Rekap Kajian Online Hamba اللَّهِ
SWT Ummi G1
Hari, Tgl: Selasa, 5 Maret 2019
Materi: Mendidik anak sesuai syariat
di zaman now
Nara Sumber: Ustadz Undang
Waktu Kajian: 19. 30-21.00 WIB
Notulen: Bunda Meita
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Materi
Pendidikan anak dalam Islam adalah
merupakan salah satu kewajiban kita para orang tua dalam membina keluarga. Karena
keberhasilan dan kesuksesan anak dalam dunia dan akhiratnya adalah dimulai dari
semenjak kecil atau sejak dini. Pengenalan ilmu agama kepada anak memang harus
ditanamkan semenjak kecil, sehingga pemahaman yang benar mengenai Islam akan
terbentuk sejak sedini mungkin.
Tuntunan Nabi Rasulullah SAW dalam
mendidik anak telah beliau ajarkan kepada umat-umat beliau, hanya saja kita
akan mengikutinya atau malah meninggalkannya.
Kewajiban mendidik anak dan bagaimana
tanggung jawab orang tua terhadap pertumbuhan perkembangan putra-putrinya telah
Allah jelaskan dalam sebuah ayat Al-Qur'an yaitu surat At-Tahrim : 6 yang
artinya : "Hai orang-orang yang
beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya
adalah manusia dan batu."
Dan makna kewajiban akan hal ini
adalah menjaga keluarga dari siksa api neraka, yaitu dengan mengamalkan
kewajiban dalam beragama Islam menjauhi akan hal-hal yang dilarang di dalam
agama.
Ibnu Abbas mengartikan hal ini adalah
"Ta’atlah kamu kepada Allah. Janganlah bermaksiat kepada-Nya, Suruhlah
keluargamu untuk dzikir mengingat Allah, niscaya Allah akan selamatkannya dari
neraka.
Bagaimana cara mendidik anak sesuai syariat ?
Ajarkan Akidah Islam
Akidah menjadi fondasi dalam
kehidupan manusia. Akidah haruslah ditanamkan dan dibentuk dengan kuat dalam
kehidupan setiap sosok muslim, terutama anak-anak. Anak-anak harus mulai
dikenalkan kunci pokok akidah Islam yang ada di dalam rukun Islam, seperti,
kedudukan Allah.
Selain itu, juga ditanamkan bahwa
segala perbuatan yang dilakukan anak akan memiliki balasan atau ganjaran.
Setiap perbuatan yang baik atau sesuai dengan syariat Allah akan diberikan
balasan berupa pahala, sedangkan perbuatan yang tidak sesuai atau melanggar
syariat Allah akan mengantarkan anak pada diterima dosa. Pahala dan dosa ini
pada akhirnya akan menjadi sebuah konsekuensi terbesar dalam kehidupan manusia.
Setelah kehidupan dunia, ada kehidupan akhirat yang menjadi hasil dari
kehidupan dunia. Di kehidupan akhirat, ada surga dan neraka. Anak juga dapat
diberikan gambaran mengenai surga dan neraka tersebut.
Manfaatnya sangat besar ketika kita
mulai menerapkan parenting islami dengan memperdengarkan Alquran sejak janin
masih di dalam kandungan.
Alquran sebaiknya diperkenalkan
kepada janin sejak bayi sebagai wujud parenting islami. Setiap sumber bunyi
yang diperdengarkan melalui bacaan Alquran
memiliki frekuensi dan panjang
gelombang tertentu. Ketika Alquran dibaca dengan tartil yang sesuai dengan
tuntunan tajwid, bacaan tersebut akan memiliki frekuensi dan panjang gelombang
yang mampu memengaruhi otak secara positif dan mengembalikan keseimbangan dalam
tubuh.
Kemuliaan dan kebaikan Alquran dapat merangsang perkembangan otak anak dan
meningkatkan intelegensinya.
Dengan begitu proses parenting islami
dengan memulai memperdengarkan Alquran yang kita ingin terapkan jadi akan lebih
mudah dilakukan ke depannya karena anak sudah terbiasa dengan Alquran sejak ia
kecil.
Orang dewasa saja akan mendapatkan
ketenangan ketika membaca atau mendengarkan lantunan bacaan Alquran yang tartil
dan indah. Ini karena lantuan bacaan Alquran dapat menciptakan suasana damai
dan meredakan ketegangan saraf otak kita. Bayangkan saja jika hal ini
didengarkan oleh janin yang saraf otaknya masih suci dan belum tercemar oleh
berbagai informasi yang tidak baik.
Ibu hamil yang memperdengarkan
lantunan Alquran kepada janin tidak untuk mengharapkan mereka mengerti apa yang
sedang dibaca, tetapi sekadar membiasakan janin memperdengarkan Alquran sejak
dalam kandungan, membantu menumbuhkan tingkat intelegensi, meningkatkan
kemampuan berbahasa, dan mendapatkan kepribadian yang baik pada anak ketika
tumbuh besar kelak. Sebab ketika janin berusia 7 bulan, ia sudah dapat merespon
suara-suara di sekitar ibunya. Oleh karena itu, membiasakan diri membaca
Alquran saat sedang hamil memiliki efek yang sangat baik, baik bagi janin
maupun bagi ibu untuk mendapatkan ketenangan agar tidak mudah stres.
Kenalkan Syariat Islam
Anak harus dikenalkan dengan syariat
Islam. Kenalkan sedikit demi sedikit melalui kehidupan secara langsung.
Kenalkan pula mana yang tergolong sebagai ibadah wajib, sunah, mubah, makruh,
dan haram.
Perjelas kedudukan ahkamul khomsah tersebut
dalam Islam. Sebagai contoh, kenalkan anak tentang salat lima waktu, ajari anak
perempuan memakai jilbab/kerudung, ajarkan kasih-mengasihi dengan saudara atau
teman, ajarkan sikap saling berbagi ketika memiliki, dan ajarkan untuk tidak
menghina teman.
Kasih Sayang
Inilah cara mendidik anak islami yang
diajarkan oleh Rasulullah saw. Rasulullah pun harus memperpanjang sujudnya
ketika pundak beliau dinaiki oleh cucunya. Betapa besar kasih sayang beliau
kepada cucunya. Ya, beginilah konsep pendidikan anak, penuh dengan kasih
sayang.
Orang tua mendidik anak dengan cara
yang lembut, tetapi tentu saja, ada kalanya harus bersikap tegas. Namun, dalam
ketegasan tesersbut harus ada kelembutan dan jangan sampai membuat hati anak
terluka, bahkan melukai fisik si anak.
Ungkapan bijak Dorothy Law Nolte
dalam syair Children Learn What They Live berikut bisa dijadikan sebagai bahan
perenungan kita
Bila anak sering dikritik...
ia belajar mengumpat
Bila anak sering dikasari...
ia belajar berkelahi
Bila anak sering diejek...
Ia belajar menjadi pemalu
Bila anak sering dipermalukan...
Ia belajar merasa bersalah
Bila anak sering dimaklumi...
Oa belajar menjadi sabar
Bila anak sering disemangati...
Oa belajar menghargai
Bila anak mendapatkan haknya...
Ia belajar bertindak adil
Bila anak merasa aman...
Ia belajar percaya
Bila anak mendapat pengakuan...
Ia belajar menyukai dirinya
Bila anak diterima dan diakrabi...
Ia akan menemukan cinta.
Cara Pandang Positif
Hendaknya orang tua selalu memiliki
cara pandang positif terhadap anak. Jika anak sulit diatur, maka ia berpikir
bahwa anaknya kelebihan energi potensial yang belum tersalurkan. Maka orang tua
berusaha untuk memberikan saluran bagi energi potensial anaknya yang melimpah
ruah itu, dengan berbagai kegiatan yang positif. Selama ini anaknya belum
mendapatkan alternatif kegiatan yang memadai untuk menyalurkan berbagai
potensinya.
Dengan cara pandang positif seperti
itu, orang tua tidak akan emosional dalam menghadapi ketidaktertiban anak. Orang tua akan cenderung introspeksi dalam
dirinya, bukan sekedar menyalahkan anak dan memberikan klaim negatif seperti
kata nakal. Orang tua akan lebih lembut dalam berinteraksi dengan anak-anak,
dan berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik.
Bukan dengan kemarahan, bukan dengan kata-kata
kasar, bukan dengan pemberian predikat nakal.
“Kamu anak baik dan salih. Tolong lebih mendengar pesan ibu ya Nak”, ungkapan ini sangat indah dan positif.
“Bapak bangga punya anak kamu. Banyak potensi kamu miliki. Jangan ulangi
lagi perbuatanmu ini ya Nak”, ungkap seorang bapak
ketika ketahuan anaknya bolos sekolah.
Semoga kita mampu menjadi orang tua
yang bijak dalam membimbing, mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak-anak.
Wallahualam bishahowab
##################
TANYA JAWAB
1.
Ustadz, ijin bertanya. Bagaimana ya anak-anak sudah diajarkan bicara
yang baik, tapi ternyata teman-temannya ada yang mengatai dia "gob*ok dan umpatan kasar saat
bermain. Anak-anak kita sudah tahu itu ga boleh, sudah diinfo juga tentang bahaya
mengumpat (isi tafsir al humazah), tapi lama kelamaan mereka kadang ga tahan,
akhirnya keceplosan menjawab umpatan temannya. Benteng pertahanan kesabaran dia
akhirnya bobol juga.
Jawab : Mba Atten yang baik hati dan suka menabung di kantin, dengan cara pandang
positif dan pembentukan karakter pada anak sejak dini Insya Alloh bisa kita
atasi dengan cara:
Ø Ajar anak berani menegur. Ajarkan padanya agar ia berani mengungkapkan
apa yang dia butuhkan. Dengan begitu, anak diajak mengembangkan kemampuan berpikirnya
untuk menentukan respons yang tepat.
Ø
Libatkan orang dewasa. Yang paling
penting, hindari anak untuk membalas perbuatan temannya
misalnya
dipukul balas memukul bila ini terjadi, anak akan belajar menyelesaikan masalah
dengan cara kekerasan. Anak yang menjadi korban perlu membela diri, tapi
lakukan dengan cara yang tepat. Jika perbuatan temannya sudah sangat
keterlaluan, mba atten bisa mengajarkannya untuk melibatkan orang di sekitarnya
yang memiliki pengaruh dalam mengatasi perilaku negatif si teman, misalnya
ibunya si anak. Si ibu pun bisa melakukan cross check dengan anaknya dan
akhirnya memberi nasihat mana yang baik dan yang benar.
Itu yang ana ajarkan pada 3 kecil ana, ketika ada perbuatan temannya
yang tidak membuatnya nyaman ana suruh mereka untuk bilang sendiri kepada orang
tua anak tsb.
Ø Kenalkan berbagai karakter. Tak ada orangtua yang ingin anaknya salah
berteman. Tapi, menentukan mana teman yang layak dan tidak untuk si anak, bukan
tindakan bijaksana. Justru dengan mengenal berbagai karakter orang, wawasan
anak akan menjadi kaya. Karena itu, beri anak kita bekal tentang karakter
manusia, misalnya ada yang baik hati, suka menolong, suka mencuri, pembohong,
dan lain-lain. Yang perlu dilakukan mba atten ialah mengajari anak bagaimana
bersikap terhadap masing-masing karakter. Ini akan membantunya dalam
beradaptasi. Dengan demikian, anak kita akan
punya bekal dalam menghadapi berbagai karakter temannya.
Ø
Awasi anak bermain. Selalu
dampingi saat anak bermain bersama teman-temannya, tapi Anda tak harus selalu
berada di dekatnya. Yang penting, Anda dapat dengan mudah mengawasinya.
Ø
Bersikap responsif. Jadilah
orangtua yang peka dan tanggap terhadap kebutuhan anak. Selalu luangkan waktu
untuk berkomunikasi dua arah dengan si kecil. Jika mba atten terbiasa
berkomunikasi dengannya tentang apa saja sejak dini, maka anak akan terbiasa
untuk mengekspresikan kebutuhannya.
Ø Beri contoh yang baik. Anak adalah mesin copy yang handal. Bila mba
atten melarangnya untuk tidak memukul sebagai balasan perilaku yang kurang baik
dari teman bermainnya, konsistenlah dengan perkataan itu. Jika mba atten
melarangnya memukul, tapi mba atten malah memukul tangannya saat melarang
sesuatu, maka ba atten tak membantu ia melihat apa yang seharusnya ia ketahui
dari suatu kebiasaan. Dengan mba atten memukulnya, ia belajar bahwa memukul
merupakan satu cara agar orang lain mematuhi perintahnya atau memenuhi
keinginannya. Berilah contoh yang baik pada anak setiap hari.
Wallahualam bishahowab.
•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Kita tutup dengan membacakan istighfar....hamdalah..
Astaghfirullahal’adzim..... Alhamdulillahirabbil'aalamiin
Doa Kafaratul Majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا
أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta
astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa
tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon
pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
★★★★★★★★★★★★★★
Badan
Pengurus Harian (BPH) Pusat
Hamba
اللَّهِ SWT
Blog:
http://kajianonline-hambaallah.blogspot.com
FanPage
: Kajian On line-Hamba Allah
FB
: Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter:
@kajianonline_HA
IG:
@hambaAllah_official
Tim Posting January 02, 2020 New Google SEO Bandung, Indonesia
Mendidik Anak Sesuai Syariat di Zaman Now
Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Thursday, January 2, 2020
Rekap Kajian Online HA UMMI G-2
Hari/tgl: Jum'at/30 Maret 2018
Waktu: 19.00-selesai
Narasumber: Ustadzah Maulida
Materi: Karakter Qurani
Editor: Sapta
•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Kisah tentang pemuda tauladan yang perlu di contoh
sebagai model oleh pemuda zaman now
Usia muda atau usia remaja adalah saat orang-orang
mulai mengenal dan merasakan manisnya dunia. Pada fase ini, banyak pemuda lalai
dan lupa, jauh sekali lintasan pikiran akan kematian ada di benak mereka.
Apalagi bagi mereka orang-orang yang kaya, memiliki fasilitas hidup yang
dijamin orang tua. Mobil yang bagus, uang saku yang cukup, tempat tinggal yang
baik, dan kenikmatan lainnya, maka pemuda ini merasa bahwa ia adalah raja.
Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada
seorang pemuda yang kaya, berpenampilan rupawan, dan biasa dengan kenikmatan
dunia. Ia adalah Mush’ab bin Umair. Ada yang menukilkan kesan pertama al-Barra
bin Azib ketika pertama kali melihat Mush’ab bin Umair tiba di Madinah. Ia
berkata,
رَجُلٌ لَمْ أَرَ مِثْلَهُ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ الجَنَّةِ
“Seorang laki-laki, yang aku belum pernah melihat orang
semisal dirinya. Seolah-olah dia adalah laki-laki dari kalangan penduduk
surga.”
Ia adalah di antara pemuda yang paling tampan dan kaya
di Kota Mekah. Kemudian ketika Islam datang, ia jual dunianya dengan kekalnya
kebahagiaan di akhirat.
Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya
Mush’ab bin Umair dilahirkan di masa jahiliyah, empat
belas tahun (atau lebih sedikit) setelah kelahiran Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan
pada tahun 571 M (Mubarakfuri, 2007: 54), sehingga Mush’ab bin Umair dilahirkan
pada tahun 585 M.
Ia merupakan pemuda kaya keturunan Quraisy; Mush’ab
bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab
al-Abdari al-Qurasyi.
Dalam Asad al-Ghabah, Imam Ibnul Atsir
mengatakan, “Mush’ab adalah seorang pemuda yang tampan dan rapi penampilannya.
Kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Ibunya adalah seorang wanita yang
sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal al-Hadrami, pakaiannya merupakan
pakaian yang terbaik, dan dia adalah orang Mekah yang paling harum sehingga
semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati.”
(al-Jabiri, 2014: 19).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا
أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ
“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang
lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi
kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).
Ibunya sangat memanjakannya, sampai-sampai saat ia
tidur dihidangkan bejana makanan di dekatnya. Ketika ia terbangun dari tidur,
maka hidangan makana sudah ada di hadapannya.
Demikianlah keadaan Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda
kaya yang mendapatkan banyak kenikmatan dunia. Kasih sayang ibunya, membuatnya
tidak pernah merasakan kesulitan hidup dan kekurangan nikmat.
Menyambut Hidayah Islam
Orang-orang pertama yang menyambut dakwah Islam yang
dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah istri
beliau Khadijah, sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, dan anak angkat beliau Zaid
bin Haritsah radhiyallahu ‘anhum. Kemudian diikuti oleh beberapa orang
yang lain. Ketika intimidasi terhadap dakwah Islam yang baru saja muncul itu
kian menguat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah
secara sembunyi-sembunyi di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam radhiyallahu
‘anhu. Sebuah rumah yang berada di bukit Shafa, jauh dari pengawasan
orang-orang kafir Quraisy.
Mush’ab bin Umair yang hidup di lingkungan jahiliyah;
penyembah berhala, pecandu khamr, penggemar pesta dan nyanyian, Allah beri
cahaya di hatinya, sehingga ia mampu membedakan manakah agama yang lurus dan
mana agama yang menyimpang. Manakah ajaran seorang Nabi dan mana yang hanya
warsisan nenek moyang semata. Dengan sendirinya ia bertekad dan menguatkan hati
untuk memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam di rumah al-Arqam dan menyatakan keimanannya.
Kemudian Mush’ab menyembunyikan keislamannya
sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy.
Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis Rasulullah
untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya
ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Kemudian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya ke Madinah untuk
berdakwah di sana.
Menjual Dunia Untuk Membeli Akhirat
Suatu hari Utsmani bin Thalhah melihat Mush’ab bin
Umair sedang beribadah kepada Allah Ta’ala, maka ia pun melaporkan apa
yang ia lihat kepada ibunda Mush’ab. Saat itulah periode sulit dalam kehidupan
pemuda yang terbiasa dengan kenikmatan ini dimulai.
Mengetahui putra kesayangannya meninggalkan agama
nenek moyang, ibu Mush’ab kecewa bukan kepalang. Ibunya mengancam bahwa ia
tidak akan makan dan minum serta terus beridiri tanpa naungan, baik di siang
yang terik atau di malam yang dingin, sampai Mush’ab meninggalkan agamanya.
Saudara Mush’ab, Abu Aziz bin Umair, tidak tega mendengar apa yang akan
dilakukan sang ibu. Lalu ia berujar, “Wahai ibu, biarkanlah ia. Sesungguhnya ia
adalah seseorang yang terbiasa dengan kenikmatan. Kalau ia dibiarkan dalam
keadaan lapar, pasti dia akan meninggalkan agamanya”. Mush’ab pun ditangkap
oleh keluarganya dan dikurung di tempat mereka.
Hari demi hari, siksaan yang dialami Mush’ab kian
bertambah. Tidak hanya diisolasi dari pergaulannya, Mush’ab juga mendapat
siksaan secara fisik. Ibunya yang dulu sangat menyayanginya, kini tega
melakukan penyiksaan terhadapnya. Warna kulitnya berubah karena luka-luka siksa
yang menderanya. Tubuhnya yang dulu berisi, mulai terlihat mengurus.
Berubahlah kehidupan pemuda kaya raya itu. Tidak ada
lagi fasilitas kelas satu yang ia nikmati. Pakaian, makanan, dan minumannya
semuanya berubah. Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lalu muncullah
Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki
tambalan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya,
beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum
memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang…” (HR. Tirmidzi No.
2476).
Zubair bin al-Awwam mengatakan, “Suatu ketika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan para
sahabatnya di Masjid Quba, lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan kain burdah
(jenis kain yang kasar) yang tidak menutupi tubuhnya secara utuh. Orang-orang
pun menunduk. Lalu ia mendekat dan mengucapkan salam. Mereka menjawab salamnya.
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji dan mengatakan hal
yang baik-baik tentangnya. Dan beliau bersabda, “Sungguh aku melihat Mush’ab
tatkala bersama kedua orang tuanya di Mekah. Keduanya memuliakan dia dan
memberinya berbagai macam fasilitas dan kenikmatan. Tidak ada pemuda-pemuda
Quraisy yang semisal dengan dirinya. Setelah itu, ia tinggalkan semua itu demi
menggapai ridha Allah dan menolong Rasul-Nya…” (HR. Hakim No. 6640).
Saad bin Abi Waqqash radhiayallahu ‘anhu berkata,
“Dahulu saat bersama orang tuanya, Mush’ab bin Umair adalah pemuda Mekah yang
paling harum. Ketika ia mengalami apa yang kami alami (intimidasi), keadaannya
pun berubah. Kulihat kulitnya pecah-pecah mengelupas dan ia merasa
tertatih-taih karena hal itu sampai-sampai tidak mampu berjalan. Kami ulurkan
busur-busur kami, lalu kami papah dia.” (Siyar Salafus Shaleh oleh Ismail
Muhammad Ashbahani, Hal: 659).
Demikianlah perubahan keadaan Mush’ab ketika ia
memeluk Islam. Ia mengalami penderitaan secara materi. Kenikmatan-kenikmatan
materi yang biasa ia rasakan tidak lagi ia rasakan ketika memeluk Islam. Bahkan
sampai ia tidak mendapatkan pakaian yang layak untuk dirinya. Ia juga mengalami
penyiksaan secara fisik sehingga kulit-kulitnya mengelupas dan tubuhnya
menderita. Penderitaan yang ia alami juga ditambah lagi dengan siksaan perasaan
ketika ia melihat ibunya yang sangat ia cintai memotong rambutnya, tidak makan
dan minum, kemudian berjemur di tengah teriknya matahari agar sang anak keluar
dari agamanya. Semua yang ia alami tidak membuatnya goyah. Ia tetap teguh
dengan keimanannya.
Peranan Mush’ab Dalam Islam
Mush’ab bin Umair adalah salah seorang sahabat nabi
yang utama. Ia memiliki ilmu yang mendalam dan kecerdasan sehingga
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya untuk mendakwahi
penduduk Yatsrib, Madinah.
Saat datang di Madinah, Mush’ab tinggal di tempat
As’ad bin Zurarah. Di sana ia mengajrkan dan mendakwahkan Islam kepada penduduk
negeri tersebut, termasuk tokoh utama di Madinah semisal Saad bin Muadz. Dalam
waktu yang singkat, sebagian besar penduduk Madinah pun memeluk agama Allah
ini. Hal ini menunjukkan –setelah taufik dari Allah- akan kedalaman ilmu Mush’ab
bin Umair dan pemahamanannya yang bagus terhadap Alquran dan sunnah, baiknya
cara penyampaiannya dan kecerdasannya dalam berargumentasi, serta jiwanya yang
tenang dan tidak terburu-buru.
Hal tersebut sangat terlihat ketika Mush’ab berhadap
dengan Saad bin Muadz. Setelah berhasil mengislamkan Usaid bin Hudair, Mush’ab
berangkat menuju Saad bin Muadz. Mush’ab berkata kepada Saad, “Bagaimana
kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak aku sampaikan)? Jika
engkau ridha dengan apa yang aku ucapkan, maka terimalah. Seandainya engkau
membencinya, maka aku akan pergi”. Saad menjawab, “Ya, yang demikian itu lebih
bijak”. Mush’ab pun menjelaskan kepada Saad apa itu Islam, lalu membacakannya
Alquran.
Saad memiliki kesan yang mendalam terhadap Mush’ab bin
Umair radhiyallahu ‘anhu dan apa yang ia ucapkan. Kata Saad, “Demi
Allah, dari wajahnya, sungguh kami telah mengetahui kemuliaan Islam sebelum ia
berbicara tentang Islam, tentang kemuliaan dan kemudahannya”. Kemudian Saad
berkata, “Apa yang harus kami perbuat jika kami hendak memeluk Islam?”
“Mandilah, bersihkan pakaianmu, ucapkan dua kalimat syahadat, kemudian
shalatlah dua rakaat”. Jawab Mush’ab. Saad pun melakukan apa yang diperintahkan
Mush’ab.
Setelah itu, Saad berdiri dan berkata kepada kaumnya,
“Wahai Bani Abdu Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku di sisi
kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemuka kami, orang yang paling bagus
pandangannya, dan paling lurus tabiatnya”.
Lalu Saad mengucapkan kalimat yang luar biasa, yang
menunjukkan begitu besarnya wibawanya di sisi kaumnya dan begitu kuatnya
pengaruhnya bagi mereka, Saad berkata, “Haram bagi laki-laki dan perempuan di
antara kalian berbicara kepadaku sampai ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!”
Tidak sampai sore hari seluruh kaumnya pun beriman
kecuali Ushairim.
Karena taufik dari Allah kemudian buah dakwah Mush’ab,
Madinah pun menjadi tempat pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan para sahabatnya hijrah. Dan kemudian kota itu dikenal dengan
Kota Nabi Muhammad (Madinah an-Nabawiyah).
Wafatnya
Mush’ab bin Umair adalah pemegang bendera Islam di
peperangan. Pada Perang Uhud, ia mendapat tugas serupa. Muhammad bin Syarahbil
mengisahkan akhir hayat sahabat yang mulia ini. Ia berkata:
Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu membawa bendera
perang di medan Uhud. Lalu datang penunggang kudak dari pasukan musyrik yang
bernama Ibnu Qumai-ah al-Laitsi (yang mengira bahwa Mush’ab adalah Rasulullah),
lalu ia menebas tangan kanan Mush’ab dan terputuslah tangan kanannya. Lalu
Mush’ab membaca ayat:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ
الرُّسُلُ ۚ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).
Bendera pun ia pegang dengan tangan kirinya. Lalu Ibnu
Qumai-ah datang kembali dan menebas tangan kirinya hingga terputus. Mush’ab
mendekap bendera tersebut di dadanya sambal membaca ayat yang sama:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ
الرُّسُلُ ۚ
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul,
sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.” (QS. Ali Imran: 144).
Kemudian anak panah merobohkannya dan terjatuhlah
bendera tersebut. Setelah Mush’ab gugur, Rasulullah menyerahkan bendera pasukan
kepada Ali bin Abi Thalib (Ibnu Ishaq, Hal: 329).
Lalu Ibnu Qumai-ah kembali ke pasukan kafir Quraisy,
ia berkata, “Aku telah membunuh Muhammad”.
Setelah perang usai, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memeriksa sahabat-sahabatnya yang gugur. Abu Hurairah
mengisahkan, “Setelah Perang Uhud usai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam mencari sahabat-sahabatnya yang gugur. Saat melihat jasad Mush’ab
bin Umair yang syahid dengan keadaan yang menyedihkan, beliau berhenti, lalu
mendoakan kebaikan untuknya. Kemudian beliau membaca ayat:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ
عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا
تَبْدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang
menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada
yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka
tidak merubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23).
Kemudian beliau mempersaksikan bahwa
sahabat-sahabatnya yang gugur adalah syuhada di sisi Allah.
Setelah itu, beliau berkata kepada jasad Mush’ab,
“Sungguh aku melihatmu ketika di Mekah, tidak ada seorang pun yang lebih baik
pakaiannya dan rapi penampilannya daripada engkau. Dan sekarang rambutmu kusut
dan (pakaianmu) kain burdah.”
Tak sehelai pun kain untuk kafan yang menutupi
jasadnya kecuali sehelai burdah. Andainya ditaruh di atas kepalanya, terbukalah
kedua kakinya. Sebaliknya, bila ditutupkan ke kakinya, terbukalah kepalanya.
Sehingga Rasulullah bersabda, “Tutupkanlah kebagian kepalanya, dan kakinya
tutupilah dengan rumput idkhir.”
Mush’ab wafat setelah 32 bulan hijrahnya Nabi ke
Madinah. Saat itu usianya 40 tahun.
Para Sahabat Mengenang Mush’ab bin Umair
Di masa kemudian, setelah umat Islam jaya, Abdurrahman
bin Auf radhiyallahu ‘anhu yang sedang dihidangkan makanan mengenang
Mush’ab bin Umair. Ia berkata, “Mush’ab bin Umair telah wafat terbunuh, dan dia
lebih baik dariku. Tidak ada kain yang menutupi jasadnya kecuali sehelai
burdah”. (HR. Bukhari no. 1273). Abdurrahman bin Auf pun menangis dan tidak
sanggup menyantap makanan yang dihidangkan.
Khabab berkata mengenang Mush’ab, “Ia terbunuh di
Perang Uhud. Ia hanya meninggalkan pakaian wool bergaris-garis (untuk
kafannya). Kalau kami tutupkan kain itu di kepalanya, maka kakinya terbuka.
Jika kami tarik ke kakinya, maka kepalanya terbuka. Rasulullah pun
memerintahkan kami agar menarik kain ke arah kepalanya dan menutupi kakinya
dengan rumput idkhir…” (HR. Bukhari no.3897).
Penutup
Semoga Allah meridhai Mush’ab bin Umair dan
menjadikannya teladan bagi pemuda-pemuda Islam. Mush’ab telah mengajarkan bahwa
dunia ini tidak ada artinya dibanding dengan kehidupan akhirat. Ia tinggalkan
semua kemewahan dunia ketika kemewahan dunia itu menghalanginya untuk
mendapatkan ridha Allah.
Mush’ab juga merupakan seorang pemuda yang teladan
dalam bersemangat menuntut ilmu, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Ia
memiliki kecerdasan dalam memahami nash-nash syariat, pandai dalam
menyampaikannya, dan kuat argumentasinya.
==========
TANYA JAWAB
Tanya: Saya punya anak lelaki beranjak dewasa; namun karena kesibukan sebagai
ibu teman sekaligus ayahnya; sepertinya saya menyesal belum bisa mendidiknya
menjadi pembela Islam.
Jawab: Insya Allah bun, kita doakan anak anak kita sambil kita berusaha
mentarbiyahnya sebagai amanah Allah dengan sebaik-baiknya. Sebab proses yang
akan dinilai bukan hanya hasil. Yuk, bersama, tidak ada kata terlambat. Semoga
Allah mudahkan.
Tanya: Assalamualaikum ustadzah. Di jaman seperti sekarang agak sulit mengajak
anak remaja ya terutama untuk fokus ibadah dan akhirat. Maka saya memakai cara
seperti mengendalikan laying-layang, kadang saya ulur kadang saya tarik. Sehingga
anak saya masih bisa menggemari dan menikmati film korea, tapi dia tidak lepas
odoj dan shalat malam. Apakah benar begini ustadzah?
Jawab: Wa alaikum salaam, Inilah tantangan zaman ini untuk kita bunda. Sebagai
orang tua, keluarga dan juga aktivis dakwah. Sebab metode dakwah pun perlu
sesuai dengan zamannya. Belakangan ini sudah banyak komunitas 2 pemuda/ anak
muda untuk hijrah. Tetapi tetap Gaul. Mungkin tidak bisa langsung 100% melarang
K-Pop dkk, tetapi bisa step by step. Misal mulai di cari Korea yang ada halal
travelnya. Islam di Korea bagaimana dan lain-lain.
Tanya: Afwan ustadzah, anak saya umurnya 13 tahun laki-laki. Masih kecilnya kelas
3,4 dan kelas 5 sangat aktif ustadzah, boleh dikatakan bandel, nakal, tapi
berjalan dengan waktu, kelas 6 dan sekarang masuk Smp anak saya tumbuh remaja yang
pendiam, dewasa, Sholat Alhamdulillah tekun, wajib + sunnah qiyamul lail, dan
sunnah dhuha rutin dikerjakan. Di rumah sehari-hari baca Alqur'an 1,2 sampe 3
jus. Hanya anak ini seneng maen game HP, bisa berjam-jam, tapi panggilan Adzan
dia lansung wudhu sholat. Bagaimana ya ustadzah? Mohon pencerah dan nasehatnya.
Afwan syukron jazaakillahu khoir wass.
Jawab: Alhamdulillah sebetulnya senang dengar cerita ibu, kondisi ananda yang sekarang
sedang tumbuh jadi anak sholih. Insya Allah, doakan terus bunda. Juga hindari
labeling pada anak missal "nakal", "bandel", "pendiam",
dan lain-lain. Karena sebenarnya mereka
punya keunikan masing-masing. Kita kawal terus bunda. Termasuk kebiasaannya yang
main game HP kita awasi, kita ajak ia cerita tentang games tersebut. Jika ada yang
keliru kita luruskan, dan seterusnya.
Tanya: Aslm. Ustadzah bagaimana menjaga supaya anak terhindar dari bahaya
gadget, derumah tidak dikasih tapi dapat dari lingkungn luar, teman sekolah, dan
lain-lain.
Jawab: Wa’alaikumsalaam, perlu sinergis bersama bunda, keluarga (rumah),
lingkunhan dan Sekolah. Jika belum, mungkin bisa diinisasi dengan hadir kan
seminar atau talkshow dampak positif dan negatif gadget. Sebab jika hanya
sendiri akan terasa sulit, terasa berat.
=================
Kita
tutup dengan membacakan hamdalah..
Alhamdulillahirabbil'aalamiin
Doa
Kafaratul Majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب
إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha
Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang
haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat
kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum
warahmatullaahi wabarakaatuh
================
Website: www.hambaAllah.net
FanPage : Kajian On line-Hamba Allah
FB : Kajian On Line-Hamba Allah
Twitter: @kajianonline_HA
IG: @hambaAllah_official

