Kajian Online Hamba الله SWT
Kamis, 4 Desember 2014
Narasumber
: Ustadzah Runie
Rekapan Grup Nanda 121-122 (Peni/Ayu/Maeitoh)
Tema : Tarbiyah
Editor
: Rini Ismayanti
SEBERAPA JAUHKAH KITA MEMBUTUHKAN AL
QUR'AN?
In sha Allah ana share materi sekarang.
Semoga Allah melembutkan hati antuna dalam memahami ilmuNya dan menguatkan
langkah antuna dalam beraktivitas pagi ini.amin.
Bismillahhirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah yang memelihara
alam. Siapa yang diberi hidayah oleh Allah, tidak ada siapa pun yang dapat menyesatkannya,
dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak siapa pun yang dapat memberi
hidayah kepadanya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang
disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagiNya, dan Aku berasaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusanNya.
...........
Ta'riful Qur'an ;
Seberapa jauhkah kita membutuhkan Al
Qur'an?
adik-adikku yang ana cintai karena
Allah
Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan
Al Qur'an hanya sekedar untuk mendapatkan berkah dengan membacanya, juga bukan
untuk menghiasi dinding dinding dengan ayat ayatnya serta bukan untuk dibacakan
saat seremonial semata dengan harapan semoga Allah mengasihi mereka...
Melainkan Allah sesungguhnya hanyalah
untuk mengatur dengan hidayahNya perjalanan kehidupan, mengendalikan dengan apa
yang diturunkan Allah dari petunjuk dan agama yang benar, menunjuki dengan
cahaya-Nya kepada umat manusia kepada jalan yang paling lurus, dan mengeluarkan
manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Maka Al Qur'an tidaklah diturunkan
Allah untuk dibacakan atas orang-orang yang hatinya mati melainkan
mengendalikan orang-orang yang hidup.
(QS Al An'am:155) "Dan Al Qur'an
itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan
bertakwalah agar kamu diberi rahmat."
"Jika hati seseorang telah bersih dan
suci, niscaya ia takkan kenyang merasa untuk terus menerus membaca Al
Qur'an." (Utsman bin Affan dan Hudzaifah ra)
Saat manusia mencoba mengupas keagungan
Al-Qur’an Al-Karim, maka ketika itu pulalah manusia harus tunduk mengakui
keagungaan dan kebesaran Allah swt. Karena dalam Al-Qur’an terdapat lautan
makna yang tiada batas, lautan keindahan bahasa yang tiada dapat dilukiskan
oleh kata-kata, lautan keilmuan yang belum terpikirkan dalam jiwa manusia, dan
berbagai lautan lainnya yang tidak terbayangkan oleh indra kita.
Bagi manusia yang telah dapat
berinteraksi dengan Al-Qur’an sepenuh hati, makadapat merasakan ‘getaran
keagungan’ yang tiada bandingannya. Sayid Qutub, di dalam muqadimah Fi Dzilalil
Qur’annya mengungkapkan, “Hidup di bawah naungan Al-Qur’an merupakan suatu
kenikmatan. Kenikmatan yang tiada dapat dirasakan, kecuali hanya oleh mereka
yang benar-benar telah merasakannya. Suatu kenikmatan yang mengangkat jiwa,
memberikan keberkahan dan mensucikannya.”
Cukuplah menjadi bukti keindahan bahasa
Al-Qur’an seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Imam Zuhri (Abu
Syahbah, 1996 : I/312), “Bahwa suatu ketika Abu Jahal, Abu Lahab, dan Akhnas
bin Syariq secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah saw. pada malam
hari untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah
saw. dalam shalatnya. Mereka bertiga memiliki posisi yang tersendiri, yang
tidak diketahui oleh yang lainnya. Hingga ketika Rasulullah saw. usai
melaksanakan shalat, mereka bertiga memergoki satu sama lainnya di jalan.
Mereka bertiga saling mencela dan membuat kesepakatan untuk tidak kembali
mendatangi rumah Rasulullah saw.
Namun pada malam berikutnya, ternyata
mereka bertiga tidak kuasa menahan gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan
ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka bertiga mengira bahwa yang lainnya tidak akan
datang ke rumah Rasulullah saw., dan mereka pun menempati posisi mereka
masing-masing. Ketika Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka pun
memergoki yang lainnya di jalan. Dan terjadilah saling celaan sebagaimana yang
kemarin mereka ucapkan.
Kemudian pada malam berikutnya, gejolak
jiwa mereka benar-benar tidak dapat dibendung lagi untuk mendengarkan
Al-Qur’an, dan merekapun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dan
manakala Rasulullah saw. usai melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali
memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat mu’ahadah (perjanjian)
untuk sama-sama tidak kembali ke rumah Rasulullah saw. guna mendengarkan
Al-Qur’an.
Masing-masing mereka mengakui keindahan
Al-Qur’an, namun hawa nafsu mereka memungkiri kenabian Muhammad saw. Selain
contoh di atas terdapat juga ayat yang mengungkapkan keindahan Al-Qur’an. Allah
mengatakan, “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah
gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut
kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya
mereka berpikir.” (Al-Mujadilah: 21)
Definisi Al-Qur’an
Dari segi bahasa, Al-Qur’an berasal
dari qara’a, yang berarti menghimpun dan menyatukan. Sedangkan Qira’ah berarti
menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya dengan
susunan yang rapih (Al-Qattan, 1995: 20). Mengenai hal ini, Allah
berfirman,”Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan
(membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka
ikutilah bacaannya itu.” (Al-Qiyamah: 17)
Al-Qur’an juga dapat berarti bacaan,
sebagai masdar dari kata qara’a. Dalam arti seperti ini, Allah swt. mengatakan,
“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum
yang mengetahui.” (Fushshilat: 3)
Adapun dari segi istilahnya, Al-Qur’an
adalah Kalamullah yang merupakan mu’jizat yang ditunjukan kepada Nabi Muhammad
saw., yang disampaikan kepada kita secara mutawatir dan dijadikan membacanya
sebagai ibadah
Keterangan dari definisi itu adalah
sebagai berikut:
1. Kalam ALLAH (كلام
الله )
Bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah
yang Allah ucapkan kepada Rasulullah saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril
as. Firman Allah merupakan kalam (perkataan), yang tentu saja tetap berbeda
dengan kalam manusia, kalam hewan ataupun kalam para malaikat. Allah berfirman,
“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
(An-Najm: 4)
2. Mu’jizat (اَلْمُعْجِز )
Kemu’jizaan Al-Qur’an merupakan suatu
hal yang sudah terbukti dari semejak zaman Rasulullah saw. hingga zaman kita
dan hingga akhir zaman kelak. Dari segi susunan bahasanya, sejak dahulu hingga
kini, Al-Qur’an dijadikan rujukan oleh para pakar-pakar bahasa. Dari segi isi
kandungannya, Al-Qur’an juga sudah menunjukkan mu’jizat, mencakup bidang ilmu
alam, matematika, astronomi bahkan juga ‘prediksi’ (sebagaimana yang terdapat
dalam surat Al-Rum mengenai bangsa Romawi yang mendapatkan kemenangan setelah
kekalahan), dan sebagainya.
Salah satu bukti bahwa Al-Qur’an itu
merupakan mu’jizat adalah bahwa Al-Qur’an sejak diturunkan senantiasa
memberikan tantangan kepada umat manusia untuk membuat semisal ‘Al-Qur’an
tandingan’, jika mereka memiliki keraguan bahwa Al-Qur’an merupakan kalamullah.
Allah swt. berfirman, “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an
yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang
semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu
orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu
tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan
bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”
(Al-Baqarah: 23-24)
Bahkan dalam ayat lainnya, Allah
menantang mereka-mereka yang ingkar terhadap Al-Qur’an untuk membuat semisal
Al-Qur’an, meskipun mereka mengumpulkan seluruh umat manusia dan seluruh bangsa
jin sekaligus, “Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk
membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang
serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian
yang lain.” (Al-Isra': 88)
3. Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
(اَلْمُنَـزَّلُ عَلَى قَلْبِ مُحَمَّدٍ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
)
Bahwa Al-Qur’an ini diturunkan oleh
Allah swt. langsung kepada Rasulullah saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril
a.s. Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an, “Dan sesungguhnya Al Qur’an ini
benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh
Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di
antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”
(Asy-Syu’ara: 192-195)
4. Diriwayatkan secara mutawatir (اَلْمَنْقُوْلُ
بِالتَّوَاتُرِ
)
Setelah Rasulullah saw. mendapatkan
wahyu dari Allah swt., beliau langsung menyampaikan wahyu tersebut kepada para
sahabatnya. Di antara mereka terdapat beberapa orang sahabat yang secara khusus
mendapatkan tugas dari Rasulullah saw. untuk menuliskan wahyu. Terkadang
Al-Qur’an ditulis di pelepah korma, di tulang-tulang, kulit hewan, dan
sebagainya. Di antara yang terkenal sebagai penulis Al-Qur’an adalah Ali bin
Abi Thalib, Mu’awiyah, Ubai ibn Ka’b, dan Zaid bin Tsabit. Demikianlah, para
sahabat yang lain pun banyak yang menulis Al-Qur’an meskipun tidak mendapatkan
instruksi secara langsung dari Rasulullah saw. Namun pada masa Rasulullah saw.
ini, Al-Qur’an belum terkumpulkan dalam satu mushaf sebagaimana yang ada pada
saat ini.
Pengumpulan Al-Qur’an pertama kali
dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar Al-Shidiq, atas usulan Umar bin Khatab
yang khawatir akan hilangnya Al-Qur’an, karena banyak para sahabat dan qari’
yang gugur dalam Peperangan Yamamah. Tercatat dalam peperangan ini, terdapat
tiga puluh sahabat yang syahid. Mulanya Abu Bakar menolak, namun setelah
mendapat penjelasan dari Umar, beliaupun mau melaksanakannya. Mereka berdua
menunjuk Zaid bin Tsabit, karena Zaid merupakan orang terakhir kali membacakan
Al-Qur’an di hadapan Rasulullah saw. sebelum beliau wafat.
Pada mulanya pun Zaid menolak, namun
setelah mendapatkan penjelasan dari Abu Bakar dan Umar, Allah pun membukakan
pintu hatinya. Setelah ditulis, Mushaf ini dipegang oleh Abu Bakar, kemudian
pindah ke Umar, lalu pindah lagi ke tangan Hafshah binti Umar. Kemudian pada
masa Utsman bin Affan ra, beliau memintanya dari tangan Hafsah. (Al-Qatthan,
1995: 125 – 126).
Kemudian pada masa Utsman bin Affan,
para sahabat banyak yang berselisih pendapat mengenai bacaan (baca; qiraat)
dalam Al-Qur’an. Apalagi pada masa beliau kekuasan kaum muslimin telah menyebar
sedemikian luasnya. Sementara para sahabat terpencar-pencar di berbagai daerah,
yang masing-masing memiliki bacaan/ qiraat yang berbeda dengan qiraat sahabat
lainnya (Qiraat sab’ah). Kondisi seperti ini membuat suasana kehidupan kaum
muslimin menjadi sarat dengan perselisihan, yang dikhawatirkan mengarah pada
perpecahan.
Pada saat itulah, Hudzaifah bin
al-Yaman melaporkan ke Utsman bin Affan, dan disepakati oleh para sahabat untuk
menyalin mushaf Abu Bakar dengan bacaan/qiraat yang tetap pada satu huruf.
Utsman memerintahkan (1) Zaid bin
Tsabit, (2) Abdullah bin Zubair, (3) Sa’d bin ‘Ash, (4) Abdul Rahman bin Harits
bin Hisyam untuk menyalin dan memperbanyak mushaf. Dan jika terjadi perbedaan
di antara mereka, maka hendaknya Al-Qur’an ditulis dengan logat Quraisy. Karena
dengan logat Quraisylah Al-Qur’an diturunkan.
Setelah usai penulisan Al-Qur’an dalam
beberapa mushaf, Utsman mengirimkan ke setiap daerah satu mushaf, serta beliau
memerintahkan untuk membakar mushaf atau lembaran yang lain. Sedangkan satu
mushaf tetap disimpan di Madinah, yang akhirnya dikenal dengan sebutan mushaf
imam. Kemudian mushaf asli yang diminta dari Hafsah, dikembalikan pada beliau.
Sehingga jadilah Al-Qur’an dituliskan pada masa Utsman dengan satu huruf, yang
sampai pada tangan kita. (Al-Qatthan, 1995 : 128 – 131)
5. Membacanya sebagai ibadah (اَلْمُتَعَبَّدُ
بِتِلاَوَتِهِ
)
Dalam setiap huruf Al-Qur’an yang kita
baca, memiliki nilai ibadah yang tiada terhingga besarnya. Dan inilah
keistimewaan Al-Qur’an, yang tidak dimiliki oleh apapun yang ada di muka bumi
ini. Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu
membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki
yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan,
mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah
menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari
karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fathir:
29 – 30)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw.
juga pernah mengatakan,
مَنْ
قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ
أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ
وَمِيمٌ حَرْفٌ
”Barang siapa yang membaca satu huruf
dari kitabullah (Al-Qur’an), maka ia akan mendapatkan satu kebaikan. Dan satu
kebaikan itu dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam
Mim sebagai satu haruf. Namun Alif merupakan satu huruf, Lam satu huruf dan Mim
juga satu huruf.” (HR. Tirmidzi).
Kondisi saat Al Quran tidak menjadi
petunjuk
Interaksi yang dengan Al-Qur’an adalah
salah satu ciri dari orang-orang yang bertakwa, sebagaimana dikatakan oleh
sebagian Ulama, bahwa esensi daripada takwa yang sesungguhnya adalah senantiasa
berupaya untuk mengamalkan Al-Qur’an.
Namun apabila melihat fenomena yang
berkembang di masyarakat, ternyata sebagian masyarakat, bahkan kitapun
terkadang melakukannya, Al-Qur’an tidak lagi dijadikan sebagai sahabat dalam
kesehariannya. Al-Qur’an tidak lagi dijadikan lagi sebagai teman untuk
bercengkrama bersama, Al-Qur’an tidak lagi dijadikan obat kegalauan hatinya,
padahal ia adalah sebagai kisah yang menyenangkan, sebagai sya’ir yang indah
untuk dinikmati dan sekaligus sebagai acuan dalam hidup dan kehidupan,
sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW beserta para sahabatnya.
Realita sebagian masyarakat ini,
padahal mereka sebagai Muslim, adalah realita yang sangat menyedihkan dan
menghawatirkan untuk masa depan umat ini, sekaligus menunjukkan bahwa mereka
telah menjauhkan al-Qur’an dari kehidupannya. AlQur’an hanya dijadikan sebagai
pajangan di lemari buku untuk melengkapi buku-buku yang lainnya, atau Al-Qur’an
hanya dibuka seminggu sekali setiap malam jum’at, atau bahkan sebagian dari
mereka dekat dengan Al-Qur’an hanya ketika ada yang meninggal. Dan masih banyak
lagi realita yang lainnya yang menunjukkan bahwa al-Qur’an sudah benar-benar
dijauhkan dari kehidupan mereka.
Rasulullah SAW pernah mengadukan
keadaan sebagian umatnya yang meninggalkan Al-Qur’an sebagaimana disinyalir
dalam firman Allah SWT,
وَقَالَ
الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا.
Berkatalah Rasul:”Ya Rabbku,
sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an ini sesuatu yang diacuhkan”.
(QS. Al-Furqan (25) : 30)
Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya
mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan kalimat mahjuran dalam ayat tersebut
adalah matrukan (ditinggalkan).
Yang termasuk kategori meninggalkan
Al-Qur’an sebagaimana ditegaskan dalam tafsir Ibnu Katsir adalah, tidak mau
mendengarkan, tidak membacanya, tidak mau mentadaburi dan tidak mengamalkannya.
Adik-adikku yang ana cintai karena
Allah..
Pemaparan di atas menjadi evaluasi pun
untuk ana pribadi, "Sudah berapa banyak harikah yang terlewat tanpa kita
bisa mengkhatamkan Al Qur'an?" jika para sahabat, para salafushalih
mentargetkan banyaknya khatam adalah per hari! Sungguh saat kita mengenal Al
Qur'an, maka kita akan bisa berusaha dan terus berusaha untuk memposisikan Al
Qur'an sebagai kebutuhan yang tak tergantikan. Dengan berinteraksi terhadap
Al-Qur’an yang sesungguhnya yang harus dilakukan oleh umat Islam dengan
semangat untuk selalu mendengarkan ayat-ayat Allah, kemudian diikuti dengan
upaya keras untuk meningkatkan interaksi tersebut dengan membaca, mentadaburi
kemudian mengamalkannya.
Ya Allah, limpahkanlah rizki kepada
kami, untuk membaca Al Qur'an di waktu siang dan malam. Dan ijinkanlah ya
Allah, bahwa ia kan menjadi hujjah bagi kami di akhirat kelak.
TANYA JAWAB
Q : Assalamualaikum....Ustdzah, aasif jiddan kalau yang akan saya
tanya kan gak ada di materi. Ini kan tema nya tentang "tarbiyah", dan
jujur saya masih sedikit bingung dengan arti tarbiyah itu sendri. Dan dalam
aplikasi nya apakah antara tarbiyah, halaqah, liqo' dan kajian itu sama? Atau
ada yang membedakan?
A : Ana mencoba menjawab pertanyaan
adikku.
Definisi Tarbiyah-halaqah-liqo
Secara bahasa Tarbiyah adalah
pendidikan atau pembinaan.
Pendidikan dan Pembinaan ini merupakan
sebuah proses yang ada pada Halaqah dan Liqo.
Secara istilah halaqah berarti
pengajian dimana orang-orang yang ikut dalam pengajian itu duduk melingkar.
Dalam bahasa lain bisa juga disebut Majlis ilmu, atau forum yang bersifat
ilmiyah. Istilah halaqah umumnya sering dikaitkan dengan pengajian dalam format
kelompok kecil (maksimum 12 orang), dimana ada satu orang yang bertindak
sebagai ketua sumber yang sering diistilahkan dengan murabbi / pembina.
Istilah halaqah ini sangat umum di
timur tengah dan biasa dilakukan di banyak masjid. Bahannya berkaitan dengan
kitab tertentu seperti aqidah, fiqih, hadits, sirah dan seterusnya. Contoh yang
paling mudah bisa kita dapati di dua masjid Al-Haram, Mekkah dan Madinah.
Setiap hari selalu dipenuhi dengan halaqah yang diisi oleh para masyaikh /
ustaz yang merupakan pakar di bidangnya.
Sedangkan istilah liqo` lebih umum dari
halaqah, karena isinya bisa saja bukan merupakan kajian ilmiyah, tetapi bisa
diisi dengan rapat, pertemuan, musyawarah dan seterusnya.
Q : Berarti Ummi, bacaan al-Quran yang kita baca sekarang sudah
termasuk kedalam logat Qurasy ya?
A : Perihal dialek Quraisy
Orang Arab mempunyai aneka ragam lahjah
[dialek] yang timbul dari fitrah mereka dalam langgam, suara dan huruf-huruf
sebagaimana diterangkan secara komprehensif dalam kitab-kitab sastra. Setiap
kabilah mempunyai irama tersendiri dalam mengucapkan kata-kata yang tidak
dimiliki oleh kabilah-kabilah lain. Namun kaum Quraisy mempunyai faktor-faktor
yang menyebabkan bahasa mereka lebih unggul di antara cabang-cabang bahasa Arab
lainnya, yang antara lain karena tugas mereka menjaga Baitullah, menjamu para
jemaah haji, memakmurkan Masjidlil Haram dan menguasai perdagangan. Oleh sebab
itu, semua suku bangsa Arab menjadikan bahasa Quraisy sebagai bahasa induk bagi
bahasa-bahasa mereka karena adanya karakteristik-karakteristik tersebut. Dengan
demikian wajarlah jika al-Qur’an diturunkan dalam logat Quraisy, kepada Rasul
yang Quraisy pula untuk mempersatukan bangsa Arab dan mewujudkan kemukjizatan
al-Qur’an ketima mereka gagal mendatangkan satu surah yang seperti al-Qur’an.
Apabila orang Arab berbeda lahjah dalam
pengungkapan sesuatu makna dengan beberapa perbedaan tertentu, maka al-Qur’an
yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad saw, menyempurnakan makna
kemukjizatannya karena ia mencakup semua huruf dan wajah qiraah pilihan di
antara lahjah-lahjah itu. Dan ini merupakan salah satu sebab yang memudahkan
mereka untuk membaca, menghafal dan memahaminya.
7 Lahjah/ dialek membaca Al Qur'an:
Dari Ubai bin Ka’b: ketika Nabi saw.
berada di dekat parit Bani Gafar, beliau didatangi Jibril seraya mengatakan:
“Allah memerintahkanmu agar membacakan al-Qur’an kepada umatmu dengan satu
huruf.” Beliau menjawab: “Aku memohon kepada Allah ampunan dan maghfirah-Nya,
karena umatku tidak dapat melaksanakan perintah itu.” Kemudian Jibril datang
lagi untuk kedua kalinya dan berkata: “Allah memerintahkanmu agar membacakan
al-Qur’an kepada umatmu dengan dua huruf.” Beliau menjawab: “Aku memohon kepada
Allah ampunan dan maghfirah-Nya, karena umatku tidak kuat melaksanakannya.”
Jibril datang lagi untuk ketiga kalinya dan berkata: “Allah memerintahkanmu
agar membacakan al-Qur’an kepada umatmu dengan tiga huruf.” Beliau menjawab:
“Aku memohon kepada Allah ampunan dan maghfirah-Nya, karena umatku tidak dapat melaksanakannya.”
Kemudian Jibril datang lagi untuk keempat kalinya dan berkata: “Allah
memerintahkanmu agar membacakan al-Qur’an kepada umatmu dengan tujuh huruf,
dengan huruf mana saja mereka membaca, mereka tetap benar.” (HR Muslim)
Dari Umar bin al-Khaththab ra, ia
berkata: Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surah al-Furqaan di masa hidup
Rasulullah. Aku perhatikan bacaannya. Tiba-tiba ia membacanya dengan banyak
huruf yang belum pernah dibacakan Rasulullah kepadaku, sehingga hampir saja aku
melabraknya di saat ia shalat, tetapi aku berusaha sabar menunggunya sampai
salam. Begitu salam aku tarik selendangnya dan kutanya: “Siapakah yang
membacakan [mengajarkan bacaan] surah itu kepadamu?” Ia menjawab: “Rasulullah
telah membacanya kepadaku.” Lalu aku katakan kepadanya: “Dusta kau! Demi Allah,
Rasulullah telah membacakan juga kepadaku surah yang aku dengar tadi engkau
membacanya [tapi tidak seperti bacaanmu].” Kemudian aku bawa dia menghadap
Rasulullah, dan aku ceritakan kepada beliau bahwa ‘orang ini membaca surah
al-Furqaan dengan huruf-huruf yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku.
Padahal engkau sendiri telah membacakan surah al-Furqaan kepadaku.’ Maka
Rasulullah bersabda: “Lepaskan dia, wahai Umar. Bacalah surah tadi wahai
Hisyam.” Hisyam pun kemudian membacanya dengan bacaan seperti kudengar tadi.
Maka kata Rasulullah: “Begitulah surah itu diturunkan.” Beliau bersabda lagi:
“Bacalah wahai Umar.” Lalu aku membacanya dengan bacaan sebagaimana diajarkan
Rasulullah kepadaku. Maka kata Rasulullah: “Begitulah surah itu diturunkan.”
Dan sabdanya pula: “Sesungguhnya al-Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf,
maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu di antaranya.” (HR Bukhari, Muslim,
Abu Daud, Nasa’i, Tirmidzi, Ahmad dan Ibn Jarir)
Q : Oo begitu umm. Jadi yang dimaksud huruf diatas itu adalah
dialek yaa? Kayak dialek kita orang Indonesia dengann orang bule dan orang
Timur tengah, kan beda-beda tuh
A : Ya benar Mbak. Jika
kita termotivasi terus memperbaiki bacaan Qur'an kita biasanya kita akan
melatih cara membaca kita mendekati dialek masyaikh mekah/madinah. Sehingga
Dari ras/bangsa berbeda pun Ada di belahan bumi yang berbeda dialeknya bisa
sama.
Q : Yang dimaksud mendapat kebaikan setiap membaca satu huruf
al-quran itu apa aja ummi contohnya?
A : Perihal kebaikan Dihitung per satu
ayat dalam Al Qur'an:
Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu
menyatakan: “Baginda Sallallahu’alaihiwasallam bersabda:
من
قرأ حرفا من كتاب الله تعالى فله به حسنة والحسنة بعشر امثالها،
لاأقول
الـمّ حرف ولكن أقول الف حرف ولام حرف وميم حرف
“Barangsiapa membaca satu huruf dari
Kitabullah (Al-Quran), maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu
berbanding dengan sepuluh yang sepertinya. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim
itu satu huruf, akan tetapi saya mengatakan Alif itu satu huruf, Lam itu satu
huruf dan Mim itu satu huruf.”
Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu
menyatakan: “BagindaSallallahu’alaihiwasallam bersabda:
ان
الله يرفع بهذاالقرآن اقواما ويضع به اخرين
“Sesungguhnya Allah mengangkat darjat
oleh sebab Al-Quran ini bagi beberapa kaum, dan dengan Al-Quran ini pula Dia
(Allah) merendahkan kaum yang lainnya”
Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘anhu
menyatakan: “Baginda Sallallahu’alaihiwasallam bersabda: Allah Tabaraka wa
ta’ala berfirman:
من
ِشغله القرآن عن ذكرى ومسئلتى اعطيته افضل مااعطى السائلين: وفضل كلام الله على
سائر الكلام كفضل الله على خلقه
“Barangsiapa disibukkan oleh Al-Quran
dan zikir kepada-Ku, dan masalah-masalah-Ku, maka Aku anugerahkan kepadanya
seutama-utama kedudukan yang aku berikan kepada orang-orang yang meminta, dan keutamaan
Kalam Allah ke atas segala ucapan yang lain adalah umpama keutamaan Allah ke
atas makhluk-Nya.”
Abu Umamah Radhiallahu ‘anhu bahawa
beliau berkata: “Saya mendengar Nabi Sallallahu’alaihiwasallam berkata:
اقرؤا
القرآن فانه يأتى يوم القيامة شفيعا لاصحابه
“Bacalah olehmu sekalian akan Al-Quran,
kerana sesungguhnya Al-Quran itu akan menjadi penolong bagi para pembacanya
pada Hari Kiamat.”
Adikku sayang, kebaikan per ayat yang
kita baca sesungguhnya menjadi berlipat lipat manfaatnya; terutama dari sisi
ruhiyah menjaga diri kita dari nilai nilai kemunafikan, kefasikan ataupun
kedengkian atas apa yang disuguhkan di dunia.
Bahwa tiap huruf yang kita baca laiknya
satu bagian dari rantai yang memiliki kekuatan berlipat lipat; dmn bila satu
surat yang kita baca akan menjadi rantai kokoh dan menguatkan keimanan kita.
Benarlah bahwa Al Qur'an menjadi penolong
kita. Aamiin.
Q : Satu lagi Ummi, apakah bangsa romawi yang dijelaskan dalam
surah ar-Rum akan terjadi lagi suatu saat nanti atau sudah terjadi? Seperti janji
Allah tentang konstantinopel itu umm..
Syukron ummi
Q : Satu pertanyaan lagi y, afwan terlewat, perihal janji Allah
Islam menaklukan Roma laiknya konstatinopel?
A : Dalil
”Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata,
"bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis,
tiba-tiba beliau SAW ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih
dahulu, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, "Kota Heraklius
terlebih dahulu (maksudnya adalah Konstantinopel) (HR Ahmad)
Adik adikku sayang, basyaroh nubuwwah
Rasulullah perihal janji Allah tentang penaklukan konstatinopel terbukti.
Dimana penaklukan ini butuh usaha dan
kekuatan maksimal.
8 abad proses usaha penaklukan
konstatinopel dari basyaroh Rasulullah kepada sahabatnya.
Kalian pasti akan membebaskan
Konstantinopel, sehebat-hebat Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan
sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya (HR Ahmad)”
Ada 2 point utama:
1. Keyakinan teguh para sahabat Dan
orang shalih terhadap janji Allah. Melalui pernyataan "manakah yang takluk
terlebih dahulu konstatinopel ataukah Roma ya Rasulullah?". Sahabat tidak
mengatakan, "apakah kita akan menaklukan konstatinopel atau Roma?".
Pun jawaban Rasulullah yang sangat Teguh dengan keyakinan, "konstatinopel
takluk terlebih dahulu!".
Baik Rasulullah pun sahabat tidak ragu
sama sekali atas janji Allah.
2. Janji Allah tidak akan terealisasi
jika tanpa usaha maksimal dari umat Islam skalipun menembus 8 abad perjalanan
dakwah.
Adik adikku sayang, inilah tongkat
estafet sudah berpindah ke tangan kita, apakah Ada keraguan di hati kita atas
janji Allah? In sha Allah keyakinan kita semua disini laiknya para sahabat yang
meyakini Allah Dan Rasulnya. Tinggal bagaimana usaha kita untuk
merealisasikannya. Allahu Akbar..!!
Q : Waktu jaman Rasulullah s.a.w dan para sahabatnya, penghafal
al-Quran kok banyak dan rasanya mudah yaa um untuk hafal al-Qur'an. Kalo
sekarang, masyaallah satu ayat aja butuh perjuangan umm? Apa karena beda bahasa
(maksudnya kita biasa pake bahasa indonesia, al-Quran bahasa arab) atau gmn ya
umm?
A : Subhanallah Ada keinginan anti Untuk menghapal Al Qur'an
Menghafal al-Qur'an adalah
karakteristik umat Rasulullah saw.
Imam Jazari mengatakan: "Dahulu
itu, para ulama menukilkan al-Qur'an melalui dada-dada dan hati-hati yang
dipenuhi hafalan al-Qur'an. Bukan melalui tulisan mushaf dan kitab-kitab.
Inilah karakteristik yang paling mulia yang Allah berikan kepada umat
ini."
Sungguh, aktifitas menghafal al-Quran
ini akan senantiasa menjadi syiar bagi umat ini dan menjadi duri di
kerongkongan musuh-musuh Islam.
Laura Faghliry, wanita orientalis
mengatakan: "Sungguh, hari-hari ini kita tidak bisa membendung terjangan
ombak keimanan ribuan umat muslim yang mampu mengulang-ngulan bacaan al-Qur'an
dengan hafalan. Di Mesir sendiri jumlah huffazul qur'an (penghafal al-Qur'an)
jauh melebihi jumlah kaum Nasrani yang mampu membaca Injil secara hafalan di
seluruh Eropa."
James Minzez, seorang non Islam yang
diharamkan mendapatkan cahaya al-Qur'an mengatakan: "Mungkin itulah,
al-Qur'an merupakan kitab yang paling banyak dibaca manusia di atas dunia ini.
Sungguh, ia adalah bacaan yang paling mudah dihafal manusia."
Adikku atas Rahmat Allah SWT saat ini
semakin banyak metode yang ditawarkan Untuk memudahkan menghapal Al Qur'an.
Tinggal pilih metode mana yang paling cocok dengan kita. Namun terlepas dari
metode ada Point sangat utama yang mesti dipenuhi yaitu "menghadirkan hati
kita untuk Al Qur'an". Laiknya para sahabat yang belum menambah hapalannya
Karena belum mampu mengaplikasikan nilai Al Quran yang dihapalnya dalam hati
Dan tindakan. In sha Allah saat kita terus berdoa kepada Allah meminta dan
berharap agar mudah menghapalkan Al Qur'an, maka Allah kan membantu kita.
Seperti cerita yang pernah kita dengar bahwa Ada ibu tua yang ingin sekali bisa
menghapal Al Qur'an, dari usia sangatlah tdk mungkin. Namun atas ijin Allah dan
kesungguhan ibu tua tersebut mampu menghapalkan Al Qur'an kurang dari 4thn.
Amin, begitupun dengann kita .
Adik adikku sayang,
Bisa membaca al-Qur'an itu keutamaan.
Dan bisa menghafal al-Qur'an adalah lebih utama. Bisa memahami al-Qur'an itu
adalah kewajiban. Dan paham ditambah hafal itu jauh lebih afdhal.
Allahu'alam bisshowab.
Ana pribadi ingin belajar terus lbh
dekat kepada Allah melaui Al Quran.aamiin
Kita akhiri kajian hari ini dengan lafadz Hamdallah dan do'a
kifaratul majelis.
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma wabihamdika asayahadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika.
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan
memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan
diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaykum warahmatullah..
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment