Kajian
Online Hamba الله
Kamis,
4 Desember 2014
Narasumber
: Ustadz Kholid
Rekapan
Grup Nanda 115-116 (Riski)
Tema
: Motivasi Islam (Manajemen Cinta)
Editor
: Rini Ismayanti
Assalamu'alaikum wr. wb.
Bismillah...
Resapi,
renungkan materi ini dan mari kita bahas bersama dalam rangka menapaki masa
depan yang gemilang!
MANAJEMEN
CINTA
Cinta
memang indah didengar dan luar biasa akibat yang ditimbulkan. Bisa
menyelamatkan dan bisa juga menjerumuskan. Semuanya tergantung bagaimana kita
mengendalikan.
Max
Luscher dengan cukup mengejutkan mengatakan: “Cinta tanpa
hasrat seks, seperti kertas kosong yang tak tertulisi”.
Apa maksudnya? Cinta itu sama sekali tidak mempunyai nilai
seni, hampa dan gersang. Dan ternyata fatwa cinta model Luscher inilah
yang banyak diamalkan muda-mudi zaman ini. Ini jelas bertolak belakang dengan
konsep cinta sejati. Erick From misalnya, pernah bertutur: “Cinta
adalah untuk memberi tidak untuk menerima”. Cinta
sejati seperti inilah yang seharusnya menjadi motivasi awal jalinan kasih,
bukan karena faktor lain. Karenanya, cinta birahi ala Max Luscher
yang banyak dijalani oleh remaja perlu diberi pelurusan, sehingga diharapkan
tidak menyimpang dari fitrah cinta itu sendiri.
Bagaimana
cinta menurut Islam?
Cinta
islami senantiasa dibangun di atas pondasi yang bercorak islam; al-Quran
dan Hadis. Pandangan Max Luscher tentang cinta yang diidentikkan
dengan pemuasan seks itu, karenanya bertolak belakang dengan paradigma dan
semangat cinta islami. Pandangan tersebut dilatarbelakangi paradigma barat
yang jauh dari nilai keislaman dan bahkan cenderung bebas tanpa aturan
ilahiah. Karenanya, kita perlu mencoba menerapkan konsep cinta yang
ditawarkan oleh Islam. Islam menekankan kepada para penjalin
(pelaku) cinta kasih untuk mencintai kekasihnya dengan landasan
ilahiyah (ketuhanan), semata karena Allah SWT.
Dalam
salah satu Hadis Qudsi-Nya Allah mengatakan:
“Kecintaan-Ku
wajib kuberikan kepada orang yang menjalin cinta kasih semata karena
Aku” (wajabat
mahabbatii li al-mutahabbina fiyya).”
Disamping
itu, Islam juga menekankan kepada pelaku cinta kasih untuk mencintai
kekasihnya secara wajar, tidak kelewat batas. Sebab, sesuatu yang
ditanamkan secara berlebihan, ketika tercerabut akan meninggalkan
luka atau bekas
yang dalam dan sulit dihilangkan. Orang yang mencintai kekasihnya dengan
porsi kecintaan yang berlebihan, ketika ia ditinggalkan (dikhianati)
oleh sang terkasih, maka ia akan merasakan sakit hati dan kepedihan yang
kelewat batas pula, bahkan boleh jadi menimbulkan kegilaan dan hal ini
sering kali terjadi.
Konsep “kewajaran
cinta kasih” di
atas sebenarnya diilhami oleh hadits Nabi Muhammad SAW yang menekankan
kepada pelaku cinta kasih supaya mencintai kekasih hatinya secara biasa-biasa
saja (wajar), karena tidak menutup pintu kemungkinan, sang terkasih pada
suatu saat justru akan menjadi musuh yang paling dibenci. Begitu pula
terhadap orang yang dibenci, jangan kelewat batas memberikan
porsi kebencian kepadanya, karena siapa sangka pada suatu saat nanti
ia justru akan menjadi orang yang paling dicintai dan dikasihi. Semuanya
serba mungkin terjadi, dan itulah skenario yang dimainkan oleh Allah SWT
dengan cantik namun tak terduga.
Kekasih
adalah sosok yang dekat kepada kita. Rahasia, keluh kesah, beban hati,
suka cita, dan hal-hal lainnya dengan tulus ikhlas akan
diutarakan kepadanya tanpa sedikit pun terbersit kecurigaan.
Rahasia pribadi akan mengalir dengan deras dan lancar ke telinga
sang terkasih untuk disemayamkan di dalam lubuk hatinya yang paling
dalam. Namun demikian, kita perlu menanamkan sikap waspada dan hati-hati,
walau terhadap orang yang sangat kita percaya. Kepercayaan belum tentu
selamanya akan langgeng sebagai kepercayaan. Kepercayaan dapat berubah
menjadi pengkhianatan.
Selain “kewajaran
cinta”,
Islam juga menekankan kepada pelaku cinta kasih untuk memilih
kekasihnya berdasarkan tingkat keberagamaan, bukan karena harta,
kecantikan, maupun garis keturunan. Selain agama, semuanya hanya keduniaan
yang semu penuh ilusi dan belum tentu akan membawa kebahagiaan di akhirat.
Jangan kita terpesona oleh kebahagiaan semu yang justru tidak akan
mendatangkan kebahagiaan haqiqi. Janganlah kita berbahagia terhadap hal-hal
yang justru tidak akan membuat kebahagiaan.
Cinta,
bahkan dimaknai secara unik oleh kalangan sufi. Tentu cinta yang
tidak pada lawan jenis melainkan kepada Sang Kekasih, yakni Allah
SWT. Inilah cinta yang sesungguhnya. Abu Yazid al-Bustami menyatakan bahwa cinta
adalah membebaskan hal-hal sebesar apapun yang datang dari dalam diri dan
membesar-besarkan hal-hal kecil yang datang dari sang kekasih”. Sementara
al-Junayd berkata bahwa cinta berarti merasuknya sifat-sifat Sang
Kekasih ke dalam diri, mengambil alih sifat-sifat Sang Pencipta. Bagi
al-Junayd, keadaan ini menunjukkan betapa hati si pencinta direnggut
oleh ingatan akan sifat-sifat Sang Kekasih, tak satupun
yang tertinggal selain ingatan akan sifat-sifat sang kekasih, hingga
si pencinta lupa dan tak sadar akan sifat-sifatnya sendiri. Syeikh
Abu Ali ad-Daqqaq menegaskan bahwa cinta adalah
kelezatan. Akan tetapi hakikatnya adalah kedahsyatan.
Rasulullah
SAW memberikan
isyarat akan keajaiban gejolak cinta ini dalam sebuah hadits:
“Cintamu
pada sesuatu, membutakan dan menulikan”. (HR. Abu
Dawud)
Adab
Bergaul dengan lawan jenis.
Menjadi
manusia yang beriman kepada Allah SWT tentu tidak mudah, karena
banyak godaan dalam mencapainya, dikarenakan balasan yang Allah SWT
janjikan pun tidak terbandingkan dan semua orang
pun menginginkannya. Sebaik-baiknya pemudi ialah pemudi
atau fatayaat yang mampu menjaga dirinya dari godaan. Godaan-godaan
untuk menjadi orang shalih/shalihah sering kali datang dan menggebu-gebu saat
kita menginjak usia remaja, dimana pubertas seseorang ada di
masa ini. Bukan hal yang mudah pula bagi remaja muslim
untuk melewati masa ini. Namun sungguh sangat indah remaja yang
mampu lulus melewati masa pubertas yang penuh godaan ini.
Karenanya,
sudah seharusnya kita bersabar dalam mengendalikan hawa nafsu. Imam
al-Ghazali menuturkan; “Sabar adalah suatu kondisi psikologi tertentu
dimana hati digunakan untuk mengendalikan nafsu”. Disinilah
kesabaran pemuda-pemudi seringkali kalah oleh nafsunya. Salah satu
godaan yang amat besar pada usia remaja adalah “rasa ketertarikan
terhadap lawan jenis”. Memang, rasa tertarik terhadap lawan jenis
adalah fitrah manusia, baik wanita atau lelaki. Namun, kalau kita
tidak bisa memenej
perasaan tersebut, maka hal itu akan menjadi malapetaka yang amat besar, baik untuk
diri sendiri ataupun untuk orang yang kita sukai.
Sudah Allah
SWT tunjukkan dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW:
“Zina
kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga adalah dengan
mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah
dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah.
Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan.
Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau
mengingkari yang demikian .” (HR. Muslim)
Sebagai
hamba Allah SWT kita harus yakin bahwa kehormatan kita harus dijaga
dan dirawat, terlebih ketika berkomunikasi atau bergaul dengan lawan
jenis, agar tidak ada madharat (bahaya) atau bahkan fitnah yang bisa
muncul. Untuk itu, sebaiknya kita sebagai remaja memperhatikan
dan menjaga adab dalam bergaul dengan lawan jenis.
Diantara adab-adab
itu adalah:
Pertama
, jangan berkhalwat (berdua-duaan). TTM atau teman tapi mesra,
kemana-mana bareng, hal ini merupakan gambaran remaja umumnya
saat ini, dimana batas-batas pergaulan di sekolah umum sudah
sangat tidak wajar dan melanggar prinsip Islam. Namun tidak mengapa
kita sekolah di sekolah umum, jika tetap bisa menjaga
adab-adab bergaul dengan lawan jenis. Jika ada seorang laki-laki
berduaan dengan seorang perempuan, maka yang ketiga sebagai pendampingnya
adalah setan. Dari Umar bin al-Khattab, ia berkhutbah di hadapan
manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus). Ia membawakan sabda
Nabi Muhammad SAW :
“Janganlah
salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang
bukan mahramnya),
karena
setan adalah orang yang ketiganya. Siapa yang bangga dengan
kebaikannya dan sedih dengan keburukannya, maka dia adalah seorang
yang
mukmin.”
(HR. Ahmad)
Kedua,
menundukkan pandangan. Pandangan laki-laki terhadap perempuan
atau sebaliknya adalah termasuk panah-panah setan. Banyak
hal buruk yang timbul dari pandangan, karena pandangan yang
disertai nafsu inilah pintu munculnya keburukan. Kalau pandangan itu
cuma sekilas saja, spontanitas atau tidak sengaja, maka tidak menjadi
masalah pandangan mata tersebut. Pandangan pertama yang
tidak sengaja diperbolehkan, namun selanjutnya adalah haram.
Ketiga,
jaga aurat terhadap lawan jenis. Jagalah aurat kita
dari pandangan laki-laki atau perempuan yang bukan mahramnya. Yang tidak termasuk
mahram seperti teman sekolah, teman bermain, teman pena. Bahkan teman
dekat pun kalau dia bukan mahram kita, maka kita wajib menutup aurat. Baiknya,
pakailah busana yang sesuai kreteria 4T: Tutup aurat, Tidak transparan
(tembus pandang), Tidak ketat, dan Tidak menyerupai pakaian lawan
jenis. Apabila 4 kriteria ini sudah terpenuhi, maka pakaian itu sudah
sesuai dengan ketentuan Islam.
Keempat,
tidak boleh ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan). Ikhtilat
itu adalah campur baurnya seorang laki-laki dan perempuan
di satu tempat tanpa ada hijab atau pembatas yang memisahkan mereka. Tanpa
pembatas itu, masing-masing laki-laki atau perempuan bisa melihat lawan
jenis dengan sangat mudah dan sesuka hatinya. Ikhtilat ini sangat
potensial memunculkan hal-hal yang tidak diinginkan bagi kalangan remaja.
Kelima,
menjaga kemaluan. Menjaga kemaluan juga bukan hal yang mudah, karena
dewasa ini banyak sekali remaja yang terjebak dalam pergaulan dan seks bebas.
Sebagai muslim, kita wajib tahu bagaimana caranya menjaga kemaluan.
Caranya antara lain dengan tidak melihat gambar-gambar yang senonoh atau
membangkitkan nafsu syahwat, tidak terlalu sering membaca atau menonton
kisah-kisah percintaan. Juga tidak sering bercampur secara bebas dengan lawan
jenis.
Taubat
dari Pacaran
Taubat
adalah mencuci hati yang kotor dengan air mata dan membakarnya dengan kobaran
api penyesalan. Tidak diragukan lagi bahwa taubat adalah sesuatu yang harus
dilakukan bagi pelaku dosa, apalagi dosa tersebut adalah dosa besar semisal
perzinaan akibat pacaran tanpa aturan. Diantara hal yang membuat dosa bisa
menjadi besar adalah jika maksiat dilakukan terus-menerus.
Contoh
yang biasa dilakukan oleh kawula muda adalah pacaran, karena tidak ada pacaran
yang lepas dari jalan yang haram dan merupakan jalan menuju zina. Karena itu,
untuk melindungi masa depan kita sebagai remaja, maka kita harus menjaga diri
dari menjalin hubungan pacaran yang bisa jadi akibatnya akan merugikan diri
kita sendiri,keluarga dan masyarakat. Untuk itu, ada beberapa hal penting
yang perlu diingat untuk memperbaiki kualitas diri kita.
Pertama,
Dari
tinjauan berbagai sisi pacaran itu terlarang. Allah SWT berfirman:
“Dan
janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S.. al-Isra: 32).
Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa pacaran yang dilandasi nafsu semata akan
menggiring pada zina, karena hati bisa tergoda oleh kata-kata cinta. Tangan
bisa berbuat nakal dengan menyentuh pasangan yang bukan miliknya yang halal.
Kedua, dosa
mengharuskan taubat. Allah SWT berfirman: “ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah
kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)”. (Q.S. At-Tahrim:
8)
Ujung
zina adalah penyesalan. Dosa apapun akan menimbulkan kerugian. Apalagi dengan
berzina, maka selain berdosa, juga akan diselimuti oleh rasa penyesalan. Dan
itu sesuai realita. Awal zina dipenuhi rasa khawatir. Coba lihat saja apa yang
dilakukan orang yang hendak berzina. Awalnya mereka berusaha tidak terlihat orang
lain, khawatir ada yang melihat perbuatan dosa mereka, ujung-ujungnya dipenuhi
rasa
penyesalan.
Karena bisa jadi si perempuan hamil, si laki-laki dituntut tanggaungjawab
Akhirnya pusing kepayang dan yang ada adalah rasa malu. Naik ke pelaminan pun
sudah dicap “jelek” karena terpaksa “married by accident ”
(MBA). Na’udzubillahi mindzalik.
Kita
berlindung kepada Allah SWT dari keburukan-keburukan yang terjadi di masa
remaja kita. Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk senantiasa berada
dalam
kebaikan
dan memberikan kecerdasan dalam memenej cinta. Wallallahua’lam.
TANYA
JAWAB
T
: Ustadz saya mau tanya... Bagaimna caranya menghindari zina? Terutama
zina hati dan zina mata ustadz... syukron ustadz.
J
: Secara naluri (gharizah) mata dan hati kita punya kecenderungan menikmati
keindahan termasuk makhluk indah yang bernama "lawan jenis". Tapi kita juga
harus
ingat peringatan nabi bahwa salah satu penyebab kehancuran adalah
menuruti kecenderungan
jahat atau nafsu.
Solusinya:
membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dengan aktifitas-aktifitas ibadah sunnah misalnya
shoum, shalat lail, tilawah Al Quran dll. Selain itu selalu instropeksi (muhasabah) serta
bersahabat dengan orang-orang sholih/sholihah.
T
: Ustadz bagaimana ya solusinya ketika ada beberapa teman mereka bilang ga
pacaran tapi manggilnya
abi ummi hehehe tapi dia merasa bahwa dengan kayak gitu ia menjadi lebih
baik bahkan sudah
bisa berjilbab syar'i. Nasehatinnya gimana ya ustadz?
J
: Di masyarakat umum
biasanya juga manggil papa/mama gitu kok. Lucu ya kalo
direnungkan tapi nyata ini. Jilbab syar'i nya nggak salah itu
karena nutup
aurat kan perintah agama. Mungkin yang perlu diluruskan niatnya menutup aurat ya.
T
: Yang
saya bingung itu ustadz selalu ada embel embel “PACARAN ISLAMI” itu
memangnya ada yaa ustadz?
J
: Itu
namanya mencampuradukkan yang haq dengan yang batil. Islam itu haq pacaran itu batil. Nggak
akan bisa ketemulah. Lain lagi kalo pacaranya setelah menikah. Silahkan baca
buku "Indahnya Pacaran Setelah Menikah - tulisan
Salim A. Fillah".
T
: Tapi di sini juga saya
ga mau menghakimi atau menghujat orang berpacaran ustadz saya juga pernah
dulu kena virus merah jambu. Semua orang punya sejarah yang mungkin itu bisa jadi buat
acuan untuk jadi lebih
baik.. Saya mau mengingatkan karena saya mau kita sama-sama
masuk surga karena menurut Wiwin, sahabat yang baik itu mengingatkan dalam
kebaikan jangan
pernah lelah meskipun nasehat kita diabaikan.
J
: Nahnu du'at laisa qudhat (kita ini ~trmasuk Nanda Wiwin~ adlh dai bukan
hakim).
T
: Trus
ustadz hal yang
paling
susah itu kan menjaga hati yaa. Ada tips ga ustadz supaya bisa menjaga hati dengn
baik takut Allah cemburu ketika kita udah ada rasa sama lawan jenis trus
gimana caranya ngejaga hati kita supaya tetap mencintai Allah?
J
: Tazkiyatun nafs, perbanyak aktifitas positif.
T
: Ustad mau tnya.. Ne lg ad masala ne,tentang
bagaimana
cara menundukkn hati yang menggebu-gebu akan target pribadi yang udah dibuat, takutnya
klo gak kecapai
sesuai waktu
jadi marah,sedih,menyesal
dan
larinya ke sakit (nyeri telan - kata Ustad Danu
dulu kalo nyeri
telan karena
kebanyakan
keinginan).
J
: Ikhtiar, libatkan Allah (doa), tawakal, ridha dengan takdir.
T
: Trs ustadz ketika kita uda sabar uda ikhtiar uda usaha juga tapi belum
dapet jodoh juga salahnya
dimana yaa ustadz? hehe
J
: Tidak
ada yabg
salah, banyak istighfar.
T
: Ustadz, teman
saya ada yang
untuk
menjaga
hati supaya ga suka ma cowok yang belum halal, dia kalau udah mulai
ada rasa gitu suka
sengaja inget-inget keburukan
orang
itu.. Salah ga cara begitu Ustadz? Soalnya kan manusia itu harus inget kebaikan
orang dan
melupakan kejahatannya.. (Kata Imam Syafi'i bukan ya ustadz?)
J
: Kenapa harus gitu? Itu namanya melawan nafsu satu sisi tapi juga
menuruti nafsu dari sisi
yang lain. Nggak
menyukai (dalam
tanda petik) bukan berarti harus membenci lo ya.
T
: Ustadz mau tanya. Klo misalnya ada wanita menyukai laki-laki,
tapi si
wanita tidak
ingin
pacaran
juga tidak
brharap laki-laki membalas
rasa itu (wanita pasrah jika berjodoh dengannya Allah yang akan mengatur dan bila tidak
berjodoh
m ka Allah sudah menyiapkan yang terbaik), tapi mereka kadang
suka sms saat butuh bantuan dan kadang suka curhat juga.. Klo seperti itu
bgaimana ustadz??
J
: Tawakal/pasrah itu setelah ikhtiar dan doa. Tidak
berpacarannya betul. Statment dalam
kalimat yang
dikurung itu juga betul. Ikhtiar juga dianjurkan dalam agama kita.
Sms dan curhatnya itu yang perlu diwaspadai. Cara ikhtiarnya ya melibatkan orang
ketiga yang
bisa dipercaya/sholih/sholihah.
T
: Dalam Islam
bersentuhan dengan lawan
jenis tidak
dperbolehkan. Nah
gimana cara
bila sedang
menyeberang
jalan dengan teman
lawan jenis?
J
: Ya nyebrang sendiri-sendiri tanpa harus brgandeng tangan. Kecuali klo brsama orang
tua lanjut (hasrat biologis sudah padam), sebagian ahli fikih ada yang membolehkan bersentuhan.
T
: Manajemen cinta yg dimaksud seperti apa?
J
: Memenej atau mengelola
(merencanakan sampai dengan melaksanakan)
anugrah cinta sesuai syari'at islam.
T
: Ustad saya juga mau tanya.. Kalau saya disusui oleh sepupunya bapak saya
saudara jauhkan ya ustad? Berarti apakah saya jadi mahrom dengan anaknya bibi
saya itu ustad? Maaf
diluar tema ustad.
J
: Saudara sepersusuan menjadi mahrom sehingga tidak halal dinikahi. Namun perlu
dicatat: jika kita sudah akil baligh tetap dijaga adab-adab dalam
bergaul antara laki-laki perempuan termasuk dengan adik
kakak kita sekandung. Misalnya: tetap berpakaian atau bertuturkata
sopan, tidak
tidur dalam
1 kamar, menghindari
hal-hal yang
bisa jatuh
ke dalam pelanggaran syari'at. Tetap jaga hati yang paling utama.
Sampai
di sini dulu, disambung di lain wktu insya Allah. Semoga bermanfaat. Mohon
maaf segala khilaf. Kita akhiri dengan doa
penutup majelis bersama-sama.
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
“Maha
Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang
haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat
kepada-Mu.”
Wassalamu'alaykum
warahmatullah..
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment