Kajian
Online Hamba الله SWT
Jum’at,
14 November 2014
Narasumber
: Ustd. Abu hasyif wahyudin
Rekapan
Grup Nanda 123 (Nadhifa)
Tema:
Syaksiatul Islam
Editor :Rini Ismayanti
-
KECINTAAN DAN KEDEKATAN SESAMA MUSLIM -
Sesungguhnya
Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan walâyah (kedekatan dan kecintaan) di
antara kaum Mukminin. Oleh karena itu, seorang Mukmin harus mencintai
saudaranya sesama Mukmin dengan tulus dari dalam hatinya. Karena hati-hati
mereka sama-sama mencintai Allâh, mencintai Rasul-Nya, dan tunduk pasrah
kepada-Nya dengan mengikuti agama Islam. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَالْمُؤْمِنُونَ
وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
Dan
orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi
wali (penolong) bagi sebagian yang lain. [at-Taubah/9:71]
Karena
seorang Mukmin mencintai saudaranya sesama Mukmin, maka dia akan menolongnya
dan membela kehormatannya. Dia tidak rela saudaranya dihinakan atau
direndahkan. Jika saudaranya dihinakan, dia akan tampil membelanya, karena ini
merupakan konsekwensi kecintaan.
Seorang
Mukmin tidak akan menuduh Mukmin lainnya dengan tuduhan palsu, apalagi tuduhan
itu dengan sebab kekeliruan saudaranya. Karena walâyah (kedekatan dan
kecintaan) itu akan mendorongnya untuk memberikan nasehat kepada saudaranya,
dia ingin saudaranya mendapatkan kebaikan sebagaimana dia menginginkan kebaikan
itu untuk dirinya. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لا
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidaklah
beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai (kebaikan) untuk
saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri [HR. Bukhâri dan
Muslim]
Semua
orang itu sering atau pernah melakukan kesalahan. Disebuntukan dalam sebuah
hadits :
عَنْ
أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ
ابْنِ
آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Dari
Anas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Semua anak cucu Adam sering berbuat salah dan sebaik-baik orang yang
banyak berbuat salah adalah mereka yang banyak bertaubat." [HR. Ahmad;
Tirmidzi; Ibnu Mâjah; Dârimi]
Jika
seorang Mukmin terjatuh dalam kesalahan, maka sepantasnya Mukmin lainnya
berusaha memberinya nasehat, karena sesungguhnya hati manusia itu suka dan
mudah menerima nasehat yang tulus dari hati. Tidak sebaliknya, membeberkan
kesalahan tersebut di kalangan umum atau menumpahkan kekesalan. Di saat itulah
keimanan yang ada di kalangan kaum Mukmin menjadi pengikat yang kuat, mereka
akan saling melindungi dan menolong.
Namun
sangat disayangkan, lemahnya semangat melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla
dan perintah Rasul-Nya telah tersebar dan merata di tengah masyarakat, sehingga
sebagian majlis-majlis mereka berisi celaan dan gangguan terhadap
saudara-saudara mereka sesama Mukmin.
Sebagian
orang yang lemah imannya, jika mendengar saudaranya terjatuh dalam kebatilan
atau kesalahan, mereka menyebarkannya dan menyangka itu merupakan bentuk
nasehat (ketulusan; pembelaan). Padahal, sejatinya itu bertentangan dengan
konsekwensi keimanan dan konsekwensi kecintaan sesama kaum Mukminin. Ini jika
yang mereka sebuntukan itu benar. Lalu bagaimana jika yang dia sebuntukan itu
tidak benar? Bagaimana jika yang dia sebuntukan itu dusta lalu disebarkan oleh
banyak orang tanpa memperdulikan kehormatan saudara-saudara mereka sesama
Mukmin ?! Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَالَّذِينَ
يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا
اكْتَسَبُوا
فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
Dan
orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan
yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa
yang nyata. [al-Ahzâb/33: 58]
Dalam
ayat yang mulia ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang
yang menyakiti kaum Mukminin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat,
maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. Termasuk
dalam hal ini adalah menuduh dan menyebarkan berita dusta. Karena mereka hanya
mendengar berita buruk, lalu disebar dan diulang-ulang. Mereka tidak memiliki
bukti kongkrit. Oleh karena itu, mereka memikul dosa yang nyata, perbuatan
maksiat yang nyata. Pelakunya tidak mendapatkan pahala, bahkan dia memikul dosa
dan keburukan di dunia dan akhirat.
Sifat
yang buruk ini, maksudnya menuduh dengan tuduhan palsu terhadap orang-orang
beriman, yang yang diancam dalam ayat yang agung ini, sering dilakukan manusia
semenjak zaman dahulu.
Ada
sekelompok orang Rafidhah atau Syi’ah di zaman dahulu dan berikutnya telah
menuduh kaum Mukminin dan Mukminat yang paling tinggi keimanan mereka, yaitu
para sahabat Rasûlullâh n , dengan tuduhan yang tidak pernah mereka lakukan.
Ini adalah dusta dan dosa nyata, sebagaimana dinyatakan oleh Allâh Azza wa
Jalla. Tuduhan ini telah tersebar di kalangan manusia di zaman dahulu dan zaman
sekarang.
Ada
juga sekelompok orang dari umat ini yang menuduh para Ulama mereka, padahal
para Ulama ini mengiringi para sahabat dalam keimanan dan pengamalan Islam.
Mereka mengikuti petunjuk Allâh Azza wa Jalla , meniti jalan Sunnah, dan
mengajak kepada aqidah tauhid, aqidah as-salafus shalih.
Tuduhan
batil terhadap Ulama ini tersebar di masyarakat di zaman dahulu dan sekarang
yang lemah imannya. Diantara mereka ada yang mengatakan berdasarkan dugaan,
bukan berdasarkan suatu yang meyakinkan, “Aku sangka demikian.” Kemudian ada
orang lain di majlis itu yang mendengarnya lalu menyampaikan ke orang lain. Dia
mengatakan, “Diceritakan bahwa si A demikian dan demikian”, lalu datang orang
ketiga dan mengatakan, “Aku telah mendengar demikian”, kemudian datang orang
yang ke empat dan mengatakan, “Seorang yang tsiqah (terpercaya) telah
memberitahuku demikian”. Lalu datang orang kelima dan menjadikannya sebagai berita
yang benar, dianggap sebuah kebenaran yang tidak bisa didiskusikan lagi. Lalu
berita itu tersebar di tengah masyarakat, padahal itu adalah tuduhan dusta
terhadap Ulama.
Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang ghibah:
ذِكْرُكَ
أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
Engkau
menyebut saudaramu dengan apa yang dia benci.
Lalu
beliau ditanya:
أَفَرَأَيْتَ
إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ
“Bagaimana
pendapatmu, jika apa yang aku katakan itu benar-benar ada pada saudaraku ?”
Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :
إِنْ
كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ
فَقَدْ
بَهَتَّهُ
Jika
apa yang engkau katakan itu benar adanya, berarti engkau telah mengghibahnya.
Jika tidak ada padanya, berarti engkau telah membuat kedustaan atasnya. [HR.
Muslim, no. 2589; Tirmidzi, no. 1935; Abu Dâwud, no. 4874]
Ini
fakta dalam banyak majlis. Mereka membicarakan orang-orang baik, orang-orang
pilihan, para Ulama yang mengajak kepada petunjuk, mengajarkan umat aqidah
Salaf, mengajak agar umat berpegang teguh dengan Islam. Mereka menuduhkan
kepada para Ulama sesuatu yang tidak ada pada mereka atau tidak mereka lakukan.
Dasar perkataan mereka hanyalah persangkaan semata, padahal Allâh Subhanahu wa
Ta’ala berfirman :
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ
Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan)
[Al-Hujurat/49: 12]
Allâh
Azza wa Jalla mewajibkan kaum Mukminin menjauhi persangkaan diantara mereka.
Allâh juga mewajibkan kaum Mukminin menjauhi sikap saling mencela. Kalau saling
mencela sesama saja terlarang, lalu bagaimana jika celaan diarahkan kepada
Ulama yang merupakan pewaris para Nabi. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
وَإِنَّ
الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ
يُوَرِّثُوا
دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ
أَخَذَ
بِحَظٍّ وَافِرٍ
Dan
sesungguhnya para Ulama itu pewaris para Nabi. Para Nabi itu tidak mewariskan dinar
dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya maka dia
telah mengambil bagian yang banyak. [HR. Abu Dâwud no:3641; Tirmidzi no:3641;
Ibnu Mâjah no: 223; Ahmad 4/196; Dârimi no: 1/98. haditn ini dinilai hasan oleh
Syaikh Salim al-Hilali dalam Bahjatun
Nâzhirin
2/470, hadits no: 1388]
Ini
sebuah fakta yang menyedihkan. Seharusnya majlis-majlis kaum Mukminin bersih
dari kedustaan dan dari hal-hal yang bisa mendatangkan dosa yang nyata dan dosa
besar.
Kewajiban
orang-orang yang beriman adalah saling menolong dan saling mencintai. Dan
diantara buah kecintaan itu adalah saling menjaga kehormatan. Dan kehormatan
paling tinggi yang berhak untuk dijaga adalah kehormatan Ulama umat ini.
Persangkaan buruk kepada Ulama, hanya merugikan pelakunya sendiri, karena
dampak buruknya akan kembali kepada pelaku.
Demikian
juga halnya mencela orang-orang beriman dengan sesuatu yang tidak mereka
lakukan. Perilaku buruk ini juga sudah tersebar di sebagian majlis-majlis.
Mereka menuduh orang lain hanya dengan dasar persangkaan. Perilaku buruk ini
harus dihentikan ! Karena mencela orang lain dan menyebarkannya berarti mencela
dirinya sendiri. Tidakkah kita dengar firman Allâh Azza wa Jalla :
وَلَا
تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ
Dan
janganlah suka mencela dirimu sendiri [al-Hujurat/49:11]
Jika
seorang Mukmin mencela saudaranya yang beriman, itu sebenarnya dia mencela
dirinya sendiri, karena seorang Mukmin adalah saudara bagi Mukmin yang lain.
Seharusnya, dia berusaha menjaga dan membela kehormatannya. Jika seseorang
melihat atau mendengar keburukan orang lain, lalu dia menyebarkannya, berarti
dia tidak peduli dosa dan akibat buruknya, padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda kepada Mu’adz Radhiyallahu anhu sambil memberikan isyarat
kearah lidah :
كُفَّ
عَلَيْكَ هَذَا
Tahan
ini !
Mu’adz
Radhiyallahu anhu bertanya :
يَا
نَبِيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ ؟
Wahai
Nabi Allâh, apakah kita akan disiksa dengan sebab ucapan yang kita katakan ?
Beliau
menjawab :
ثَكِلَتْكَ
أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى
وُجُوهِهِمْ
أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
Kasihan
engkau hai Mu’adz ! Adakah yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka pada
wajah-wajah mereka atau hidung-hidung mereka selain hasil-hasil (akibat-akibat
buruk) lidah mereka ?”.[Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, no: 2616; Ibnu Mâjah,
no: 3872; Ahmad 5/230, 236, 237, 245; dll; Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni
dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr, no: 5126 dan Irwâ'ul Ghalîl, no. 413]
Oleh
karena itu barangsiapa mendengar tentang sesuatu, tetapi dia belum memastikan
kebenarannya, maka jangan sekali-kali dia membicarakannya. Karena menjaga
kehormatan seorang Mukmin hukumnya wajib. Jika dia mendengar tentang sesuatu
dan sudah memastikan kebenarannya, maka dia tidak boleh menyebarkannya dan
menyampaikan kepada orang lain. Dia berkewajiban memberi nasehat secara
rahasia. Karena jika dosa-dosa itu disebarkan di tengah masyarakat, maka mereka
akan meremehkannya. Sehingga menyebarkan beritanya kan lebih mempermudah
tersebarnya perbuatan dosa tersebut setelah sebelumnya disebarkan dengan
perbuatan.
Hendaklah
kita memperhatikan masalah besar ini. Yaitu masalah memberikan nasehat kepada
kaum Mukminin. Memberikan nasehat dengan tetap menjaga kehormatan mereka,
membimbing dan mengarahkannya untuk melakukan hal-hal yang bisa mendatangkan
kebaikan.
Hendaklah
kita menjaga kehormatan para Ulama. Karena jika para Ulama dicela, maka
perkataan mereka tidak akan didengar. Kedudukan mereka yang mulia sebagai
pembimbing, pemberi fatwa dan juru dakwah akan hilang. Karena tabi'at umumnya
orang, jika ada orang lain yang memiliki reputasi buruk, maka mereka tidak akan
mendengar perkataannya.
Oleh
karena itu, kita berkewajiban menjaga kehormatan para Ulama kita dari hal-hal
buruk yang mereka sebarkan. Bukan hanya para Ulama, bahkan kita juga wajib
menjaga kehormatan seluruh kaum Mukminin sesuai dengan kedudukannya di dalam
keimanan, sesuai dengan kedudukannya di dalam melaksanakan perintah Allâh dan
perintah RasulNya. Ini merupakan perkara penting. Janganlah kita isi majlis
kita dengan desas-desus, “Fulan telah berkata”, “Orang lain berkata”, yang jika
kita perhatikan, perkataan itu menyakiti kaum Mukminin dengan sesuatu yang
tidak pernah mereka lakukan.
Kita
memohon kepada Allâh Yang Maha Agung agar mensucikan lidah kita dan pendengaran
kita. Dan agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengucapkan perkataan
yang haq dan termasuk orang-orang berhati bersih yang selalu husnuz zhan (berbaik
sangka) terhadap seluruh kaum Muslimin. Aku mohon petunjuk, ketaqwaan, ‘afaf
(kehormatan; kemuliaan), dan kecukupan kepada Allâh untukku dan untuk kalian
semua. Wallahu a'lam
TANYA
jawab
Q
: Bismillah ..bagaimana menurut ustadz dengan masyarakat indonesia saat ini
mana kala kita belajar agama dan hanya condong pada satu oranganisasi dan
justru malah menimbulkan rasa tidak penerimaan di oranganisasi lain ??Dan
apakah benar islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan
saja yang akan masuk surga ...Bagaimana jika kita ga condong hanya satu oranganisasi
ustadz dengan tujuan menjadi ISLAM yang KAFFAH boleh tidak jika seperti itu ??
A
: Ukhty.... yang di Rohmati Allah... pertanyaan yang sangat bagus sekali. dalam
hadits Rosululloh bhw Umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua masuk neraka kecuali satu yang masuk surga
yaitu Al-Jamaah. Maka para sahabat bertanya : siapakah al-jamaah itu yaa
Rosululloh...? Maka Beliau berkata : yaitu ahlus sunnah wal jamaah. Yaitu
mereka yang beragama sesuai dengan tuntunan Rosululloh.Maka kita menuntut ilmu
harus sesuai al-qur'an dan As-sunnah diatas pemahaman para ulama salaf Allaahu
a'lam. Dan bertanya kepada ahli ilmu apabila tdk mengetahui. Merupakan sesuatu yang
salah seorang bertanya masalah agama kepada insinyur atau artis. Begitu juga
sebaliknya.
Q
: Maa'syaa Allah ..tetapi disatu sisi semua orang belum paham dan mengerti akan
hal itu ustadz bagaimana cara kita menanggapi spekulasi spekulasi orang orang
diluar sana yang mungkin berbicara yang negatif dulu tanpa mau belajar memahami
bahwa apa yang kita lakukan sesuai dengan ajaran rasullulah ..
A
: Nah... itu tergantung metode yang disampaikan oleh para ustadz. Bagaimana bisa
memberikan pemahaman kepada mad'u atau orang yang didakwahi. Ketika kita
mengikuti sunnah yang diajarkan rasulullah tapi malah dianggapnya aneh
berlebihan dll
Q
: Brarti itu sdah sunnahnya yaa ustadz bhwa yang bnar akan selalu di asingkan
..
A
: Islam datang dengan generasi yang asing. Dan akhir zaman akan asing pula. Jadi
tidak perlu dikhawatirkan orang menganggapnya apa atau kita yang malu menerapkan
sunnah memakai hijab dll. Mereka memandang aneh karena kebodohan mereka. Maka
kita doakan semoga mereka diberikan lapang dada untuk bertanya lebih-lebih dalam
menuntut ilmu. Jadi jangan
mengejek
orang yang mengejek kita.
Q
: Maksudnya datang dengan generasi asing apa ust?
A
: Generasi yang asing atau aneh itu jumlahnya sedikit dan mereka di anggap aneh
sama orang lain. Kalo laki yang menerapkan sunnah jenggot, celana cingkrang,
pakae jubah/kamis dan wanita pake jubah dan jilbab besar serta cadar dianggap
aneh, ninja sama orang yang awwam.
Q
: Ustadz, saat ini ada beberapa kelompok yang sama-sama mengklaim diri sebagai
ahlus sunnah wal jama'ah/salafy.. Namun mereka pun ternyata tdk bisa bersatu,
ada yang menebarkan berita bahwa salafy yang itu tidak sesuai sunnah, dll. Nah sedangkan
sebagai orang awwam saya ingin sekali belajar pd mereka tapi tidak bisa membedakan
mana yang benar-benar sesuai sunnah. Ada kiat bagi saya ustadz? Syukran.
A
: Silahkan nonton tv rodja atau dengarkan radio rodja atau wesal tv juga ahsan
tv. Bagi yang menganggap kita sesat dll maka kembali kepada Ayat allah : kul
haatu burhaanakum inkuntum shoodiqiin.... tunjukan hujjahmu apabila kalian orang-orang
yang benar. Banyak yang mengkalim ahlu sunnah tapi banyak ibadah mereka yang menyimpang
dari ahlu sunnah.
Q
: Luruskan dengan akhlak mulia saja jika mereka mengganggap kita tetoris dll karena
dakwah yang plng utama adalah akhlak bner ga ustadz ??
A
: Betul sekali ukhti. Dakwah itu tidak harus dengan lisan tapi juga dengan perbuatan
yaitu dengan menampakkan akhlak yang mulia kepada orang yang membenci kita dan jugan
lupa bersabar. Kita butuh proses untuk mendakwahkan mereka. Dakwah itu dengan
kelembutan bukan dengan kekerasan. Kita baru dakwah sebulan sudah malas. Nah...
bagaimana dengan Rosululloh 23 tahun berdakwah. Itu yang dibandingkan. Apakah
Rosululoh melawan atau bersabar? Rasululloh adalah manusia yang paling baik
akhlaknya dan yang paling adil di muka
bumi
ini.
Q
: Ustadz, di kalangan aktivis dakwah populer istilah "tarbiyah" Dan "salafy".
Namun mereka beranggapan antara keduanya meski sama2 ahlussunnah tapi berbeda, karena
bagi kalangan yang menyebut diri mereka tarbiyah, salafy itu saklek sehingga
dakwah mereka ga luas.. Saya pernah alami, karena saya hobi pakai baju dan kerudung
hitam panjang dan ikut kajian sunnah di TV radio atau offline.. Temen saya
nasihatin supaya saya berubah, berpakaian ga hitam-hitam
lagi
karena bila saya masih seperti itu maka saya bisa kesulitan berdakwah di kalangan
pemuda yang masih awam (saya masuk di oranganisasi remaja Islam yang fokusnya dakwah
pd remaja urban). Seakan-akan bila seseorang belajar sunnah maka dia
berseberangan dengan kaum tarbiyah. Padahal saya ga suka ada pengkotakan
tarbiyah atau salafy smacam itu. Saya cm mau ikut ahlussunnah, itu aja.. Bagaimana
tanggapan ustadz?
A
: Tau Tarbiyah itu apa artinya? Tashfiyyah wa tarbiyyah ada pada Salaf. Tashfiyyah
itu saling menasehati. Sedangkan tarbiyyah itu saling mendidik. Semua sudah ada
pada manhaj salaf atau salafy. Manhaj yang hak dan sesuai dengan ahlu sunnah
wal jamaah yang berpedoman diatas Al-Qur'an dan As-Sunnah ala fahmi salaful
ummah yaitu para sahabat Nabi.
Q
: Kalau yang saya tangkap, kalangan "tarbiyah" itu biasanya merujuk
pada pengikut partai Islam P*S.. Heuu.. Lalu pertanyaan saya selanjutnya
ustadz, apakah tindakan bijaksana bila saya sdikit merubah Cara berpakaian saya
menjadi lebih "umum", yaitu berwarna warni dan krudung juga tdk
terlalu panjang, yang penting menutup dada..tidak cuma hitam.. Semua demi
kemudahan saya berdakwah?
A
: Ukhty... islam itu bukan agama yang susah dan menyusahkan atau menetapkan
sesuatu yang bukan kewajiban. Islam memerintahkan tidak harus make yang hitam. Yang
warna lain juga boleh asal juga yang menyolok shg menarik perhatian. Bisa pake
coklat. Biru dongker. Hijo tua. Merah hati dll. Jilbabnya harus menutup dada
hinngga sampe pinggul. Kalo mampu sampe betis. Untuk ungu tua juga boleh asal jangan
pink. Ungu muda. Kuning. Hijo muda. Putih karena itu semua menyolok dan
transparan. Coba liat...
Q
: Saya pernah dengar tausiyah dari umi pipik ustadz ...mungkin bagi sebagian
orang warna hitam itu menyeramkan tetapi itu sebenarnya gak, justru hitam itu
menunjukan identitas diri kita sebagai manusia yang penuh dengan noda dan dosa
tujuannya agar kita bisa tawaddu kepada Allah ..bnar ga ustadz..hehe
A
: Tdk apa-apa pake yang hitam lihat kondisi masyarakat. Kalo masyarakat
setempat membenci warna hitam maka jugan dipake karena mereka belum tahu
ilmunya.
Q
: Ana kan tinggal di kampung pedalaman ada saudara ana pake jilbab gede n dia
jalan dilihatin sinis gtu ma masyarakat, teman yang tinggal d kota ja digtuin
ma masyarakat apa lagi kita yang tinggal di desa yang syiriknya masih kental....
A
: Semuany butuh proses, terus berusaha dan terus bersabar...
Baik kita
tutup dgn hamdalah dan istighfar sebanyak-banyanya ya...
Doa
Kafaratul Majelis
إليك
وآتوب ستغفرك أ أنت إلا ا إله لأان شهد وبحمدك اللهم سبحانك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha
Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang
haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat
kepada-Mu.”
Semoga
Bermanfaat
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment