Hari/Tanggal:
Kamis, 4 Desember 2014
Narasumber:
Ustadzah Ahyani
Tema:
Syakhsiyah Islamiyah
Admin:
Aprianti
Notulen:
Fasikha M
Editor:
Selli Novita
================================
Assalaamu'alaikum
bunda yang dirahmati Allah.
Saya
Ahyani. Insyaa Allah kita akan memulai kajian SI hari ini jam 9-10 wib.
Masih
dengan topik aqidah.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ
الرَّحِيم
الحمد لله رب العلمين
الصلاة والسلام على رسول اللة،
Kaifa
haalukum yaa bunda ummi akhawaati fillah? Semoga selalu dalam barokah dan
rahmat Allah SWT. Pekan lalu kita membahas mengenai pentingnya syahadatain:
اشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محدا رسول الله
Yaitu
sebagai:
-
Pintu masuk Islam
-
Intisari ajaran Islam
-
Dasar perubahan
-
Inti da'wah para rasul
-
Keutamaan yang besar
Kalau
kita mendalami mengenai kata 'dasar perubahan' atau 'asaasul inqilaab', maka
kita akan lebih jauh memahami bagaimana para sahabat Rasulullah SAW bisa
mempertahankan aqidah mereka setelah bersyahadah dengan keyakinan penuh dan
kekonsistenan.
#
Bilal bin Robbah yang berkata 'ahad, ahad' dengan keyakinannya kepada Allah
yang esa.
#
Sumayyah binti Khayyath dengan keteguhan imannya.
Kemudian
para sahabat yang terbaik masa jahiliyah dan menjadi terbaik pula pada masa
Islamnya.
#
Umar bin Khattab yang syaithon tidak mau berpapasan dengannya di jalan.
#
Khalid bin Walid, pemilik strategi perang terbaik.
Apa
yang membuat orang-orang ini begitu luar biasa ketika mereka telah menjadi
bagian kekuatan Islam? Hal ini akan kita bahas hari ini.
Diantara
hebatnya para pejuang di awal Islam masa Rasulullah SAW adalah pemahaman
mendalam akan aqidah mereka yang selamat, pemahaman mendalam akan syahadatain. Ada
apa dalam syahadatain?
Kalimat
syahadatain mengandung:
=> Al Iqrar
(3:18; 7:172; 3:81)
Syahadat
adalah ikrar tentang rubbubiyatullah (Allah sebagai rabb), Allah sebagai
satu-satunya yang disembah, Allah sebagai pemilik, penguasa. Juga ikrar
mengakui Rasulullah SAW sekalipun belum pernah berjumpa dan mengakui risalah
yang dibawanya.
=>Al
qosam (63:1-2; 4:138-145)
Sumpah
atas kesediaan menerima akibat dan resiko dalam bersyahadah. Menerima perintah
apa yang harus dijalankan dan menerima menjauhi yang dilarang.
=>Al Miitsaaq (5:7; 2:285; 2:93)
Janji
setia/ keteguhan menjalankan ketaatan, dengan dasar iman.
Pemahaman
syahadah diatas melahirkan iman, yaitu keyakinan tanpa keraguan, penerimaan
tanpa keberatan, dengan penuh kesadaran: Al Qoul (diucapkan dengan lisan), At tashdiq
(dibenarkan dalam hati), Al Amal (diaplikasikan dengan perbuatan)
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ
ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ
ٱللَّهِ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ﴿١٥﴾
"15.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya
(beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan
mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.
Mereka itulah orang-orang yang benar." (Q.S.49:15)
Aplikasi
iman kemudian melahirkan al istiqomah (konsistensi) dalam menegakkan agama
Allah, teguh pendirian, tidak berubah, dan tahan uji.
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟
وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٣٠﴾
"30.
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah"
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada
mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa
sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah
kepadamu"." (Q.S.41:30)
Istiqomah
akan memberi kita:
=>AsySyaja'ah (keberanian, tidak takut pada
kematian, tidak takut menyampaikan kebenaran)
=>Al
Ithmi'naan (ketenangan karena yakin akan pemeliharaan dan perlindungan dari
Allah, tawakkal akan janji Allah)
=>At tafaaul (optimis bahwa masa depan adalah
milik orang-orang beriman)
Keseluruhan
sikap ini kemudian memberrikan as sa'aadah (kebahagiaan) kepada kita di dunia
dan akhirat.
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ
يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ
فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ ﴿١٨٥﴾
"185.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat
sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan
dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu
tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Q.S.3:185)
Semoga
Allah memberikan kita keistiqomahan.. Aamiin..
Maraji':
-
kepribadian muslim irwan prayitno
Demikian
materi hari ini, kandungan kalimat syahadatain. Tafadhdholy bunda ummi. Jika
ada yang ingin didiskusikan.
===================================
TANYA JAWAB UMI 09
1. Tanya:
Bu
ustadzah, menerapkan sikap ihsan di dalam hati itu bagaimana ya bu ustadzah?
Kadangkala hanya sebatas niat yang terus meleleh kembali. Jazakillah...
Jawab:
Ketika
kita membahas ihsan. Maka kita mulakan dengan definisi ihsan pada hadits ke 2
An Nawawiyah:
قَالَ
فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ
فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاك
Beritahukan
aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda, “ Ihsan adalah engkau beribadah
kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka
Dia melihat engkau” .
Justru
ihsan ini adalah jawaban dari kegundahan
bunda. Gundah akan iman yang naik turun, gundah akan ketidak-istiqomahan. Ihsan
akan menjadikan kita selalu dekat dengan Allah, merasakan pengawasan Allah.
DR.
Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya yang berjudul "Tarbiyah Ruhiyah"
menyebutkan bahwa ada lima faktor penting dalam mencapai takwa. Dan ini bisa
dipraktikkan dalam sehari-hari untuk selalu evaluasi diri:
-
Mu’ahadah
Mu’ahadah
adalah mengingat perjanjian-perjanjian yang telah kita buat kepada Allah.
Hendaknya setiap kita menyendiri dan mengingat perjanjian-perjanjian yang telah
kita buat kepada Allah. Dengan mu’ahadah kita akan tetap istiqamah dalam
melaksanakan syariat Allah. Termasuk QS 7:172. Dan syahadat kita secara sadar..
-
Muraqabah
Muraqabah
adalah merasakan keagungan Allah di setiap waktu dan keadaan, serta merasakan
kebersamaannya dalam sepi maupun ramai. Dengan muraqabah kita akan ikhlas,
karena setiap fi’il adalah untuk-Nya. Dengan muraqabah kita akan istiqamah. Tak
terpengaruh oleh situasi dan kondisi.
-
Muhasabah
Makna
muhasabah adalah hendaknya seorang muslim menghisab dirinya setelah melakukan
sebuah amal. Apakan amal itu benar-benar semata untuk meraih ridha Allah
ataukah tercampur dengan kepentingan pribadi, riya, ujub atau malah telah
mengurangi hak-hak orang lain? Apakah amal yang kita lakukan sudah maksimal?
Atau dilaksanakan sekedarnya? Di samping itu muhasabah juga melakukan
perhitungan diri antara amaliyah dan dosa. Apakan amaliyah yang kita lakukan
sudah cukup menutup dosa? Lalu bagaimana dengan pertobatan? Dengan muhasabah
kita akan terbebas dari penyakit hati.
-
Muaqabah
Muaqabah
adalah pemberian sanksi. Sudah sepatutnya bagi kita jika kita telah melalaikan
Allah, kita beri sanksi diri kita sebagai mana orangtua memberi sanksi kepada
anaknya yang bersalah. Semoga dengan melakukan muaqabah kita menjadi jera
berbuat dosa.
-
Mujahadah
Mujahadah
adalah bersungguh-sungguh dalam melaksanaan ibadah. Di sana ada makna
memaksakan diri untuk berbuat yang terbaik, menyerahkan yang terbaik dan
mengoptimalkan diri dalam beramaliyah. Ibadah adalah tarbiyah. Dengan
mengerahkan kapasitas maksimal, itu artinya kita membangkitkan potensi yang
terpendam dalam diri kita. Maka integritas kita akan semakin meningkat.
Terapkan
ilmu manajemen di sini. Ketika sudah futur. Ambil pena, buat planning,
organizing, actuating, controlling untuk ibadah-ibadah kita dengan menggunakn 5
poin diatas. Allahu a'lam.
-
Beri contoh yang baik dari kepribadian muslim
kita.
-
Perbanyak interaksi dengan orang-orang itu.
QS
Alhujurat mengingatkan kita tentang dzon (prasangka).
Tidak
hanya kita yang harus menjaga diri kita dari dzon, tapi juga kita menjaga agar
orang lain tidak memiliki dzon terhadap kita.
-
Optimalkan komunikasi yang efektif.
2. Tanya:
Pada
point asy syaja'ah. Salah satunya adalah tidak takut menyampaikan kebenaran. Terkadang
ketika kita mengingatkan seseorang, niat kita adalah menyampaikan kebenaran dan
sayang kepada orang tersebut. Tapi tanggapan dari beberapa orang justru
menganggap kita adalah orang yang sok suci. Bagaimana menyikapi hal tersebut? Jazakillah
ustadzah…
Jawab:
Seringkali
yang menyebabkan hal itu adalah salah sangka dan merasa sulit untuk mengubahnya
atau kondisi kekinian dan kedisinian orang itu yang sedang tidak siap.
Kita
berpatokan ke QS AnNahl:125
"Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk"
Hikmah
- dalil yang tepat, pengetahuan yang total. Mauizhoh hasanah - cara yang baik
yang tidak menggurui, dan berkesan. Setiap orang tentu berbeda penyikapannya..
~
Jangan lelah untuk terus mengingatkan dengan cara yang baik.
~ Sembari
didoakan atas kelembutan hatinya dan ditunjukkan mana yang benar dan mana yang
tidak. Allahu a'lam.
3. Tanya:
Dalam
bermuhasabah. Memang benar, masih banyak amal-amal yang kita lakukan bukan
semata-mata karena Allah ta'ala. Masih bercampur dengan niat-niat yang lain. Bagaimana
ya ustadzah agar kesadaran tumbuh sehingga kita benar-benar ikhlas dan jika
melakukan semua amal hanya karena Allah. Karena manusiawi masih memikirkan
dunia. Jazakillah ustadzah...
Jawab:
Kalau
pengalaman saya: Lakukan! Lakukan!
Lakukan!
Ketika
tubuh sudah membiasakan diri, niat awal yang masih bercampur itu akan
termurnikan dengan sendirinya. Kalau ada keraguan akan riya' dan sum'ah atas
ibadah kita, saya selalu teringat kata Fudhail bin Iyadh (kurang lebih
redaksinya seperti ini):
"Ketika
kita beribadah karena ingin dilihat seseorang, itu riya', tapi ketika kita
tidak jadi beribadah karena takut dilihat seseorang pun, itu riya'."
Jadi,
lebih baik dilakukan saja. Ikhlas akan datang seiringan dengan konsistensi
kita, insyaa Allah.
~ Kita
ingin ikhlas shodaqoh? Shodaqoh yang banyak.
~ Kita
ingin ikhlas tilawah? Tilawah yang banyak, persering.
~ Kita
ingin ikhlas ibadah lainnya? Lakukan! Lakukan! Lakukan!
(Maaf
banyak tanda seru... ) Allahu a'lam.
4. Tanya:
Ketika
seseorang manusia telah bersyahadah ,keimanan nya terus akan diujikan &
kita selalu meminta pada Alloh untuk selalu diberi petunjuk ke jalan yang
lurus, jalan orang-orang yang diberi petunjuk. Seperti dalam QS. Al-fatihah.
Petunjuk
itu bisa datang dari mana saja. Tapi syetan juga menggoda manusia dari semua
pintu dan jalan masuk. Manusia tidak akan sadar ketika syetan masuk. Bagaimana
ya kita membedakan jika petunjuk itu dari Alloh? Bisa saja bukan itu tipu daya
syetan. Agar tergelincir.
Saya
khawatir, gelisah, ada takut juga.
Bukankah
gelisah, khawatir adalah ciri-ciri kita mengikuti syetan?
Jawab:
Yaa..
Keimanan akan diuji adalah sebuah keniscayaan.
-
Minta perlindungan dari Allah.
Selain
memohon petunjuk dengan surah Al Fatihah, juga amalan surah al ikhlas, alfalaq,
annaas. Dalam surah an naas kita meminta perlindungan kepada Allah salah
satunya dari: alladzii yuwaswisu fii suduurinnaas, yang memberikan waswas ke
dalam dada manusia· Siapa? Minal jinnati wannaas, dari golongan jin dan
manusia. Dengan membacanya insyaaaLlah kita terlindungi seharian.
-
Minta fatwa pada hati.
فَقَالَ: يَا وَابِصَةُ أُخْبِرُكَ مَا جِئْتَ
تَسْأَلُنِي عَنْهُ، أَوْ تَسْأَلُنِي؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ
فَأَخْبِرْنِي، قَالَ: ِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ؟ قُلْتُ:
نَعَمْ، فَجَمَعَ أَصَابِعَهُ الثَّلَاثَ فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهَا فِي صَدْرِي،
وَيَقُولُ: يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ نَفْسَكَ، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّ إِلَيْهِ
الْقَلْبُ، وَاطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي
الْقَلْبِ، وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْك
kemudian
beliau bersabda: "Wahai Wabishah, aku akan memberitahukan (jawaban)
kepadamu sesuatu yang menjadikanmu datang kemari." Saya berkata,
"Wahai Rasulullah, beritahukanlah padaku." Maka beliau pun bersabda:
"Kamu datang untuk bertanya mengenai kebaikan dan keburukan (dosa)."
Saya berkata, "Benar." Beliau lalu menyatukan ketiga jarinya dan
menepukkannya ke dadaku seraya bersabda: "Wahai Wabishah, mintalah
petunjuk dari jiwamu. Kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat menenangkan dan
menentramkan hati dan jiwa. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang
meresahkan hati dan menyesakkan dada, meskipun manusia membenarkanmu dan
manusia memberimu fatwa (membenarkan)." (Musnad Ahmad, no.180001)
-
Jika masih ada ragu, tinggalkanlah.
عَنْ أَبِي
مُحَمَّدٍ الْحَسَنُ بْنُ عَلِي بْنِ أبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ : حَفِظْتُ
مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى
مَا لاَ يَرِيْبُكَ .
[رواه الترمذي وقال
: حديث حسن صحيح]
Dari
Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam dan kesayangannya dia berkata : Saya menghafal dari
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam (sabdanya): Tinggalkanlah apa yang
meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu. (Riwayat Turmuzi dan dia
berkata: Haditsnya hasan shohih).
TANYA JAWAB UMI 10
1. Tanya:
ummi
ahyani,,, bila ada seseorang yang muallaf, lalu dia baca syahadat dan masih belajar
menjalankan sholat, tapi belum sanggup puasa ramadhan... apakah dia juga sudah
menjadi muslim? lalu adakah cara agar dia bisa benar-benar mendalami agama Islam?
terima kasih
Jawab:
Bunda
yang baik, ketika dia sudah bersyahadah dengan lisan dan penuh kesadaran dalam
hati dan mau belajar mengamalkan maka, iya, dia sudah muslim.
Persilakan
untuk belajar, perlahan tapi pasti. Ketidaksanggupan tidak apa-apa asalkan
bukan melemah-lemahkan diri.
Tidak
hanya untuk muallaf, untuk yang sudah muslim pun perlu memahami konsekuensi
dari ikrar, sumpah yang sudah dia ucapkan. Jadi harus ada pemaksaan untuk
sami'na wa atho'na.. Mendengar dan taat kepada Allah..
Caranya..
Kumpulkan bersama orang-orang sholih, jangan biarkan belajar dari umumnya orang
Indonesia, karena biasanya akan terjadi bias agama.
Ajak
secara rutin dalam kajian-kajian keIslaman. InsyaaaLlah dari bi'ah (lingkungan)
yang baik akan memotivasi untuk terus mengenal Islam. Allahu a'lam
Afwan...
Semoga jelas semuanya. Al haqq min robbik falaa takuunanna minal mumtariin... Jika
ada kesalahan, dari saya pribadi.
Wassalaamu'alaikum
wa rohmatullah wa barokaatuh.....
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك
Subhanakallahumma
wabihamdika asyhadu allaailaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika
“Maha
Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang
haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat
kepada-Mu.”
For
more category please visit:
Website:
www.kajianonline-hambaAllah.blogspot.com
Fanpage:
Http://m.facebook.com/profile.php?id=555806067861645
Twitter:
@kajianonline_HA
Thanks for reading & sharing Kajian On Line Hamba اللَّهِ SWT



0 komentar:
Post a Comment