KAJIAN
ONLINE HAMBA اللَّهِ UMI 03 dan 04
Kamis,
04 Desember 2014
Narasumber
: Ustadzah Tribuwhana K
Materi : Parenting
Admin : Nunie
Notulen
: Any
Editor : Selli Novita
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bismillahirrahmaanirrahiim
Kajian
parenting pagi ini adalah “AYAH BISU”
Sebuah
tulisan karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri yang ditulis untuk
meraih gelar magister di Universitas Umm al-Quro, Mekah, Fakultas Pendidikan,
Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan, mungkin bisa menyemangati para
ayah untuk rajin berdialog dengan anak-anaknya.
Judul
tulisan ilmiah tersebut adalah:
“Dialog
orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”
Dari
judulnya saja, sudah luar biasa. Dan memang luar biasa isinya.Menurut tulisan
ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan
anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat. Ke-17 dialog tersebut dengan
rincian sebagai berikut:
•
Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
•
Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
•
Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)
Lihatlah
ayah, subhanallah…
Ternyata
al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa
seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi
seperti di atas. Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan
anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih
banyak. Lebih sering. 14 banding 2!
Kalau
hari ini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu yang
menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi. Sebagian ayah
seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya
mampu bicara dengan tarik urat alias marah.
Ada
lagi yang diaaamm saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan atau
memang tidak bisa bicara. Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara
seperlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara sang anak
bisa menyela, “Cukup yah, saya bisa lanjutkan pembicaraan ayah.” Saking
rutinitas pembicaraannya yang hanya basa basi dan itu-itu saja.
Jika
begitu keadaan para ayah, maka pantas hasil generasi ini jauh dari yang
diharapkan oleh peradaban Islam yang akan datang. Para ayah selayaknya segera
memaksakan diri untuk membuka mulutnya, menggerakkan lisannya, terus
menyampaikan pesannya, kisahnya dan dialognya.
Ayah,
kembali ke al-Qur’an..
Dialog
lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam al-Qur’an, hanya dialog ayah kepada
anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya.
Sebuah nasehat yang lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan
tabungan yang diberikan kepadanya.
Dengan
kajian di atas, kita terhindar dari kesalahan pemahaman. Salah, jika ada yang
memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Jelas sangat penting sekali dialog
seorang ibu dengan anaknya. Pemahaman yang benar adalah, al-Qur’an seakan ingin
menyeru kepada semua ayah: ayah, harus rajin berdialog dengan anak. Lebih
sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian.
Dan…
Jangan
sampai menjadi seorang ayah bisu!
By
: Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri .
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
TANYA JAWAB UMI 03
1. Assalamualaikum
wr.wb....
Ana mau
nanyak bu ustazah.... Ayah yang bisu akan berdampak tidak dekat dengan sang
anak, tidak mengetahui keadaan si anak, dan anak pun akan merasa jauh dan
sungkan bahkan enggan berbicara dengan ayahnya. Jika anak seperti itu jadi
tidak ada komunikasi bahkan merasa jadi anak yatim padahal masih ada ayahnya.
Apakah berdosa anak tersebut...
Jawab:
Anaknya
tidak berdosa. Bahwa menjadi orang tua adalah sebuah proses belajar juga. Sebaiknya
semua orang tua tetap menjadi pembelajar sepanjang hidupnya. Karena Allah
mencintai hambaNya yang berpengetahuan. Alangkah
indahnya jikalau antara ayah dan ibu bisa bersinergi untuk mendidik dan merawat
anak secara bersama-sama
2. Ustazah..
apakah benar jika ada pendapat yang mengatakan bahwa harus ada yang ditakuti
atau disegani anak.. ntah itu sama ayah atau ibunya... agar anak tidak melawan
sama orang tuanya.
Jawab
Kalau
kami pribadi dirumah lebih suka mengarahkan anak-anak untuk takut hanya pada
Allah. Sehingga ketika kami tidak ada dirmh anak-anak tetap mengerjakan
kewajiban ibadahnya seperti sholat. Karena takut kepada Allah daripada takut kepada
kami orang tuanya kalau tidak sholat. Wallahu a'lam bishshowwab
3. Mau
nanyak lagi boleh ustazah....? Bagaimana cara menanamkan rasa takut ke dalam
hati anak-anak kepada Allah...? Mengajarkan sedari dini maksudnya ustadzah....
Jawab
Kalau
mengikuti cara rasulullah tentang mendidik anak. Kami biasakan sebelum dan setelah
melakukan aktifitas, anak-anak kami biasakan berdoa. Sehingga mereka merasakan
kesertaan Allah dalam semua aktifitasnya. Kami biasakan mendongeng tentang
kisah-kisah nabi dan sahabat agar anak-anak terpacu untuk berbuat kebaikan. Karena
surga itu menyenangkan. Gambaran surga yang indah dan enak menjadi stimulus yang
membuat anak-anak happy.
4. Assalamu'alaikum
ustadzah, bagaimana cara menghilangkan rasa takut tentang jin "afwan"
mahluk-makhluk halus yang ada di tivi, pada anak karena keseringan nonton jadi
penakut kalau ke kamar mandi sendiri, jazakillah.
Jawab
Dengan
menjelaskan ke anak bahwa tidak ada yang perlu kita takutkan kecuali Allah
bunda. Dengan cara menemani anak-anak ketika ke kamar mandi dan dibiasakan
berdoa sebelum masuk kamar mandi. Dan usahakan tidak menonton film yang tidak
bermanfaat buat anak. Sekali-sekali anak-anak perlu diajak keluar malam
disekitar rumah dan kita terangkan bahwa didalam gelap tidak perlu ada yang
ditakuti. Yakinkan ke anak bahwa Allah dan para malaikat akan menjaga kita
kalau kita rajin berdoa. Wallahu a'lam bishshowwab
TANYA JAWAB UMI 04
1. Ustadzah......
komunikasi yang baik ke anak kalau lagi marah sebaiknya langsung atau tunggu
waktu yang pas untuk menasehati ya? Soalnya seringnya kalau marah sama anak
langsung jadinya benar-benar emosi, tapi setelahnya menyesal dan kasihan. Bagaimana marah yang baik ke anak agar anak
tidak sakit hati?
Jawab:
Sebaiknya
nunggu dua-duanya reda dulu bunda. Maksudnya anaknya tenang kemudian baru bunda
nasehati. Karena nasehat apapun tidak akan diterima anak kalau dalam kondisi
otak anak masih dalam kondisi tegang.
Apakah
ada marah yang baik? Ada marah yang baik yaitu ketika anak kita sudah berumur
10 tahun tidak sholat boleh kita pukul pelan. Terus ada marah yang baik kalau
anak kita sudah tidak bicara jujur. Tapi marahnya tidak pakai emosi dan
kekerasan fisik ya bunda. Bisa dengan mengobrol atau jalan-jalan. Ketika
suasana hati tenang dan otak santai maka semua nasehat akan terserap baik oleh
otak. Kalau rasulullah marahnya dengan tanda diam. Monggo silahkan dicoba cara
rasulullah.
2. Ustadzah.....
kadang-kadang kalau anak melakukan kesalahan saya nadanya suka tinggi saya
sadar itu tidak bagus.... saya ingin berubah tapi kok susah ya? Apakah ada
tipsnya supaya nada kita jadi rendah?
Jawab:
memperbanyak
tilawah dan ibadah bisa melembutkan hati dan suara bunda.. insyaAllah
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment