Kajian
Online Hamba الله SWT
Jum’at,
14 November 2014
Narasumber
: Ustd. Umar Hidayat M.Ag
Rekapan
Grup Nanda 121-122
Tema:
Syakhsiatul Islam
Editor :Rini Ismayanti
BERHENTI MENYALAHKAN ITU MELUASKAN JIWA
“Aku
tidak pernah menyesali apa yang tidak aku ucapkan, namun aku sering sekali
menyesali perkataan yang aku ucapkan. Ketahuilah, lisan yang nista lebih
membahayakan pemiliknya daripada membahayakan orang lain yang menjadi
korbannya. (Dr. Aidh Bin Abdullah Al-Qarni. M.A.)
Ada
penyakit mental yang banyak digemari orang tanpa disadarinya. Yakni menyalahkan
orang lain. Mulanya pikiran ini mengira, penyakit ini sebagai akibat apa yang
terjadi pada masa kecil kita. Teringatlah saat kecil dulu terjatuh lalu yang
disalahkan kodoknya. Meski orang tua kita tidak bermaksud mengajarkan
kebohongan atau tidak bertanggugjawab. Begitu melihat kecenderungan anak-anak
yang tampil dalam permukaan emosional mereka juga kentara mudah sekali
menyalahkan orang lain ketika terjadi kesalahan. Mestinya kalau semua itu hal yang
buruk dan ketika kita menginjak dewasa, akal kita segera menolaknya.Tetapi
faktanya penyakit ini tidak hilang saat kita bisa berpikir, mendewasa bahkan
setelah menjadi orang tua. Maka tak salah
bila ini adalah kategori penyakit mental. sungguh sebentuk keprihatinan yang
mendalam. Lalu akan dikemanakan Iman kita?
Karena
itu marilah kita berhenti sejenak. Menundukan kepala, sambil menghela Nafas
menata batin kita. Di hari-hari kepenatan dan kepadatan kesibukan kita. Mari
sejenak meneladani firmanNya agar kita terjauhkan dari kebiasaan menyalahkan
orang lain:“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka,
karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah
kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat:12)"
Padahal
salah satu yang memudahkan dan melanggengkan interaksi antar manusia akan
terjadi saat kita bermula menghentikan menyalahkan orang lain. Menyalahkan
orang lain bagi sebagian orang lain sepintas melegakan hati kita. Tetapi
sesungguhnya kita sedang memperpanjang penderitaan dan menyempitkan jiwa.
Bahkan menambah luka bagi orang lain. Lantaran seringnya kata terucap tanpa
berasa. Lisan bertuah tanpa berjiwa. “Ente ngomong tanpa logika”. Sedang obyek
yang diajak berkomunikasi sering kali kita sulit mengira kemana respon itu
bergerak. Sebab, manusia mengenal politik, pura-pura, balas dendam dan
serangkaian hal rumit lainnya. Dan hati orang siapa yang tahu?
Tersebutlah
dalam kisah sepasang suami istri telah menikah selama sebelas tahun lamanya,
akhirnya dikaruniakan seorang anak. Mereka merawatnya dengan kasih sayang dan
cinta yang luar biasa. Suatu hari, sang ayah terburu-buru ingin berangkat ke
kantor dan meninggalkan sebotol obat keras terbuka, karena saking tergesanya,
sang ayah berteriak meminta tolong sang ibu untuk menutup dan menyimpan obat
tersebut. Sang ibu, karena kesibukannya juga di dapur, kelupaan menutup obat
tersebut.
Sang
anak melihat dan tertarik, maka diambilnya obat tersebut dan diminum sampai
habis. Terang saja anak tersebut tergeletak dan langsung dibawa ke rumah sakit
oleh sang ibu. Sampai di rumah sakit, anak tersebut tidak tertolong lagi. Sedih
sekaligus ketakutanlah sang ibu. Sedih karena kehilangan sang anak
satu-satunya, dan ketakutan membayangkan kemarahan sang ayah karena kelalaiannya
menjaga.
Apa
yang dilakukan suami?
Pada
saat sang ayah sampai di rumah sakit, sedihlah sang ayah, dan langsung dijumpai
sang ibu, dipeluknya dengan sepenuh cinta dan berkata: "AKU BERSAMAMU
SAYANG". Kata yang menyejukan dan meneladankan. Karena sang ayah sadar
bahwa anaknya yang telah meninggal tidak akan dapat hidup kembali, dan
menyalahkan orang lain bukanlah solusi yang tepat. Coba bayangkan bila suami
justru menyalahkan istrinya. atau saling menyalahkan. Apa yang akan terjadi?
Tapi.
Entah kenapa ya, ada saja orang orang yang hobi banget menyalahkan orang lain.
Menuntut dan mengkritik orang lain. Memang paling mudah menyalahkan orang lain atau situasi yang ada. Pokoknya kalau
ada kesalahan, yang salah dan yang harus bertanggungjawab adalah orang lain.
“Bukan saya, dia tuh yang salah,” begitu seterusnya. Dibarengi dengan lirikan
mata, atau acungan jari, menanda yang salah.
Celakanya ia merasa benar sendiri. Mungkin bisa diibaratkan; bila kita
bercermin, lalu nampak wajah kita jelek, apakah cerminnya yang salah?
Bersebab
ingin jalan pintas untuk lepas dari tanggung jawab dan konsekuensi perbuatan
sendiri, seseorang mudah menyalahkan
orang lain. Bersebab seseorang hidup di bawah bayang-bayang ancaman, orang
orang mudah menyalahkan orang lain.
Bersebab ketakutan. atau karena tidak memiliki penghargaan diri yang baik,
apresiatif, PD, harga diri, Jaim; tidak merasa nyaman dengan keputusan sendiri.
karena hidup dipenuhi angkara murka. Marah dan marah. Atau boleh jadi juga
tanpa sebab!!!!
Maka
terbayanglah akibat yang kentara membiasakan diri menyalahkan orang lain,
hilangnya ketenangan hidup. selalu saja resah dan gelisah. Menghabiskan energy
dan waktu untuk mencari kesalahan orang lain. Hidup penuh rasa curiga. Jiwanya
selalu tegang. Bathin jauh dari rasa damai. Banyak musuhnya. Akhirnya hidupnya
tidak produktif, tidak bisa berbuat banyak. Diperbudak oleh emosi negative.
Mengundang banyak penyakit. Cepat tua. Lebih wagat lagi, menyalahkan orang lain
membuat kita kebal dari rasa bersalah dan hilangnya pentingnya mengoreksi diri
sendiri. Dan sulitnya mencari solusi. Bukankah kita juga makhluk yang tak
sempurna. Seperti pepatah kuno mengatakan, lebih baik menyalakan sebatang lilin
kecil dari pada mengutuk kegelapan.
Aha,
ternyata begitu penting menjaga lisan kita. Saking lisan ini harus terjaga,
lantaran lidah itu sangat berbahaya sehingga dapat mendatangkan banyak
kesalahan. Imam Ghazali telah menghitung ada 20 bencana karena lidah antara
lain berdusta, ghibah (membicarakan orang lain), adu domba, saksi palsu, sumpah
palsu, berbicara yang tidak berguna, menertawakan orang lain, menghina orang
lain, mencari-cari kesalahan orang lain, dsb
Ada
baiknya kita mengerem bicara (atau menulis) dengan meramal akibat buruknya.
Seperti yang Rasulullah SAW sabdakan: “Barang siapa yang beriman kepada Allah,
hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (Muttafaq ‘Alaihi) Lalu dalam hadist
lain disebutkan: “Allah SWT memberi rahmat keapda orang yang berkata baik lalu
mendapat keuntungan, atau diam lalu mendapat keselamatan.” (HR. Ibnul Mubarak)
Atau Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: ”Tahukah kalian apa itu
ghibah? Jawab para sahabat: Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka
kata Nabi saw: “engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya.
Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang
dibicarakan itu? Jawab Nabi SAW: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada
padanya maka kamu telah mengghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak
ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya.”(HR Muslim/2589, Abu
Daud 4874)
Teringatlah
firman Allah dalam Qs. Al-Hujurat : 12; Dalam ayat, Allah Ta’ala melarang kita
untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Lantaran Tajassus biasanya merupakan
kelanjutan dari prasangka buruk. Sayaekh Abu Bakar bin Jabir al-Jazairi
rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ke 12 dari surat Al-Hujurat,
“haram mencari kesalahan dan menyelidiki aib-aib kaum muslimin dan
menyebarkannya serta menelitinya” (Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir. Aisar
at-Tafaasir li Kalam al-‘Aliy al-Kabir. Maktabah al-Ulum wal al-Hikam: Madinah
Munawwarrah. Jilid ke-5, hlm. 128).
Dr.
Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Sayaaikh juga menuturkan
ketika menafsirkan ayat di atas sebagai berikut, “maksudnya adalah atas
sebagian kalian. Kata ‘tajassus’ lebih sering digunakan untuk suatu kejahatan.
Sedangkan kata ‘tahassus’ seringkali digunakan untuk hal yang baik. Sebagaimana
yang difirmankan Allah Ta’ala, yang menceritakan tentang nabi Ya’qub ‘alaihissalam,
di mana Dia berfirman (Ya’qub berkata) “Wahai anak-anakku, pergilah kalian,
carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya…” (QS. Yusuf: 87)
Walhasil,
tajassus adalah mencari-cari berita baik yang tertutup, maupun yang jelas. Dr
Wahbah al-Zuhaili menyebut: “Tajassus termasuk dalam dosa-dosa besar, iaitu
mencari keaiban yang tersembunyi dan rahsia”.( Al-Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir,
255, 263/26, Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’asir 1991)
Lalu
apa yang harus kita lakukan? Sesaat setelah kesalahan itu terjadi, atau
peristiwa itu menimpa kita, maka siapkan diri untuk sejenak berhenti,
menenangkan diri disaat kegemuruhan jiwa, Deep meditation, agar tidak terburu
menyalahkan orang lain adalah hal yang memungkinkan kita membangun spirit yang
dapat meluaskan jiwa. Ia adalah tempat ‘meditasi,’ yang kerap menghadirkan ketenangan kejernihan dan keluasan jiwa. Kita mestinya
bisa belajar dari tumpukan ribuan kebodohan dan kegagalan masa lalu kita. Lalu
menemukan kearifan berguna. Dalam setiap persoalan yang kita temui, kita bisa
belajar untuk mengurangi mencari siapa yang salah. Dan memusatkan perhatian
untuk memecahkan persoalan. Persoalannya, untuk bisa berhenti dari kebiasaan
buruk tadi, disamping kadang kurang didukung lingkungan, juga sering dihadapkan
oleh dorongan-dorongan dari dalam diri yang juga tidak mudah. Seperti Emosi,
ego, harga diri, gengsi, ketidaksabaran, menanti momentum.
Berhentilah
menyalahkan orang lain, maka engkau memiliki seluas-luasnya cara dan kesempatan
untuk mengoreksi dan memperbaiki diri. Bersayaukurlah kepada Allah atas semua
yang terjadi. Yakinilah itulah yang terbaik untuk kehidupan kita. Beginilah
cara Allah mentarbiyah kita. Ambilah hikmah dan pelajaran agar kelak di
kemudian hari kita menjadi lebih baik.
Imam Abu Hatim al-Busti rahimahullah berkata, “tajassus adalah cabang
dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang
dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan
tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu
berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan
membuatnya menderita.” Maka, lanjutnya ”Orang yang berakal wajib mencari
keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa
sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk
memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka
hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat
kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat
kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa
sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri,
maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya
meninggalkan kejelekan dirinya”. (Al-Busthim Muhammad bin Hibban. Raudhah
al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’. Dar al-Ilmiyyah: Beirut.halaman 131)
Jelasnya
cobalah lakukan self-improvement, berikut ini. Mudah-mudahan bisa membantu
menghentikan menyalahkan orang lain.
1).
Mulakan menata diri dengan sepenuh kesayaukuran atas apa yang Allah berikan
kepada kita. Dia telah memberi segalanya jauh melebihi yang kita pinta. jika
pun terjadi kesalahan yang kita lakukan, masih terlalu bayak nikmat Allah yang
pantas untuk menggantikan kesalahan itu, jika kita mau melakukan yang terbaik.
2).
Belajarlah Minta Maaf dan memaafkan orang lain. Jangan pernah malu mengucapkan
maaf jika berbuat salah sekecil apapun
itu. Meskipun meminta maaf pada anak kita. Atau bawahan kita. Pada jamaah
kita.
3).
Keridhoaan, terimalah dengan ikhlas ketika Anda melakukan kesalahan. Bahwa itu
adalah kesalahanku. Enggak perlu gengsi, atau merasa rendah diri, karena toh
kita hanya manusia biasa bukan? Tempatnya salah dan lupa.
Andaikan
kita bisa merenungkan akibat suatu tindakan yang akan kita lakukan, mestilah
kita akan selamat. Andaikan kita bisa menghindarkan diri menuruti hawa nafsu,
mestilah kita akan terhindar dari penyesalan. Tapi, seringnya kita mengambil
jalan pintas dan menyalahkan orang lain. Berani mengakui kesalahan adalah awal
perbaikan dan berhenti menyalahkan orang
lain
itu menunjukan keluasan jiwa.Semoga bermanfaat. (Naskah buku Agar Hati menjadi
Solusi)
Baik.
Mudah-mudahan Allah memudahkan kita memahami dan memahamakaan dien ini.
TANYA
JAWAB
Q
: Materinya pas banget dengan yang saya alami skarenag. Ust.. saya saat sangat
kecewa dengan diri sendiri. Saya terus menyalahkan diri kenapa tidak bisa? Kenapa
gagal lagi? Yang akhirx mikir ke masa
lalu. Coba saya gak resign dll dan bener-bener merasa stag aja. Dan hub saya ke
Allah pun jadi berpangaruh.. saya harus gimana ust? Maaf curcol..
A :
Qadarullah. yang sudah terjadi tejadilah. berbalik romantisme tuk menghadirkan
penyesalan hanya akan menambah beban saja. tapi jika romantisme sedih n gembira
tuk bermuhasabah, itu ptg tuk menyusun masa depan yang lbh baik. ambilah yang
baik. bersayaukurlah punya pengalaman yang mungkin jarang orang mengalaminya.
daur ulanglah yang jelek. maka akan menjadi energi yang baik. Mudah-mudahan
segera mentas n sukses selalu.
Q
: Subhanallah.. Insyaallah selalu bermanfaat ustd. Ust, ketika dalam perjalanan
hijrah masa lalu selalui menghantui apa yang harus dilakukan ust? Saat ini saya
coba terus timpa mundur masa lalu dengan muhasabah, sayaukur, perbanyak ilmu
& pembelajaran.
A
: Istigfarlah dengan lisan, hati, dan amalan. dengan lisan kita berucap,dengan
hati kita merelakan ridlo dn ikhlash, dengan amal kita lakukan perubahan dan
perbaikan. sibukan diri dengan menyusun masa depan. karena biasanya; bersibuk
dalam kebaikan, maka tak sempat berpikir keburukan. bersibuk diri tuk urusan
akhirat maka dunia akan mendatangi kita. bersibuk hanya urusan dunia, akhirat
akan lepas. mungkin juga ada orang yang melakukan cara yang paling ekstrim brainwashing/
cuci otak, dan yang paling mudah LUPAKAN.
Q
: Ustadz. Ktika kita merasa bersalah saat menasehati orang lain yang sdang
berbuat ga baik pdhal kita sndiri pun blm baik (proses). Bagaimana sikap kita agar tidak mnjadi orang yang
merasa sok benar di dpan orang itu??
A
: Niatkan karena Allah. Posisikan diri bahwa boleh jadi orang yang kita beri
masukan/nasehat lebh mulia di hadapan Allah. Pakai bahasa yang lugas sehingga tidak
terkesan menggurui, tapi mengajak tuk sama-sama menjadi lebih baik. bersabarlah
dalam kebaikan....
Q
: Kadang, diri sendiri suka lengah sama yang namanya ikhlas ustd. Ikhlas &
sabar, bener-bener dua hal yang terasa susah banget buat dipraktekin, walaupun
teori udh cukup kuat. Ustd, ada masukan untuk 2 hal itu?
A :
Segalanya berproses. Ikhlas dan sabar juga bertingkat. itulah mengapa ada
Nabiyullah yang tergolong ulul `azmi dan yang tidak. yakinlah Allah senantiasa
melihat proses kita. dan berhitung amal serta pahala dari prosesnya. Selamat
berjuang
Q :
Assalamualaikum, ust saya mau bertanya bagaimana caranya agar saya tidak
terus-terusan menyalahkan diri saya sendiri dengan sesuatu yang sudah saya
perbuat dan bagaimana cara agar saya selalu bisa tenang dan sabar dalam
menghadapi masalah?
A :
Qadarullah. yang sudah terjadi tejadilah. berbalik romantisme tuk menghadirkan
penyesalan hanya akan menambah beban saja. tapi jika romantisme sedih n gembira
tuk bermuhasabah, itu ptg tuk menyusun masa depan yang lbh baik. ambilah yang
baik. bersayaukurlah punya pengalaman yang mungkin jarang orang mengalaminya.
daur ulanglah yang jelek. maka akan menjadi energi yang baik. PLUS sibukan diri
dengan menyusun masa depan. karena biasanya; bersibuk dalam kebaikan, maka tak
sempat berpikir keburukan. bersibuk diri tuk urusan akhirat maka dunia akan
mendatangi kita. bersibuk hanya urusan dunia, akhirat akan lepas. mungkin juga
ada orang yang melakukan cara yang paling ekstrim brainwashing/ cuci otak,
dan
yang paling mudah LUPAKAN.
“Jika
mendapatkan kepuasan atas apa yang diinginkan adalah suatu Nikmat Allah yang
luar biasa. Maka menjumpai ketidakpuasan adalah nikmat Allah dalam bentuk yang
lainnya. Tetaplah bersayaukur dan bersabar.”
Q
: Ustad, pertanyaan out of context. Bagaimana caranya untuk tetap istiqomah
dijalan dakwah sambil terus menimba ilmunya? Baik itu dakwah untuk orang lain
dan orang terdekat.
A
: Niatkan karena Allah. jangan pisahkan dakwah dengan hidup kita. Dakwah is
mine. berkumpulah dengan para pejuang dakwah. jaga maknawiyah. selamat
berjuang....
Q
; Awalnya ana tak ad niat mau menyalahkan. Tapi kemudian ad satu kejadian yang
akhirnya membuat ana berfikir "ngapain tetep brangkat. Toh gak ad kabar
dan gak berangkat aja gak ad yang nasehatin, gak ad yang tanya, gak ad yang
care. Boro-boro teman, murobi aja gak perduli. Berarti bukan salah ana
donk". Sering ad fikiran bgitu ustadz....
A
: itulah godaan. diantara sekian juta orang yang ada, meski ia adalah MR, tapi
kitalah/ akulah yang paling mungkin melakukan perubahan. berharap dr orang
lain, meski ia MR, sering kecewa yang kita dapatkan. luruskan niat. berlombalah
dalam kebaikan. coba renungkan : apa yang kita banggakan dari menyalahkan orang
lain? apa untungnya?
Maknawiyah=
ruhiyah= keimanan= kesholihan
Doa
Kafaratul Majelis
إليك
وآتوب ستغفرك أ أنت إلا ا إله لأان شهد وبحمدك اللهم سبحانك
Subhanakallahumma
wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha
Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang
haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat
kepada-Mu.”
-Mu.”
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment