Rekap Kajian Link
Online HA Ummi G3 & G4
Hari/Tgl: Rabu, 5
September 2018
Materi: Ma'rifatul
Rasul
Narasumber: Ustadzah
Tribuwhana
Waktu: 8.00-10.00
WIB
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
السلام عليكم ور حمة الله وبر كا ته
بسم الله الر حمن الر حيم
Mengenal Rasulullah
SAW (Ma'rifatur Rasul)
I. Pendahuluan
Mengenal rasul merupakan sebuah bahasa yang sangat penting dalam
pembinaan keagamaan seorang muslim. Dalam kalimat syahadat kesaksiannya yang
pertama yang dilakukan seorang adalah keyakinan bahwa Allah itu Esa dan yang
kedua adalah keimanan terhadap kerasulan Muhammad SAW. Oleh karena itu
pengenalan terhadap Rasulullah SAW sangat menentukan tingkat pemahaman,
penghayatan dan pengamalan seseorang terhadap ikrar keislaman mereka, karena
dari sinilah terbentuklah kepribadian muslim.
Mengenal rasul menjadi sebuah keperluan yang asasi bagi kaum
muslimin masa kini karena mereka tidak hidup bersama dengan nabi, mereka harus
beriman kepada kerasulan Muhammad SAW dengan keimanan yang sebenar-benarnya.
Inilah sebuah upaya untuk menghayati makna syahadatain.
Ibnu Qoyyim menerangkan bahwa kebutuhan manusia yang utama adalah
mengenal para rasul dan ajaran yang dibawanya, percaya akan berita dan yang
disampaikannya serta taat pada yang diperintahkan, sebab tidak ada jalan menuju
kebahagiaan dan keberhasilan di dunia dan akhirat kecuali dengan tuntunan para
rosul. Tidak ada pula petunjuk untuk mengetahui yang baik dan buruk maupun
keutamaan yang lain kecuali mengikuti rasul untuk mendapatkan ridha Allah.
II. Pengertian
Rasul, Nabi serta Risalah
Rasul adalah lelaki pilihan dan yang diutus oleh Allah dengan
risalah kepada manusia. Rasul merupakan yang terbaik diantara manusia lainnya
sehingga apa yang dibawa, dikatakan dan dilakukan adalah sesutu yang terpilih
dan mulia dibandingkan dengan manusia lain.
Nabi adalah lelaki pilihan yang diutus oleh Allah mendapatkan wahyu
berupa syariat namun tidak harus disampaikan. Nabi diutus untuk mengukuhkan
syariat sebelumya.
Risalah adalah sesuatu yang diwahyukan Allah SWT berupa prinsip
hidup, moral, ibadah, aqidah untuk mengatur kehidupan manusia agar terwujud
kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Ciri-ciri Rasul:
a. Laki-laki
yang berasal dari manusia, QS. Al Kahfi (18) : 110
b. Ma’sum
terjaga dari kesalahan, QS. An Najm (53) : 2-5
c. Menjadi suri
teladan, QS. Al Ahzab (33) : 21
d. Memiliki
akhlaq yang mulia; shidiq, tabligh, amanah dan fathonah. QS. Al Qalam (18):4
e. Memiliki
mu’jizat, QS. Al Qomar (54) : 1
f. Tersampaikan
berita tentang kedatangannya, QS. Ash Shaff (61) : 6
g. Adanya
berita kenabian, QS. Al Furqan (25) : 30
h. Hasil
perbuatan seperti kader (sahabat), lingkungan dan tatanan kehidupan dan
peradaban Islami, QS. Al Fath (48) : 29
III. Tugas Para
Rasul
A. Umum
1. Menyampaikan
risalah, QS Al Maidah (5) : 67
2. Memperkenalkan
Al Khalik, QS. Ali Imran (3) : 190
3. Menjelaskan
cara beribadah,
Hadits : “Shalatlah
kamu seperti halnya aku shalat”. (HR. Bukhori, Muslim)
4. Menjelaskan
pedoman hidup,
Hadits : “Rasulullah
SAW bersabda: “ Barangsiapa yang dikehendaki Allah suatu kebaikan untuknya, Dia
akan pandaikan dalam hal agama”. (HR. Bukhari, Muslim)
5. Mendidik
Berdasarkan Sirah
Nabawiyah, menunjukkan bagaimana para sahabat belajar di rumah Arqom bin Abi
Arqom.
B. Khusus
1. Menegakkan
din Allah, QS. Asy Syuura’ (42) : 13-15
2. Menegakkan
khilafah, QS. An Nuur (24) : 55
3. Membina
kader, QS. Ali Imran (3) : 104
4. Membuat
konsep panduan da’wah, QS. Ali Imran (3) : 159
5. Melaksanakan
panduan da’wah, QS. Al Baqarah (2) : 208
Referensi :
1. Ma’rifatul Rasul,
DR. Irwan Prayitno
2. Sirah Nabawiyah,
DR. Ramadhan al Buthi
3. Ar Rasul Muhammad
saw, Said Hawwa
4. Apakah anda
berkepribadian muslim, DR. Ali Hashimi
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
TANYA JAWAB
T: Ustadzah, apakah
nabi Muhammad pernah marah?
J: Tidak pernah, hanya
saja seperti diceritakan didalam siroh nabawiyah Nabi SAW tidak pernah mau
memandang wajah Habsy, orang kafir yang telah masuk Islam, karena semasa
jahiliyah Habsy pernah merobek dan memakan jantung Hamzah (Paman Rasulullah
SAW), meski telah memaafkan tapi Rasulullah tidak pernah mau memandang wajah
Habsy.
T: Anne ijin bertanya Ustadzah,
salah satu ciri rasul adanya berita kenabian, mohon pencerahan bagaimana
disampaikan berita itu?
J: Beberapa Bukti
Kerasulan Muhammad SAW
Apa
saja ayat (tanda), bayyinat (bukti), atau mukjizat yang
menjadi pendukung kerasulan Muhammad SAW? Bukti-bukti kenabian Nabi Muhammad
SAW cukup banyak, dua di antaranya adalah bisyarat dan mukjizat.
Penjelasan rincinya adalah sebagai berikut:
1. Bisyarat
(Pengabaran dari Kitab-Kitab sebelumnya) – البشارات
Kitab-kitab Allah
sebelum Al-Qur’an telah memberi kabar gembira tentang kenabian Muhammad SAW
sebelum beliau dilahirkan, bahkan kitab-kitab tersebut telah mengabarkan
sifat-sifat pribadi Nabi Muhammad, ciri-ciri negeri tempat kemunculannya,
keadaan kaumnya, dan kapan (waktu) beliau diutus. Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ
الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم
“(yaitu) orang-orang
yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di
dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (Al-A’raf:
157)
Para Ahbar (ulama
Yahudi) dan Qissis (pendeta Nasrani) terdahulu telah memberikan berita gembira
dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW sebelum beliau diutus. Allah SWT berfirman
membujuk dan mengingatkan orang-orang Arab musyrik yang telah mendengar berita
ini dari ulama Bani Israil agar mereka beriman:
وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ ﴿١٩٦﴾ أَوَلَمْ
يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ ﴿١٩٧﴾
“Dan Sesungguhnya Al
Quran itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang yang dahulu. Dan
apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil
mengetahuinya?” (Asy-Syu’ara: 196)
Ketika Nabi Muhammad
SAW benar-benar diutus oleh Allah SWT, sebagian mereka dan ahli kitab pun
beriman kepada beliau dan yang lainnya tetap kafir. Dan alasan terbesar
keimanan mereka adalah kesesuaian bisyarat yang mereka dapatkan dalam Taurat
Dan Injil dengan pribadi Rasulullah SAW.
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِن قَبْلِهِ
هُم بِهِ يُؤْمِنُونَ ﴿٥٢﴾
“Orang-orang yang
telah Kami datangkan kepada mereka Al-Kitab sebelum Al-Qur’an, mereka beriman
(pula) dengan Al-Qur’an itu.” (Al-Qashash: 52)
2. Mukjizat – المعجزات
Tidak ada seorang
nabi yang diutus oleh Allah melainkan diperkuat dengan mukjizat. Mukjizat itu
ada yang berupa fisik (hissiah) dan ada yang berbentuk ma’nawiyah.
a. Mukjizat hissiyah
– حسية
Contoh mukjizat
hissiah yang diberikan kepada Nabi Muhammad di antaranya; menangisnya kayu
kurma (mimbar) Rasulullah ketika Rasul pindah ke mimbarnya yang baru,
berdzikirnya batu-batu kerikil yang ada di genggaman Rasul, keluarnya air
dari sela-sela jemari beliau sehingga semuanya dapat meminumnya, memperbanyak
makanan yang sedikit sehingga cukup untuk banyak orang, menyembuhkan dengan
izin-Nya orang-orang yang beliau doakan, berbicara dengan pohon dan kesaksian
pohon itu atas kerasulannya, dan momen-momen lain yang menakjubkan dll.
b. Mukjizat
ma’nawiyah (mukjizat al-Qur’an) – معنوية(القران)
Allah SWT telah
mengutus Muhammad SAW dengan membawa sebuah Kitab dari-Nya yang mengandung
mukjizat, ayat-ayat, dan bukti-bukti yang nyata kebenaran risalah ilahiyyahnya.
Mukjizat Qur’aniyah ini di antaranya sebagai berikut:
i. mukjizat dalam
kefasihan lafalnya, uslub (cara penyampaian)nya,
dan tarkib (susunan kata dan kalimat)nya. Al-Qur’an telah menantang
semua manusia dan jin untuk membuat semisalnya. Firman Allah SWT:
قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ
أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ
لِبَعْضٍ ظَهِيرًا ﴿٨٨﴾
Katakanlah:
“Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran
ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun
sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (Al-Isra: 88)
ii. Al-Qur’an di
antaranya berisi akhbar ghaibiyyah (berita-berita ghaib) tentang masa
lalu yang jauh, juga tentang berita masa depan yang kemudian telah terjadi dan
masih terus akan terjadi di waktu mendatang. Allah SWT berfirman:
تِلْكَ مِنْ أَنبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ
ۖ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَا أَنتَ وَلَا قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ
الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ ﴿٤٩﴾
“Itu adalah di
antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu
(Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum
ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang
yang bertaqwa.” (Hud: 49)
iii. mukjizat dalam
mempengaruhi jiwa manusia. Jika Anda membacanya Anda akan merasakan pengaruh
besar itu dalam jiwa Anda dan ada perasaan bahwa yang sedang berbicara kepada
Anda adalah Allah SWT. Dia berfirman tentang karakter Al-Qur’an ini:
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا
مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ
جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي
بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴿٢٣﴾
“Allah telah
menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa
yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada
baginya seorang pemimpinpun.” (Az-Zumar: 23)
Ta’tsir (pengaruh)
Al-Qur’an terhadap jiwa ini akan semakin kuat dengan
peningkatan tadabbur dan tafakkur terhadap ayat-ayatnya.
iv. Al-Qur’an adalah
mukjizat karena kandungan petunjuk dan hukum-hukumnya yang terbukti telah
berhasil mencetak umat terbaik bagi manusia dan kemanusiaan. Firman Allah SWT:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ
بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ
“Kamu adalah umat
yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran:
110)
Adalah sebuah hal
yang mustahil bila seorang ummiy dari padang pasir yang tidak dapat membaca dan
menulis dapat mendatangkan sendiri sistem hidup, hukum-hukum dan petunjuk yang
mampu memproduk generasi terbaik sepanjang zaman, lalu mereka menjadi hakim dan
pemimpin dunia yang terdiri dari berbagai bangsa dengan berbagai budaya dan
peradabannya masing-masing.
v. Al-Qur’an adalah
mukjizat karena kandungan keilmuannya dan pengungkapannya atau isyaratnya
terhadap hakikat ilmiyyah alam semesta. Seiring kemajuan zaman semakin
terungkap kebenaran dan keakuratan informasi Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ
حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ
عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi
dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu
adalah benar.” (Fushshilat: 53)
vi. Al-Qur’an adalah
mukjizat karena telah mendatangkan berbagai hal yang agung lewat lisan seorang
ummiy yang tidak dapat membaca dan menulis. Allah SWT menyifati Rasulullah SAW
di depan musuh-musuhnya maupun para pengikutnya:
وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا
تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ ﴿٤٨﴾
“Dan kamu tidak
pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah)
menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan
menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” (Al-Ankabut:
48)
Dukungan Allah SWT
dalam Bentuk lain Kepada Rasulullah SAW
Awalnya, hanya
sedikit orang-orang yang beriman kepada Muhammad SAW dan mereka disakiti bahkan
diperangi karena keimanan mereka oleh orang-orang musyrik. Kemudian Allah SWT
mendukung beliau dengan pertolongan dalam menghadapi musuh-musuh dakwah dengan
mengirimkan malaikat, rasa kantuk yang menimbulkan kedamaian, mengirimkan
angin, dan bantuan lain yang disaksikan sendiri oleh orang-orang kafir. Mereka
yang objektif berkata: “Tidak ada yang melakukan ini kecuali Allah SWT.”
Ketika Rasulullah
SAW menampakkan mukjizatnya banyak orang-orang yang tadinya kafir dan
memusuhinya berubah menjadi beriman dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka
demi meninggikan kalimat Allah SWT.
وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ
ۖ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلَّا الْفَاسِقُونَ ﴿٩٩﴾
“Dan sesungguhnya
Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar
kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.” (Al-Baqarah: 99)
T: Ijin bertanya
ustadzah. Seringkali kita membaca status orang banyak mengenai malam jumat yang
selalu dikatakan sebagai malam sunah. Bagaimana menyikapinya mereka ya
ustadzah?
J: Sunnah di malam
jum'at adalah baca surat al kahfi dan memperbanyak sholawat atas nabi, selain
itu haditsnya dhoif, tapi amalan baik apapun dikerjakan tiap hari insyaAllah
berpahala, tidak harus menunggu malam jumat. Kita sikapi biasa saja.
T: Ustadzah, untuk anak
usia 3 tahun siroh yang dibacakan untuk diperkenalkan dari mana hingga mana,
dan untuk 7 tahun juga bagaimana?
J: Bukan promo, tapi
buku terbitan Sygma Daya Insani tentang siroh bagus, selain full colour
bahasanya juga sesuai dengan pemahaman anak-anak. Judul bukunya Muhammad
Teladanku.
T: Izin bertanya
ustadzah. Bagaimana sikap kita terhadap penghina Rasulullah ini ustadzah? Ada yang
bilang halal darah orang tersebut. Penghina ini pun kalau didatangi ujung-ujungnya
minta maaf. Kalau ada yang menghakimi dia, malah yang dihakimi yang dihukum. Syukron
ustadzah.
J: Harusnya dihukum
sesuai hukum Islam, tapi karena negara kita bukan berlandaskan syariat Islam
maka dipakai hukum pidana atas dasar penghinaan. Jaman sekarang akan banyak
orang-orang seperti ini, tidak usah ikut panic. Yang benar adl kita tetap
menjalankan syariat Islam dengan baik dan istiqomah.
•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Kita tutup dengan
membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin
Doa Kafaratul Majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك
أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya
Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah
melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuh
================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage: Kajian On line-Hamba Allah
FB: Kajian On Line - Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official
KAJIAN ONLINE HAMBA ALLAH UMMI G4
Hari/Tgl: Selasa, 13 Maret 2018
Narsum: Ustadz Kholid
Tema: Bahagia dengan mengikuti nabi
Waktu: Bada Dzuhur
Admin: Sugi, Delia, Aini
Notulen: Laela
Editor: sapta
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Bahagia Dengan Ikuti Nabi shalallahu
‘alaihi wa sallam.
Allah mengutus para Rasul membawa 3 pokok
ajaran:
1.
Berdakwah
kepada Allah yang berisi penetapan sifat dan tauhid serta takdir
2.
Membimbing dan
mengenalkan jalan yang mengantar kepada keridhaan Allah yang berisikan
perincian syariat berupa perintah dan larangan serta yang diperbolehkan dengan
menjelaskan semua yang Allah cintai dan tidak sukai.
3.
Menjelaskan
keadaan hamba di akheratnya berisikan iman kepada hari akhir.
Seluruh penciptaan dan perintah Allah
berada diatas tiga hal ini, bahkan kebahagian dan keberuntungan tergantung
kepada tiga pokok ini. Tidak ada cara mengetahui hal-hal ini kecuali dari jalur
para Rasul, karena akal tidak bisa mengetahui rinciannya dan hakekatnya,
walaupun kadang mengetahui secara garis besar saja. (lihat majmu’ al-Fatawa
19/96).
Oleh karena itu Allah mewajibkan taat
kepada Rasulullah dalam banyak ayat al-Qur`an sehingga imam Ahmad bin Hambal
berkata: Aku membaca al-Qur`an lalu aku dapati taat kepada Rasulullah dalam
33 ayat. (lihat ah-Shaarimul Maslul hlm 56).
al-Aajurriy menyatakan: Diwajibkan atas
hamba Allah mentari Rasulullah dalam lebih dari tiga puluh ayat dari kitabnya.
(asy-Syariat hlm 49).
Demikian banyaknya perintah untuk mentari
beliau dalam al-Qur`an dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. ayat-ayat yang berisi perintah Mentaati
Allah Dan Rasulnya, sebagaimana dalam
firman Nya :
وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang
beriman” ( Qs Al Anfal/8:1 )
Dalam menafsirkan ayat ini, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di
rahimahullah berkata: “Sesungguhnya keimanan itu mengajak kepada ketaatan
kepada Allah dan RasulNya, sebagaimana jika orang yang tidak mentaati Allah dan
RasulNya, maka dia bukanlah seorang mukmin”
Mentaati Allah, yaitu dengan mentaati Al Qur’an, dan mentaati RasulNya
ialah dengan mentaati Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
b. ayat-ayat yang berisi penjelasan sikap
berpaling Dengan Tidak Mentaati Allah Dan Rasul merupakan Sifat Orang-Orang
Kafir.
قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَالرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا
فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
“Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan RasulNya; Jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (Qs Alimran/3:32)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ini menunjukkan, bahwa
menyelisihi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam thariqah (jalan,
ajaran) merupakan kekafiran. Allah tidak menyukai orang-orang yang bersifat
dengannya, walaupun dia mengaku dan menyangka pada dirinya bahwa dia mencintai
Allah dan mendekatkan diri kepadaNya, sampai dia mengikuti Rasul, Nabi yang
ummi, penutup seluruh rasul, dan utusan Allah kepada jin dan manusia”.
c. ayat-ayat yang memerintahkan untuk
mengikuti dan mencontoh beliau serta melaksanakan syariatnya, seperti firman
Allah :
“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah
aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS. alimron/3:31)
Allah menjadikan sikap mengikuti dan mencontoh Rasulullah sebagai jalan
meraih cinta dan sarana mewujudkan keridhaan dan ampunan. Ittiba’ adalah tanda
dan bukti kecintaan kepada Allah.
d. ayat yang memerintahkan untuk
mengembalikan segala perkara yang diperselisihkan kepada Allah dan RasulNya,
seperti firman Allah :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى
اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ
إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْر وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya),
dan ulil amri (ulama dam umara’) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan
pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan
Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya”. (Qs AnNisaa/4:59 )
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan
untuk taat kepadaNya dan taat kepada RasulNya. Allah mengulangi kata kerja
(yakni: ta’atilah!) sebagai pemberitahuan bahwa mentaati RasulNya wajib secara
mutlak, dengan tanpa meninjau (mengukur) apa yang beliau perintahkan dengan Al
Qur’an. Bahkan jika Beliau memerintahkan, maka wajib ditaati secara mutlak,
baik yang beliau perintahkan itu terdapat dalam Al Qur’an ataupun tidak. Karena
sesungguhnya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi Al Qur’an dan yang
semisalnya”.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata:
“Kemudian Allah memerintahkan orang-orang beriman agar mengembalikan
permasalahan yang mereka perselisihkan kepada Allah dan RasulNya, jika mereka
benar-benar orang-orang yang beriman. Dan Allah memberitahu mereka, bahwa hal
itu lebih utama bagi mereka di dunia ini, dan lebih baik akibatnya di akhirnya.
Ini mengandung beberapa perkara.
–
Orang-orang
yang beriman terkadang berselisih pada sebagian hukum-hukum. Perselisihan pada
sebagian hukum tidak mengakibatkan mereka keluar dari keimanan (tidak kufur),
jika mereka mengembalikan masalah yang mereka perselisihkan kepada Allah dan
RasulNya, sebagaimana yang Allah syaratkan. Dan tidak disanksikan lagi, bahwa
satu ketetapan hukum yang diterikat dengan satu syarat, maka ketetapan itu akan
hilang jika syaratnya tidak ada.
–
Firman Allah
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu”, (maksudnya) mencakup
seluruh masalah yang diperselisihkan oleh orang-orang yang beriman, berupa
masalah agama, baik kecil atau yang besar, yang terang dan yang samar.
–
Manusia telah
sepakat bahwa mengembalikan kepada Allah, maksudnya mengembalikan kepada
kitabNya. (Dan) mengembalikan kepada RasulNya adalah mengembalikan kepada diri
Beliau di saat hidupnya dan kepada Sunnahnya setelah wafatnya.
–
Allah
menjadikan “mengembalikan apa yang mereka perselisihkan kepada kepada Allah dan
RasulNya” termasuk tuntutan dan konsekwensi iman. Sehingga jika itu tidak ada,
imanpun hilang.
e. ayat yang menjelaskan bahwa hidayah
(Petunjuk) hanyalah dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa
Sallam, seperti dalam firman Allah :
قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ
مَاحُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّاحُمِّلْتُمْ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَاعَلَى الرَّسُولِ
إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ
“Katakanlah: “Ta’atlah kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul; dan jika
kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul hanyalah apa yang dibebankan
kepadanya, kewajiban kamu adalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu
ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tiada lain kewajiban Rasul
hanya menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (Qs An Nuur/24:54)
Dalam menafsirkan ayat “Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu
mendapat petunjuk”,
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata : “Menuju
jalan yang lurus dalam perkataan dan perbuatan. Sehingga tidak ada jalan bagimu
menuju petunjuk, kecuali dengan mentaatinya. Tanpa itu, tidak mungkin, bahkan
mustahil”.
f. ayat berisi ancaman keras terhadap orang
yang menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, seperti
dalam firman Allah:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ
أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut
akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. ( qs An Nuur/24:63 )
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “FirmanNya ‘Maka hendaklah
orang-orang yang menyalahi perintahnya’, (perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa
sallam), yaitu jalan, ajaran, Sunnah, dan syari’at Beliau. Sehingga seluruh
perkataan dan perbuatan ditimbang dengan perkataan dan perbuatan Beliau. Yang
sesuai dengan itu diterima, dan yang menyelisihinya dikembalikan kepada orang
yang mengatakannya atau orang yang melakukannya, siapa pun orang itu”.
Hendaklah orang yang menyelisihi syari’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam, secara lahir atau batin, takut (akan ditimpa fitnah, cobaan,
musibah), yakni di dalam hati mereka, yang berupa kekufuran atau kemunafikan
atau bid’ah. (Atau ditimpa azab yang pedih), yakni di dunia dengan pembunuhan,
had (hukuman), penahanan atau semacamnya”.
g. ayat berisi perintah mengikuti wahyu yang
diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, yang
mencakup Al Qur’an dan As Sunnah, seperti firman Allah :
اتَّبِعُوا مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ
وَلاَ تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu
mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran
(dari padanya)”. (Qs Al A’raf/7:3)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala
memerintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan dariNya secara khusus. Dia
memberitahukan, barangsiapa mengikuti selain-Nya, maka dia telah mengikuti
pemimpin-pemimpin selain-Nya”.
Allah menurunan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam Al
Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunnah), seperti dijelaskan dalam
firmannya:
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ وَمَآأَنزَلَ عَلَيْكُم مِّنَ الْكِتَابِ
وَالْحِكْمَةِ
“Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah”. (Qs Al Baqarah/2:231 )
وَأَنزَلَ اللهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dan Allah telah menurunkan Al Kitab dan Al Hikmah kepadamu”. ( Qs An Nisaa’/4:113 )
Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata: “Allah menyebutkan Al Kitab,
yaitu Al Qur’an. Dan menyebutkan Al Hikmah. Aku telah mendengar orang yang aku
ridhai, yaitu orang yang ahli ilmu Al Qur’an mengatakan, ‘Al Hikmah adalah
Sunnah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
h. ayat yang mewajibkan untuk menyerah pada
hukum Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam, seperti firman Allah :
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ
فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ
وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka
tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan,
dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. ( QS An
Nisaa/4:65 )
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala
bersumpah dengan diriNya yang mulia, yang suci, bahwa seseorang tidak beriman
sehingga menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hakim di dalam
segala perkara. Apa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam putuskan adalah
haq, wajib dipatuhi secara lahir dan batin. Oleh karena itu Allah berfirman
‘kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang
kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya’. Yaitu jika mereka telah
menjadikanmu sebagai hakim, mereka mentaatimu di dalam batin mereka, kemudian
tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan,
dan mereka tunduk kepadanya lahir batin, dan menerimanya dengan sepenuhnya,
tanpa menolak dan membantah”. (Tafsir Ibnu Katsir 1/520).
i. ayat berisi kewajiban tunduk secara
totalitas terhadap keputusan Allah dan RasulNya, seperti dalam firman Allah :
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ أَمْرًا
أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةَ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ
ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi
perempuan yang mu’min, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu
ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan
barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat,
sesat yang nyata”. ( QS Al Ahzab/33 : 36 )
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Ayat ini umum dalam segala
perkara. Yaitu, jika Allah dan RasulNya telah menetapkan sesuatu, maka tidak
ada hak bagi siapapun menyelisihinya, dan tidak ada pilihan (yang lain) bagi
siapapun, tidak juga ada pendapat dan perkataan”.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya tidak ada perbedaan antara keputusan Allah dengan
keputusan RasulNya. Orang mukmin tidak ada pilihan untuk menyelisihi keduanya.
Dan maksiat kepada Rasul (sama artinya) seperti maksiat kepada Allah. Yang
demikian itu merupakan kesesatan yang nyata”.
j. ayat yang menjelaskan Sunnah Nabi adalah
penjelas Al Qur’an sehingga tidak bisa dipisahkan, seperti firman Allah :
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ
لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan Adz Dzikr (peringatan, Al Qur’an) kepadamu, agar kamu
menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya
mereka memikirkan”. (QS An Nahl/16 : 44 )
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Firman Allah ‘Dan Kami turunkan
Adz Dzikr (peringatan) kepadamu -yakni Al Qur’an- agar kamu menerangkan kepada
umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka -yaitu dari Rabb mereka-‘.
Karena pengetahuanmu terhadap makna yang telah Allah turunkan, dan karena
keinginanmu terhadapnya dan engkau mengikutinya, dan karena pengetahuan Kami
bahwa engkau adalah sebaik-baik makhluk dan penghulu anak Adam, sehingga engkau
memerinci apa yang (Al Qur’an) menyebutkan secara global, dan engkau
menjelaskan kepada mereka apa yang susah difahami (supaya mereka memikirkan),
yaitu memperhatikan diri mereka, kemudian mendapatkan petunjuk, lalu meraih
keberuntungan dengan keselamatan di dua negeri (dunia dan akhirat)”.
k. ayat yang berisi larangan mendahului Allah
dan RasulNya, seperti firman Allah :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا
بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيم
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan
RasulNya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui”. ( Qs Al Hujurat/49 : 1 )
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata : “Yaitu janganlah engkau berkata
sebelum dia (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata. Janganlah engkau
memerintah sebelum dia (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) memerintah.
Janganlah engkau berfatwa sebelum dia (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)
berfatwa. Janganlah engkau memutuskan perkara sebelum dia (Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam) yang memutuskan perkara padanya dan melangsungkan
keputusannya”.
===========
TANYA JAWAB
Tanya: afwan ustadz, jika kita ingin mengikuti ajaran Rasulullah kita harus tahu
sirah nabawiyah dan kehidupan sahabat-sahabat nabi juga kah ustadz?
Jawab: Iya
Tanya: apakah ada buku yang menjelaskan sejarah ditetapkannya hadist untuk
menghindarkan diri dari hadist yang dhoif?
Jawab: Ada. Masuk dalam ilmu Musthalah hadits yang digunakan ulama untuk
memeriksa keabsahan sebuah hadits.
Tanya: assalamualaikum ustadz. Bagaimana kita mengajak keluarga, saudara atau
teman dekat untuk mengikuti sunnah, tanpa membuat mereka tersinggung? Karena
masih banyak di daerah ana yang masih kental dengan tradisi nenek moyang.
Jawab: Ajak belajar dulu agar semangat beragama dan sampaikan dengan baik
sesuai dengan keadaan dan waktu.
Tanya: jika kita mengajarkan dengan akhlak kita tentunya butuh waktu lama,
apakah cukup kita dengan mendoakan beliau-beliau yang kita sayangi itu, ustadz?
Jawab: Dengan akhlak, doa dan nyampaikan informasi sedapat mungkin. Bisa kasih
hadiah buku atau yang lainnya.
Tanya: Apa boleh kita langsung bilang, “Ini ga boleh, itu ga boleh”
ustadz, sedangkan semakin kita kesitu si fulan makin menjauh. Sedangkan kita
mau menjelaskan secara detail pun, pengetahuan ilmu ana kurang.
Jawab: Boleh saja hal itu dilakukan akan tetapi bila semakin menjauhkannya maka
bisa dipakai cara lain utk mengungkapkan hal itu tidak boleh.
Tanya: Cara lain seperti apakah ustadz? Bagaimana dengan orang dekat yang
masih kental dengan acara adat?
Jawab: Seperti disampaikan pake logika dan bahasa yang lugas
Tanya: Seseorang bisa kah di katakan soleh dan ber akhlaq baik, tapi berani
bentak-bentak orang tuanya dan suami pun, mendukungnya dengan alasan yang belum
jelas (orang tua mendzolimi istri). Bagaimana sebaiknya sikap suami ustad, apakah
membiarkan mereka ribut, apakah mendukung salah satu dari mereka, meski belum
nyata tuduhan itu, atau bagaimana?
Jawab: Mendamaikan keduanya. Memang biasa mertua dan menantu tidak sinergi dan
ribut.
=========================
Kita tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin
Doa Kafaratul Majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت
أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu
allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan
memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan
diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi
wabarakaatuh
================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official
Tim Posting
April 09, 2018
New Google SEO
Bandung, Indonesia

