas
kehidupan kita hanya pada Allah, dan ini adalah proses bagaimana
menginternalisasikan tauhid dalam kehidupan, bukan hanya ibadah mahdhoh.
T:
Ustadzah,
ada pertanyaan titipan, apakah benar cinta dan sayang kepada seseorang adalah
anugrah dari Allah? Bagaimana jika kita menyayangi seseorang yang akhlaknya
kurang baik?
J:
Cinta
itu anugerah. Ketika kita mampu meletakkan pada tempatnya, misal cinta pada
seseorang ketika sudah halal. Tetapi cinta dan sayang dengan lawan jenis
sebelum akad maka namanya cinta karena nafsu apalagi menyayangi seseorang yang
akhlaknya kurang baik, sudah pasti karena syahwat/nafsu.
T:
Bagaimana
cara menumbuhkan cinta kepada Allah dan rasulNya kepada anak-anak?
J:
Caranya
dengan Mengenalkan ciptaan Allah berawal dari kita dan sekitar kita, mengenalkan
siapa Robb kita dengan asma' wa sifatnya, dengan bahasa mereka melalui kisah
atau cerita.
Kesimpulan:
Cinta
kepada Allah dan RosulNya akan selalu terasah ketika iman kita juga terasah cinta
yang menghadirkan rasa butuhnya kita kepada Allah dan menjadikan kita ridho dengan
aturan-Nya dan sudah tentu hati kita pun menjadi tenang (Ar Ra'd:28). Maka mari
kita asah dengan mencari ilmu, mengkaji Al-Qur'an an dan hadist memahaminya
sampai pada mengamalkan, sampai kita benar benar merasakan nikmatnya beribadah
padaNya. Letakkan cinta makhluk pada porsinya dan menjadikan cinta Allah dan RasulNya
diatas segala-galanya. Wallahu musta'an.
*****
TJ
– G2 (U Riyanti)
T: Ustadzah,
soal cinta syahwati, bagaimana mengajak adinda-adinda, ananda-ananda yang larut
dengan cinta kepada teman dekatnya, langsung bilang katakan putus alangkah
susahnya. Pemberian pemahamannya seperti apa?
J:
Cinta
yang menghadirkan rasa cinta pada derajat pertama yakni cinta karena Allah. Misal,
karena cinta ke anak. Lihat anak capek tidak dibangunin buat sholat, padahal
umur sudah baligh. Ini cinta yang salah.
Mutusin
orang lagi jatuh cinta itu berat bunda. Kasih saja data dan fakta bahwa
perempuan adalah pihak yang terkorbankan saat pergaulan bebas.
T:
Assalamualaikun ustadzah. Ana minta contoh dan yang bagai mana yang cinta
syahwati yang mewariskan kemudharatan. Dan cinta yang tidak termasuk peringkat
itu cinta yang bagaimana?
J:
Syukur
semua rasa cinta yang tidak menguatkan rasa cinta ke ilaihi adalah cinta karena
syahwat. Cinta kepada lawan jenis hingga berbuat maksiat pada Allah. Cinta pada pasangan, hingga melupakan kewajiban
kita pada Allah. Cinta pada pekerjaan, hingga berani korupsi. Dan yang lainnya.
T:
Bila dasar cinta kita adalah Allah, maka ketika yang kita cintai menyelisihi
cinta itu apa yang sebaiknya dilakukan ustadzah? Kita tinggalkan atau berusaha
perbaiki dulu?
J:
Tidak ada manusia yang maksum. Dan seyogyanya cinta yang murni itu tanpa
syarat. Karena dasar cinta adalah kemampuan untuk memberi. Manusiawi juga saat
kita lelah. Begitu kita menjadi terburu-buru mendapatkan hak kita dari yang
kita cintai. Padahal bisa jadi apa yang kita tanam tidak selalu kita yg
memanennya. Mungkin anak kita, cucu kita. Tidak ada manusia yang maksum. Dan
seyogyanya cinta yang murni itu tanpa syarat. Karena dasar cinta adalah
kemampuan untuk memberi.
Manusiawi
juga saat kita lelah. Begitu kita menjadi terburu buru mendapatkan hak kita
dari yg kita cintai. Padahal bisa jadi apa yang kita tanam tidak selalu kita yg
memanennya. Mungkin anak kita, cucu kita.
Batasan
bersabar masing masing orang berbeda. Ada model kesabaran Khadijah. Ada seperti
Maryam. Ada seperti Fatimah. Ada kesabaran Zainab yang suaminya buruk rupa dan
minta cerai kepada Ayahnya yakni Rasulullah saw. Semua itu benar. Asal semua
pertimbangan baik buruk dicapai dengan melihat banyak sudut pandang.
Saya
punya cerita, ada seorang perempuan yang mempertahankan pernikahannya dengan
suami yang dukun penjudi. Sering bicara kasar dan kotor. Ibu ini tidak memanen
kesabarannya. Namun lima anaknya tumbuh menjadi keluarga yang baik. Dan insya Allah
punya manfaat bagi masyarakatnya.
T:
Bila kebetulan mendapat suami seperti itu ustadzah, apakah bijak bila si ibu
menjadikan kesabaran terhadap suaminya itu sebagai wujud cinta kepada Allah dan
menjadikannya jalan menuju syurga tanpa berupaya menegur atau berupaya agar
suaminya menjadi lebih baik? Atau harus mendoakan agar suaminya menjadi lebih
baik agar kelak sama-sama berada di syurga-Nya?
J:
Betul-betul,
pengabdian seorang istri untuk mengejar surganya Alloh bermacam-macam rintangan,
semoga kita semua bisa melewati dengan terus belajar sabar extra dan Istiqomah
Insya Alloh.
*****
TJ
– G3 (U Tribuwhana)
T: Ijin
bertanya ustadzah, apakah penista agama (muslim padahal) seperti kejadian akhir-akhir
ini, bisa disebut tidak cinta pada Allah ya bunda? Dan bagaimana seharusnya
kita bersikap terhadap mereka-mereka yang menghina agama islam tersebut?
J:
Bisa
jadi mbak, karena jika cinta kepada Allah maka dia tidak akan menyakiti saudara
muslimnya. Biarkan saja mereka, karena itu urusan mereka dengan Allah, kita
fokus berbuat baik saja.
T: Apakah
dengan kita berdiam diri saja tidak ada aksi/pembelaan terhadap agama Allah, kita
jadi dicap tidak cinta sama Allah ya bunda?
J:
Jika
kondisi tidak memungkinkan kita membela dengan tenaga dan harta; misal hanya
bisa berdoa; bukan berarti kita tidak cinta kepada Allah. Karena kadar
kemampuan tiap orang berbeda dalam hal membela agama. Jika niatnya baik
insyaAllah akan tetap dicatat sebagai suatu amal kebaikan. segala sesuatu
tergantung pada niatnya.
T:
Ijin
bertanya ustadzah. Iman saya kadang naik kadang turun, lagi beribadah rajin-rajin,
kalau datangnya malas seperti hanya menjalankan perintah-Nya, apakah berarti
kita sedang jauh banget dengan cintnya Allah?
J:
Sudah
sunnatullah iman naik turun, jika sedang turun berarti kita lagi jauh dari
Allah. Tapi sejauh-jauhnya kita dengan Allah usahakan ibadah wajib tidak
ditinggal.
T: Izin bertanya ustadzah. Apa yang harus kita
lakukan atau ibadah apa yang harus kita perbanyak supaya cinta kita terhadap
dunia tidak berlebihan. Dan supaya cinta kita sama Allah dan rasul semakin
bertambah. Seperti contoh, kalau kehilangan suatu benda kayaknya sedihnya lama
benget. Tapi kalau kehilangan waktu untuk beribadah tidak begitu banget
sedihnya. Mohon penjelasannya ustadzah.
J:
Jika
cinta kita lebih banyak kepada Allah dan Rasul-Nya otomatis cinta dunia akan
berkurang. Jadi tidak ada tips yang jitu untuk meninggalkan cinta dunia. Karena
tidak akan berkumpul cinta kepada sesuatu yang haq dengan cinta kepada sesuatu
yang bathil. Semakin kita mendekat ke yang haq, semakin cinta kepada Allah dan Rasul.
T:
Bagaimana treatment sampai pada cinta pada Allah, ada jalan khusus kah?
J:
Tidak
ada jalan khusus, adanya jalan biasa tapi istiqomah dalam kebenaran. Jika
istiqomah dalam kebenaran maka otomatis cinta kepada Allah akan meningkat karena
orang yang berada dalam kebenaran akan selalu melaksanakan perintah Allah dan
meninggalkan larangan-Nya.
T:
Apa tanda-tandaNya Allah cinta kita, apakah dengan memberi ujian dan cobaan
dalam hidup kita atau dengan dikabulkannya doa permohonan hajat hidup kita
sebagai tanda Allah cinta kita?
J:
Salah
satu tandanya adalah kita dimudahkan beribadah kepadaNya. Karena betapa banyak
orang yang sibuk tidak sempat menikmati ibadah kepada-Nya. Tanda yang lain adalah
berupa ujian dan nikmat. Semua yang terjadi sudah tertulis di lauhul mahfudz.
T:
Ustadzah,
kenapa Allah mencintai umatnya dengan cara mengujinya? Kalau akal manusia kan
kalau dicintai berarti di berinya yang enak-enak yang bagus. Mohon
penjelasannya.
J:
Dalam
surat Al Mulk ayat 2 dan 3 dijelaskan, bahwa Allah ingin tahu siapa yang terbaik
amalnya. Dengan ujian yang dialami akan terlihat siapa yang terbaik amalnya.
Yang terbaik amalnya akan mendapat pahala yang banyak, insyaAllah.
T:
Amal saat sulit dengan amal saat dalam kemudahan, apakah berbeda dimata Allah
ustadzah?
J:
Berbeda
tentunya, akan lebih banyak pahalanya amalan di waktu sulit.
T:
Ijin
bertanya ustadzah, terkadang ketika banyak problem hidup ibadah meningkat baik
quantitas dan kualitasnya, namun ketika 1-1 persoalan hidup itu selesai tak
jarang keimanan dan kualitas serta kuantitas ibadah tadi berkurang. Apakah
cinta Allah berkurang juga?
J:
Bisa
jadi, dan biasanya kebanyakan manusia seperti itu; jika diuji akan dekat Allah;
jika diberi nikmat akan jauh dari Allah. Naudzubillahi min dzaalik.
T:
Bagaimana
tipsnya ustazah agar bisa menjaga kadar ibadah dan kedekatan dengan Allah?
J:
Jika
diberi ujian barsabar dan jika diberi nikmat bersyukur. Gembira secukupnnya
sedih seperlunya, tidak usah terlalu lebay menghadapi kehidupan ini. Tetap
bersama dengan orang-orang yang sholih agar jika kita futur (malas) ada yang
mengingatkan.
*****
TJ
– G4 (U Rini)
T: Ustadzah izin bertanya.Bagaimana kedudukan orang yang sadar kalau belum
menempatkan cinta tertingginya pada Allah. Dan berusaha untuk meraihnya. Akan
tetapi prosesnya lama karena kesandung-sandung. Jadi kadang sadar kadang
tertarik oleh cinta yang lain?
J: Allah menilai usaha hamba-Nya melalui proses, maka jangan putus asa
menjalani proses sampai bisa merasakan nikmatnya cinta tertinggi. Semakin kita
berusaha memprioritaskan cinta berdasarkan urutan yang tepat, semakin Allah
buka jalan untuk menggapainya, in syaa Allah
*****
TJ
– G5 (U Yeni/Bunda Lien)
T:
Assalamu'alaikum ustadzah. Disaat ketika adzan berkumandang dan pada saat itu
anak rewel sehingga membuat kita menunda sambutan kita atas panggilan Allah kepada
kita, sikap yang demikian apakah termasuk kesalahan dalam penempatan cinta kita
kepada Allah SWT?
J:
Bismillah,
ditenangkan dulu anaknya mbak, karena kalau tidak tenang maka tidak khusyuk
ibadah. Diawal sebelum ibadah sholat, maka coba kondisikan dulu ananda, walaupun
masih kecil mereka bisa diajak komunikasi. Ajak komunikasi sampaikan bahwa
bunda mau sholat, yang tenang ya sholih.
T:
Assalamu’alaikum ustadzah, mau tanya andai kita sudah dengar iqomat boleh tidak
kita sholat sunah dulu sebelum sholat wajib soalnya kadang pas iqomat kita
tanggungan kerjaan, maaf bila tidak berkenan dengan ini. Soalnya biasa tepat waktu
sholat jadi bagaimana kalau iqomat tetap boleh sholat sunah tidak?
J:
Kalau
dirumah boleh mbak, karena tidak terikat dengan imam
T:
Izin bertanya Bunda Lien. Untuk Point ke-3 derajat ketiga, cinta syauq. Bila
seorang suami harus memilih salah satu, lebih utama cinta kepada Ibunya atau
kepada istri dan keluarganya? Jika diposisi suami maka tingkatan cintanya
adalah, Allah – Rasul – Ibunya – Istrinya - Anak-anaknya. Karena sejatinya anak
lelaki milik ibunya. Jadi para istri harus rela, tidak cemburuan ya? karena
memang begitulah Allah mengaturnya. Nantipun kelak bagi yang memiliki anak
lelaki akan bersikap demikian?
J:
Iya
bunda, anak laki-laki adalah milik ibunya, tapi kebanyakan zaman sekarang anak
laki-laki milik istrinya. Kebayang kan kalau anak lelaki kita lebih cinta lebih
care ke istrinya ketimbang kita ibunya? Hayo mau bagaimana nih?! Karena bisa jadi
apa yang terjadi karena perbuatan kita juga. Allahu'alam. So bijaklah kita
ketika suami lebih mencintai ibunya. Selama suami tidak melalaikn kewajibannya,
maka izinkan ia melayani ibunya hingga akhir hayatnya, karena itupun menjadi
pahala bagi istri.
*****
TJ
– G6 (U Enung)
T:
Assalamu'alaykum
ustadzah. Bagaimana kita menempatkan cinta tertinggi yaitu pada Allah, diatas
cinta pada keluarga, yang terkadang waktu menghadapNya (sholat) kita sedang
berurusan dengan cinta keluarga (urusan rumahtangga)?
J:
Adek
ummu jihan yang dirahmati Allah. Cinta kepada keluarga bisa ditempatkan dalam
rangka cinta Allah, ketika sholat ingat keluarga itu wajar, jadikan sholat
sebagai syukur atas karunia keluarga yang Allah berikan, keluarga adalah amanah
dari Allah, kepada Allah pula kita meminta perlindungan, agar keluarga kita
senantiasa terjaga dari marabahaya. Bbisa seperti itu the, jadikan semua
disekitar kita adalah ibadah yang kita lakukan untuk mendapat cinta Allah.
T:
Assalamualaikum ustadzah. Bagaimana menghadirkan cinta tertinggi itu dalam
kehidupan keseharian kita, apakah melalui derajat-derajat itu baru kita dapat
mencapai cinta yang tertinggi tersebut?
J:
Wa'alaikum
salam warahmatullahi wabarakatuh. Mbak Mala Hasan yang dirahmati Allah. Cinta
itu harus terus dilatih, caranya dengan terus berusaha mengenal Allah lewat
Al-Qur'an atau ciptaan-ciptaan-Nya. Mari mulai berlatih, untuk selalu merasa
dekat dengan Allah, karena sesungguhnya Allah selalu dekat dengan tiba, lebih
memaknai setiap bacaan tilawah, setiap bacaan dan gerakan sholat, itu bisa jadi
salah satu cara untuk mengenal dan mencintai Allah. Kita amalkan bersama bahwa
sholat, ibadah, hidup dan mati kita hanya untuk Allah.
T:
MasyaAllah materinya luar biasa. Komplit. Ustadzah ijin bertanya. Berarti cinta
itu boleh kepada sesama ya? Tidak harus kepada yang keyakinannya/agamanya sama.
Nah apakah boleh kita menerima makanan dari yang berkeyakinan beda misal hindu
ketika mereka merayakan hari rayanya nyepi? Padahal kita tau bahwa biasanya
orang hindu identik dengan sajen sesajen. Dan ini berlawanan dengan ajaran
Islam yaitu syirik. Mohon pencerahannya ustadzah. Jazakillah khairan katsiro.
J:
Mba
Ratnani yang dirahmati Allah. Muamalah dengan sesama itu boleh, berbagi makanan
dan minuman juga boleh, hanya pastikan makanan dan minuman yang diterima adalah
makanan dan minuman yang halal dan thoyyib. Kalaupun ternyata ada makanan
mereka yang tak bisa kita makan/terima, selama bisa kita jelaskan baik-baik
karena ini aturan agama kita, insya Allah mereka akan faham. Disitulah letak
toleransi yang sesungguhnya, saling menghargai keyakinan masing-masing.
Wallahu'alam
T:
Assalamualaikum ijin bertanya ustadzah. Afwan, Allah itu kan Maha penyemburu
ya, ustadzah. Nah sebaiknya sejauh (batasannya) manakah ketika kita mencintai
suami dan anak-anak. Agar cinta itu berkah dan diridhoi Allah? Syukron.
J:
wa'alaikum
salam warahmatullah wabarakatuh mba Aysar yang dirahmati Allah. Semua cinta
yang kita miliki harus dalam koridor kecintaan pada Allah. Cinta pada suami dan
anak-anak pun demikian, jadikan cinta kita pada mereka membuat kita dan mereka
semakin dekat dengan Allah. Jangan salah memaknai cinta, terkadang demi suami atau
demi anak, kita melakukan sesuatu yang Allah tidak ridho. Cinta yang hakiki
adalah cinta yang dilakukan dengan landasan ta'at pada Allah. Wallahu'alam
T:
Ijin
bertanya lagi, ustadzah. Mohon diralat jika kurang atau salah. Afwan fakir ilmu
ustadzah. Apakah pendasaran ketika kita menempatkan cinta itu harus atas dasar
karena Allah? Misal: cinta kepada. Rasul karena Allah, cinta kepada suami dan
anak karena Allah, dan sebagainya.
J:
Betul,
semua karena Allah.
T:
Ustadzah, afwan, jika kita berusaha mencintai Allah dan Nabi Muhammad namun
karena masih terbatasnya ilmu maka masih sedikit untuk mengamalkan Al Qur'an
dan sunnah nabi, apakah termasuk manusia dengan kadar atau tingkatan yang
rendah?
J:
Allah
tak pernah melihat hasil. Yang Allah lihat sejauh mana ikhtiar dan kesungguhan
kita, untuk terus memahami dan mengamalkan Al-Qur'an, mengenal dan mencintai
Allah dan RasulNya. Jadikan kesempatan usia yang Allah berikan sebagai sarana
untuk terus berjalan meraih cintaNya.
*****
TJ
– Nanda (U Malik)
T: Ijin
bertanya bunda, sekarang lagi sering islam dizholimi dimana-mana baik sama orang
islam sendiri atau non muslim, jadi marah sama penista-nista agama itu bunda. Apa
dengan kita ikut aksi-aksi bela agama sudah dikatakan cinta pada Allah atau
apakah yang tidak ikut aksi tidak cinta ya bunda?
J: Berbuat
sesuai sekemampuanmu. "Jika kamu melihat kemungkaran ubahlah dengan
tanganmu jika tak mampu ubahlah dengan lisanmu dan jika tetap tak mampu ubahlah
dengan hatimu, itulah selemah-lemahnya iman (al hadits).
T: Ijin
bertanya bunda, bagaimana caranya agar kita bisa menumbuhkan cinta dan ingat
selalu kepada Allah dan Rasulullah?
J:
Sayang ku bermohonlah kepada-Nya agar kita mampu mghadirkan cinta, pelajari
shirohnya keutamannya.
T: Satu
lagi ya bunda. Sama kah istilah taqlid dengan cinta buta? Syukron jawabannya
bunda
J:
Taqlid adalah mengikuti tanpa berilmu dan tidak mau mencari ilmunya, sedangkan
cinta buta tidak peduli dengan sekitarnya semua yang dilihat, didengar dan
dilakukan untuk yang dicintai perkara boleh tak boleh urusan nanti, tak ada
celah dan salah semua dianggap benar. Wallahu alam
•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Kita tutup dengan
membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin
Doa Kafaratul Majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك
أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya
Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah
melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuh
================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage: Kajian On line-Hamba Allah
FB: Kajian On Line - Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment