Home » , , , » BERHENTI MENYALAHKAN ITU MELUASKAN JIWA

BERHENTI MENYALAHKAN ITU MELUASKAN JIWA

Posted by Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT on Saturday, November 15, 2014

Kajian Online Hamba الله SWT

Jum’at, 14 November 2014
Narasumber : Ustd. Umar Hidayat M.Ag
Rekapan Grup Nanda 121-122
Tema: Syakhsiatul Islam
Editor :Rini Ismayanti


BERHENTI MENYALAHKAN ITU MELUASKAN JIWA

“Aku tidak pernah menyesali apa yang tidak aku ucapkan, namun aku sering sekali menyesali perkataan yang aku ucapkan. Ketahuilah, lisan yang nista lebih membahayakan pemiliknya daripada membahayakan orang lain yang menjadi korbannya. (Dr. Aidh Bin Abdullah Al-Qarni. M.A.)

Ada penyakit mental yang banyak digemari orang tanpa disadarinya. Yakni menyalahkan orang lain. Mulanya pikiran ini mengira, penyakit ini sebagai akibat apa yang terjadi pada masa kecil kita. Teringatlah saat kecil dulu terjatuh lalu yang disalahkan kodoknya. Meski orang tua kita tidak bermaksud mengajarkan kebohongan atau tidak bertanggugjawab. Begitu melihat kecenderungan anak-anak yang tampil dalam permukaan emosional mereka juga kentara mudah sekali menyalahkan orang lain ketika terjadi kesalahan. Mestinya kalau semua itu hal yang buruk dan ketika kita menginjak dewasa, akal kita segera menolaknya.Tetapi faktanya penyakit ini tidak hilang saat kita bisa berpikir, mendewasa bahkan setelah menjadi orang tua.  Maka tak salah bila ini adalah kategori penyakit mental. sungguh sebentuk keprihatinan yang mendalam. Lalu akan dikemanakan Iman kita?

Karena itu marilah kita berhenti sejenak. Menundukan kepala, sambil menghela Nafas menata batin kita. Di hari-hari kepenatan dan kepadatan kesibukan kita. Mari sejenak meneladani firmanNya agar kita terjauhkan dari kebiasaan menyalahkan orang lain:“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat:12)"

Padahal salah satu yang memudahkan dan melanggengkan interaksi antar manusia akan terjadi saat kita bermula menghentikan menyalahkan orang lain. Menyalahkan orang lain bagi sebagian orang lain sepintas melegakan hati kita. Tetapi sesungguhnya kita sedang memperpanjang penderitaan dan menyempitkan jiwa. Bahkan menambah luka bagi orang lain. Lantaran seringnya kata terucap tanpa berasa. Lisan bertuah tanpa berjiwa. “Ente ngomong tanpa logika”. Sedang obyek yang diajak berkomunikasi sering kali kita sulit mengira kemana respon itu bergerak. Sebab, manusia mengenal politik, pura-pura, balas dendam dan serangkaian hal rumit lainnya. Dan hati orang siapa yang tahu?

Tersebutlah dalam kisah sepasang suami istri telah menikah selama sebelas tahun lamanya, akhirnya dikaruniakan seorang anak. Mereka merawatnya dengan kasih sayang dan cinta yang luar biasa. Suatu hari, sang ayah terburu-buru ingin berangkat ke kantor dan meninggalkan sebotol obat keras terbuka, karena saking tergesanya, sang ayah berteriak meminta tolong sang ibu untuk menutup dan menyimpan obat tersebut. Sang ibu, karena kesibukannya juga di dapur, kelupaan menutup obat tersebut.

Sang anak melihat dan tertarik, maka diambilnya obat tersebut dan diminum sampai habis. Terang saja anak tersebut tergeletak dan langsung dibawa ke rumah sakit oleh sang ibu. Sampai di rumah sakit, anak tersebut tidak tertolong lagi. Sedih sekaligus ketakutanlah sang ibu. Sedih karena kehilangan sang anak satu-satunya, dan ketakutan membayangkan kemarahan sang ayah karena kelalaiannya menjaga.

Apa yang dilakukan suami?

Pada saat sang ayah sampai di rumah sakit, sedihlah sang ayah, dan langsung dijumpai sang ibu, dipeluknya dengan sepenuh cinta dan berkata: "AKU BERSAMAMU SAYANG". Kata yang menyejukan dan meneladankan. Karena sang ayah sadar bahwa anaknya yang telah meninggal tidak akan dapat hidup kembali, dan menyalahkan orang lain bukanlah solusi yang tepat. Coba bayangkan bila suami justru menyalahkan istrinya. atau saling menyalahkan. Apa yang akan terjadi?

Tapi. Entah kenapa ya, ada saja orang orang yang hobi banget menyalahkan orang lain. Menuntut dan mengkritik orang lain. Memang paling mudah menyalahkan orang  lain atau situasi yang ada. Pokoknya kalau ada kesalahan, yang salah dan yang harus bertanggungjawab adalah orang lain. “Bukan saya, dia tuh yang salah,” begitu seterusnya. Dibarengi dengan lirikan mata, atau acungan jari, menanda yang salah.  Celakanya ia merasa benar sendiri. Mungkin bisa diibaratkan; bila kita bercermin, lalu nampak wajah kita jelek, apakah cerminnya yang salah? 

Bersebab ingin jalan pintas untuk lepas dari tanggung jawab dan konsekuensi perbuatan sendiri, seseorang  mudah menyalahkan orang lain. Bersebab seseorang hidup di bawah bayang-bayang ancaman, orang orang  mudah menyalahkan orang lain. Bersebab ketakutan. atau karena tidak memiliki penghargaan diri yang baik, apresiatif, PD, harga diri, Jaim; tidak merasa nyaman dengan keputusan sendiri. karena hidup dipenuhi angkara murka. Marah dan marah. Atau boleh jadi juga tanpa sebab!!!!

Maka terbayanglah akibat yang kentara membiasakan diri menyalahkan orang lain, hilangnya ketenangan hidup. selalu saja resah dan gelisah. Menghabiskan energy dan waktu untuk mencari kesalahan orang lain. Hidup penuh rasa curiga. Jiwanya selalu tegang. Bathin jauh dari rasa damai. Banyak musuhnya. Akhirnya hidupnya tidak produktif, tidak bisa berbuat banyak. Diperbudak oleh emosi negative. Mengundang banyak penyakit. Cepat tua. Lebih wagat lagi, menyalahkan orang lain membuat kita kebal dari rasa bersalah dan hilangnya pentingnya mengoreksi diri sendiri. Dan sulitnya mencari solusi. Bukankah kita juga makhluk yang tak sempurna. Seperti pepatah kuno mengatakan, lebih baik menyalakan sebatang lilin kecil dari pada mengutuk kegelapan.

Aha, ternyata begitu penting menjaga lisan kita. Saking lisan ini harus terjaga, lantaran lidah itu sangat berbahaya sehingga dapat mendatangkan banyak kesalahan. Imam Ghazali telah menghitung ada 20 bencana karena lidah antara lain berdusta, ghibah (membicarakan orang lain), adu domba, saksi palsu, sumpah palsu, berbicara yang tidak berguna, menertawakan orang lain, menghina orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain, dsb

Ada baiknya kita mengerem bicara (atau menulis) dengan meramal akibat buruknya. Seperti yang Rasulullah SAW sabdakan: “Barang siapa yang beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (Muttafaq ‘Alaihi) Lalu dalam hadist lain disebutkan: “Allah SWT memberi rahmat keapda orang yang berkata baik lalu mendapat keuntungan, atau diam lalu mendapat keselamatan.” (HR. Ibnul Mubarak) Atau Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: ”Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat: Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka kata Nabi saw: “engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab Nabi SAW: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah mengghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya.”(HR Muslim/2589, Abu Daud 4874)

Teringatlah firman Allah dalam Qs. Al-Hujurat : 12; Dalam ayat, Allah Ta’ala melarang kita untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Lantaran Tajassus biasanya merupakan kelanjutan dari prasangka buruk. Sayaekh Abu Bakar bin Jabir al-Jazairi rahimahullah berkata ketika menafsirkan ayat ke 12 dari surat Al-Hujurat, “haram mencari kesalahan dan menyelidiki aib-aib kaum muslimin dan menyebarkannya serta menelitinya” (Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir. Aisar at-Tafaasir li Kalam al-‘Aliy al-Kabir. Maktabah al-Ulum wal al-Hikam: Madinah Munawwarrah. Jilid ke-5, hlm. 128).

Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Sayaaikh juga menuturkan ketika menafsirkan ayat di atas sebagai berikut, “maksudnya adalah atas sebagian kalian. Kata ‘tajassus’ lebih sering digunakan untuk suatu kejahatan. Sedangkan kata ‘tahassus’ seringkali digunakan untuk hal yang baik. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, yang menceritakan tentang nabi Ya’qub ‘alaihissalam, di mana Dia berfirman (Ya’qub berkata) “Wahai anak-anakku, pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya…” (QS. Yusuf: 87)

Walhasil, tajassus adalah mencari-cari berita baik yang tertutup, maupun yang jelas. Dr Wahbah al-Zuhaili menyebut: “Tajassus termasuk dalam dosa-dosa besar, iaitu mencari keaiban yang tersembunyi dan rahsia”.( Al-Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir, 255, 263/26, Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’asir 1991)

Lalu apa yang harus kita lakukan? Sesaat setelah kesalahan itu terjadi, atau peristiwa itu menimpa kita, maka siapkan diri untuk sejenak berhenti, menenangkan diri disaat kegemuruhan jiwa, Deep meditation, agar tidak terburu menyalahkan orang lain adalah hal yang memungkinkan kita membangun spirit yang dapat meluaskan jiwa. Ia adalah tempat ‘meditasi,’  yang kerap menghadirkan ketenangan  kejernihan dan keluasan jiwa. Kita mestinya bisa belajar dari tumpukan ribuan kebodohan dan kegagalan masa lalu kita. Lalu menemukan kearifan berguna. Dalam setiap persoalan yang kita temui, kita bisa belajar untuk mengurangi mencari siapa yang salah. Dan memusatkan perhatian untuk memecahkan persoalan. Persoalannya, untuk bisa berhenti dari kebiasaan buruk tadi, disamping kadang kurang didukung lingkungan, juga sering dihadapkan oleh dorongan-dorongan dari dalam diri yang juga tidak mudah. Seperti Emosi, ego, harga diri, gengsi, ketidaksabaran, menanti momentum.

Berhentilah menyalahkan orang lain, maka engkau memiliki seluas-luasnya cara dan kesempatan untuk mengoreksi dan memperbaiki diri. Bersayaukurlah kepada Allah atas semua yang terjadi. Yakinilah itulah yang terbaik untuk kehidupan kita. Beginilah cara Allah mentarbiyah kita. Ambilah hikmah dan pelajaran agar kelak di kemudian hari kita menjadi lebih baik.  Imam Abu Hatim al-Busti rahimahullah berkata, “tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.” Maka, lanjutnya ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya”. (Al-Busthim Muhammad bin Hibban. Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’. Dar al-Ilmiyyah: Beirut.halaman 131)

Jelasnya cobalah lakukan self-improvement, berikut ini. Mudah-mudahan bisa membantu menghentikan menyalahkan orang lain.
1). Mulakan menata diri dengan sepenuh kesayaukuran atas apa yang Allah berikan kepada kita. Dia telah memberi segalanya jauh melebihi yang kita pinta. jika pun terjadi kesalahan yang kita lakukan, masih terlalu bayak nikmat Allah yang pantas untuk menggantikan kesalahan itu, jika kita mau melakukan yang terbaik.
2). Belajarlah Minta Maaf dan memaafkan orang lain. Jangan pernah malu mengucapkan maaf  jika berbuat salah sekecil apapun itu. Meskipun meminta maaf pada anak kita. Atau bawahan kita. Pada jamaah kita. 
3). Keridhoaan, terimalah dengan ikhlas ketika Anda melakukan kesalahan. Bahwa itu adalah kesalahanku. Enggak perlu gengsi, atau merasa rendah diri, karena toh kita hanya manusia biasa bukan? Tempatnya salah dan lupa.

Andaikan kita bisa merenungkan akibat suatu tindakan yang akan kita lakukan, mestilah kita akan selamat. Andaikan kita bisa menghindarkan diri menuruti hawa nafsu, mestilah kita akan terhindar dari penyesalan. Tapi, seringnya kita mengambil jalan pintas dan menyalahkan orang lain. Berani mengakui kesalahan adalah awal perbaikan dan berhenti menyalahkan orang
lain itu menunjukan keluasan jiwa.Semoga bermanfaat. (Naskah buku Agar Hati menjadi Solusi)

Baik. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita memahami dan memahamakaan dien ini.

TANYA JAWAB

Q : Materinya pas banget dengan yang saya alami skarenag. Ust.. saya saat sangat kecewa dengan diri sendiri. Saya terus menyalahkan diri kenapa tidak bisa? Kenapa gagal lagi?  Yang akhirx mikir ke masa lalu. Coba saya gak resign dll dan bener-bener merasa stag aja. Dan hub saya ke Allah pun jadi berpangaruh.. saya harus gimana ust? Maaf curcol..
A : Qadarullah. yang sudah terjadi tejadilah. berbalik romantisme tuk menghadirkan penyesalan hanya akan menambah beban saja. tapi jika romantisme sedih n gembira tuk bermuhasabah, itu ptg tuk menyusun masa depan yang lbh baik. ambilah yang baik. bersayaukurlah punya pengalaman yang mungkin jarang orang mengalaminya. daur ulanglah yang jelek. maka akan menjadi energi yang baik. Mudah-mudahan segera mentas n sukses selalu.

Q : Subhanallah.. Insyaallah selalu bermanfaat ustd. Ust, ketika dalam perjalanan hijrah masa lalu selalui menghantui apa yang harus dilakukan ust? Saat ini saya coba terus timpa mundur masa lalu dengan muhasabah, sayaukur, perbanyak ilmu & pembelajaran.
A : Istigfarlah dengan lisan, hati, dan amalan. dengan lisan kita berucap,dengan hati kita merelakan ridlo dn ikhlash, dengan amal kita lakukan perubahan dan perbaikan. sibukan diri dengan menyusun masa depan. karena biasanya; bersibuk dalam kebaikan, maka tak sempat berpikir keburukan. bersibuk diri tuk urusan akhirat maka dunia akan mendatangi kita. bersibuk hanya urusan dunia, akhirat akan lepas. mungkin juga ada orang yang melakukan cara yang paling ekstrim brainwashing/ cuci otak, dan yang paling mudah LUPAKAN.

Q : Ustadz. Ktika kita merasa bersalah saat menasehati orang lain yang sdang berbuat ga baik pdhal kita sndiri pun blm baik (proses).  Bagaimana sikap kita agar tidak mnjadi orang yang merasa sok benar di dpan orang itu??
A : Niatkan karena Allah. Posisikan diri bahwa boleh jadi orang yang kita beri masukan/nasehat lebh mulia di hadapan Allah. Pakai bahasa yang lugas sehingga tidak terkesan menggurui, tapi mengajak tuk sama-sama menjadi lebih baik. bersabarlah dalam kebaikan....

Q : Kadang, diri sendiri suka lengah sama yang namanya ikhlas ustd. Ikhlas & sabar, bener-bener dua hal yang terasa susah banget buat dipraktekin, walaupun teori udh cukup kuat. Ustd, ada masukan untuk 2 hal itu?
A : Segalanya berproses. Ikhlas dan sabar juga bertingkat. itulah mengapa ada Nabiyullah yang tergolong ulul `azmi dan yang tidak. yakinlah Allah senantiasa melihat proses kita. dan berhitung amal serta pahala dari prosesnya. Selamat berjuang

Q : Assalamualaikum, ust saya mau bertanya bagaimana caranya agar saya tidak terus-terusan menyalahkan diri saya sendiri dengan sesuatu yang sudah saya perbuat dan bagaimana cara agar saya selalu bisa tenang dan sabar dalam menghadapi masalah?
A : Qadarullah. yang sudah terjadi tejadilah. berbalik romantisme tuk menghadirkan penyesalan hanya akan menambah beban saja. tapi jika romantisme sedih n gembira tuk bermuhasabah, itu ptg tuk menyusun masa depan yang lbh baik. ambilah yang baik. bersayaukurlah punya pengalaman yang mungkin jarang orang mengalaminya. daur ulanglah yang jelek. maka akan menjadi energi yang baik. PLUS sibukan diri dengan menyusun masa depan. karena biasanya; bersibuk dalam kebaikan, maka tak sempat berpikir keburukan. bersibuk diri tuk urusan akhirat maka dunia akan mendatangi kita. bersibuk hanya urusan dunia, akhirat akan lepas. mungkin juga ada orang yang melakukan cara yang paling ekstrim brainwashing/ cuci otak,
dan yang paling mudah LUPAKAN.


“Jika mendapatkan kepuasan atas apa yang diinginkan adalah suatu Nikmat Allah yang luar biasa. Maka menjumpai ketidakpuasan adalah nikmat Allah dalam bentuk yang lainnya. Tetaplah bersayaukur dan bersabar.”

Q : Ustad, pertanyaan out of context. Bagaimana caranya untuk tetap istiqomah dijalan dakwah sambil terus menimba ilmunya? Baik itu dakwah untuk orang lain dan orang terdekat.
A : Niatkan karena Allah. jangan pisahkan dakwah dengan hidup kita. Dakwah is mine. berkumpulah dengan para pejuang dakwah. jaga maknawiyah. selamat berjuang....

Q ; Awalnya ana tak ad niat mau menyalahkan. Tapi kemudian ad satu kejadian yang akhirnya membuat ana berfikir "ngapain tetep brangkat. Toh gak ad kabar dan gak berangkat aja gak ad yang nasehatin, gak ad yang tanya, gak ad yang care. Boro-boro teman, murobi aja gak perduli. Berarti bukan salah ana donk". Sering ad fikiran bgitu ustadz....
A : itulah godaan. diantara sekian juta orang yang ada, meski ia adalah MR, tapi kitalah/ akulah yang paling mungkin melakukan perubahan. berharap dr orang lain, meski ia MR, sering kecewa yang kita dapatkan. luruskan niat. berlombalah dalam kebaikan. coba renungkan : apa yang kita banggakan dari menyalahkan orang lain? apa untungnya?
Maknawiyah= ruhiyah= keimanan= kesholihan

Doa Kafaratul Majelis


إليك وآتوب ستغفرك أ أنت إلا ا إله لأان شهد وبحمدك اللهم سبحانك

Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa  atuubu ilaika

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
-Mu.”


Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Post a Comment

Ketik Materi yang anda cari !!