Agar ibadah diterima di sisi Allah, haruslah terpenuhi dua syarat, yaitu:
Zaid bin Ali dan al Hakam bin ‘Utbah bula memberi arti ringan ialah tidak banyak urusan yang merintangi dan berat adalah banyak urusan yang merintangi.
Menurut Zaid bin Aslam, ringan ialah yang belum berkeluarga dan berat ialah yang telah banyak tanggungan keluarga.
Namun demikian, ada perbedaan dalam memahami dalil-dalil umum di mana seseorang mengamalkan amalan khusus berdasarkan dalil-dalil umum.
Contoh: Ada dalil shahih untuk menghatamkan Al-Qur'an setiap 1 bulan. Berdasarkan dalil ini, ada orang yang membiasakan tilawah 1 juz ba'da solat fardhu, padahal amalan tersebut tidak ada dalilnya. Ini tidak mengapa.
Dalam mengkaji perihal ibadah dengan dalil umum ini, kita akan menemukan banyak khilafiyah di kalangan ulama. Dalam kondisi demikian hendaknya kita berlapang dada, dengan diikuti kajian yang cukup terhadap perbedaan-perbedaan tersebut.
Diantara perkataan bijak para ulama adalah: "Belumlah mencium bau fiqh, mereka yang tidak memahami perbedaan pendapat" Wallahu 'alam.
1. Ikhlas karena Allah SWT
2. Mengikuti tuntunan Nabi SAW (ittiba’).
2. Mengikuti tuntunan Nabi SAW (ittiba’).
Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, ibadah tertolak.
Allah ta'ala berfirman:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya" (QS. Al Kahfi)Ulama menafsirkan amal sholeh sebagai bentuk ibadah yang sesuai tuntunan Nabi SAW, dan tidak menyekutukan Allah sebagai bentuk ikhlas.
Ayat ini didukung setidaknya oleh 2 hadits sbb:
Hadits pertama ‘Umar bin Al Khottob, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju"
Hadits kedua dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak"
Dalam riwayat Muslim disebutkan
"Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak"
Kedua hadits ini shahih, kedua hadits ini dapat ditemukan
dalam kitab hadits arbain an nawawiyah, kumpulan 40an hadits yang
dihimpun oleh Imam Nawawi Rahimahullah, yang semuanya merupakan hadits
hadits penting menjelaskan tentang pokok pokok ajaran Islam.
Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.
Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.
* IKHLAS
Ikhlas adalah mengerjakan suatu amalan karena tahu hal tersebut diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya, mengerjakan suatu amalan karena mengharap pahala dari Allah SWT, mengerjakan suatu amalan karena ingin dimasukan dalam Surga Allah, adalah mengerjakan suatu amalan karena takut adzab Allah, mengerjakan suatu amalan karena taat pada Allah dan RasulNya, meninggalkan suatu amalan karena adanya larangan dari Allah dan Rasul-Nya, mengerjakan suatu amalan walau berat, walau susah, walau malas karena tahu bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah SWT, tetap menutup aurat sempurna walau terasa berat, panas, ribet karena tahu bahwa itu adalah kewajiban dari Allah dan RasulNya, tetap mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk berangkat haji walaupun mengumpulkannya sulit dan dirasa sayang, karena tahu betul Haji adalah kewajiban asasi setiap muslim.
Coba kita hayati (hidup bersama) ayat mulia ini :
Ikhlas adalah mengerjakan suatu amalan karena tahu hal tersebut diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya, mengerjakan suatu amalan karena mengharap pahala dari Allah SWT, mengerjakan suatu amalan karena ingin dimasukan dalam Surga Allah, adalah mengerjakan suatu amalan karena takut adzab Allah, mengerjakan suatu amalan karena taat pada Allah dan RasulNya, meninggalkan suatu amalan karena adanya larangan dari Allah dan Rasul-Nya, mengerjakan suatu amalan walau berat, walau susah, walau malas karena tahu bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah SWT, tetap menutup aurat sempurna walau terasa berat, panas, ribet karena tahu bahwa itu adalah kewajiban dari Allah dan RasulNya, tetap mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk berangkat haji walaupun mengumpulkannya sulit dan dirasa sayang, karena tahu betul Haji adalah kewajiban asasi setiap muslim.
Coba kita hayati (hidup bersama) ayat mulia ini :
ﺍﻧْﻔِﺮُﻭﺍ ﺧِﻔَﺎﻓًﺎ ﻭَﺛِﻘَﺎﻻً ﻭَﺟَﺎﻫِﺪُﻭﺍ ﺑِﺄَﻣْﻮَﺍﻟِﻜُﻢْ
ﻭَﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺫَٰﻟِﻜُﻢْ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻜُﻢْ ﺇِﻥْ
ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
Menurut Imam Mujahid maksud ringan ialah kaya dan maksud berat adalah miskin sedang al Hasan menafsirkan ringan dengan maksud muda dan berat sebagai tua."Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. At-Taubah:41)
Zaid bin Ali dan al Hakam bin ‘Utbah bula memberi arti ringan ialah tidak banyak urusan yang merintangi dan berat adalah banyak urusan yang merintangi.
Menurut Zaid bin Aslam, ringan ialah yang belum berkeluarga dan berat ialah yang telah banyak tanggungan keluarga.
Menurut Ibnu Zaid pula, ringan ialah orang yang tidak
mempunyai harta benda, berat ialah orang yang mempunyai banyak harta
sehingga begitu payah dan susah untuk meninggalkannya.
* Mengkuti Tuntunan Nabi SAW
Pada kajian kali ini kita batasi dalam masalah dien yang berupa ibadah ritual.
Maka di antara ciri dari ibadah seperti ini adalah :
1. Memiliki waktu tertentu
2. Memiliki tempat tertentu
3. Memiliki kaifiyah atau tatacara, termasuk bacaan
tertentu
4. Keutamaan tertentu. Contoh :
1. Memiliki waktu tertentu
2. Memiliki tempat tertentu
3. Memiliki kaifiyah atau tatacara, termasuk bacaan
tertentu
4. Keutamaan tertentu. Contoh :
- Berbagai macam Shalat (1,3, 4)
- Puasa (1,3, 4)
- Haji (1,2,3,4)
- Menyelenggarakan Jenazah (3, 4)
- Berbagai macam dzikir (3, 4 kadang 1)
dan lain-lain.
- Puasa (1,3, 4)
- Haji (1,2,3,4)
- Menyelenggarakan Jenazah (3, 4)
- Berbagai macam dzikir (3, 4 kadang 1)
dan lain-lain.
Dalam ibadah ritual seperti ini, kaidahnya adalah tidak
boleh mengamalkannya kecuali ada contoh, perintah, atau pembiaran dari
Nabi SAW.
Namun demikian, ada perbedaan dalam memahami dalil-dalil umum di mana seseorang mengamalkan amalan khusus berdasarkan dalil-dalil umum.
Contoh: Ada dalil shahih untuk menghatamkan Al-Qur'an setiap 1 bulan. Berdasarkan dalil ini, ada orang yang membiasakan tilawah 1 juz ba'da solat fardhu, padahal amalan tersebut tidak ada dalilnya. Ini tidak mengapa.
Dalam mengkaji perihal ibadah dengan dalil umum ini, kita akan menemukan banyak khilafiyah di kalangan ulama. Dalam kondisi demikian hendaknya kita berlapang dada, dengan diikuti kajian yang cukup terhadap perbedaan-perbedaan tersebut.
Diantara perkataan bijak para ulama adalah: "Belumlah mencium bau fiqh, mereka yang tidak memahami perbedaan pendapat" Wallahu 'alam.
TANYA JAWAB
1. Ustadz, agar ibadah diterima di sisi Allah, haruslah terpenuhi dua syarat, yaitu:
Jawab: Sah, InsyaAllah ya ukhti Wanda. Niat shalat itu adalah bagian khilafiyah, terkait dalil umum dan dalil khusus.
Nah, semua pendapat di atas ada dalilnya dari hadits-hadist shahih Nabi. mereka mengambil qiyas dari niat berpuasa dan berhaji. Jika kita bahas ini akan semakin panjang 😊 Terkadang sangat disayangkan, sebagian kita baru belajar sedikit sudah mudah menuduh sana sini. Padahal tahu hadits dan isi Quran tidak serta merta kita paham Iislam. Ada kajian tafsir dan syarah, kajian bahasa dan lain-lain yang perlu dikuasai untuk bisa mengambil kesimpulan Dsn terkadang justru yang suka menuduh sana sini itulah yang kurang ilmunya. Wallahul musta'an. Ohya, saya termasuk yang tidak melafalkan niat ✌
Bukankah zikir yang pertama dan paling utama setelah salam adalah istighfar 3x ? Itu karena Allah Maha Tahu akan kekurangan kita dalam ibadah, karenanya Nabiyullah mengajarkan pada kita untuk istighfar justru setelah kita ibadah. Jangan memudah-mudahkan membatalkan sholat yang sudah dimulai. Dalil terkait hal-hal yang membatalkan sholat sudah jelas. Terkejut, atau teringat jemuran dan lain-lain bukanlah hal yang membatalkan sholat. Jadi teruskan saja.
4. Ustadz, ikhlas itu perkara sulit dan mahal harganya, lebih susah
lagi menjaganya disaat kita sudah mendapatkannya. Ikhlas deket banget sama
ujub ustadz, ada saran ustadz untuk ikhlas se ikhlas-ikhlasnya hanya untuk
Allah 😞😞
Jawab : Terkait ikhlas, para ulama mengajarkan; diantara caranya adalah dengan berdoa meminta agar dijadikan pribadi yang ikhlas dengan memperbanyak amal tersembunyi. Tidak diceritakan kepada siapapun, tidak ti tunjukkan di sosmed dan lain-lain😊
5. Ustadz, jika mengamalkan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, apakah boleh? Saya disarankan membaca yasin 41x untuk mendapatkan jodoh, tapi tidak saya lakukan karena saya ga tau apakah itu tuntunan Rasulullah atau tidak.
Jawab : Boleh mengamalkan sesuatu dengan harapan dunia selain harapan akhirat, selama harapan dunianya sesuai dengan syariat. Membaca yasin 41x agar dapat jodoh tidak ada dalilnya sehingga tidak perlu diamalkan. Perbanyak saja doa di waktu-waktu maqbul misal di 1/3 malam, perbanyak juga istighfar, karena istighfar itu kunci rezeki dan keturunan banyak, sebagaimana Allah sebutkan dalam Surat Nuh.
Jawab : Tidak termasuk syirik, hanya saja amalan yang tertolak, karena berharap jodoh dengan amalan tersebut, padahal tidak ada anjurannya. Namun jika ingin membaca Yasin sebanyak apapu, boleh-boleh aja.
1. Ikhlas karena Allah.
2. Mengikuti tuntunan Nabi SAW (ittiba’).
2. Mengikuti tuntunan Nabi SAW (ittiba’).
👆 poin 2 ittiba' yang berarti mengikuti Rasulullah SAW.
Niat sholat itu kan bukan perintah Rasulullah (Ushalli fardhal maghribi .........") begitupun niat ke 4 sholat lainnya. Bahkan para sahabatpun tidak ada yang melakukan niat tersebut sebelum berdoa. Mereka niatnya menggunakan hati nurani saja ingin sholat semata-mata karena Allah. Namun entah darimana asalnya, tiba-tiba muncul niat tersebut yang entah siapa juga penemunya.
Niat sholat itu kan bukan perintah Rasulullah (Ushalli fardhal maghribi .........") begitupun niat ke 4 sholat lainnya. Bahkan para sahabatpun tidak ada yang melakukan niat tersebut sebelum berdoa. Mereka niatnya menggunakan hati nurani saja ingin sholat semata-mata karena Allah. Namun entah darimana asalnya, tiba-tiba muncul niat tersebut yang entah siapa juga penemunya.
Maka pertnyaannya saya : Sah kah sholat kita tersebut? Syukron
Jawab: Sah, InsyaAllah ya ukhti Wanda. Niat shalat itu adalah bagian khilafiyah, terkait dalil umum dan dalil khusus.
2. Ustadz, temen sebelah saya bilang "Melafazkan niat di anggap sebagai perbuatan yang diada-adakan dalam
agama (bid`ah)"
Saya sudah "kenyang" dengan something yang selalu di kaitkan dengan bid'ah. Bahkan ODOJ pun dibilang bid'ah. Lafadz niat sholat itu dibilang bid'ah karena bukan tuntunan dari Rasulullah.
Jawab : Saya tambahkan sedikit tentang niat ini. Berikut di antara pendapat ulama salaf: (a) Pendapat yang mengatakan sunnah, agar ucapan lidah
dapat membantu memantapkan hati dalam niat ibadah. Pendapat ini diikuti
oleh madzhab Hanafi dalam pendapat yang mukhtar, madzhab Syafi’i, dan
madzhab Hanbali sesuai dengan kaedah madzhab. Hal ini sebagaimana
ditegaskan oleh Ibnu Nujaim dalam al-Asybah wa al-Nazhair hal. 48,
al-Imam al-Khathib al-Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj juz 1 hal. 57, dan
al-Imam al-Buhuti al-Hanbali dalam Kasysyaf al-Qina’ juz 1 hal. 87. (b) Pendapat yang mengatakan bahwa melafalkan niat dalam
ibadah adalah makruh. Pendapat ini diikuti oleh sebagian ulama madzhab
Hanafi dan sebagian ulama madzhab Hanbali. Hal ini juga diceritakan oleh
Ibnu Nujaim dalam al-Asybah wa al-Nazhair hal. 48 dan al-Buhuti dalam
Kasysyaf al-Qina’ juz 1 hal. 87. (c) Pendapat yang mengatakan bahwa melafalkan niat
dalam ibadah adalah boleh (mubah), akan tetapi sebaiknya ditinggalkan.
Kecuali bagi orang yang waswas, maka melafalkan niat disunnahkan
baginya, untuk menghilangkan keraguannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan
oleh Ibnu Arafah dalam Hasyiyah al-Dusuqi ‘ala al-Syarh al-Kabir juz 1
hal. 233-234 dan al-Shawi dalam al-Syarh al-Shaghir juz 1 hal. 304.
Nah, semua pendapat di atas ada dalilnya dari hadits-hadist shahih Nabi. mereka mengambil qiyas dari niat berpuasa dan berhaji. Jika kita bahas ini akan semakin panjang 😊 Terkadang sangat disayangkan, sebagian kita baru belajar sedikit sudah mudah menuduh sana sini. Padahal tahu hadits dan isi Quran tidak serta merta kita paham Iislam. Ada kajian tafsir dan syarah, kajian bahasa dan lain-lain yang perlu dikuasai untuk bisa mengambil kesimpulan Dsn terkadang justru yang suka menuduh sana sini itulah yang kurang ilmunya. Wallahul musta'an. Ohya, saya termasuk yang tidak melafalkan niat ✌
3. Ustadz, saya paling was-was kalo lagi sholat. Suka ga fokus dan khusyu. Tiba-tiba
teringat jemuran belum keangkat nanti kena hujan, saya pasti sholat lagi dari awal. Kadang pas sujud, denger anak kecil teriak dan kaget, saya langsung ulang sholat dari awal lagi. Saya takut kalau sholat saya tidak diterima Allah SWT. Apalagi amalan pertama yang akan di hisab adalah SHOLAT. Saat sholat sempurna, maka
sempurnalah segala amal ibadah. Terkadang saya juga suka ngerasa seperti pengen (maaf) kentut ketika sedang sholat. Saya takut batal dan harus wudhu lagi. Ya intinya saya selalu was-was ketika sholat.
Jawab : Rasa was-was termasuk godaan setan. Makanya disebut dalam QS. Annas; "..yuwas wisu fii suduurinnaas.."
Dalam kasus anti diatas, tidak perlu mengulang sholat lagi, teruskan saja sampai selesai.
Bukankah zikir yang pertama dan paling utama setelah salam adalah istighfar 3x ? Itu karena Allah Maha Tahu akan kekurangan kita dalam ibadah, karenanya Nabiyullah mengajarkan pada kita untuk istighfar justru setelah kita ibadah. Jangan memudah-mudahkan membatalkan sholat yang sudah dimulai. Dalil terkait hal-hal yang membatalkan sholat sudah jelas. Terkejut, atau teringat jemuran dan lain-lain bukanlah hal yang membatalkan sholat. Jadi teruskan saja.
Jawab : Terkait ikhlas, para ulama mengajarkan; diantara caranya adalah dengan berdoa meminta agar dijadikan pribadi yang ikhlas dengan memperbanyak amal tersembunyi. Tidak diceritakan kepada siapapun, tidak ti tunjukkan di sosmed dan lain-lain😊
5. Ustadz, jika mengamalkan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu, apakah boleh? Saya disarankan membaca yasin 41x untuk mendapatkan jodoh, tapi tidak saya lakukan karena saya ga tau apakah itu tuntunan Rasulullah atau tidak.
Jawab : Boleh mengamalkan sesuatu dengan harapan dunia selain harapan akhirat, selama harapan dunianya sesuai dengan syariat. Membaca yasin 41x agar dapat jodoh tidak ada dalilnya sehingga tidak perlu diamalkan. Perbanyak saja doa di waktu-waktu maqbul misal di 1/3 malam, perbanyak juga istighfar, karena istighfar itu kunci rezeki dan keturunan banyak, sebagaimana Allah sebutkan dalam Surat Nuh.
6. Apakah termasuk syirik jika saya mengamalkan membaca Yasin 41x ?
Jawab : Tidak termasuk syirik, hanya saja amalan yang tertolak, karena berharap jodoh dengan amalan tersebut, padahal tidak ada anjurannya. Namun jika ingin membaca Yasin sebanyak apapu, boleh-boleh aja.
7. Ustadz, Wirda mansyur (anaknya Ust. YM) ngasih
tausiyah di ANTV gitu. Katanya, pengen sesuatu dan ingin sesuatu itu
terwujud, maka amalannya adalah dengan membaca shalawat tiap hari. Bila perlu
sehari sampai ribuan kali. Dia pernah cerita tentang pengalamannya yang pengen banget gadget akhirnya terwujud karena dengan amalan membaca shalawat tiap hari.
Jawab : Sayang sekali kalo sholawat yang nilainya sangat mulia dan pahalanya sangat besar hanya dipakai untuk dapat gadget. Kalau anak kecil, mungkin bisa dipahami amalan disertai doa dan harapan itu boleh, tapi menetapkan angka tertentu dan mengaitkan bahwa angka amalan tersebut sehingga wasilah terwujudnya sesuatu, padahal tidak ada dalilnya, maka ini seperti membuat syariat baru. Padahal hanya Allah lah pembuat syariat.
Jawab : Sayang sekali kalo sholawat yang nilainya sangat mulia dan pahalanya sangat besar hanya dipakai untuk dapat gadget. Kalau anak kecil, mungkin bisa dipahami amalan disertai doa dan harapan itu boleh, tapi menetapkan angka tertentu dan mengaitkan bahwa angka amalan tersebut sehingga wasilah terwujudnya sesuatu, padahal tidak ada dalilnya, maka ini seperti membuat syariat baru. Padahal hanya Allah lah pembuat syariat.
Alhamdulillah kajian kita berjalan dengan lancar, mari kita tutup dengan membaca do'a kafaratul majelis:
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Wassalamu'alaikum wr wb
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Rekapan Kajian Online Hamba Allah SWT
Selasa, 24 Maret 2015
Narasumber: Ustadz Robin
Tema: Syarat Ibadah yang Diterima
Grup Nanda M106 (Meydillah & Nadia)
Notulen: Welly
Editor: WandaNarasumber: Ustadz Robin
Tema: Syarat Ibadah yang Diterima
Grup Nanda M106 (Meydillah & Nadia)
Notulen: Welly
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT




0 komentar:
Post a Comment