Link Bunda 2
Adakah sekarang sudah siap kajianya. Baik saya mulai share
mateinya tema tentang belajar rela kepada Allah
01
Hiasi Diri dengan Sikap Rela Kepada Allah
(by Umar Hidayat, M.Ag)
Hidup memang tidak sempurna, seperti juga kita tapi semua yang
terjadi itu yang terbaik untuk kita tapi kita sering mengkhilafinya
Saudaraku yang dirindu surga..
Pernahkah kita memikirkan sejak kapan kerelaan kepada Allah itu
menjadi milik kita? Pernahkah kita merenungkan bersebab hilangnya kerelaan
kepada Allah menjadikan kegaduhan hati dalam menjalani hidup ini? Belumkah
sadar kita bahwa sepanjang hayat masih di kandung badan kerelaan kepada Allah
tak bisa kita singkirkan?
Nyatanya kerelaan kita kepada Allah sering terkikis oleh keadaan
dan situasi kehidupan kita. Nyatanya kesumpekan jiwa dalam mensikapi hidup
masih kita langgengkan. Faktanya hati ini mudah terpengaruh oleh bujuk rayuan
syaithan untuk mengunduh berbanyak alasan agar seolah-olah kita tidak perlu
lagi rela akan keputusan Allah. Faktanya banyak pesakitan jiwa karena belum
ikhlas melepaskan kepasrahan kita hanya kepada Allah. Buktinya sering diantara
kita merasa benci, merasa gundah, merasa pingin marah bila ada orang lain yang
mendapatkan kesuksesan lebih dari kita. Buktinya kita sering merasa terpuruk
dengan apa yang terjadi yang sesungguhnya Allah takdirkan kepada kita. Bahkan
jari kita berani menunjuk seraya berucap Allah tidak adil padaku.
Benarkah semua itu? Ternyata begitu sulit mencintai apa yang harus
kita lakoni. Tapi, Saudaraku kita tetap membutuhkan kerelaan kepada Allah agar
kita bisa mengarungi hidup ini dengan selamat. Agar kita bisa menikmati hidup
ini. Hiasi diri dengan sikap rela kepada Allah adalah sebentuk cara kita
mendekatkan diri kepadaNya dan hidup pun menjadi tenang.
Sekisah Saad bin abi Waqash ra, suatu hari mengunjungi Makkah.
Ketika itu ia sudah dalam kondisi buta. Ia adalah termasuk sederetan orang yang
terkenal sebagai orang yang doanya termakbulkan. Mendengar kedatangannya. Tak
salah bila orang berduyun-duyun menemuinya untuk meminta didoakan olehnya. Ia
pun berdoa untuk mereka. Seperti pengakuan Abdullah bin Saib berkata, Aku pun
menemuinya, dan ketika itu aku masih kanak-kanak. Maka aku perkenalkan diri
kepadanya dan ternyata ia mengenaliku.
Ia berkata, Engkaukah qari penduduk Makkah yang terkenal itu?
Ya, jawabku. Aku katakan kepadanya, Engkau berdoa untuk kebaikan orang lain,
andai saja engkau berdoa untuk dirimu sendiri agar Allah mengembalikan
penglihatanmu. Saad hanya tersenyum dan berkata, Anakku, ketetapan Allah atas
diriku lebih baik bagiku dari penglihatanku.
Subhanallah.
Bilakah itu terjadi pada kita mungkinkah kita melakukan persis
seperti Saad bin abi Waqash?
Begitupun yang terjadi pada kisah Imran bin Hushain ra, seorang sahabat yang
selalu menyertai peperangan bersama Rasulullah. Setelah Rasulullah wafat, ia
menderita lumpuh dan tidak bisa bergerak sama sekali, sehingga untuk hanya
sekedar buang hajat ia dibuatkan lobang di bawah tempat tidurnya. Ia mengalami
penderitaan ini selama tigapuluh tahun lamanya. Tak salah bila setiap sahabat
yang datang menjenguknya, selalu saja dihiasai air mata. Tapi ia dengan tenang
berkata kepada mereka, Kalian menangis tapi aku rela dengan keadaan ini. Aku
mencintai apa yang dicintai Allah, dan aku ridhlo apa yang diridhloi Allah. Aku
bahagia dengan apa yang dipilihkan Allah untukku, dan aku persaksikan kalian
kepada Allah bahwa aku ridhlo. Subhanallah.
Saad bin Abi Waqash dan Imran bin Hushain ra telah membuktikan
kecintaannya kepada Allah dengan sepenuhnya, dengan kerelaan menjadi buktinya,
dan keyakinan menjadi penguatnya.
Di sinilah tempat membuktikan iman kita.
Di sinilah tempat membuktikan iman kita.
Di sinilah tempat membuktikan iman kita.
“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja
mengatakan kami beriman kepada Allah? sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al
Ankabut;2)
03
Saudaraku yang dirindu surga.
Mari kita belajar rela dari para Sahabat Rasulullah. Kerelaan
berkorban (asketisme) yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib, misalnya, saat
menggantikan Rasul tidur di ranjangnya pada malam ketika Rasulullah ditemani
Abu Bakar hendak melakukan hijrah. Atau keberanian Asma binti Abu bakar
mengantar makanan untuk Rasulullah dan ayahandanya di tempat persembunyian di
gua Tsur. Sikap-sikap serupa juga dicontohkan sahabat lainnya seperti Abu Bakar
yang dengan lantang mengatakan, cukuplah Allah dan Rasul-Nya untuk menjawab
pertanyaan Rasulullah tentang apa yang ditinggalkan untuk keluarganya. Pada
saat itu, Abu Bakar menyerahkan seluruh harta kekayaannya untuk perjuangan
Islam. Bahkan episode yang menakjubkan terjadi pada para sahabat berebut
melindungi Rasulullah dari serangan tombak dan panah yang berhamburan saat
perang Uhud terjadi.
Apakah para sahabat tidak tahu akibat yang akan terjadi atas apa yang mereka
lakukan? Sungguh para sahabat bukanlah orang bodoh yang tidak tahu hukum sebab
akibat. Tapi mereka melintasi logika sebab akibat untuk menjemput kerelaan
kepada Allah atas semua yang bakal terjadi. Dan menukarnya dengan kesiapan diri
dan keyakinan bahwa Allah tak mungkin menyia-yiakan hambaNya. Apakah para
sahabat tidak belajar rasa takut akan akibat yang secara alamiah akan mereka
rasakan sebagaimana yang ditakutkan oleh orang-orang munafik dan musuh-musuh
kaum muslimin? Mereka melintasi rasa takut itu dan menukarkannya dengan
kecintaan dan keridloaan kepada Allah dan RasulNya lebih dari segalanya.
Saudaraku yang dirindu surga, memiliki selalu kerelaan kepada
Allah memang tidak mudah. Tidak mudah. Sekali lagi tidak mudah..
Begitu sulit belajar rela kepada Allah. Padahal waktu bergulir
tanpa bisa menghentikannya. Sejatinya semua kita menginginkannya, tapi enggan
menapakinya. Sebagian kita tahu caranya, tapi enggan melakukannya. Sebagiannya
lagi sangat ingin bahkan menggebu, tapi tidak paham bagaimana caranya. Bahkan
pun ada yang pandai dengan cara melakukannya tapi tidak mengilmuinya. Memang
ini perkara yang sulit-sulit gampang. Awalnya sulit akhirnya menjadi gampang di
rasakan dan dilakukan.
Teringatlah Umar bin Khattab, bahwa Semua kebaikan itu terkumpul
dalam kerelaan. Jika engkau sanggup maka hendaklah engkau rela. Jika tidak,
maka bersabarlah. Meski untuk memperoleh rela, ia tidak datang sendiri. Butuh
perjuangan untuk belajar dan mencarinya.
04
Saudaraku yang dirindu surga.
Sikap rela itu bermula dari landasan iman yang benar. Menggayuh
rasa rela juga haruslah karena iman, bukan karena yang lain. Sehingga kerelaan
kita kepada Allah akan istiqomah. Lantaran segala sesuatu jika dilakukan karena
Allah ia akan abadi. Ibnu Qoyyim al Jauzi sendiri membagi kerelaan dalam dua
bagian; pertama rela dengan Allah dan rela kepada Allah. Rela dengan Allah
artinya hati kita rela menerima eksistensi Allah, keberadaan, kekuasaan dan
segala konsekuensi atasnya. Sedang rela kepada Allah adalah kerelaan atas
segala sesuatu yang Allah berikan.
Ciri-ciri orang yang rela kepada Allah ditandai dengan:
Pertama, ketenangan jiwa atas apa yang menimpanya. Bahwa segala
sesuatu yang terjadi pasti Allah telah mengukurnya dan mustahil bermaksud jelek
kepada makhlukNya. Karenanya orang yang rela kepada Allah ia menerimanya
sebagai sesuatu yang terbaik baginya.
Kedua, kerelaan kepada Allah adalah perihal kemampuan seseorang
untuk memandang segala sesuatu pilihan Allah dengan tanpa diikuti
perasaan marah terhadapnya.
Ketiga, kerelaan kepada Allah berarti menerima dengan keadaan
jiwa, hati dan dada yang lapang terhadap suatu perkara tanpa ada rasa kecewa,
penolakan, marah atau merasa tertekan. Bukan kepasrahan. Lantaran kerelaan
kepada Allah tetap diikuti ikhtiar untuk mencapai segala sesuatu yang terbaik.
Sedang kepasrahan itu penyerahan tanpa usaha.
Keempat, tidak memaksa sebelum keputusan Allah datang, dan tidak
kecewa atas datangnya keputusan Allah. Meskipun berat terasa.
Kelima, ketika derita itu menimpa kecintaan kepada Allah tak
berkurang adanya. Begitupun dengan amal dan ibadahnya. Ia tetap selalu berbuat
baik, dalam kondisi apa pun.
Keenam, tidak menyalahkan dan berprasangka buruk kepada orang
lain, melainkan selalu mengembalikan kepadaNya. Sehingga ia pun tak berkata
buruk atas takdir Allah, bahkan selalu senyum menghiasi dirinya.
Ketujuh, tidak mudah tergoda oleh dunia seisinya. Sehingga
hidupnya serasa selalu ada keberkahan menyelimutinya. Karena ia selalu yakin
akan janji Allah kepada hambaNya.
Cara menguatkan kerelaan kita kepada Allah dengan;
1) marifatullah, cara pertama dan modal utama agar kita menjadi
orang yang memahami iman sebagai landasan kerelaan kita kepada Allah. Tanpa ini
pekerjaan berjuang meraih kerelaan kepada Allah hanya sia-sia belaka.
2) riyadhah, yakni memperbanyak penghayatan atas apa yang telah
Allah berikan kepada kita. Riyadhah ini semakin banyak dengan kualitas semakin
membaik maka akan semakin menguatkan rasa cinta kita kepada Allah. Bersebab
kerelaan kepada Allah adalah posisi dimana hati kita sedang mengalami
kejernihan yang sangat. Di puncak kedekatan kepada Allah.
3) bercerminlah kepada orang-orang yang penderitaannya lebih
berat dari kita. Cara ini akan memberikan motivasi yang baik kepada kita agar
tabah dan kuat dalam menjalani semua yang terjadi dengan tidak syuudzan kepada
Allah.
4) yakinlah dibalik semua peristiwa pasti ada hikmahnya.
Kepandaian mencari hikmah atas semua peristiwa yang terjadi akan memberikan
daya tahan dan daya juang untuk meraih cita dan harapan. Sekaligus dengan
belajar dari peristiwa yang terjadi kita tidak mudah terjerumus pada kesalahan
yang sama.
Saudaraku yang dirindu surga.
Kerelaan kepada Allah itu bukan sekedar soal logika, atau
persepsi. Karena itulah kerelaan kepada Allah adalah pekerjaan yang paling
membutuhkan perjuangan untuk menaklukan diri sendiri. Jika marah bisa kita
redam. Jika syahwat bisa kita taklukan. Jika benci bisa kita redakan. Jika kita
sakit hati bisa kita obati. Tetapi kerelaan kepada Allah butuh lebih dari
sekedar sederat semua sikap itu. Sebab untuk menaklukan diri sendiri menjadi
orang yang rela kepada Allah tidak bisa kita paksakan. Sebab paksaan itu
sendiri bertentangan dengan kerelaan. Menjadi orang yang rela membutuhkan jalan
yang panjang. Sepanjang umur kita. Barangsiapa yang telah meraihnya berarti ia
telah sampai pada puncak ketinggian, lantaran setelahnya tidak ada lagi yang
harus ditaklukan.
Seperti fudail bin Iyyadh pernah mengatakan, bila seseorang
telah sampai pada derajat rela, tidak ada lagi yang diharapkan di atas itu.
Begitupun Imam Tirmidzi meriwayatkan abda Nabi, Jika engkau sanggup bertindak
dengan kerelaan dan keyakinan maka lakukanlah. Tetapi jika jika engkau tidak
sanggup, maka sesungguhnya dalam kesabaran pada apa yang tidak disukai jiwa,
tersimpan kebaikan yang banyak. Subhanallah.
06
Saat Harapan Hati Beralaskan Kepedihan
Saudaraku yang dirindu surga.
Apa yang harus kita lakukan saat harapan hati tak berkunjung,
bahkan berbalik menjadi kepedihan. Inilah ujian kerelaan makin menggenapkan
jiwa kita. Akankah benar-benar menjadi sholihin sholihat yang rela kepada Allah
ataumalah sebaliknya?
Seperti diisyaratkan Ibnu Majah yang menceritakan Sabda
Rasulullah, Orang mukmin yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar dari
perbuatan buruk mereka, itu lebih baik daripada orang mukmin yang tidak berbaur
dengan masyarakat dan tidak bersabar dari perbuatan mereka.
Didalam QS Al Baqarah [2] ayat 153 Allah SWT berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat
sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Kata sabar ini didalam Al
Quran lebih dari seratus kali disebutkan. Begitu pentingnya makna sabar. Ia
merupakan poros, sekaligus inti dan asas segala macam kemuliaan akhlak. Sabar
ini selalu menjadi asas atau landasaannya orang beriman.
Mungkin bisa kita memaknai kesabaran sebagai suatu kemampuan
untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Menahan diri dalam melakukan
sesuatu atau tidak melakukan sesuatu untuk mencapai ridho Allah SWT. Biasanya
orang yang sabar adalah orang yang mampu menempatkan diri dan bersikap optimal
dalam setiap keadaan. Sabar bukanlah sebuah bentuk keputus-asaan tapi merupakan
optimisme yang terukur.
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan
perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya,
laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar,
laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah,
laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara
kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah
telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” Qs. Al Ahzab 35.
Ingatlah para shohabiyah yang tangguh di jalan dakwah. Dialah
Sumayyah, istri Ammar bin Yasir. Perempuan mantan budak yang dengan gagah
beraninya menentang Abu Jahal sedang ia terus dihujani cambuk yang tiada henti.
Segala usaha pun dilakukan oleh Abu Jahal agar ia mau melepaskan keimananya.
Sumayyah sahid dalam keimananya keadaan dadanya dihujani tombak oleh Abu
Jahal.
Perempuan-prempuan tangguh juga turut berperang bersama
Rasulullah. Diriwayatkan istri-istri Rasulullah dalam perang Uhud
ikut berperang. Rasul menempatkan mereka di di benteng Hassan. Ketika
pertempuran di mulai, mereka menyediakan air untuk para mujahid. Ummu Sulaim
beserta beberapa perempuan Anshar bertugas menyediakan air dan mengobati
mujahidin yang terluka. Perjuangan merebut al-Aqsha di Palestina juga
melibatkan kaum perempuan seperti Wafa Idrisi, Darin Abu Aisyah, Ayat
al-Akhros, Andaleb Khalel Teqatibah, dan Elham el Dasuqi.
Lihatlah betapa Rasulullah SAW diusir dari kampung kelahirannya,
Mekkah. Beliau hijrah ke Medinah dan mencari penghidupan baru disana, berkarya,
bekerja dan berdakwah, sehingga jadilah beliau maju dan dapat membangun Medinah
menjadi manusia-manusia bertaqwa, setelah mapan beliau baru kembali membangun
asal negerinya, Mekah. Beliau dikenal dan dikenang dalam sejarah turun temurun.
Ia menjadi pahlawan yang menyejarah.
07
Sejarah membuktikan Imam Ahmad bin Hanbal dipenjarakan, dicambuk.
Apa yang beliau lakukan setelah itu? Beliau jadi Imam ahli Sunnah. Imam Ibnu
Tayyimiyah keluar dalam tahanannya penuh dengan ilmu yang berlimpah ruah.
Mengarang 20 jilid buku fiqh. Ibnu Katsir Ibnu jauzi di Baghdad Dan Imam Malik
bin raib di timpa musibah yang hampir mematikan beliau, dengan penderitaannya
itu beliau telah menulis qasidah yang benar-benar membuat orang
terpukau,syair-syair beliau yang membuat orang membacanya terperangah dapat
mengalahkan penyair-penyair Abbasiyyah yang termasyhur.
Begitupun bila kamu benci akan sikap seseorang, jangan jauhi ia,
ambil dan lihat sisi baik darinya. Yakinlah bahwa “Asaa antakrahuu syaiaan,
wahuwa khairullakum”. Bisa jadi sesuatu yang kamu benci itu, malah ada kebaikan
untukmu. Begitupun sebaliknya. Bisa jadi suatu yang sangat kamu cintai, ia tak
baik dan menjadi mudharat untukmu juga.
Selalu ada jalan keluar, Kata Syaikh DR. Aidh Bin Abdullah Al
Qarni. Suatu masalah itu jika menyempit, maka tabiatnya ia menjadi meluas. Jika
tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda
akan muncul fajar. Itulah sunnah kehidupan yang sudah dan terus berlaku. Itulah
hikmah yang pasti terjadi. Maka, relakanlah jiwamu untuk menerima kondisinya.
Karena, setelah kehausan pasti akan ada air. Setelah musim semi akan datang
musim penghujan.
Betapa pun kesedihan menimpa kita, tapi permudahlah urusanmu dan
lapangkanlah pikiranmu. Bukankah firman Allah SWT mengingatkan kita" Alam
nasyrah laka sadrak...." (Bukankah kami lapangkan dadamu). Tidakah engkau
perhatikan sesungguhnya dalam diri Yusuf AS terdapat obat yang menyembuhkan
kebutaan dua mata Ya'kub AS. Bukankah api yang menghimpit Ibrahim Al Khalil,
bisa menjadi mudah dan dingin. Dan lautan di hadapan Musa AS bisa terbelah dan
digunakan untuk berjalan. Yunus Bin Matta AS, akhirnya keluar dari tiga gulita,
karena kasih sayang Allah Al Jaliil (Yang Maha Mulia). Rasulullah Al Mukhtar
(yang Terpilih) pernah berada di dalam gua, dikelilingi oleh para kuffar.
Hingga berkata Abu Bakar Ash Shiddiq ra, "Sesungguhnya orang-orang kafir
hanya berjarak beberapa jengkal. Kami khawatir bila terjadi kehancuran."
Berkata Rasul sang pemilik keyakinan dengan penuh ketegasan, "Sesungguhnya
Allah bersama kita. Dia mendengarkan kita. Dia melindungi kita. Sebagaimana Dia
telah menghimpun kita. Allah pasti akan menciptakan kemudahan setelah
kesulitan. Tidakkah engkau tahu, sesungguh ada kemudahan akan Allah berikan
setelah kesulitan? Disebutkan QS. An Nasyr: 5-6 ada satu kesulitan dan ada dua
kemudahan.
Bukankah Allah Taala berfirman, Allah kelak akan memberikan
kelapangan sesudah kesempitan. (QS. Ath Tholaq: 7). Nah, Ibnul Jauziy, Asy
Syaukani dan ahli tafsir lainnya mengatakan, Setelah kesempitan dan kesulitan,
akan ada kemudahan dan kelapangan. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 6/42, Mawqi At
Tafasir dan Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7/247, Mawqi At Tafasir.) Ibnu Katsir
mengatakan, Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya. (Al
Quran Al Azhim, Ibnu Katsir, 8/154,) Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Bersama kesulitan, ada kemudahan. (HR. Ahmad no. 2804. Syaikh Syuaib Al Arnauth
mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Oleh karena itu, masihkah ada keraguan dengan janji Allah dan
Rasul-Nya ini? Inilah hakekat tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah yang menjadi
sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah
berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya (QS. Ath Tholaq: 3).
(Jaamiul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 238). Inilah rahasia
tawakkallah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.
08
Tips menghadapi masalah dalam kehidupan:
1. Kita harus siap. Dalam hidup ini kita harus siap menerima
sesuatu kenyataan yang sesuai dengan harapan kita, serta kita juga harus siap
menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Dalam kehidupan
ini, kita memang diharuskan memiliki harapan, cita-cita, rencana yang benar dan
wajar. Namun bersamaan dengan itu kitapun harus sadar bahwa kita hanyalah
makhluk yang memiliki banyak keterbatasan. Ketahuilah kita punya rencana, Allah
SWT pun punya rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana
Allah SWT.
2. Kita harus Ridho. Yups..setelah siap menghadapi berbagai
kenyataan yang terjadi baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan
harapan. Maka selanjutnya kita harus Ridho dengan kenyataan yang terjadi itu.
Mengapa demikian? Karena walaupun dongkol, uring-uringan, kecewa berat tetap
saja kenyataan sudah terjadi. Jadi ridho tidak ridho kejadian tetap sudah
terjadi, maka lebih baik hati kita ridho. Ridho itu hanya amalan hati kita
menerima kenyataan yang ada sesuai dengan apa yang Allah SWT berikan. Hati yang
ridho ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi positif, optimal dan bermutu.
3. Kita jangan mempersulit diri. Saudaraku, andaikata kita mau
jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisir dan
mempersulit diri, sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi
perasaan dan pikiran sendiri, selain tidak pada tempatnya, juga pasti membuat masalah
akan menjadi besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih
pilu daripada kenyataan aslinya dan tentu ujungnya akan terasa jauh lebih
nelangsa, lebih repot dalam menyelesaikannya. Maka dalam menghadapi persoalan
apapun, jangan hanyut dan tenggelam dalam pikiran yang salah, kita harus
tenang, menguasai diri, renungkanlah janji dan jaminan pertolongan Allah SWT,
dan bukanlah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata
bisa lolos pada akhirnya, tidak segawat yang kita perkirakan sebelumnya.
4. Kita harus meng-Evaluasi Diri. Ketahuilah hidup ini bagai
gaung di pegunungan, apa yang kita bunyikan suara itu pulalah yang akan kembali
pada kita, artinya segala apa yang terjadi pada diri kita adalah bisa jadi buah
dari apa yang kita lakukan baik disadari maupun yang tidak disadari.
Evaluasilah.
5. Kita harus menjadikan Hanya Allah-lah Satu-satunya Penolong.
Andaikata kita sadar dan meyakini bahwa bekal yang sangat kokoh untuk
mengarungi hidup ini sehingga kita tidak gentar menghadapi persoalan apapun
karena sesungguhnya yang paling mengetahui struktur masalah kita sebenarnya
Allah SWT, berikut segala jalan keluar terbaik menurut pengetahuan-Nya.
(Bersumber dari materi pelatihan Manajemen Qalbu Daarut Tauhiid Training Center
(DTTC) Bandung,http://dewiyana.cybermq.com).
Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, dengan
tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki, sebagaimana
seekor burung diberi rizki; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar, dan
pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. (Hr. Ahmad, Turmudzi, dan Ibnu
Majah)
Selamat berjuang. Selama kita mau belajar pasti Allah akan
memberi petunjuk kepada kita sekalian. Aamiin. Demikian materi yang bisa saya
share semoga bermanfaat.
TANYA JAWAB
Pertanyaan M15
1. Ustadz relaaa itu beraaat ya ustadz? ketika kita berusaha untuk
melakukan sesuatu semampu kita ketika realita tak seindah idealita dan ketika
tuduhan itu ditujukan pada kita. Apa kita harus rela ustadz? Apa kita harus
diam?
Membaca materi diatas akhirnya saya menyadari, menyadari sekali, iman masih sangat
lemah
Jawab
Kerelaan butuh perjuangan bunda tapi tuduhan itu bisa bermakna
dua : ia nasehat pada kita sebagai buah dari kesadaran atas kekhilafan yang
kita lakukan, meski berat mengakui kesalahan itu atau tuduhan itu fitnah. Jika ia fitnah
artinya tuduhan yang tidak benar maka Islam mengajarkan kita agar ada tabayun
(crosscech; menjelaskan ulang duduk perkaranya) kepada pihak-pihak yang
bersangkutan. Caranya bisa langsung pada ybs itu lebih baik, atau melalui media
orang ketiga yang dipecaya atau ada pihak yang memediasi antara keduanya. Maka
tak boleh tinggal diam bila itu fitnah. Jika setelah ditabayuni ko tetap saja bermasalah
pasrahkan saja pada Allah. Dialah pemilik segalanya. Inilah kerelaan dalam
bentuk yg lain.
2. Yang ingin ditanyakan ustadz setiap pergi ke tempat kerja itu
rasanya ana orang yang paling belum tau apa-apa. Apa yang di lakukan terasa belum
maksimal di pandangan orang lain jadi ana merasa rendah nggak bisa apa-apa. Gimana
ya?
Jawab
Merasa memiliki kekurangan dan selalu ingin menjadi lebih baik lagi itu bagus.
tetapi merasa kekurangan lalu menjadi terpuruk karena perasaan itu, ini adalah kemubadziran.
Terlalu mahal hidup yang hanya sekali tetapi hanya diisi penyesalan, keluh
kesah dan putus asa. Ikhlaskan dan relakan kondisi yang ada sambil bangkit
menjadi lebih baik. Sebentuk kerelaan kita kepada Allah dalam hal ini kita
sendiri tidak membiarkan keterpurukan menghampiri kita. Sapalah dan
bergabunglah dengan orang-orang sholih yang saling menasehati dalam kebaikan. In
sya Allah akan lebih termotivasi. Ukuran pandangan orang lain untuk evaluasi
itu bagus tapi akan lebih bagus lagi sandaran ukuran kebaikan itu di mata Allah
swt. Jika di mata Allah baik maka baiklah di hadapan seluruh makhlukNya. Jurus
yang lain; lihatlah realitas di luar sana masih terlalu banyak orang ga lebih
menderita dari kita. Bersyukurlah dan bersabarlah. Semoga Allah memudahkan
urusannya.
3. Tanya ustadz. Saat sudah berdoa ya Allah berikanlah yang terbaik
menurut Engkau bagi hamba tapi saat result/hasil terkadang masih belum sreg di
hati dan berfikir ini bukan/belum yang terbaik. Gimana cara menyikapinya ya
ustadz? Syukron
Jawab
Bunda, Allah tahu betul apa yang ada di hati dan pikiran kita bahkan semuanya.
Termasuk Allah belum mengabulkan doa kita boleh jadi ini juga sebentuk kasih
sayang Allah dalam bentuk yang lain. Allah tahu jika doa ini dikabulkan kita
belum siap menerimanya atau malah akan membuat kita jauh dariNya, membuat kita
hina. Maka husnudzan kita adalah bersikap apa pun yang terjadi itulah yang
terbaik dari Allah. Jadi terhadap doa-doa kita butuh kesiapan dan persiapan
menyambutnya. Kesiapan adalah sikap mental kita, dan persiapan adalah segala
sarana yang sudah kita tempuh.
4. Assalamu alaikum saya masih sering bertanya-tanya. Saya ingin
lebih banyak mendekatkan diri pada Allah dengan berbagai kegiatan yang bisa
menambah pengetahuan, diantaranya yang lagi banyak di media sosial termasuk
kajian seperti ini tapi waktu terasa jadi singkat dan akhirnya urusan rumah
tangga ada yang tidak beres padahal saya pernah mendengar kata-kata bahwa kalau
kita dekat kepadaNya maka Allah akan mengurus/memudahkan urusan kita. Apa saya
salah pengertian ya?
Jawab
betul bunda, sudah betul bunda
Pertanyaan M17
1. Apakah ujian menghampiri diri kita hanya akan berakhir ketika
ajal menjemput. Kadangkala hati berteriak betapa Allah memberikan ujian yang
begitu berat rasanya. Bagaimana treatmentnya yaaa ustadz? mohon solusinya
Jawab
Bunda sesholih para Nabi dan Rasul saja masih saja Allah
turunkan ujian baginya. bahkan makin memberat. Sudah sunatullahNya semakin
berat ujian yang dijalani ini berarti semakin tinggi derajatnya di hadapan
Allah. Maka yakinlah sesungguhnya ujian itu sebentuk kasih sayangNya kepada
kita. Allah pasti tak akan dholim pada hambaNya, Dia sudah tahu kemampuan kita.
Bersabarlah, jalani dan nikmati. Cintai apa yang harus dijalani meski memberat.
2. Ustadz kalau hidup kita jalannya lurus saja. Sepertinya tidak ada masalah
besar. Apakah itu bentuk ujian juga?
Jawab
Ya. ujian itu yang paling kentara berbentuk kesulitan, penderitaan, kekurangan
dkk. Tapi ingat Allah juga menguji kita dengan jalan yang lurus. Gembira dan
senang bahkan hidup dan mati itu sendiri juga ujian agar Allah melihat siapa
diantara kita yang paling baik amalnya (Qs. Al Mulk 1-3).
3. Secara teori kita tau bahwa sabar itu tak berbatas dan keikhlasan itu kunci
kebahagiaan. Tapi kadang sering ada rasa sakit hati. Apa yang harus dilakukan
agar rasa sakit itu ga berubah jadi dendam?
Jawab
Bunda, relakanlah. Sudahlah masih banyak kebaikan lain yang bisa
kita lakukan. karena jika tidak rela akan menjadi penyakit di hati kita. Buat
apa menyimpan penyakit di hati kita yang sungguh hanya akan menambah deretan
kesusahan, kepedihan, bahkan dosa. Relakanlah, bunda maka hati akan tenang
pikiran menjadi jernih tenaga pulih dan banyak keberkahan yang bisa kita raih. Memang
kerelaan itu juga butuh perjuangan bunda.
Pertanyaan M19
1. Boleh ga kalo kita berpikir kalo ujian yang Allah berikan
adalah hukuman atas dosa-dosa kita yang begitu sangat besar dan terus
berfikiran seperti itu. Gimana ustad
Jawab
Ya bunda maka dosa itu. Bersabarlah bunda
2. Ustazd, saya bingung. Saya paling sering di jadikan tempat
curhat sama teman-teman yang punya masalah hidup. Padahal saya yakin seandainya
saya diposisi mereka belon tentu mampu menghadapinya. Gimana tipsnya ustadz
agar saya gak cuma pintar ngomong, tapi ketika masalah menimpa saya juga bisa
menghadapinya dengan ikhlas.
Jawab
Bunda sudah jauh lebih baik dari mereka. In sya Allah akan bertambah mantap
tinggal satu langkah lagi: yakni kita juga mengamalkan apa yang kita tuturkan.
warna, ujian dan tahapan hidup setiap kita mungkin berbeda. Tapi yakinlah semua
tak masalah bila Allah membersamai kita. bila semua kita sandarkan kepadaNya.
bunda kalo ada kata "belum tentu mampu" berarti belum
rela bun. Jika mereka sanggup tegar menghadapi hidup, maka tak salah bila aku
juga bisa lebih tegar dari mereka. kuncinya simpati, empati dan keteladanan
bunda. In sya Allah mampu..Allahu akbar.
Semoga semua ini menjadi saksi di hadapanNya kelak bahwa kita
semua ini sedang berjuang bisa menghiasi diri dengan sikap rela kepadaNya
sehingga bisa menikmati dan menjalani hidup ini.
mohon maaf banyak salahnya. jazakumullahu khairan kastira..
-------------------------------------
Hari / Tanggal : Selasa, 24 Maret 2015
Narasumber : Ustadz Umar Hidayat
Tema : Kajian Islam
Notulen
: Ana Trienta
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT






0 komentar:
Post a Comment